You'R My Destiny

You'R My Destiny
Minum obat tidur.



Merekapun sampai dirumah kontrakan Sasa.


"Okeh... Kamu duduk disini dulu yah... Aku masak air hangat dulu buat kamu." Ucap Chelsia.


"Yah." Saut Sasa duduk diruang tamu.


"Aku letakan dimana ini?" Tanya Ricky. Membawa tas Sasa.


"Letak disitu ajah." Tunjuk Sasa.


"Baiklah." Saut Ricky.


...


"Sudah siap?" Tanya Alex. Kepada nenek Dian yang akan berangkat kekota.


"Yah..." Jawab nenek Dian.


"Baiklah, ayo kita berangkat." Ucap Alex. Membawa barang bawaan nenek Dian.


Merekapun pergi, memotong jalan, melewati hutan kecil. Agar cepat sampai dipinggir jalan.


Mobil mobil mewahpun melewati mereka. tidak ada yang mau berhenti membawa mereka. Alex dan nenek Dian berjalan sudah melewati, lima kilo meter.


Alex dan nenek Dianpun beristirahat sejenak. Mereka sudah sangat kelelahan. Akhirnya mobil pengangkut barangpun, dan berhenti didepan Alex dan nenek Dian.


"Mau kemana?" Tanya supir.


"Kami mau ke kota, Bang..." Ucap Alex. memegang pundak nenek Dian yang kelelahan.


"Ayo masuk... Saya juga menuju kota." Ucap supir.merasa kasihan.


"Terimakasih bang... Ayo nek, naik..." Ucap Alex.


Nenek Dian tersenyum kepada Alex. Betapa Alex sangat menyayangi nenek Dian. Bahkan sangat menjaganya selama dalam perjalanan mereka.


Merekapun menempuh delapan jam, dari tempat nenek Dian tinggal.


Alex dan nenek Dian tertidur pulas didalam mobil pengangkut barang tersebut.


.....


"Saa... Ayo tidur." Ajak Chelsia.


"Kamu tidur disini?" Tanya Sasa. Melihat Chelsia masuk kekamarnya.


"Yah... Kenapa? apa ada yang salah?" tanya Chelsia.


"Rumahmu kan disebelah... kenapa tidur disini?" Tanya Sasa.


"Apa tidak boleh? Haaaah, Lelah sekali." Ucap Chelsia. Berbaring.


"Hem... Baiklah." Ucap Sasa. Tiba tiba berhenti melihat laci meja yang terbuka, dan didalam laci tersebut ada botol obat tidur. Sasa menutup laci tersebut dan berbaring disamping Chelsia.


Chelsia sengaja tidak tidur dan hanya berbaring membelakangi Sasa, pura pura tidur.


Chelsia takut, Sasa akan melakukan hal yang merugikan dirinya.


...Mengulang kembali...


"Chel... ikut aku." Ajak Ricky.


"Ada apa?" Tanya Chelsia.


"Untuk beberapa hari ini, Kamu tidur bareng Sasa dulu. okeh?" Suruh Ricky.


"Emang ada apa?" Tanya Chelsia. melirik Sasa.


"Takutnya dia bisa ngelakuin hal yang kemaren lagi." Ucap Ricky.


"Mmmm. bener juga. Baiklah..." Ucap Chelsia.


...


Tiga jam kemudian.


Chelsia mulai mengantuk.


Tiba tiba Sasa terbangun dan mendekati Chelsia. Chelsia langsung pura pura tidur, menutup matanya.


Sasa berjalan menuju laci yang ada obat tidurnya.


Chelsia bergerak sedikit, memantau gerak gerik Sasa.


Saat Sasa mengeluarkan beberapa obat tidur ketangannya.


"Saa?" panggil Chelsia curiga.


Sasapun langsung berbalik, dan menyembunyikan obat tidur tersebut dibelakangnya, dan menutup laci tersebut.


"Apa yang kau sembunyikan ditanganmu?" Tanya Chelsia.


