You'R My Destiny

You'R My Destiny
Cek kehamilan.



"Terimakasih dokter. Saya pasti akan selalu jaga kandungan saya." Ucap Sasa.


"Baiklah. Ini vitamin. satu kali satu hari. dan yang ini juga satu kali sehari." Ucap dokter.


"Baik. Terimakasih, Dok." Ucap Sasa.


Chelsia yang menemani cek kehamilan Sasa. sangat bahagia mendengar, Sasa akan memperjuangkannya.


Merekapun keluar dari ruangan dokter kandungan.


"Bagaimana?" Tanya Roy. menunggu diluar.


"Semua baik baik saja. dan yang paling mengembirakan, Aku dan Chelsia tadi mendengar suara detak jantungnya, loh." Ucap Sasa.


Roy melirik Chelsia, merasa ada yang aneh dengan Sasa.


Ricky dan Chelsiapun tersenyum bersamaan.


"Ada apa?" Tanya Sasa.


"Tidak... syukurlah, kalau bayinya semakin aktif. Ya kan?" Ucap Ricky. melihat Chelsia.


"Mmm. Ya..." Jawab Chelsia. Tersenyum lebar.


"Oia Kyy... Dimana Alex dirawat?" Tanya Sasa. Sontak senyum Ricky menjadi tegang.


"Untuk apa?" Tanya Ricky. wajahnya musam.


"Aku hanya ingin melihatnya saja." Ucap Sasa.


"Hemmm... Baiklah. Tapi berjanjilah, jangan melakukan sesuatu disana. Itu bisa mengganggu ingatannya." Ucap Ricky.


"Ya... Aku janji." Ucap Sasa.


Merekapun pergi kerumah sakit tempat Alex dirawat.


Dalam perjalanan Sasa meremas remas jari jarinya. Gelisah, membuat Sasa seperti tidak nyaman.


Sesampainya disana, Ricky dan Chelsia turun dari mobil. sementara Sasa masih berfikir panjang.


"Saa...Kita sudah sampai." Ucap Chelsia. memanggil Sasa untuk keluar dari mobil.


Jantungnya semakin cepat berdetak. hatinya pun mulai tidak tenang.


"Hufff... Aku kuat... Ya, Aku kuat." Ucap Sasa dalam hati.


Sasapun keluar dan berjalan bersama.


"Disana pasti masih ada Elsa dan mamah Alex. kita melihatnya dari luar saja ya." Ucap Ricky.


"Ya..." Saut Sasa. menelan ludahnya.


Chelsia memegang tangan kanan Sasa, sementara Ricky berjalan disamping sebelah kiri Sasa.


Alex yang sudah siuman sejak pagi tadi. Membuat Elsa dan mamah Alex sangat bersemangat.


"Alex... Kita makan siang dulu yah..." Ucap Elsa.


Alex menganggukkan kepala.


"Mah. Kenapa Alex tidak mengingat sedikitpun selama sepuluh tahun ini..." Ucap Alex. Masih merasa ada yang kurang.


"Nak, perlahan kamu akan ingat." Ucap mamah Alex.


"Lalu apa yang menyebabkan Alex lupa ingatan." Tanya Alex.


"Hari itu kita akan menikah. Saat itu kamu lupa membawa cincin pernikahan kita. Padahal, pendeta sudah bilang, jangan dipaksakan. Tapi kamu bilang, cincin itu hanya ada satu didunia ini. Dan akan singgah dijari wanita yang paling kamu cintai. Dan itu aku. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kamu melaju mobil sangat kencang, sampai sampai kamu hilang kendali dan terjatuh kesungai." Ucap Elsa. Menatap Alex.


Mamah Alex tersenyum sedikit.


Alex masih tidak percaya dengan cerita yang dia dengar dari Elsa.


"Lalu kenapa kalian tidak mencariku?" Tanya Alex.


"Alex. Semuanya sudah mamah kerahkan, tapi tidak ada hasil." Ucap Mamah Alex.


"Oia... Dimana nenek Dian?" Tanya Alex.


"Oh, Aku sudah memberinya yang pantas untuknya. atas apa yang sudah dilakukannya padamu." Ucap Elsa.


"Maksudnya" Tanya Alex.


"Ya, Aku beri Dia rumah, usaha kecil kecilan dan pakaian yang layak untuknya." Ucap Elsa. Berbohong kepada Alex.


Yang sebenarnya Elsa mengantarkan nenek dian kepanti asuhan. dan memberikan sedikit uang untuk nenek Dian.


"Terimakasih." Ucap Alex. Tersenyum melihat Elsa.


Sasa, Chelsia, dan Ricky sudah sampai didepan ruangan Alex. Dan hanya bisa melihat dari pintu kaca ruangan Alex.


"Itu Alex, Saa." Ucap Ricky.


Sasapun melihat Elsa menyuapi Alex. Kepalanya diperban, bekas operasi. Sasa menangis, betapa sakitnya yang Alex lalui. Sasa tersenyum sedikit melihat Alex sudah membaik, sambil mengapus air matanya.


Tiba tiba Alex melihat pintu ruangannya. Dan melihat seorang wanita yang membelakangi pintu. Jantungnya tiba tiba berdegup kencang, merasa ada yang aneh dengan wanita yang berdiri didekat pintu ruangannya tersebut.


