
Happy reading❤️❤️
Sudah banyak hal yang dilakukan oleh Gaian dan Hyura didalam apartemen selama siang hari.
Bahkan Hyura sudah terlelap disore hari karna terlalu lelah bermain dengan Gaian. Bukan bermain konsep 'itu'.
Gaian mulai membereskan tempat itu yang sudah berantakan nya membuat kepala pusing seketika.
Kamar sebelah (Yuta & Renatha) hening karna pemiliknya sedang pergi ke kantor. Gaian mulai kembali ke kuliahnya besok jadi masih ada waktu tuk bersama Hyura.
"Hyura... makan malam yuk?"
Hyura sedang mendengkur halus.
Gaian tersenyum dan mendekati perempuan cantik dengan surai merah tersebut "Hyura... bangun yuk, sayang~"
Telinga Hyura memanas.
"A-apaan sih"
Hyura segera bangun dengan wajah yang memerah, sungguh merah.
"Ma-mana makanannya?"
Gaian tersenyum kecil lalu menyuruh Hyura tuk makan diluar, btw Hyura sudah kembali ke size normal.
Mereka makan malam, Gaian tak berkutik dengan makanan didepannya dan hanya memandang Hyura yang makan sekaligus menonton TV yang menyala.
"Kenapa hm?"
"Tidak, aku hanya penasaran, apa kartu savir masih bisa kau gunakan?? secara itu kekuatan suci"Hyura berhenti makan
"Iya juga ya..."
Dia segera menyelesaikan makannya lalu mengambil kartu di laci mejanya.
"Di sini? serius?? nanti rumahku kebakar gimana?"
Hyura menatap datar kearah sang pacar dan menjentikkan jarinya.
Api keluar dari kartu itu namun entah kenapa ia tak ikut terbakar, artinya kekuatan kartu savir masih bisa ia gunakan.
"Yokatta"
"Ah.. Yokatta desu"
Hyura menaruh kartu itu kembali dan duduk disamping Gaian, Ia menyenderkan kepalanya lelah.
"Hyura kau ada ide siapa yang akan dibunuh? jangan teman teman intinya"ucap Gaian sembari mengelus rambut wanitanya.
"Gak ada, tapi kayaknya ada"
Sweatdrop tertampak di wajah seorang Gaian.
"Jadi gimana?"
"Aku maunya ngebunuh, Ash tuh, bikin kesel"
Gaian setuju, walau mau bagaimana pun membunuh itu tak dapat dibenarkan dalam segi apapun, mau itu demi keselamatan atau lainnya
"Baiklah, bagaimana kalau nanti malam kita cari penjahat??"usul Gaian.
Hyura mengangguk lemah, ia membayangkan dirinya membunuh orang dengan tangannya sendiri.
2 sejoli itu keluar malam hari dengan terbang, mereka mencari poster penjahat buronan yang hanya bisanya menodongkan pistol dan pisau.
"Itu!"
Hyura dan Gaian turun di tempat yang berbeda, Gaian mengawasi sekitar dan menghancurkan CCTV di sekitarnya.
Tak ada orang yang akan melihat mereka bertiga, Hyura segera membawa orang itu ke bangunan kosong.
"Yakin kita bunuh dia??"
"Aku gak yakin sih"
Buronan itu memohon ampun hingga bersujud sambil berderai air mata, ia bilang ia punya keluarga di ujung sana.
"Kita lepas?"tanya Hyura
Gaian bimbang. Ini selangkah usaha agar sang kekasih tetap hidup walau jangka waktunya masih 2 tahun.
"Baiklah" Gaian melempar uang yang berkisar jutaan Yen
"Hei kau, ambil uang ini dan jangan jadi penjahat juga tutup mulut atau kau akan jadi makanannya"Ancam Gaian.
Buronan itu mengangguk angguk sambil mengucapkan kalimat terimakasih yang banyak.
"Jadi?"
Mereka bengong di depan pintu tempat itu sambil melihat buronan itu yang lari dengan membawa uang yang mereka bawa.
"Bagaimana kalau main di sana?"Tanya Gaian sambil menunjuk sebuah danau.
"Mauu!!"
Mereka berjalan ke danau yang ditengahnya ada perahu yang cukup untuk 2 orang. Gaian mengambil perahu itu dengan kekuatan nya.
"Arigatou ~"
Entah untuk apa Hyura mengatakan terima kasih namun Gaian memberi senyuman hangat sebagai jawaban dari kalimat itu.
...----------------...
Ia ingin menemui Sora, karna sepenglihatannya tempat itu dekat dari goa dimana kediaman Takara berada.
"Tak ku percaya aku pergi hanya demi minta maaf"
Rasa bersalah masih menghantuinya maka sebabnya dia pergi minta maaf.
Banyak perempuan yang menghalanginya, memang wajahnya cukup tampan, dan daya tariknya besar.
