
"Alex.... Alex... Alex..." panggil Ricky. Tubuhnya ditahan oleh Chelsia. Agar tidak melompat untuk mencari Alex.
Suara air sungai yang begitu deras, membuat Chelsia sangat takut dan terus menahan tubuh Ricky.
Bantuan dari polisi dan team sarpun sudah sampai. Polisi mengamankan Rycky dan Chelsia. memberikan selimut dan teh hangat untuk mereka.
"Pulanglah, kami akan mencarinya. sekuat tenaga kami." Ucap Polisi yang memberi selimut.
"Tidak pak... saya akan menunggunya." Ucap Ricky menangis.
"Mmm Baiklah... Tetaplah disini. Jangan melakukan kesalahan." Ucap Polisi. dan pergi membantu, mencari Alex dan mobilnya.
"Ricky... dimana Alex?" Tanya mamah Alex. Datang bersama Elsa.
"Kenapa bisa begini...?" Tanya Elsa.
"Itu semua, karna ulah ibuk..." Ucap Ricky.
"Apa maksud kamu?" Tanya mamah Alex.
"Ya... jika ibuk dan Elsa tidak melakukan hal bodoh itu. mungkin ini tidak akan terjadi." Ucap Ricky.
"Maksud kamu, Saya bodoh melakukan yang terbaik buat anak saya?" Tanya mamah Alex.
"Ya... Semalam, Sasa mencoba bunuh diri. tapi gagal, ada orang yang menyelamatkannya. Dan sekarang, Alex... Alex bunuh diri buk." Ucap Ricky menatap tajam mamah Alex.
"Apah? tidak... Alex tidak mungkin melakukan itu." Ucap mamah Alex.
"Inilah yang terjadi, jika ibuk memisahkan orang yang saling mencintai." Ucap Ricky dan kembali duduk.
"Tidak... Alex... Alex... Anakku Aaaaa...... Alex..." Mamah Alex menangis histeris.
Elsa tidak berani berbicara, hanya menahan tubuh mamah Alex agar tidak melewati garis polisi.
....
"Ayo makan?" Ucap Roy. Membawakan Sasa sarapan pagi.
"Terimakasih ya Roy. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika, kau tidak ada disana." Ucap Sasa.
Roy tersenyum, melihat Sasa sudah membaik.
kring... kring... kring... Suara telepon Roy.
"Siapa?" Tanya Sasa.
"Daniel... Aku angkat dulu." Ucap Roy.
Sasa tersenyum mengangguk.
"Halo, Roy.... Kau sudah dengar berita?" Ucap Daniel. dengan suara tergesa gesa.
"Ada apa? bicaralah dengan tenang." Ucap Roy.
"Apa Sasa bersamamu?" Tanya Daniel.
"Tidak. Dia sedang duduk." Ucap Roy. menoleh dan melihat Sasa duduk dikasur.
"Jangan biarkan dia menonton televisi dan mendengar ucapanku ini..." Ucap Daniel. membuat Roy semakin bingung.
"Ada apa? katakan saja..." Ucap Roy. semakin penasaran.
"Alex. jatuh dari jembatan penghubung pulau motan dengan pulau tempat Sasa tinggal." Ucap Daniel.
Roy sangat terkejut mendengar kabar dari Daniel. menatap kearah Sasa dengan tatapan kekawatiran yang luar biasa.
"Aku tutup dulu." Ucap Roy.
Roy melihat Sasa ingin menyalakan televisi. Roy langsung menghentikan Sasa dan mengambil remot dari tangan Sasa.
"Kenapa?" Tanya Sasa.
"Kamu harus istrahat, jangan mendengar atau melihat kabar yang tidak baik, untuk sekarang." Ucap Roy.
Sasa tersenyum lepas.
"Terimakasih." Ucap Sasa.
"Baiklah. Aku ada urusan sebentar. Aku pasti cepat kembali." Ucap Roy.
"Ya..." jawab Sasa. mengangguk.
Roypun pergi kelokasi kejadian.
"Halo Dan, temui aku dilokasi kejadian." Ucap Roy. Menelpon Daniel.
"Okey." Ucap Daniel menatap Katrin.
"Ada apa?" Tanya Katrin yang kebetulan bersama Daniel.
"Roy menyuruhku datang ke lokasi tempat kejadian." Ucap Daniel.
"Ya sudah. pergilah, aku akan menemui Sasa dihotel." Ucap Katrin.
"Okeh. Kamu hati hati ya." Ucap Daniel. mencium kening Katrin.
"Daaa..." Ucap Katrin lalu pergi.
"Hi... Bagaimana, sudah ada kabar?" Tanya Roy. memberikan Ricky teh hangat.
Keadaan Ricky yang kacau membuat Roy kasihan padanya.
Ricky menggeleng gelengkan kepalanya.
"Belom..." Ucap Ricky. menerima pemberian Roy.
"Semoga cepat ditemukan, dengan keadaan selamat." Ucap Roy.
"Yah... Saya juga berharap begitu." Ucap Ricky. menunduk.
"Minumlah... itu bisa menghangatkan mu." Ucap Roy.
Rickypun meminum pemberian Roy.
