You'R My Destiny

You'R My Destiny
Kecelakaan.



"Kenapa tuh senyam senyum." Tanya ayah Sasa, melihat putrinya masuk kekamar.


"Siapa yang senyum..." Ucap Sasa


"Ada yang lagi jatuh cinta kayanya." Ucap ayah dari meja makan.


"Ayaaah..." Panggil Sasa malu.


"Ada apa sih yah?" Tanya ibu Sasa. mereka tertawa bersama.


.


Sreekkkkk.... suara rem mobil Alex.


"Apa itu..." Ucap Alex. Kaget menabrak sesuatu.


Alex berjalan kesebelah kanan mobilnya. mencari sesuatu yang mengenai mobilnya. Darahpun mengalir mendekati kakinya. Alex terkejut dan mencari dari mana darah itu mengalir. Alexpun melihat seorang wanita tergeletak dibelakang mobil.


Saat Sasa melihat ponsel yang Alex berikan tiba tiba, Alex menelepon.


"love? apa ini nomor Alex? lucu sekali dia memberikan namanya diponsel ini." Ucap Sasa. Lalu mengangkat telepon Alex.


"Halo... Sasa, cepatlah kemari Aku menabrak seseorang." Ucap Alex.


"Apah? dimana kamu sekarang?" Tanya Sasa.


"Aku didepan hotel dekat rumahmu." Ucap Alex.


"Baiklah aku akan kesana." Ucap Sasa.


Setelah menelepon Sasa. Alex menelpon Ricky.


"Halo, Ricky... Aku menabrak seorang wanita dipulau. segeralah kesini." Ucap Alex.


"Apah? Baiklah tunggu aku disana. jangan panik, semua akan baik baik saja." Ucap Ricky.


Sasapun sampai dilokasi tempat Alex menabrak seorang wanita.


"Ayo, bawa keklinik." Ucap Sasa menyuruh Alex mengangkat wanita tersebut kedalam mobil.


"Yah..." Ucap Alex, dan mengangkat kedalam mobil.


Wajah yang berlumur darah, Sasa tidak mengenali wajah wanita tersebut.


merekapun sampai diklinik. Sasa langsung berlari mencari perawat.


Alex langsung mengangkat wanita tersebut dan mengikuti Sasa. Salah satu perawatpun datang menemui Sasa.


"Letakkan disini." Ucap Perawat yang sudah menyipakan tempat untuk wanita tersebut.


"Ayo... kita keluar saja. Biarkan perawat itu memeriksanya dulu." Ucap Sasa mengajak Alex keluar. setelah mereka keluar dokterpun datang menyusul perawat tersebut.


"Lihatlah... Dokter sudah menanganinya. semua akan baik baik saja." Ucap Sasa.


Alex tersenyum melihat Sasa menyemangatinya. lalu duduk dikursi tunggu tepat didepan ruangan wanita tersebut.


"Untung kamu cepat datang, kalau tidak. Aku tidak tau harus bagaimana lagi." Ucap Alex, menunduk dan memegang kepalanya.


"Ya. semoga dia tidak apa apa." Ucap Sasa menatap ruangan wanita tersebut.


"Saa, terimakasih sudah membantuku." Ucap Alex. tersenyum kepada Sasa dan memeluk Sasa yang duduk disampingnya.


Kring... kring...kring...


"Halo, Ricky..." Ucap Alex.


"Dimana kamu sekarang." Tanya Ricky.


"Klinik. Aku akan bagikan lokasi. cepatlah kemari." Ucap Alex.


"Aku baru sampai. Baiklah." Ucap Ricky.


Rickypun tancap gas, setelah menurunkan mobilnya dari kapal.


"Aleeex. Alex... Akupun tidak tau harus bilang apa lagi dengan keadaanmu sekarang. apa aku mendukung atau melarangmu, aku tidak tau. Hufff." Ucap Ricky menuju lokasi yang Alex kirim.


Rickypun sampai diklinik, berlari mencari Alex.


"Ricky, disini." Panggil Sasa.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ricky.


"Entahlah sudah hampir dua jam dia didalam." Jawab Alex.


"Dimana kamu menabraknya." Tanya Ricky.


"Didepan hotel tempat kita menginap kemaren." Ucap Alex.


"Aku kesana dulu, takut nanti ada orang yang melihat bekas kejadian itu, malah memperbesar masalah. Okey." Ucap Ricky.


"Baiklah." Ucap Alex, lemas.


Rickypun pergi kelokasi tersebut. dan membersihkan semua bekas darah. Sampai tidak ada bekas kecelakaan disana.


"Dokter, bagaimana? Tanya Alex. Berdiri menemui dokter yang sudah keluar dari ruang periksa.


"Untung cepat dibawa kesini. Jika tidak, tidak taulah apa yang akan terjadinpadanya. Fisiknya sangat lemah, sepertinya dia sedang ada masalah. Terlihat dari matanya yang bengkak dan terus meneteskan air mata." Ucap Dokter.


