
"Terima kasih." Ucap Alex.
"Ya, Sama sama." Ucap Sasa tersenyum lalu pergi masuk kedalam mobil.
"Aku lapar." Ucap Alex. Masuk kedalam mobil.
"Lapar?" Tanya Sasa.
"Mmm Lapar." Ucap Alex menatap Sasa.
"Jangan menatapku begitu, Ayo kita pergi, cari makanan pinggiran." Ucap Sasa.
"Ayooo. lets go." Ucap Alex
Sasa tersenyum melihat Alex yang tidak pernah menolak satupun perkataan Sasa.
"Itu disana. ada sate kerang, paling enak sedunia." Ucap Sasa.
"Benarkah" Tanya Alex. terus berjalan menuju penjual sate kerang.
"Mmm... Kemaren kamu udah bawa aku makan banyak, sekarang gantian. Aku yang traktir kamu." Ucap Sasa.
"Mmm, boleh boleh." Ucap Alex.
"Ka... Pesan tiga sate kerangnya, Ya." Ucap Sasa kepenjual sate kerang
"Oke." Ucap penjual sate.
"Tiga? untuk siapa..." Tanya Alex. duduk.
"Untukmu satu dan untukku dua." Ucap Sasa.
"Haaa dua?" Tanya Alex heran. melihat Sasa dari atas sampai bawah.
"Kenapa melihatku begitu?" Tanya Sasa.
"Emm tidak apa apa." Ucap Alex. memalingkan pandangannya.
"Entahlah, jika aku gendut nanti. masih ada yang suka atau tidak" Ucap Sasa.
"Aku... aku yang akan mencintaimu, apapun yang terjadi." Ucap Alex. memegang tangan kiri Sasa.
"Emmm... Baiklah." Ucap Sasa menarik tangannya.
"Ini satenya." Ucap penjual sate.
"Terimakasih." Ucap Sasa.
"Gantengnyaaa... Pacarnya ya mbak?" Tanya penjual sate.
"Haa." Saut Sasa. dan Alex memotong.
"Ya... Saya pacarnya." Ucap Alex.
"Ow... selamat menikmati." Ucap penjual sate. tersenyum.
"Ya..." Jawab Sasa.
Sasa meletakkan ponsel baru yang Alex berikan.
"Alex. Kau terlalu banyak membantuku. Jangan melakukan ini lagi. Utangku saja belum bisa ku bayar padamu" Ucap Sasa. kepada Alex yang sedang menikmati sate.
"Mmmm? Utang? Utang apa?" Tanya Alex.
"Aku tau kau pasti menebusku dari penjahat itu. dan aku tau juga, itu bukan uang yang sedikit." ucap Sasa.
"Aku kan sudah berjanji padamu, apapun akan ku lakukan untukmu." Ucap Alex. sambil makan.
"Tapi kan, Lex." Ucap Sasa.
"Sssttt... makanlah. tidak sopan makan sambil berbicara." Ucap Alex memotong pembicaraan Sasa.
Sasapun tersenyum melihat Alex. menyantap sate paling enak.
"Mmm nanti kita akan singgah sebentar, bisakan ikut dengan ku sebentar?" Tanya Alex.
"Kemana?" Tanya Sasa.
"Yang pasti bukan kerumah penjahat kemaren. Hahaha." Ucap Alex.
"Iii..." Saut Sasa jengkel.
"Hahha... jangan kawatir selagi bersama ku. kau akan baik baik saja." Ucap Alex. mengangkat dagunya.
"Hah... Aduh... aku kenyang sekali." Ucap Sasa.
Alex tersenyum lebar melihat wanita yang dia cintai, menunjukkan sifat aslinya.
Setelah selesai makan. Alex mengajak sasa kepantai, Alex ingin menceritakan tentang dirinya dan Elsa.
Sesampainya mereka dipantai tersebut. Alex mengajak Sasa keluar dari mobil.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Sasa.
"Kembalilah kekota, dan bekerja dihotel grand suaka itu lagi." Ucap Alex.
"Maaf Lex, Aku bersama ayah dan ibuku bahagia disini." Ucap Sasa.
"Kenapa? Apa alasanmu untuk tetap tinggal disini. Sementara disini, mengontrak, Rumah kecil, panas dan Sesak. Ayolah Saa." Rayu Alex merasa kasian melihat Sasa tinggal ditempat terpencil.
"Rumah tangga? rumah tangga siapa?" Tanya Alex.
"Kau dan Elsa." Ucap Sasa. menunduk.
"Hahaha... Saa sa. Aku dan Elsa tidak jadi menikah." Ucap Alex. tersenyum.
"Apah? jangan bohong Lex. Sebelum aku pergi, aku datang melihat acara pernikahanmu dengan Elsa. Pernikahan dua orang yang sangat bahagia." Ucap Sasa.