"Ahhh... Jantungku kenapa melemah begini?" Tanya Alex. Menyentuh dadanya.


"Kamu kenapa Lex?" Tanya Elsa.


"Tunggu sebentar mamah panggilkan dokter." Ucap mamah Alex.


"Saa." Ucap Ricky menarik Sasa dan bersembunyi dibalik tembok.


"Ada apa?" Tanya Sasa.


"Oh..." Saut Sasa, lalu membelakangi mamah Alex.


"Kita harus balik, takutnya mamah Alex, melihat kita." Ucap Elsa.


"Yah... Ayo kita pergi." Ucap Ricky.


Tiba tiba Chelsia berhenti dari langkahnya. Tangannya ditahan oleh Sasa.


"Saa... Ada apa?" Tanya Chelsia.


Rickypun berhenti melihat Sasa.


"Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Sasa.


Sontak membuat Chelsia dan Ricky sangat kaget.


"Sa.. kamu sudah berjanji padaku. Plis, jangan tambah masalah." Ucap Ricky.


"Kyy... Ku mohon." Ucap Sasa memegang tangan kiri Ricky.


Chelsia dan Ricky saling menatap dengan penuh kekawatiran.


Tiba tiba Ricky mengingat waktu Alex masuk rumah sakit.


"Tunggu disini." Ucap Ricky lalu pergi.


"Kamu mau kemana Kyy?" Tanya Chelsia.


"Maafkan aku, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya." Ucap Sasa. bicara kepada Chelsia. Matanya berkaca kaca.


"Aku tau. ya sudah, kita tunggu Ricky saja dulu." Ucap Chelsia.


Rickypun kembali dan meminta Sasa dan Chelsia bersembunyi.


"Ada apa?" Tanya Chelsia.


"Mamah Alex, lewat lagi." Ucap Ricky.


Mereka melihat mamah Alex lewat bersama dokter, yang menangani Alex.


"Bagaimana Kyy?" Tanya Sasa.


"Huhhh, Ada kabar baik. Apa kamu masih Ingat, waktu kamu menyelinap keruangan Alex saat dia jatuh pingsan dihotel?" Tanya Ricky.


"Ya... aku ingat semua." Ucap Sasa.


"Ingat juga dokter yang memeriksanya waktu itu dan membiarkanmu masuk untuk menjaga Alex, dengan pakaian perawat?" Tanya Ricky.


"Ya... Aku ingat. Dia pernah bilang 'jika butuh sesuatu kamu boleh minta tolong padaku.' begitu katanya." Ucap Sasa.


"Yap... Dokter itu lah yang menangani Alex sekarang. Kamu tau maksudku kan?" Ucap Ricky.


Sasapun tersenyum lebar, bahwa dirinya akan bertemu dengan Alex.


"Kita akan menemui dokter itu, setelah dia selesai memeriksa Alex." Ucap Ricky.


"Yah... Terimakasih Kyy. Aku tidak tau bagaimana lagi, jika kalian tidak ada disisiku. Mungkin aku, sudah." Ucap Sasa. menangis.


"Ssssttttt, jangan bilang begitu. Kita pasti bisa buat Alex mengingat kita lagi." Ucap Chelsia. tersenyum.


"Makasih." Ucap Sasa memeluk Chelsia.


"Ayo. Dokternya mungkin sudah selesai memeriksa Alex." Ucap Ricky. Menuju ruangan dokter tersebut.


Saat Ricky membuka pintu ruangan dokter. Dokter tersebut belum kembali.


"Dokternya belom ada Kyy." Ucap Chelsia.


"Kita tunggu didalam saja." Ucap Ricky.


"Bagaimana kalau dokternya, marah?" Tanya Sasa.


"Sudah, aku yang jawab nanti. Ayo masuk." Ucap Ricky.


Merekapun masuk dan duduk. Sasa dan Chelsia duduk, sementara Ricky berdiri.


Setelah menunggu setengah jam, dokter itu pun datang.


"Kalian siapa?" Tanya dokter. Berjalan menuju Tempat duduknya.


Setelah dokter itu duduk. Dokter itu pun memperhatikan wajah Sasa.


"Selamat sore, Dok?" Ucap Sasa.


"Kamu." Tanya Dokter kaget melihat Sasa.


"Ya. Saya, wanita yang pernah dokter bantu waktu itu." Ucap Sasa.


"Kamu masih belum dapat restu orang tuanya?" Tanya dokter.


Sasa menggelengkan kepalanya, dengan wajah murung.


"Apa yang sudah terjadi. Sehingga Alex bisa lupa ingatan?" Tanya dokter.


"Ceritanya panjang, Dok. Aku kesini, ingin memohon kepada dokter. Tolong pertemukan lagi aku dengannya. Aku sangat merindukannya, dokter." Ucap Sasa.


"Tapi dia tidak mengingatmu lagi." Ucap Dokter.


"Ya. Aku tau dokter. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat saja, dokter." Ucap Sasa.


"Baiklah. Nanti malam, kalian datang kesini. Aku hanya bisa beri waktu sebentar, tidak bisa seperti dulu lagi. Bagaimana?" Tanya Dokter.