
"Selamat pagiiii." Panggil Roy dari depan rumah kotrakan Sasa. Membawa banyak makanan untuk keluarga Sasa.
"Siapa pagi pagi begini mengganggu." Ucap Sasa membersihkan ayam yang sudah dibeli ayah dan ibunya pagi pagi sekali. Sasapun berjalan menuju pintu rumah, dengan clemetnya yang kotor penuh dengan darah ayam.
Saat Sasa membukanya. Sasa terkejut melihat Roy ada dihadapannya.
"Hey..." Ucap Roy, melihat Sasa masih terpelongo, didepan pintu.
"Roy... Kamu datang?" Tanya Sasa masih kaget.
"Yah... Aku datang buat kamu." Ucap Roy, menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Sasa.
Sasapun, spontan langsung memeluk Roy. Roy sangat kaget, Sasa memeluknya. Tidak sadar bahwa clemet Sasa begitu kotor. Tapi Roy malah tersengum melihat Sasa, yang sangat bahagia melihatnya datang.
"Kenapa kau tidak mengabariku?" Tanya Sasa masih memeluk Roy.
"Aku ingin memberimu kejutan." Ucap Roy. Tangannya masih membentang, barang bawaannya masih dipegangnya.
Saat Sasa melepas pelukannya dari Roy.
"Aahhh, Ya ampun... Kenapa bajumu kotor sekali." Tanya Sasa. Mengusap kemeja putih Roy
Roy melihat kearah clemet Sasa yang kotor.
"Sudahlah... itu tanda kalau kita sudah berjumpa." Ucap Roy melihat clemet Sasa. Sasapun melihat clemet yang dia pakai sangat kotor.
"Hehe... maafkan aku... Tadi aku..." Ucap Sasa.
"Siapa yang datang Nak?" Tanya ayah Sasa. memotong pembicaraan Sasa.
"Roy datang, Yah..." Ucap Sasa.
"Ini aku bawain makanan buat kamu." Ucap Roy.
"Makasih... Ayo masuk." Ucap Sasa dan meletakkan pemberian Roy diatas meja makan.
"Oia... Katrin sangat merindukanmu." Ucap Roy.
Tiba tiba Sasa terdiam dan berjalan, Lalu duduk disamping Roy.
"Aku juga sangat merindukannya. Tapi mau gimana lagi, Aku lebih betah disini." Ucap Sasa.
"Tapi kenapa tidak memberitahunya?" Tanya Roy.
"Aku tidak mau banyak orang tau tentang aku, ada disini. Kenapa hanya kamu yang aku beri tau, itu karna kamu bukan tipekal, suka bercerita keorang." Ucap Sasa.
"Tapi kenapa, Katrin tidak boleh tau. Apa Katrin suka bercerita keorang tentangmu?" Tanya Ricky, penasaran.
"Emmm. tidak tidak. eemmm Aku, Banyak hutang. Ya, Banyak hutang." Ucap Sasa.
"Urusannya ke Katrin apa?" Tanya Roy, semakin curiga.
"Begini saja. Bagaimana kalau besok lusa, kita ke kota? Aku mau bertemu dengan Katrin. Tapi jangan ada yang tau yah..." Ucap Sasa.
"Ya... baiklah." Ucap Roy.
"Silahkan minum Nak." Ucap ibu Sasa, melihat Roy menatap setiap sudut rumah.
"Ya Buk... Terima kasih." Ucap Roy
"Ya sama sama... Kamu tadi tidak nyasar, kesini?" Tanya ibu Sasa.
"Tidak Buk, Sasa memberikan alamat yang lengkap." Ucap Roy.
"Oh, ya sudah... Ibu sama ayah masih ada pekerjaan. Lanjud saja obrolannya." Ucap ibu lau pergi kedapur.
"Halo, selamat siang Buk?" jawab Ricky. mengangkat telepon mama Alex.
"Temui aku diruangan Alex." Ucap mamah Alex.
"Baik Buk." Jawab Ricky
Ricky langsung bergegas, menemui mamah Alex diruangan Alex GM.
tok...tok...tok...
"Masuk." Ucap mamah Alex.
"Ada apa Ibu memanggil saya?" Tanya Ricky.
"Apa ini?" Tanya mamah Alex. melemparkan foto foto Alex waktu bersama Sasa, diatas meja Alex.
"Buk. Saya tidak." Ucap Ricky. Berhenti karna Alex datang.
"Ada apa ini?" Tanya Alex, melihat wajah Ricky yang panik.
Ricky memberi kode ke Alex. untuk melihat foto yang berserak dimeja kerjanya.
"Darimana mamah dapat foto foto ini?" Tanga Alex. Panik.
"Itu tidak penting... siapa wanita itu? Jelas jelas dia tau, kau dan Elsa akan menikah? kenapa kalian masih bersama dalam waktu dekat ini?" Ucap mamah Alex.
"Mah. pernikahan sudah usai, Elsa juga sudah pergi ke hongkong. Apa lagi yang mau mamah perdebatkan..." Ucap Alex.
"Mah... Jangan sembarang bicara tentangnya. Dia wanita baik baik, Dia juga merelakan Alex menikah dengan Elsa. Dia mengalah dan sekarang meninggalkanku mah..." Ucap Alex. Mulai meninggikan suaranya.
"Lihat dirimu, bahkan kamu sudah berani meninggikan suaramu kepada mamah." Ucap mamah Alex.
