You Are Mine!!

You Are Mine!!
YAM 28



Happy reading❤️❤️


Seperti rencana, Heeon dan Yuta pergi seorang pembuat penawar.


"Permisi, Tuan Galstier Kau ada disini??"


Seorang lelaki tua renta keluar dari gubuk itu, dia mengenal suara yang sangatlah familiar. Siapa lagi kalau bukan suaranya Heeon Raymond??


"Ya ada apa??"


"Ah ini kami ingin konsultasi"


"Tentang??"


Galstier menoleh ke seseorang yang dibawa oleh Heeon dan melihat pemuda itu memegang tangannya.


"Terkena cakaran vampire siang??"Tanyanya dengan wajah yang menampakkan keterkejutan.


"Ya"


Yuta menjawab singkat, karna kalau ia berbicara terlalu banyak ia tak bisa menahan rasa sakit di luka cakaran itu.


"Maaf aku tak bisa membantunya"


"Apa?!"Yuta cukup terkejut mendengar penuturan Galstier. "Kenapa, Tuan?!"


"Itu bukan vampire sungguhan dan juga telah dimodifikasi, maka saya tak bisa membuat penawarnya"


"Hanya bisa menunggu kematian??"


Jawab Yuta sendu.


"Ya, bahkan lebih buruk. Agar kau benar benar mati dan tak bangkit menjadi vampir kau harus dibunuh oleh orang yang paling menyayangi mu"Ucap Galstier lalu menutup pintu gubuk itu.


"Yuta?? Maafkan aku, kau malah mendapatkan jawaban yang"


"Tak apa, pada akhirnya kita akan berpisah kan??"


Takdir memang selalu mendadak dan tak terduga.


"Akan aku bawa kau ke Kairi, dia bisa membuatkan sebuah kain cahaya untuk mengurangi penyebaran nya"


"Heeon bodoh. Cahaya akan menguatkan diriku"ucap Yuta ia tertawa renyah dan garing.


"Kau saja yang tau dan aku. Selang beberapa hari atau Minggu palingan aku sudah berubah menjadi zombie vampire kayak tadi pagi"


Yuta berjalan mendahului Heeon dan terbang ke cahaya.


...Heeon POV~...


Aku menyesal membawanya ke Galstier, karna malah mendapatkan jawaban yang sangat membuat hati seakan tertusuk banyak paku.


"Yuta"


Dia meminta padaku untuk tak memberi tau kepada siapapun. Yang aku takutkan adalah aku dan Kairi hanya sisa 6 hari saja disini.


"Yuta, jangan cepat cepat!!"


Yuta merencanakan sesuatu yang aku pastinya tak diberi tau namun saat sampai dirumah dia menghampiri Renatha yang sedang tidur.


Samar samar aku mendengar kata kata "Menikahlah denganku besok"ucap Yuta dengan suara super kecil.


Renatha terbangun memang. Wajahnya terkejut dan memerah.


Namun dia menyetujuinya. Segera Mereka pergi ke tempat orang orang membeli Gaun pernikahan.


Aku tak ingin mereka berdua memiliki pernikahan penuh kesedihan. Jadi aku meminta tolong pada Kairi.


Cerita ini mungkin memang tak jelas tapi kalian harus tau alasan kenapa aku meminta Kairi untuk menghentikan waktu namun aktivitas orang orang tidak berubah dan mereka juga tak sadar.


"Kenapa sih?? kau buru buru sekali Yuta"Ucap Kairi yang menemani Renatha dan Yuta ke wedding organizer.


"Kau akan tau setelah beberapa hari lagi"


Persiapannya memang berjalan sangat sangat lancar, Gaian dan Hyura diundang namun Gaian bilang tak bisa.


Undangan dikirimkan ke rekan kerja dan teman teman kampus Renatha dan Yuta. Mereka bisa namun hanya beberapa.


Pernikahan mewah bertemakan keajaiban. Itu yang di buat oleh Yuta.


"Yuta, mari berbicara 4 mata"


Hari mulai sore, Dan apa kalian tau...? Renatha membuat semuanya mengira bahwa itu direncanakan satu bulan yang lalu dengan memodifikasi pikiran atas perintah mutlak Yuta.


"Kau melakukan ini agar apa??"


Yuta terkekeh kecil.


"Kau pasti lelah karna membantu kami, Maaf. Aku hanya ingin menikah dengan orang yang ku cintai agar memiliki kenangan indah sebelum meninggal"


"Tapi, bukankah Renatha yang harus membunuhmu??"


"Ya, Tapi aku ingin dia bersamaku dalam ikatan pernikahan"


"Walau mungkin, hanya selang beberapa hari saja pernikahan kami ini"


"Dan mungkin aku tak tau, Racun dari vampire itu pasti akan menyebar dengan cepat kan??"


Yuta mengatakan semua perkataannya diselingi senyuman bahagia.


"Apakah kau tak sadar?! Ini justru akan lebih melukai Renatha"Kairi tiba tiba keluar dari balik tembok.


