
Happy reading❤️❤️
Perbedaan waktu di Jepang dan di Korea tak berbeda. Saat ini waktu masih siang dimana semua orang tertidur pulas.
Gaian sedang menanti Hyura untuk bangun dari komanya. Hyura dinyatakan koma setelah kemarin dibawa oleh Sara dan Gaeun kerumah sakit.
Hyunwoo sedang mengurus segala hal mulai dari informasi tentang hari itu dan lainnya. Ia benar benar tak terima putri semata wayangnya seperti ini.
"Gaian, pulanglah, Orang tuamu sudah menelpon"ucap sara yang kini telah datang membawa sebuah keranjang berisi buah buahan.
"Baiklah, Tante."
Gaian pamit pulang, ia berjalan lemas sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Saat sampai dirumah pun tak ada orang. Ibunya menyusul sang Ayah ke kerajaan vampir.
"Aku harus ke sana kah? tch, aku benci ke kerajaan itu"
Gaian menghilang dari rumahnya lalu muncul di depan sebuah bangunan tinggi bernuansa kuno itu. Itulah kerajaan vampir milik sang ayah.
"Tuan Ian menanti"Ia disambut seorang pelayan yang nampaknya sudah menunggu.
sepanjang jalan ia melihat lukisan lukisan yang tampaknya sudah diganti oleh sang Ayah sejak ia terakhir kali kesini.
Sesaat kemudian ia telah sampai depan pintu ruang kerja sang Ayah. Ia masuk dan menemukan sang ayah yang memijat kepalanya dengan kencang dan raut yang kecewa.
"Ada apa Ayah memanggil ku??"
"Duduklah Gaian"Gaeun mendudukkan sang anak di kursi depan suaminya. Gaian mengerti lalu diam sambil melihat kertas yang berisi data data para rakyatnya.
"Apa ini??"
"Para manusia itu.."
Ian tampak marah, taringnya memanjang, kukunya pun menajam. Matanya memerah karna marah.
"Kenapa menghianati perjanjian?!"
Memang, di Jepang ada Vampire yang di sana dan Gaian yang disuruh untuk mengendalikannya. Para pemerintah Jepang juga mengizinkannya.
Tapi bukannya mengikuti isi perjanjian mereka malah menculik para vampir satu persatu.
"Ada 1072 rakyat kita yang di culik"ucap Gaeun sembari menyeruput teh yang tadi ia seduh Kalau diseduhin takut di kasih darah atau racun
"Bagaimana bisa?! aku 3 hari yang lalu baru mengecek mereka dan tak ada yang menghilang!!"Ucap Gaian menghentakkan meja.
"AYAH JUGA TIDAK TAU!!!"
Gaeun tersentak kaget mendengar suara Ian. Ini bukan suatu hal yang bagus untuknya maupun Gaian.
"Ian.., tenanglah"Gaeun menaruh tehnya dan berjalan ke arah Ian pelan. "MEREKA....argh!!!"Ian melempar semua kertas yang ada di mejanya.
"Ayah! Jangan seperti itu"Gaian melihat sang Ibu yang hampir saja terkena pukulan ayahnya itu.
"Ian, tenanglah. Pasti ada alasannya"
"Kalau ada alasan Maka Apa??"
Deathglare keluar memenuhi ruangan itu, Gaian sendiri tak percaya jika para vampir diculik oleh manusia.
"Aku tak mengerti, untuk apa para manusia itu mengambil mereka"
Gaeun menggeleng tanda untuk tidak membahasnya saat ini. Ian sedang diambang rasa marah saat ini.Gaian memilih keluar dari sana karna jika sang ayah sudah marah bisa jadi...
"Huh, aku kembali saja ke tempat Hyura"
Gaian menghilang dan kembali muncul di rumah sakit dan betapa senangnya dia melihat Hyura yang sudah bangun namun entah kenapa ada banyak perban di tubuhnya.
"Hyura?? Kau sudah bangun??"
