
"Chel..." Panggil Ricky. datang menghampiri Chelsia.
"Ricky... kamu sendiri? Roy mana?" tanya Sasa.
"Tadi aku sudah menelponya. tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang sibuk. Aku juga sudah mengirimnya pesan." Ucap Ricky.
"Ohhh... Ya sudah. Ayo kita masuk, Sasa baru saja diperiksa dokter. Tinggal menunggu hasilnya." Ucap Sasa.
"Menunggu hasil?" Tanya Ricky.
"Ya... Dokter bilang, sepertinya Sasa sangat lemah sekali. makanya dokter memeriksanya tadi." Ucap Chelsia. duduk disamping Sasa.
"Yah, semoga saja hanya kelelahan." Ucap Ricky.
"Sasa sudah tau soal hilangnya Alex..." Ucap Chelsia.
"Tau darimana?" tanya Ricky.
"Entahlah..." Saut Chelsia.
Clep, suara pintu ruangan Sasa.
"Pak, boleh ikut saya sebentar?" Ucap Dokter. mengira Ricky adalah suami Sasa.
"Oh baik dokter." Jawab Ricky mengikuti dokter dari belakang.
Sesampainya mereka diruangan dokter tersebut. Ricky langsung duduk didepan meja dokter.
"Ini pak, hasil pemeriksaan istri bapak." Ucap Ricky.
"Istri?" Tanya Ricky.
"Ya... Silahkan dibaca." Ucap Dokter.
Ricky ingin menjelaskan bahwa dirinya bukan suami Sasa. Tapi Ricky menahannya, dan mulai membaca kertas yang diberikan dokter.
"Hamil? Sasa hamil, Dok?" Tanya Ricky. Kaget.
"Ya... selamat, istri bapak hamil. Sudah Empat minggu." Ucap Dokter. mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan dengan Ricky.
Demi menutup kehamilan Sasa. Dokter dan Rickypun bersalaman.
"Dok, saya permisi dulu." Ucap Ricky.
"Yahhh..." Saut Dokter.
Ricky berjalan cepat menuju ruangan Sasa, dan langsung memberikan kertas hasil pemeriksaan Sasa.
"Bagaimana?" Tanya Chelsia. melihat wajah Ricky yang panik.
"Mmmmm... Baca." ucap Ricky.
Chelsiapun membaca.
"Hamil?" Tanya Chelsia kaget.
Ricky mengangguk.
"Bagaimana kalau Sasa tau soal ini." Tanya Chelsia.
"Bagaiman kalau kita tidak memberitahukannya soal kehamilannya ini?" Tanya Ricky.
"Kita harus memberitahunya Kyy. Berjanjilah tidak meninggalkan kami." Ucap Chelsia. Matanya memelas.
Ricky menatap dalam mata Chelsia dan mengangguk.
"Baiklah, Aku akan bantu bicara padanya nanti." Ucap Ricky.
"Mmmmm." Saut Chelsia. mengangguk.
"Oia... Kamu sudah makan siang?" Tanya Ricky.
Chelsia menggelengkan kepalanya.
"Tunggu disini, aku belikan makanan untukmu." Ucap Ricky.
"Makasih yah." Ucap Chelsia. tersenyum kepada Ricky.
"Mmm, tunggu sebentar." Ucap Ricky. Lalu pergi.
Kring... kring... kring... Telepon dari ayah Sasa.
"Ayah Sasa? Aduh, aku jawab apah ini?" Ucap Chelsia membaca telepon masuk.
"Kenapa Chelsia tidak mengangkat ya buk?" Tanya ayah kepada ibu Sasa.
"Benarkan, Yah? ada yang tidak beres..." Ucap ibu Sasa.
"Ayah telepon lagi..." Ucap ayah Sasa.
Tut... tuuuutt...
"Halo... Pak. Apa kabar?" Jawab Chelsia. mengangkat telepon ayah Sasa.
"Kabar baik, nak... Bagaimana denganmu?" Tanya ayah Sasa.
"Emmm... kabar baik juga Pak." Ucap Chelsia. menahan dirinya agar tidak kedengaran gugup.
"Oia... Chelsia lupa, Pak. Kemaren Sasa memang bilang ke Chelsia, supaya menelepon Bapak dan ibu, soal ponselnya yang sedang rusak. Maafkan saya, Ya pak?" Ucap Chelsia.
"Ooo begitu? Apa Chelsia sedang bersama Sasa?" tanya ayah Sasa.
"Oh, tidak Pak. Sekarang Sasa istrahat pak.. Eee maksudnya, sedang bekerja. dan mungkin sekarang sedang makan siang Pak. Apa ada perlu Pak? biar Chelsia sampaikan kepada Sasa." Ucap Chelsia. Hampir ceplos.
"Tidak nak. baiklah, jika kalian baik baik saja disana. Bapak dan ibu sudah tenang disini." Ucap ayah Sasa. masih penuh dalam kekawatiran.
"Baik pak." Saut Sasa.
"Ya sudah. Bapak tutup teleponnya yah." Ucap ayah Sasa.
"Yah, Pak." jawab Chelsia.