"Nii-san.. sumimasen Tenwabangō o oshiete moraemasu ka??"Perempuan itu menunduk nunduk dan sengaja menampakkan belahan dada dengan menghimpitnya menggunakan kedua tangan.
"@$@_#&@--@+#&-@"Key pura pura menggunakan bahasa asing agar perempuan '******' didepannya bingung.
"Anata wa nani ni tsuite hanashite imasu ka? ?"
Key melewati perempuan itu dan bertemu perempuan lain, ia melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 7 dimana katanya mereka baru pulang dari menjaja kan jualan.
"Gomen"
Key melompat dari atap keatap untuk bergegas pergi ke goa itu dan beruntungnya dia, melihat Sora dan Akio yang baru saja pulang dan hendak memasuki goa.
"Hei, kalian"
Mereka berbalik dan mendapati Key yang mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Aku ingin bicara dengan Sora, boleh??"
Sora menatap Akio dan Akio mengangguk lalu membawa keranjang yang dibawa sang adik masuk.
"15 menit, maksimal 20 menit"Akio menatap Key tajam sebelum hilang ditelan gelapnya lorong goa.
5 menit mereka hanya berdiri saling menatap dan hening membuat Sora merasa tak nyaman.
"Ahahaha ja-jadi kenapa kau kembali? bukankah kau se-sedang ada tugas??"
Sora tampak gugup.
"Soal kemarin malam"Key menatap Sora serius.
Jantung Sora berdegup, wajahnya memerah saat Key mendatanginya dengan lantas dan wajahnya yang dingin
"Se-sepertinya ada kesa-kesalah pahaman, ada apa tadi ma-malam??"
Key semakin mendekat dan meraih tangan Sora, ia sebenarnya juga tak tau mau bagaimana bersikap.
Ia mengarahkan jari jari Sora yang kecil menuju bibirnya, Badan Sora seketika bergetar dan jantungnya berdegup sangat kencang, wajahnya memerah
"Sepertinya aku mengambil sesuatu dari mu"Ucap Key dengan wajahnya yang sudah merona hebat.
Sora merasakan tangannya menyentuh benda hangat dan lembut seketika dunia seakan berhenti.
"Aku harus mengembalikannya kan??"
Key semakin mendekat, membawa tubuh Sora kedekapannya dan memegang pinggang rampingnya. Ia mendekatkan wajah.
"Bolehkah ku kembalikan lagi sesuatu yang ku curi, Takara Sora??"
Sora memandang Key penuh arti dan ia tanpa sadar mengangguk, lantas Key mencium Sora setelah mendapat lampu hijau dari sang empu.
"Mhhhhmph"
Sora sadar, namun ia terlarut dalam ciuman lembut yang berbeda dari sebelumnya, Ciuman hangat, letak tangan Key juga tak menekan kepalanya.
Key mengelus punggung perempuan itu dan mengelus pucuk kepalanya dengan sedikit tekanan membuat aliran listrik menyengat ke tubuh Sora disegala arah
"Mmmmmmhph"
Sora menarik nafas dan menghembuskannya, sungguh ia agak tak terbiasa, namun Key kali ini pelan pelan menuntunnya.
"K-key, Ak--"
Key membuat lidahnya menari didalam mulutnya dan mengabsen satu satu dari semua gigi yang ada.
Sora mulai terbawa suasana dan mengalungkan lengannya ke leher sang lelaki, ia mengaku bahwa ia cinta lelaki itu.
Key melepaskan ciuman itu perlahan, Sora menarik nafas lembut dan menatap Key dengan wajahnya yang sudah memerah, Posisi mereka tak berubah.
"A-aku"
Belum selesai Sora berbicara, Key kembali ******* bibirnya namun kali ini lebih dalam, Sora pun sudah terbiasa dan mengalungkan tangannya lalu mengikuti alur yang dibuat
Key.
******* lembut membuat keduanya seakan terbang diantara awan malam.
"Sudah, aku sudah mengembalikan yang ku curi"Key melepaskan ciuman.
Namun entah kenapa tubuhnya tak mau melepaskan gadis itu, ia sangat menginginkan gadis itu tetap disampingnya.
"Key, le-lepaskan?"
Key menggeleng dan mendekap perempuan itu.
"Kau satu satunya perempuan yang tak kubenci"
Detak jantung Key terdengar ke telinga Sora yang bersandar di dadanya.
"Aku janji akan menjagamu, aku janji"
Key melepaskan pelukannya lalu menyelipkan serta membisikkan sesuatu ditangan Sora lalu pergi dari sana dengan melompat lagi.
Sora masih terhenyak dengan kata kata yang baru saja Key ucapkan tepat ditelinganya.
"Ini--"
Ada cincin perak dengan inisial namanya dan Key, yang terpampang disana.
"Aku menerimanya, Key Yukikori-san"
_____________________
**Like
komen
share
follow
TBC**..