You Are Mine!!

You Are Mine!!
YAM 50



Happy reading❤️❤️


Heeon sudah mengirimkan surat untuk sang kekasih yaitu Kairi kemarin, sekarang mereka melanjutkan perjalanan ke puncak gunung kematian.....


...----------------...


Heeon dan kelompoknya plus Thunder sudah hampir sampai ke puncak, hampir 2 cincin ruang sudah terisi dengan banyaknya tanaman tanaman obat maupun racun yang tingg nilainya.


Mereka sudah membunuh banyak makhluk, dan tak sedikit juga yang mengeluarkan intinya saat mati, bahkan dia dalam satu cincin ruang saja sudah lebih dari 97 inti monster.


Semuanya berguna bagi banyak orang, bahkan bisa dijadikan obat bagi segala penyakit.


Yang bertugas membawa cincinnya adalah Dimas, karna ia harus senantiasa menjaga Poem jadi tak bertarung, makanya aman.


Tapi karna itu juga, ia menjadi incaran banyak monster untuk menyerangnya.


"Bisakah kita istirahat dulu?"keluh Poem yang lelah berjalan.


Hal itu membuat Thunder mendelik tajam kearah perempuan dengan rambut berwarna (apa ya? saya lupa) kuning cerah itu.


"A-apa?"


"Berisik kau beban"


Jleb!


Perkataan singkat itu mampu menusuk langsung harga diri seorang anak penjaga Kanan tersebut.


"He-hei kau! aku ini anak penjaga Kanan tau!!"


"Tau koq"


Mereka menggeleng melihat hal tersebut, Poem akhirnya digendong oleh Dimas atas perintah Heeon. Mau tak mau ia harus menggendong wanita merepotkan itu.


"Tidak bisakah kita membuatnya jadi makanan para monster saja?!"


Poem langsung menatap Dimas tajam dengan alis yang menajam.


"Enak aja"


"Bersabarlah, Dimas"


Dimas mendengus kesal, Thunder menyuruh yang lain untuk istirahat saja dulu karna tampak sekali wajah orang orang itu lelah.


"Kalian tak usah buru buru, kita masih ada lebih dari 2 Minggu lagi disini, buatlah pil peningkatan dan bermeditasi lah"ucap Thunder diangguki oleh semuanya.


Liam menyerahkan resep pil/obat yang mampu meningkatkan kekuatan mereka.


"Tungkunya?"


Liam mengeluarkan tungku dari cincin yang ia pakai, kurang lebih ada 5 tungku yang ada di depan mereka


"Kau tidak ingin Thunder?"


"Tidak, aku dah kuat"


Dimas dan Poem menatap datar Thunder sedangkan Liam dan Heeon tersenyum kecut sembari mengeluarkan bahan bahan yang dibutuhkan.


"Bagaimana dengan api ajaib? bukankah itu hanya ada di sekte?"Tanya Poem melihat resep pembuatan hampir seluruh pil yang akan mereka buat.


"Gampang"


Liam mengambil sebuah tanaman dan menggesekkan batu agar mendapatkan percikan api dari sana.


"Ini, dari tanaman Blimgimberd, bisa membuat api ajaib"ucap Liam.


"Blimgir-- apa?"


Liam memutar bola matanya dan lebih memilih menyalakan api untuk ke empat tungku itu dengan jarak 2 meter per tungku.


"ini jatah masing masing"ucap Thunder sembari membagikan bahan


"Hanya segini?! biasanya aku--"


"Ini bukan disekte, dasar manja"


Dimas mendelik kesel sebelum fokus kembali pada resep pil yang akan dia buat. Poem semakin kesal dan lebih memilih fokus pada tungkunya.


"Kalian buatlah dulu, aku mau tidur"


"Keenakan!!"ucap Dimas dan Poem bersamaan, seketika keduanya langsung membuang muka.


"Kalian tampak cocok"ucap Thunder sebelum membaringkan tubuhnya ke alas yang sudah ia buat dari sulaman petir.


"Gak!"


Liam dan Heeon hanya bisa tersenyum simpul.


Mereka kembali fokus ada hal didepannya, kurang lebih 4 jam kemudian, Heeon sudah berhasil membuat 46 pil yang berbeda beda, sedangkan Liam sudah bisa membuat 21 pil dengan 3 jenis saja.


"Kau monster ya?! bisa membuat pil sebanyak ini hanya dalam 4 jam?!"


Heeon terkekeh kecil.


Liam tersenyum tipis kepada yang lain dan pandangannya terfokus pada Thunder yang sajak 30 menit tadi tidak bergerak.


"Thunder?"


Liam mendekat dan melihat kearah yang dilihat oleh Thunder, Thunder sebenarnya tidak terhipnotis atau sebagainya namun...