"G-gaian??"
Hyura tampak takut, tak ada siapapun disana untuk Hyura mintai tolong. "Jangan mendekat!!"
"Kau kenapa??"
Angin berhembus didalam kamar rawat inap itu membuat jendela sedikit terbuka. Dari celah itu, sinar matahari tampak masuk dan mengenai kaki Hyura namun..
Kaki Hyura terbakar. Ini sebabnya kenapa tak ada yang di samping Hyura saat ini karna perempuan ini telah.. Menjadi Vampire.
"H-Hyura??"
Hyura masih memegangi kakinya, ia berusaha menghindari cahaya yang kian mendekatinya, melihat itu, Gaian sadar lalu langsung menutup gorden yang setengah terbuka itu.
"Kau tidak apa apa??"raut khawatir tampak jelas di wajah Gaian. Luka itu perlahan meredupkan apinya dan membekas.
"Sakit.."lirih Hyura. Gaian melihat Hyura yang hampir separuh tubuhnya dibalut oleh perban yang pasti karna terbakar sinar matahari.
"Apa yang terjadi??"
"Hiks.. tadi saat ku bangun, Mami sedang membuka jendela dan saat itu juga semua ini terjadi, Dokter pun tak mau lagi merawat ku hanya memasangkan perban saja, L-lalu lalu tangan Mami berdarah karena terkena pisau saat mengupas kan apel dan aku langsung mengusirnya keluar karna aku sangat pusing mencium bau darah itu"ucap Hyura sambil menunduk terisak.
"Maafkan aku tidak berada disini saat itu"
Gaian menutup semua jendela, bahkan sampai tak ada remang-remangnya. Ia mengelus pucuk kepala perempuannya lalu mencium dahinya.
"Buka perbanmu, biar ku bantu sini"
"Jangan nanti kamu ngeliat aku jelek!!"Dia nampak histeris mengingat tadi kulitnya terbakar yang pasti meninggalkan bekas luka.
"Walau aku tak mau membuatmu ingat tapi sekarang kau Vampire Hyura, dan pastinya luka ini akan langsung sembuh"ucap Gaian penuh kelembutan.
"Benarkah??"
"Iya aku janji"
Perban itu dilepas perlahan, mulai dari tangan, kaki hingga ke wajah. Hyura memejamkan matanya karna takut melihat wujudnya yang buruk rupa.
"Pasti jelek kan?? kan?? Gaian diam aja sih"Hyura mengintip sedikit, ia mengira akan nampak wajah takut atau apalah itu namun yang ia dapatkan justru wajah yang kagum
"Lihatlah kecermin ini, Sayang!"
Hyura memberanikan diri menatap cermin yang dibuat Gaian dan alangkah terkejutnya dia saat melihat dirinya dengan mata yang baru dan. warna rambut yang berganti menjadi merah cabe keemasan.
"Ini aku??"
Gaian mengangguk kuat, Senyum bahagia terbit di wajah kedua insan itu. Namun, ada satu masalah.
"Hyura, kau tadi mencoret-coret pipi mu??"Di pipi Hyura terdapat sebuah angka. Angka 4.
Gaian baru sadar setelah tadi Hyura memegang megang pipinya karna takjub.
"Tidak mungkin lah!"
"Tapi itu ada...Angka 4"
Saat di cek oleh Hyura, benar saja ada angka 4 dengan sulur sulur kecil berwarna hitam disana yang tampaknya muncul dari luka Gigitan vampir itu. dan di Korea sendiri Angka empat dianggap sebagai angka yang mengandung kematian.
"Bagaimana ini?!"
"A-aku akan membawamu ke Ibu dan Ayahku Ayo!"
Jangan sampai yang ku tidak mau terjadi!!-Gaian.
Mereka pergi ke kerajaan vampir dan berlari ke ruang kerja Ian.
"Ayah!! Ibu!! tolong Hyura!!"
\*\*\*Like
Komen
share
follow
TBC\*\*\*....