"Hari itu, mamaku jatuh dari tangga. sehingga acara pernikahan dibatalkan." Ucap Alex. menunduk.
"Apah?" Tanya Sasa kaget.
"Yah... besoknya, semua stasiun televisi mengabarkan berita tentang pernikahan putra Raka Buming yang gagal menikah. Perusahaan juga menurun drastis, bahkan hampir bangkrut. ditambah lagi kau pergi meninggalkan aku. Hancur sudah hidupku" Ucap Alex tersenyum miring.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Alex.
"Itu karna Kau takdirku." Ucap Alex mendekati Sasa dan memegang kedua tangannya.
"Tapi Lex?" Ucap Sasa.
"Ssstttt, tidak ada yang salah dengan kita. Apa kau tidak sadari itu? Saat kamu pergi dariku, lalu jumpa lagi dengan insiden itu... Itu cerita yang mustahil terjadi. Tapi itu terjadi... Karna apa? Karna kamulah takdirku Saa." Ucap Alex.
Sasapun menatap Alex, sampai akhirnya Alex menarik tubuh Sasa dan memeluknya.
"Jangan pergi tinggalkan aku. Aku mencintaimu bahkan dari awal kita bertemu." Ucap Alex memeluk dan mengelus kepala Sasa.
Sasapun luluh dengan ucapan Alex. Percaya semua apa yang Alex katakan.
"Yah... Sasa dan Alex kenapa belum balik juga sih" Tanya ibu Sasa.
"Jangan kawatir buk, kan ada Alex yang jagain." Ucap ayah.
"Ia sih, tapi ibu kawatir banget, Yah... Takut terjadi sesuatu lagi." Ucap ibu Sasa
"Kami pulaaaaang..." Ucap Sasa. membawa barang barang belanjaan.
"Tuh, panjang umur." Ucap ayah Sasa.
"Kenapa lama sekali nak, ibu kawatir tau." Ucap ibu Sasa.
"Tenang buk. jika bersama ku, semua akan baik baik saja." Ucap Alex.
"Sudah sudah... ayo duduk dulu, pasti sudah capek kan? Buk bikinin teh untuk mereka." Ucap ayah.
"Ia Yah." Saut ibu pergi kedapur.
"Oia, kenapa belanjanya banyak begini?" Tanya ayah Sasa.
Sasa terdiam melirik Alex.
"Eee Ayah, dipanggil ibu tuh." Ucap Sasa mengalihkan pembicaraan ayahnya.
"Enggak ada tuh, ibu manggil." Ucap ayah Sasa.
Alex tersenyum melihat Sasa. Alex sadar bahwa dirinya sedang dikerjain oleh Sasa.
"Pak, Saya permisi pulang dulu ya Pak." Ucap Alex.
"Loh, mau kemana? minum dulu, ibu udah bikinin teh." Ucap ibu Sasa.
"Saya ada pekerjaan sedikit buk, jadi harus disiapin malam ini. dan besok harus sudah selesai Buk, Pak." Ucap Alex.
"Ooohhh, baiklah. Terimakasih sudah menemani Sasa belanja... Ayo Saa. Antar Alex sampai depan." Ucap ayah.
"Baik Yah. Yok, Aku antar sampe depan." Ajak Sasa.
"Permisi Buk, Pak." Ucap Alex.
"Ya, Hati hati ya nak." Ucap ayah Sasa.
Sesampainya didepan. Alex tersenyum melihat Sasa.
"Kenapa melihatku begitu." Ucap Sasa.
"Aku pasti merindukan mu." Ucap Alex.
"Hah... Kan apa ponsel ini." Ucap Sasa menunjukkan ponsel yang Alex berikan.
"Oia... Aku lupa. Aku pergi dulu." Ucap Alex. masih berdiri dekat mobilnya.
Sasa mengangguk dan tersenyum, tapi Alex belum gerak juga.
"Nanti aku telpon kamu." Ucap Alex, tersenyum menggeleng gelengkan kepalanya.
"Baiklah..." Jawab Sasa. masih menunggu sampai Alex pergi.
"Jangan lupa." Ucap Alex, dari pintu mobilnya.
"Iaaa... Aleeeexxxx. Baee." Ucap Sasa tersenyum lebar.
"Jangan lupa." Ucap Alex lalu pergi.
"Hah... Alex... Alex... Entah kenapa aku bisa mencintaimu. Aku bahkan takut untuk mencintaimu. perbedaan kita bagai langit dan bumi" Ucap Sasa, menatap mobil Alex yang semakin jauh.
"Bagaimana bisa aku tenang, jika aku jauh darimu. Meski ada ponsel, rasanya hati ku lebih damai dekat denganmu." Ucap Alex, tersenyum melihat Sasa dari sipion mobilnya.