
Happy reading❤️❤️
Renatha membawakan sarapan untuknya dan sang suami yang sekarang masih terbaring di tempat tidur dengan selang infus ditangannya.
"Waktunya makan!"
Hyura dan Gaian mengunjungi pagi tadi hanya untuk mengecek keadaan, setelahnya Gaian harus masuk kuliah kembali karna sudah lama mengambil izin.
"Aku sudah bilang jangan teriak teriak Rena"
"Maaf maaf"
Perempuan itu menampakkan senyumannya sembari membuka bungkusan yang berisi makanan yang baru saja ia beli di depan rumah sakit tersebut.
"Kamu beli sup?"
"Iya, ini katanya sehat buat orang sakit"
Yuta mengangguk dan membuka mulutnya.
"Ngapain??"
"Nunggu di suapin"
Renatha mendelik dan tersenyum jail.
"Enak aja, makan sendiri lah, kan tangan yang satunya bisa"
Yuta cemberut dan matanya menatap Renatha memelas. Yang ditatap malah memalingkan wajahnya sembari terkekeh geli melihat ekspresi sang suami.
"Yasudah"
Lirihnya sambil mengambil bungkusan sup yang sudah dibelikan untuknya.
Namun dengan sigap, Renatha mengambil alih sup itu dan menyuapkannya ke mulut Yuta dengan cepat.
"Tapi boong"
Yuta tersenyum kecut sembari menelan makanan yang sudah berada di dalam mulutnya.
Ia menatap tangannya yang diperban sekaligus diinfus.
"Kau kemarin melihat sesuatu??"
Renatha mengangkat sebelah alisnya bertanya tanya.
"Apa? aku cuma lihat suami ku yang tangannya jadi bolong"
Ucap Renatha dengan penuh penekanan pertanda ia kesal.
"Kau membuka bajuku?"
"Tentu sajalah"
Yuta menatap Renatha lekat, istrinya ini pintar berbohong sekarang, bahkan pupilnya tidak membesar.
"Sungguh?"
"Iya, sudah cepat ini makan, aku juga laperrrrr"
Acara sarapan itu selesai, Yuta dipaksa untuk tidur oleh Renatha.
Yang terdengar bukan lagi argumen dari kedua insan tersebut melainkan suara ketikan laptop yang mana sang istri sedang membuat tugas yang diberikan oleh dosen.
Tak lupa mengerjakan tugas yang sudah berminggu-minggu ia tunda, dan deadline-nya besok malam.
"Tanyaku keram"
Ia menatap ke suaminya, malah semangatnya bertambah, lalu ia menyelesaikan itu secepat cepatnya namun tetap dengan teliti.
"Masih lama lagi"
Suara kebisingan ketikan itu membuat Yuta tak bisa tidur sama sekali dan memilih untuk pura pura saja.
Ia memegang pergelangan tangannya yang masih perih, ia kira akan cepat menutup karna dirinya setengah Vampire tai kenyataannya berbeda
"Akhirnya selesai!"
Suara laptop yang ditutup setelah 3 jam di pakai, diiringi sesuatu yang dimasukkan kedalam tas membuat Yuta segera memejamkan matanya.
Dan entah mau kemana, tapi Renatha keluar dari ruangan itu, membuat Yuta berbalik dari posisi awal.
"Kemana dia?"
Yuta mendudukkan tubuhnya menatap ke sekeliling dan membuka cincin yang berada di jari tengah.
Cincin khusus yang bisa melacak keberadaan sang istri, dan hal yang membuatnya lega adalah Renatha ternyata balik kerumahnya.
"Syukurlah"
Ia bangkit dari kasur dan mendorong infusnya agar setia mengikutinya lalu mengintip dari ruangan pribadi itu.
Semuanya tampak kecil dari atas sana
"Aku bosan"
Dia mengambil handphonenya yang ditinggalkan Renatha di laci meja samping kasurnya.
Membuka semua aplikasi namun tak ada yang menarik, pada akhirnya ia mencoba membuka sebuah situs.
Situs yang dimana semua percobaan sains paling gila ditayangkan.
"Vampire??"
Ia melihat sebuah Video yang menarik minatnya, namun Vidio itu terlalu sadis.