"Oh... ti.tidak ada." Jawab Sasa. Tersenyum paksa.


"Coba aku lihat?" Tanya Chelsia.


Tiba tiba satu butir obat tidur jatuh dari sela jari jari Sasa.


Chelsiapun melihat obat tersebut, mengambilnya lalu membuka laci meja dibelakang Sasa.


"Obat tidur? Berikan, Berikan Saa... Sasa berikan." Ucap Chelsia merampas obat yang ada ditangan Sasa.


Sasapun terpental ke tempat tidur.


"Saa. Bisa tidak kamu sayang sedikit dengan dirimu dan bayi itu? Saa. Dia tidak bersalah, Dia juga tidak meminta kau melahirkannya. Saa, Plis. Apa kau tidak kasian melihat ayah dan ibumu nanti? Bagaimana perasaan mereka setelah mendengar kabar buruk darimu? Saa... Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu. Kamu harus kuat." Ucap Chelsia. Lalu memeluk Sasa.


Sasa yang hanya diam, dan menangisi semua yang terjadi.


.....


"Nek... bangun, kita sudah sampai." Ucap Alex.


"Yah..." Saut nenek.


"Bang... terimakasih yah. Semoga abang selamat sampai tujuan." Ucap Alex kepada supir pengangkut barang.


Supirpun pergi dan membunyikan klaksonnya.


"Jalan merdeka Nek. Sekitar, dua jam lagi kerumah Alex."


"Baiklah." Saut nenek Dian.


"Taksi..." Panggil Alex.


Merekapun pergi menuju rumah. Didalam mobil Alex menceritakan kebaikan keluarganya. Bahkan Alex punya wanita yang selalu bersamanya.


"Nenek akan lihat... Dia wanita yang sangat cantik, Elsa namanya." Ucap Alex.


"Oh yah? Dia pasti wanita yang sangat beruntung." Ucap nenek dian.


"Yah... Alex sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." Ucap Alex. Tersenyum lebar bercerita panjang lebar kepada nenek Dian.


"Kita sudah sampai, Pak..." Ucap Sopir taksi.


"Ini ongkosnya Pak..." Ucap nenek Dian. Memberikan ongkos.


Merekapun keluar dari mobil dan berdiri didepan pintu gerbang rumah Alex yang sangat besar.


"Ayo Nek." Ajak Alex.


Pintu gerbang dengan tulisan TH itupun terbuka dengan sendirinya. Mempersilahkan Alex dan nenek Dian masuk kedalam. Rumah besar dengan lahan taman yang begitu luas, mereka lewati menuju rumah Alex.


"Rumahmu besar sekali nak..." Ucap nenek Dian. melihat Rumah Alex yang begitu besar mengagumkan.


"Yah... Kita akan tinggal disini." Ucap Alex. Menatap rumahnya.


Sesampainya didepan rumah, Alex dan nenek Dian pun masuk. Membuka pintu rumah, dan melihat Elsa dan mamah Alex duduk berdua dalam duka.


"Mah..." Panggil Alex.


Suasana tenang menjadi tegang.


"Alex..." Ucap mama Alex. Bediri dan berlari meraih Alex.


"Ya, Mah." Saut Alex.


"Alex... Anakku." Ucap mamah Alex. Memeluk Alex dengan erat.


Saat Alex, dipeluk erat mamahnya. Alex melihat Elsa, Berdiri diruang tamu, tidak mendekatinya. Alex ingin tersenyum padanya, tapi hati Alex tidak sesemangat saat bercerita dengan nenek dian.


"Kenapa hatiku, tidak bergerak sedikitpun setelah melihatnya yah?" Ucap Alex dalam hati.


"Nak, Kamu dari mana Saja? Mamah sangat merindukanmu." Ucap Mamah. mencium kening Alex.


"Alex?" Ucap Alex. Tiba tiba kepalanya sangat sakit. Mengingat bayangan gelap saat dirinya batal menikah, saat berduan bersama Sasa, dan menunjuk marah kepada mamanya. Tapi semua wajah yang Alex ingat, samar.