"Mah, Alex sangat mencintainya. Alex tidak akan biarkan siapapun menghina atau mengecilkannya." Ucap Alex.
"Okeh, Mamah mau lihat, sampai dimana besar cinta mu itu padanya. Jika dalam dua bulan kedepan, Kamu tidak bawa dia kehadapanku. maka, mama akan kembali mempertimbangkan tawaran keluarga Elsa, untuk menikahkanmu lagi dengan Elsa, setelah pulang lari hongkong." Ucap mamah Alex. Lalu pergi dan meninggalkan semua foto dimeja kerjanya.
"Alex... bagaimana, jika kau belum menemukannya?" Tanya Ricky.
"Kyy, Bantu aku menemukannya. Aku akan bawa sasa kehadapan mama, lalu kami kami akan menikah." Ucap Alex.
"Lalu, bagaiman jika kita tidak menemukannya? apa kau akan terima menikah dengan Elsa?" Tanya Ricky
"Sudahlah, jangan bahas dia lagi. fokuslah mencarinya sekarang." Ucap Alex, mulai pusing dengan tawaran ibunya.
"Oia Roy... Kamu mau bantu aku, buat jualan besok?" Tanya Sasa.
"Apah? ayo ikut, Aku." ucap Sasa.
Sasapun membawa Roy kedapur. Roy melihat ayah Sasa yang sedang mencincang daging dan ibu sasa meracik bumbu.
"Buk... Ayah... Roy mau ikut bantu." Ucap Sasa
"Baiklah, ambil bungkus tangan mu. bantu ibu buat meracik bumbu." Ucap ibu Sasa.
Sasa memberikan sarung tangan plastik ke Roy, untuk dipakainya, membantu ibu Sasa yang sedang meracik bumbu.
Sasa tersenyum melihat Roy, sedang membantu ibunya meracik bumbu.
"mmmm sudah enak... Coba cicip, Nak?" Ibu Sasa memberikan sedikit bumbu yang diraciknya kepada Roy.
Roy menerima suapan yang diberikam ibu Sasa ke roy.
"Ohhh... lezat sekali, sstttt pedas." Ucap Roy. mulai kalang kabut kepedasan.
Sasa langsung memberikan Roy air putih.
"Terima kasih..." Ucap Roy, masih minum air putih.
"Buk... tanya dulu Roy, bisa apa tidak makan yang pedas." Ucap Sasa tertawa.
"Oh... maaf... Ibu tidak, tau kalau Roy tidak bisa makan pedas." Ucap ibu Sasa, mersa bersala.
"Tidak apa apa Buk, nanti juga baikan." Ucap Roy. wajah dan bibirnya memerah.
Sasa tidak tahan lagi menahan tawanya, Akhirnya Sasa tertawa lepas. karna ayah dan ibu merasa lucu, melihat Sasa tertawa. Akhinya ayah dan ibunya ikut tertawa. Roy melihat Sasa, ayah dan ibunya tertawa bersama. Roy akhirnya tersenyum melihat Sasa, ayah dan ibunya.
"Apa selucu itu." Tanya Roy kepada Sasa.
"emmmmm," Jawab Sasa mengangguk, melihat wajah Roy masih memerah.
"Ya ampun" Ucap Roy, yang akhirnya malu. Tertawa melihat keatas.
"Okeh... sudah selesai. Ayo, angkat semua keatas meja." Ucap Ayah.
Roypun bergegas membantu, mengangkat bahan yang sudah selesai dibuat, untuk dijual besok.
"Mmm... Buk, Pak... Saya izin, pulang dulu." Ucap Roy, setelah selesai membantu Sasa.
"Nak... ini sudah jam dua belas malam, bahaya kalau pulang terlalu larut begini." Ucap ibu Sasa.
"Tidak apa apa, Buk... Roy bisa jaga diri." Ucap Roy.
"Kita tidur disini saja." Ucap Ayah Sasa, membuat Sasa kaget.
"Tapi Yah, Roy tidur dimana?" Tanya Sasa, melirik Roy.
"Biar Ayah dan Roy tidur disini. Kamu dan ibuk tidur dikamar. Ya kalau Roy mau tidur bersama Ayah, sih." Ucap Ayah.
"Tapi, disini sangat sempit Yah." Ucap Sasa
"Sudah sudah. kita semua tidur dikamar saja. disini banyak nyamuk, kan?" Ucap Ibu.
"Apah?" tanya Sasa kaget.
"Ia.. Sasa sama Ibuk tidur di kasur. Ayah sama Roy tidur dilantai." Ucap Ibu. Tersenyum.
"Oh ya sudah, Ayo kita istrahat." Ucap Ayah.
Roy dan Sasa kaget dan terdiam.
"Ayo masuk, Roy." Ajak Ayah.
Sasapun menyusul dari belakang, dan menutup pintu kamar. melihat ibu yang mulai membereskan tempat tidur ayahnya dan Roy.
Sasa berjalan menuju kasur. Ibu dan ayah Sasa sudah tidur. sementara Roy. masih grasak grusuk, menyesuaikan tubuhnya. Sasa tersenyum melihat Roy yang dihapit oleh ayahnya dan lemari disampingnya.
Saat Roy hendak berbalik. Sasa pura pura tertidur.
"Entah kenapa, Aku tidak menemukan ini dirumah mewahku." Ucap Roy dalam hati, melihat betapa bahagianya keluarga kecil ini. Roy juga melihat betapa bahagianya Sasa dengan keadaannya sekrang ini.