Ayah Sasapun mematikan teleponnya.
"Chelsia bilang apa Yah?" Tanya ibu Sasa.
"Chelsia bilang mereka baik baik saja. Tapi kenapa ayah merasa, seperti sedih sekali ya buk? Apa hanya karna, ayah sangat rindu pada Sasa ya Buk?" Tanya ayah Sasa.
"Ibu juga akhir akhir ini sering memikirkan Sasa, Yah. perasaan ibu tidak enak." Ucap ibu Sasa.
"Sudahlah buk. Kita doakan saja, Putri kita baik baik saja disana." Ucap ayah Sasa.
"Amin Yah..." Ucap ibu Sasa.
....
"Hi... Maaf aku lama." Ucap Ricky. Meletakkan makanan untuk Chelsia dimeja.
"Ayo, kita makan sama. Kamu juga pasti belum makan kan?" Ajak Chelsia.
"Mmm, Belum lapar." Saut Ricky. Mengangguk.
"Ini buat kamu." Ucap Chelsia. Memberikan nasi bungkus untuk Roy.
"Tapikan, Aku beli cuma satu bungkus." Ucap Ricky.
"Kita bagi dualah." Ucap Chelsia.
Ricky tersenyum melihat Chelsia, yang sangat perhatian padanya.
"Ayo makan, Memandangku saja tidak bisa bikin kenyang." Ucap Chelsia. Bercanda.
"Hahahha, Baiklah." Ucap Ricky.
Merekapun makan bersama, sambil menunggu Sasa sadar dari pingsannya. Setelah Chelsia dan Ricky selesai makan. Dokterpun datang untuk mencek kembali keadaan Sasa.
"Selamat siang?" Ucap Dokter. Masuk keruangan Sasa dan memeriksa Sasa kembali.
"Ya, selamat siang, Dok." Jawab Chelsia. Hendak membuang sampah nasi bungkusnya.
"Dia belum sadarkan diri?" Tanya Dokter.
"Chel..." Ucap Sasa. Terbangun dari pingsannya.
"Oh, syukurlah. Kamu sudah sadar." Ucap Dokter.
"Kenapa aku sangat pusing sekali dokter?" Ucap Sasa.
"Tidak apa apa, itu biasa terjadi kepada wanita yang sedang hamil." Ucap Dokter...
Sontak Ricky san Chelsia panik.
"Apah? Akuuuuu Hamil, Dok?" Tanya Sasa, dengan nada terpatah patah.
"Ya, Kamu hamil, sudah empat minggu. Kamu harus menjaganya dengan baik. Makan makanan bergizi, supaya membantu tumbuh kembangnya. Jaga diri dan selalu hati hati. Baiklah, Saya permisi dulu." Ucap dokter.
Sementara Sasa sangat syok, mendengar pernyataan dokter, tentang dirinya yang sudah hamil empat minggu.
"Hamil... Aku Hamil? Aku tidak mau hamil...Aku tidak mau hamiiiiiilll.... Aaaaaaaaa. Tidak mungkin, aku tidak mungkin hamil." Ucap Sasa memukul perutnya.
Chelsia yang melihat reaksi Sasa, setelah mendengar dirinya sedang hamil. Chelsia langsung memeluk Sasa. Menahan Sasa agar tidak memukuli perutnya.
"Saa... Jangan lakukan itu. Kumohon.... Saaa..." Ucap Chelsia. Masih memeluk Sasa.
"Hhhhhhhh, Tidak... Aku harus membuangnya... aku harus membuangnyaaa... Aaaaaa. Bodoh, bodoh sekali kau Sasaaa... Bodoh... Aaaaa." Ucap Sasa memukuli tubuh dan kepalanya.
"Saa... Ku mohon, jangan. Dia tidak bersalah. Berikan dia hidup Saa." Ucap Chelsia. Terus memeluk Sasa, agar Sasa tidak melakukan hal yang merugikan dirinya.
"Saa... Jangan begini." Ucap Ricky. Kehabisan kata. Menangis melihat keadaan Sasa yang sangat terpuruk.
Sasa tidak mau mendengar Chelsia dan Ricky. Masih terus menangis, memikirkan nasipnya.
"Aku tidak bisaaaa... Aku harus bagaimana?" Tanya Sasa.
"Aku disini, selalu bersamamu. Kita hadapi sama sama Saaa." Ucap Chelsia.
"Yah, Kita hadapi sama sama?" saut Ricky. Memegang tangan Sasa.
"Haaaaa.... aaaaaaaaaaa... Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu ku nanti. Aku maluuuuu... aku maluuuu Chel, Kyy..." Tanya Sasa. Menangis.
"Percayalah, ayah dan ibu pasti bisa menerima mu Saa. Kau putri satu satunya. Kau adalah harta ayah dan ibu yang paling berharga. Bukankah ayah dan ibu selalu bilang begitu padamu. Mereka pasti menerimamu. Pokonya sekarang kamu harus sehat dulu, jangan memikirkan sesuatu yang memberatkan pikiranmu. yah." Ucap Chelsia. Menggenggam tangan Sasa.
"Mmmmm..." Saut Sasa. memeluk chelsia.