Ia bahkan sampai terduduk di kasur melihat manusia dan vampire yang kini tinggal organ organnya saja.
Hanya 5 dari 100 eksperimen yang berhasil menjadi yang mereka inginkan.
"Ini yang membuatku menjadi vampire kan?"
Cklek
Pintu terbuka.
Buru buru Yuta keluar dari situs itu dan menaruhnya di laci dan duduk rapih diatas kasurnya.
Ya cukup lama Renatha pergi, hanya sekitar 3 jam-an saja mungkin?.
"Oh, tadi ada rapat dadakan, aku jadi kaget makanya gak sempet bilang dulu"ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal
"Lama ya?"
"Iya"
Seperti biasa, wajah Yuta ya hanya datar saja.
"Bohong"
"Ih gak percaya banget"
Yuta menatap Renatha.
"Kau bohong, kalau dari kantor ke apa pakai baju kaos begitu?"
Renatha memandangi dirinya dari atas sampai bawah.
"Kan tadi pulang dulu"
"Tapi gak mungkin secepat ini"
Renatha menggeleng lalu mendekat kearah lelakinya.
"Ngambek nih Ayang??"
...----------------...
Gaian sudah pulang dari kuliahnya, dan memasuki kamar apartemen yang ia tutup semua gordennya.
"Tadaima.."
Tak ada jawaban yang menandakan sang kekasih sedang terlelap.
"Hyura?"
Gaian membuka kamar dan tampak sebuah kotak yang masih tertutup rapat.
Ia tersenyum simpul sembari mendekati kotak tersebut.
"Sayang lagi tidur ya?"
Gaian membuka pintu kotak itu, menampakkan seorang perempuan kecil yang sedang meringkuk sembari memejamkan matanya.
"Hyura sayang..."
Ia mencium kening perempuan itu dan kembali menutup kotak tersebut dan berjalan pergi ke kamar mandi.
Padahal di Jepang hawanya sangat adem, dan kalau ada seorang warga di Jepang mandi 2 kali atau lebih, itu bisa dianggap terlalu rajin.
Tapi ia masuk bukan untuk mandi, dirinya sudah mandi pagi tadi, masalahnya sang kekasih yang belum mandi sedari pagi.
Gaian menyalakan keran air dingin dan panas secara bersamaan membuat air hangat tercipta didalam bak tersebut.
"Segini cukup kali ya?"
Ia menambahkan pewangi di air itu dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Membuka kembali pintu kotak tersebut dan menggendong kekasih nya yang sekarang jadi bertubuh mungil seperti anak kecil.
"Hyura bangun"
Hyura melenguh malas.
"Gak mau''
"Aku ceburin ke bak ya?"
Hyura terbelalak, belum saja ia berucap, badannya telah masuk kedalam air membuat ia kaget.
"Gaian!!''
"Sama sama, aku siapin bajunya di kasur, aku gak bakal ngintip, btw siang ini aku tidur di sofa ya"
Hyura menatap Gaian malu dan segera menceburkan diri kedalam bak yang bersuhu air hangat.
"Gaian!!"
Gaian keluar dengan senyuman tipis di wajahnya yang tamvan, ia mengambil baju dari lemari yang di dalamnya ada baju milik sang kekasih yang telah dipindah.
"Bajunya dia kasur!!"
Ia keluar menutup pintu dan ke dapur, siapa tau ada makanan yang menantinya.
Dan wajahnya seketika tersenyum karna melihat makanan di dalam penghangat, sebuah omelette dengan rumput laut.
Pasti Hyura yang membuatnya karna hanya dia yang ada di dalam ruangan itu
"Enak"
Ia membawa makanan itu ke depan TV dan makan dengan khidmat diiringi acara TV yang hanya menampilkan kartun.
Ini waktu waktu para anak kecil nonton sih..
Kurang lebih 15 menit berlalu, ia menaruh piring di tempat cucian piring dan kembali ke depan TV karna ada film yang menantinya.
Ia tiduran di sofa yang kini ia sulap menjadi sebuah kasur empuk.
"Hyura udah selesai kah??"
"Belum!!"
Teriak Hyura yang mendengar gumaman sang kekasih, membuat Gaian kaget setengah mati karnanya.
"Ternyata kedengeran sampai kamar.."
_________________________
**Like
komen
share
follow
TBC**...