Alexpun pingsan.


"Alex? Alex? Alex bangun nak..." Teriak mamah Alex.


Dengan sigap Elsa memanggil para pengawal. Alexpun dibawa kerumah sakit biasa Alex dirawat.


Saat dalam perjalanan, mamah Alex terus membangunkan Alex, berharap Alex cepat sadar.


Sesampainya dirumah sakit, Alex langsung dibawa keruang unit gawat darurat.


"Ibu, tunggu diluar." Ucap Dokter.


"Tolong anak saya, Dok..." Ucap mamah Alex.


Setelah beberapa jam memeriksa Alex, dokterpun keluar.


"Bagaimana dok?" Tanya mamah Alex.


"Kita bicara diruangan Saya saja buk.." Ajak Dokter.


"Kenapa dok? apa ada yang parah?" Tanya mamah Alex.


"Silahkan duduk buk." ucap dokter.


"Ya..." Saut mamah Alex. lalu duduk.


"Begini buk... Sepertinya kecelakaan waktu lalu mengakibatkan benturan hebat, dikepala Alex. Sehingga terjadi penggupalan darah dikepalanya. Mendorong sistem saraf menjadi tidak berfungsi. Sehingga mengakibatkan lupa ingatan. Sepertinya ingatannya mundur sepuluh tahun buk. Dan saya berharap, setelah operasi nanti. Alex jangan dipaksa untuk berfikir dan mengingat masa lalu." Ucap Dokter.


"Lakukan saja yang terbaik dok. Selagi itu demi kebaikan anak Saya." Ucap mamah Alex.


"Baik buk... besok kami akan melakukan operasi. Silahkan tanda tangan disini." Ucap dokter.


Mamah Alexpun menanda tangani surat persetujuan operasi Alex.


"Saya permisi dulu dokter." Ucap mamah Alex.


Saat keluar dari ruangan dokter tersebut. Mamah Alex melihat nenek Dian menunggu didepan pintu. Mamah Alexpun menemui nenek Dian, dan langsung memeluk nenek Dian.


"Nek... terimakasih sudah menyelamatkan dan merawat anak saya selama ini..." Ucap mamah Alex.


"Ya, sama sama. Dia anak yang baik, penurut dan sangat peduli. Kasihan dia." Ucap nenek Dian.


"Ia Nek. Selama ini, saya berdoa kepada Tuhan agar Alex kembali padaku, nek." Ucap mamah Alex.


"Kita doakan saja, kondisinya semakin membaik." Ucap nenek Dian. terus menatap keruangan Alex.


"Yah. semoga bisa seperti dulu lagi." Ucap mamah Alex.


"Mah, bagaimana keadaan Alex?" Tanya Elsa, baru tiba.


"Alex lupa ingatan..." Ucap mamah Alex. Duduk dibangku tunggu.


"Apah? lupa ingatan... Bagaimana bisa?" Tanya Elsa.


"Yah, Dokter bilang, kepala Alex terbentur. ingatannya juga mundur sepuluh tahun lalu." Ucap mamah Alex.


"Lupa ingatan? berarti Alex bakal melupakan Sasa dong? Bagus, ini rencana diluar dugaanku. Alex memang ditakdirkan bersamaku. Semoga setelah ini, aku dan Alex jadi menikah." Ucap Elsa dalam hati.


"Oia. Mamah belum makan kan, Elsa pergi beli makan dulu untuk mama yah." Ucap Elsa.


"Belikan juga untuk nenek itu. Dia yang sudah menyelamatkan Alex." Ucap mamah Alex.


"Baik mah, tunggu sebentar." Ucap Elsa. lalu pergi.


"Aku harus membatalkan keberangkatanku keluar negri. Aku akan memulai semua dari awal. agar Alex mencintaiku. Aku juga harus lebih perhatian lagi ke mamah Alex." Ucap Elsa, Tersenyum miring. berbicara sendiri, menuju mobilnya.