"Hei, kalian! kemarilah, ada pertunjukkan menarik"ucap Liam sembari melambaikan tangannya.


Heeon mendekat disusul oleh Dimas dan Poem, mereka menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Liam.


"Itu Cici kan?"ucap Thunder.


Heeon menyipitkan matanya dan terbelalak begitu melihat jepitan kecil di rambut monster berwujud manusia tersebut.


"I-iya"


"Kalau begitu, kau harus menghentikannya sebelum ia membunuh lelaki tersebut"ucap Poem sambil menggigit jari jarinya.


Heeon segera melesat, Thunder menyusul diikuti Liam, awalnya Poem ingin ikut namun malah di tahan oleh Dimas.


"Jangan, kau hanya akan membebani mereka"


Dimas menggeleng halus.


"Kubilang jangan"


Poem menggerutu tapi ia tak bisa lepas dari genggaman tangan Dimas.




saat hampir di sana, Heeon segera meneriakkan nama perempuan yang sudah menjadi liar tersebut.


Namun mungkin karena Dia terlalu jauh makanya tidak terdengar.


"Cici!! hentikan!"


Makhluk itu menoleh tajam dan Thunder langsung menghantamnya ke pohon membuat pohon itu hancur.


Liam menggendong lelaki yang tampaknya terluka namun anehnya lelaki itu berontak.


"Biarkan saja aku! kalian pergilah! jangan sakiti dia!!!"


"Hei, kau ini bagaimana sih? kami selamatkan malah berontak"


Thunder segara menggenggam kedua tangan makhluk perempuan itu agar tidak kemana mana, namun tenaga Cici tentu lebih besar saat itu.


"Hei sadarlah, setan perempuan"


"Setan katamu?"


Heeon melihat Thunder yang tampaknya kewalahan karna Cici menggoyangkan tubuhnya membuat Thunder agak melayang.


"Cici, ingat dirimu!!"


Lelaki itu langsung berlari ke Cici dan memeluk makhluk itu.


"Kau pergilah, biarkan urusan adikku dan aku di sini!!"


Heeon terhenyak, begitu juga dengan Liam, Thunder sih mas bodo mau itu adiknya atau bukan, toh yang penting Cici itu temannya sang pujaan hati.


"Ad-adik katamu?"


"Kau mengakuiku adik? cih menjijikkan, Caiyu. Bisakah kau tarik kata kata itu?! aku ingin muntah!"


Lelaki bernama Caiyu itu terhempas oleh Thunder yang tiba tiba menendang tubuh lemas lelaki itu.


"Jangan kemari dasar gila"


Heeon masih tak bergeming.


"Cici.. hentikan kumohon, kau boleh membawaku tapi jangan lukai mereka"


Heeon langsung terlepas dari lamunannya.


"Heh Caiyu, Siapa yang dilukai Cici?? hanya kamu lho, dasar"ucap Heeon dengan nada dingin.


Bukannya apa apa, tapi pasti kalau begini lelaki itu akan menganggap Cici sebagai makhluk jahat.


"Dia hanya jahat saat melihat mu, apakah kau penyebab kematiannya??"


Thunder menatap Heeon heran begitu juga Liam.


"Cici, kau kan bukan makhluk jahat, kenapa jadi begini?"tanya Thunder.


Cici menatap ke empat orang didepannya dengan matanya yang merah


"Mau tau? dia yang membunuh ku, puas kan??! sekarang di malah minta maaf, bukankah sungguh konyol?"


"Sepertinya aku harus melapor pada Kairi ya?"


Heeon mengangguk kepada Thunder pertanda setuju pada ide orang itu.


"Kairi? siapa Kairi?!"


"Dia teman baikmu kan?"


Caiyu menatap Heeon.


"Teman baik? Adikku tak punya teman"


"Diam kau, Kairi itu temannya setelah mati"


Caiyu tak mengerti.


"Kau siapa sebenarnya? siapa Kairi? kenapa jantungku berdetak kencang?!"


"Kairi itu majikan mu, kau tau kan bagaimana perlakuannya padamu?Ucap Thunder


Walau tak kenyataannya begitu, tapi seenggaknya mereka bisa membuat Cici yang berubah itu kebingungan.


"Akh!! bisakah kalian Diam? aku ingin membunuh lelaki itu!!"


Mereka melihat Caiyu yang sepertinya sudah pasrah.


"Kairi itu akan menangkapmu, dan memelukmu lho!!"


Seketika badan Cici yang besar jatuh ketanah dan memegangi kepalanya dengan keras.


"Peluk?! akh!! argh!!"


***gaje maaf


______________________


Like


komen


share


Follow


TBC***..