Nafasnya memburu keras. "Aku tak paham pikiran kau, Yuta!!. Jika Renatha yang membunuhmu, itu akan menyakiti nya lebih dari pada jika ia membunuhmu saat kalian belum terhubung ikatan pernikahan!!!"


Air mata perlahan jatuh dari perempuan yang ku cintai. "Kau tidak tau?? Renatha sangat mencintaimu makanya dia nurut apa yang kau katakan hari ini!! walau tipikalnya memang pembangkang!!"


Wajah Kairi memerah diikuti matanya karna menahan tangis dan amarah.


"Aku kira kau tak perlu tau"ucap Yuta dengan nada datar.


"Kau tau?? setelah mendengar perkataan bahwa kau mendapat racun dari vampire, kira kira apa yang akan dilakukannya!!! Dia akan menyuruhmu untuk... untuk mencakarnya juga kan?!"


"Apa lagi kami hanya diberi waktu oleh Sekte untuk ke mari hanya 1 Minggu saja!!"


"Ya aku tau"


Kairi dan Yuta tampak beradu pandang, Kairi menatap Yuta kejam dan marah sedangkan Yuta menatap Kairi datar.


"Kumohon Kairi, Tolong modifikasi ingatan Renatha agar seakan semuanya direncanakan 1 bulan lalu"


"Brengsek!!!"


Kairi menampar Yuta hingga darah keluar dari sudut bibir sang lelaki itu. Walau begitu Kairi tetap melakukan yang Yuta suruh.


"Hiduplah selama 1 ½ Bulan lagi!! Aku akan memberikan mu obat pelambat penyebaran!!"


"Seenggaknya kami akan berada disamping Renatha saat dia harus membunuhmu"Akhirnya aku menemukan kata yang tepat untuk mengakhiri pembicaraan yang penuh amarah ini.


"Aku hanya punya 4, Minumlah 1 Minggu sekali!! Lelaki Sampah!!"


Brak!!


Kairi menutup tempat itu kencang setelah memberikan obat kepada Yuta. "Sudah kubilang, beritahu Kairi lebih awal"


"Ini memang yang kuharapkan, Heeon Raymond"


Aku tau, jika memberi tau Kairi dari awal, Kairi tak akan mau membantu Yuta dan Renatha mempersiapkan pernikahan kilat seperti ini.


"Bay the way, Aku ingin berterimakasih kepada kalian berdua"


Yuta pergi meninggalkanku sendiri di ruangan itu.


...Heeon POV End~...





















Gaian, lelaki itu sedang kalang kabut. Bagaimana tidak..? Sang ayah dan ibunya baru saja mengatakan bahwa Hyura akan meninggal kurun waktu 4 Minggu.


"G-Gaian??"


"Jangan mendekatiku, Hyura!!"Wajah kaget Hyura tampak jelas.


"Kenapa ini harus terjadi pada kita!! Hiks.. Kenapa?!"


Hyura takut. Gaian sangat marah sepertinya karna matanya memerah.


"Tapi-- ini sudah takdir"


"Takdir Sialan!! kalau begini aku lebih memilih melenceng dari Takdir!! Argh!!"


Gaian dan Hyura berada di dalam kamarnya, masih di kerajaan Vampire yang gelap gulita karna selalu malam.


"Gaian tenanglah"


"Tidak Hyura!! Aku tidak bisa"


Badan Gaian melemas, dia terhuyung lemah.


"Gaian Jangan seperti ini, kau akan stress"Sejujurnya Hyura juga takut saat Ian mengatakan bahwa angka 4 itu adalah sisa hidupnya.


"Tinggalkan aku sendiri Hyura!! Aku--Aku.."


Hup..


Hyura memeluk tubuh lelaki yang notabene nya adalah seorang kekasihnya. Cinta pertama nya.


"Jangan, selama bukan takdir yang memisahkan aku tak akan meninggalkan dirimu Gaian"


Lirihan Serta isakan tangis terdengar jelas ditelinga Gaian. Dia memang egois. Tak mau Hyura meninggalkan nya namun padahal ia selalu meninggalkan Hyura walau sebentar.


"Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara menjelaskan ke Papa, Kan??"


Gaian terlupa hal itu, Hyunwoo dan Sara juga harus tau bahwa putri satu satunya mereka akan meninggal.


"Kalau begitu Hyura, bisakah nanti aku ikut dirimu??"


Pukulan keras mengenai kepala sang Half-Blood itu..


"Bodoh, Gaian Bodoh!!"


Tawa mereka memenuhi ruangan itu, lebih tepatnya tawa hambar.


"Kau tau Gaian?? Aku sangat ingin menghabiskan waktu yang tersisa hanya denganmu di Tempat kelahiran ku ini, Korea."


Sungguh, Gaian sangat ingin meneteskan air matanya.


"Jangan seperti itu, pasti ada jalan"


"Ada jalan untuk ke surga?? mungkin Iya"



***Like


Komen


Share


Follow



TBC***..