"Bagaimana keadaan Sasa." Tanya Ricky.
"Huff.... aku tidak memberitahunya." Ucap Roy.
"Dia aka baik baik saja." Ucap Roy menatap sungai.
"Apa yang kau harapkan?" Ucap Ricky. melihat Roy.
"Tidak ada. Aku hanya prihatin." Ucap Roy.
"Hah... Prihatin? bukankah lebih mudah jika Alex sudah mati?" Ucap Ricky.
"Tidak... akan lebih seru jika punya saingan yang seimbang." Ucap Roy.
"Kau akan menyessal, jika mengharapkannya hidup." Ucap Ricky.
"Ya... Aku tau itu. setidaknya aku sudah berjuang." Ucap Roy.
"Apa maksudnya? sebenarnya dia kesini menginginkan Alex mati atau hidup? Aneh sekali." Ucap Ricky dalam hati.
"Roy..." Panggil Daniel.
"Saya kesana dulu." Ucap Roy.
"Mmmm." Saut Ricky.
"Ada apa menyuruhku datang kesini" Tanya Daniel.
"Cari bantuan." Ucap Roy.
"Kenapa kau membantunya?" tanya Daniel.
"Nanti kau juga akan tau." Ucap Roy. lalu pergi.
"Aneh sekali... kenapa tiba tiba dia peduli pada musuhnya? Sepertinya ada yang tidak beres ini." Ucap Daniel. Curiga.
"Pak... pulanglah untuk istrahat. kami akan berusaha semampu kami. jika ada kabar baik, kami pasti akan menghubungi bapak." Ucap salah satu team sar.
"Baiklah." Jawab Ricky, menyadari dirinya yang terlihat sangat berantakan.
Kling... Suara pesan
"Mamah Alex masuk rumah sakit." Pesan Elsa.
"Aku akan segera kesana." Balas Ricky.
Ricky yang terlihat sangat lessu. menangis mengingat kejadian Alex jatuh kesungai didepan matanya. ditambah lagi mamah Alex masuk rumah sakit. Ricky menggarut kepalanya sangat kuat. Betapa sedihnya dirinya akan kehilangan sahabat yang paling dia cintai.
Kring... kring... kring...
"Halo aku pasti kesana, sabarlah." ucap Ricky. mengakat telepon.
"Ada Ricky? kenapa kau sangat marah? ini aku Chelsia." Ucap Chelsia. Takut.
"Maafkan aku." Ucap Ricky. menghapus air matanya.
"Aku akan kesana, jangan kwatir, semua akan baik baik saja." Ucap Chelsia.
"Aku akan menjemputmu. tunggu disana." Ucap Ricky.
"Baiklah. Aku tunggu." Jawab Chelsia. dan mematikan ponselnya.
Rickypun pergi membawa mobilnya. sesekali Ricky menghapus air matanya.
"Aku memang sahabat tidak berguna." Ucap Ricky. memukul setirnya.
"Ya Tuhan, selamatkan Alex. Ricky pasti sangat terpukul atas kejadian ini." Ucap Chelsia. menggenggam ponselnya.
Roy membelikan Sasa makanan yang banyak. Berharap Sasa tidak mengingat kejadian itu lagi.
ting nong... ting nong...
Suara bell kamar Sasa.
"Itu pasti Roy." Ucap Sasa. membuka pintu.
"Hi... aku bawakan makanan untuk mu." Ucap Roy tersenyum kepada Sasa.
"Mmm terimakasih. Aku sangat bosan disini." Ucap Sasa.
"Baiklah... Besok kita akan pergi jalan jalan. tapi sekarang kita harus makan siang dulu, Okeh?" Ucap Roy.
"Okeh." Jawab Sasa. tersenyum lebar.
....
Tok...tok...tok... suara pintu kamar Chelsia.
"Ricky... Ya ampun, kau baik baik saja?" tanya Chelsia. melihat Ricky sangat lemas.
"Hemmm... " Saut Ricky. berjalan dengan menyeret kakinya.
"Tunggu disini. aku bikinkan air hangat dulu untukmu." Ucap Chelsia.
"Tunggu Chel..." Ucap Ricky. menahan tangan Chelsia.
"Mmmm ada apa? Katakan..." Ucap Chelsia.
"Apa kau mau membantuku?" Tanya Ricky.
"Ya... Aku pasti akan membantumu." Ucap Chelsia.
"Temani aku kerumah sakit." Ucap Ricky.
"Rumah sakit? ngapain kesana?" tanya Chelsia. bingung.
"Mamah Alex, jatuh sakit. dan dia sedang dirawat disana." ucap Ricky.
"Kenapa bukan Elsa saja yang mengurusnya. Bukankah itu menantu kesayangannya?" Ucap Chelsia. Menolak.
"Demi aku... Plis." Ucap Ricky.
"Hemmm... Baiklah. Tapi kamu harus makan dan istrahat dulu sebentar. Okeh." Ucap Chelsia.
"Baiklah... Terimakasih." Ucap Ricky.
"Sama sama." Ucap Chelsia. Tersenyum memberi Ricky semangat.
Rickypun tersenyum melihat Chelsia menyemangatinya.