"Emmm, Apa ada luka yang sangat parah dok?" Tanya Alex. Takut jika wanita tersebut jadi cacat.


"Tapi darahnya sangat banyak keluar dokter. Tambah lagi dia seperti tidak bernyawa lagi, Dok." Ucap Alex. mengingat darah wanita tersebut mengalir.


"Dia hanya syok. Sebentar lagi akan sadar." Ucap dokter.


"Oh syukurlah." Ucap Alex.


"Siapa, saudaranya?" Tanya dokter.


"Saya, Maaf saya datang terlambat." Ucap Ricky.


"Oh, Pak. ikut dengan saya sebentar." Ucap dokter.


"Baik, Pak." Jawab Ricky.


Dokterpun berjalan menuju ruangannya.


"Alex. Pulanglah, bersihkan dirimu terlebih dahulu. Biar aku yang mengurusnya." Suruh Ricky. melihat baju Alex berlumur darah.


"Biar aku yang menunggu disini." Ucap Sasa.


"Tidak... Pergilah temani Alex. Dia juga perlu tenang dan istrahat." Ucap Ricky, kepada Sasa.


"Baiklah." Jawab Sasa.


"Sudah pergilah. Aku menemui dokter dulu." Ucap Ricky.


"Kyy, terima kasih." Ucap Alex.


"Heiiii... Ini bukan yang pertama. aku ada untukmu. Jangan kwatir, semua akan baik baik saja." Ucap Ricky tersenyum kepada sahabatnya.


"Baiklah, Kami pergi dulu." Ucap Alex.


"Ya, hati hati." Ucap Ricky.


Sasa dan Alexpun pergi. Ricky juga pergi menemui dokter yang memeriksa wanita tersebut.


"Silakkan duduk." Ucap dokter.


Rickypun duduk dan melihat dokter mengambil resep obat.


"Bagaimana dokter keadaannya." Tanya Ricky.


"Sepertinya. ada masalah besar yang sedang menimpanya. saya berfikir kalau wanita ini sedang mencoba bunuh diri." Ucap Dokter.


"Ooohhh. Maafkan saya dokter. Ini semua karna saya. Saya mengakhiri hubungan saya dengannya. tepat empat jam yang lalu. saya tidak tau kalau sampai begini dokter..." Ucap Ricky. Tiba tiba menangis dan mengakui wanita tersebut sebagai kekasihnya.


"Kenapa kamu putus dengannya?" Tanya dokter.


"Orang tuanya tidak setuju dengan saya. Saya selalu direndahkan, hanya karna saya supir teman saya tadi, Dok." Ucap Ricky pura pura sedih.


"Oh berarti tadi itu teman anda." Tanya dokter.


"Ia dok..." Jawab Ricky. menggigit kedua bibirnya.


"Oh, Baiklah. ini resep yang harus kamu beli. kebetulan stok obat ini sudah habis, jadi kamu beli diapotik saja. untuk sekarang masih ada. ini obat untuk dibawa pulang." Ucap dokter.


"Baiklah dokter. apa saya bisa menemuinya sekarang. Saya menyessal dokter." Ucap Ricky, bersandiwara lagi.


"Baiklah, temui dan minta maaf padanya." Ucap dokter.


Rickypun keluar dan pergi menemui wanita tsrsebut.


"Hmmm... Jaman pacaran sekarang sangat berbeda dengan jaman dulu. mudah sekali mereka memutuskan untuk bunuh diri." Ucap dokter.


Setelah Ricky masuk. Ricky melihat wajah wanita tersebut. Ricky terpukau. Betapa cantiknya wanita yang tertidur dihadapannya.


"Hah... Kenapa tiba tiba jantungkuh, berdegup begini? Ini aneh, sudahlah. Aku harus menunggumu sampai kau benar benar pulih total." Ucap Ricky. Duduk disamping wanita tersebut.


Ricky yang menunggu terlalu lama, malah tertidur disamping wanita itu.


"Kau yang menabrakku." Ucap wanita itu


"Tidak... Bukan aku." Jawab Ricky.


"Kau menabrakku, kau harus bertanggung jawab Roy."


"Ehhh, darimana kau tau namaku?"


"Aku sudah pegang dompetmu. Kau tidak akan bisa lari."


"Wah, sepertinya kau mantan pencopet. lihai sekali tanganmu mengambil dompet ku."


"Tanggung jawab dan nikahi akuuuu."


"A.apah? Baiklah baiklah, aku akan tanggung jawab. Sudah kembalikan dompetku."


"Ayo kita pergi."


"Pergi?"


"Ti.tik, jangan sentuk aku jangan. kemana kau akan membawa ku... Tidak." Ucap Ricky terbangun dan melihat wanita itu masih belum sadarkan diri.


...


"Oh ya ampun, hanya mimpi." Ucap Ricky. dan duduk melihat wajah wanita tersebut.