You Are Mine!!

You Are Mine!!
YAM 43



Happy reading❤️❤️


Yuta dan Renatha baru saja pulang dari kantor Renatha, meeting hari ini cukup rumit karna para petinggi tak mau mengalah.


Namun dalam satu gebrakan meja, mereka akhirnya hening.


"Kau lelah? aku akan membuatkan makanan untuk mu"ucap Yuta menawarkan diri


Renatha segera menghentikan Yuta yang ingin beranjak kedapur.


"Aku saja! Aku kan Istri mu!"


Yuta tersenyum kecil lalu mengelus pucuk kepala wanita yang notabennya adalah istrinya.


"Baiklah, istri kecilku"Wajah Renatha memanas, ia segera pergi kedapur untuk menghindari senyuman Yuta


Yuta menatap Renatha, senyumannya luntur digantikan wajah datar yang amat dingin, entah apa yang dipikirkan pria berumur 20-an itu.


Ia masuk ke kamar untuk mengganti bajunya. Ia melihat keluar cahaya bulan menyelip dari tirai yang ada, ia membuka bajunya.


Masih ada bekas luka bakar akibat kejadian semalam yang membuatnya harus kena sinar rembulan yang menyakitkan.


"Aneh sekali tubuhku"


Tempat itu tiba tiba ditutupi Es, luka itu mengeluarkan bunga bunga es yang tajam.


"Hufff"


Aromanya, sangat dingin seakan akan akan mati jika ada orang yang mencium nya.


Ia masuk kedalam kamar mandi setelah bajunya dipasang dengan rapih, ia mencuci mukanya lalu keluar dari kamar.


Aroma harum sudah semerbak dari arah dapur sana, wajah Yuta masih datar.


"Yuta? kau disana?? aku boleh minta tolong gak ke minimarket di bawah? beliin kecap asin"Teriakan Renatha memasuki pendengaran Yuta.


Ia menggerutu dalam hati, namun tetap ikhlas melaksanakan perintah sang istri.


"Beli berapa, sayang??"


"Beli 1 aja, yang botol gede ya!"


Yuta memakai baju tebal dan tangannya ditutupi sarung tangan juga ia memakai masker dan topi.


"Aku pergi"


Orang orang tak melihatnya aneh karna memang suhu luar apartemen nya -1 derajat Celcius.


Ia berjalan cepat, dan berusaha sebaik mungkin menghindari cahaya bulan yang ada di beberapa tempat.


Akan aneh jika orang melihatnya kesakitan karna cahaya atau terbakar karna cahaya. Bisa bisa ia disangka vampire atau di jadikan eksperimen.


Ia sampai di minimarket dan mendapati barang yang ingin dibelinya, ia mengecek handphone dan melihat tanggal.


Harusnya beberapa hari lagi, istri yang dulu adalah sahabat nya itu datang bulan. Ia mengambil pembalut dan beberapa cemilan manis dan asin.


"Ini cukup kan ya?"


Ia kekasih untuk membayarnya dan tanpa sengaja mencuri dengar dialog dua orang yang memakai bahasa Jepang kuno yang nyaris tak ada orang yang memakainya saat itu.


Ya intinya artinya.


"Hei apa percobaan kau berhasil?"


"Tidak, ada orang yang membunuh ke hampir semua percobaan ku"


"Yang 300 lebih itu?"


"Ya, padahal itu sudah ku mutasi, tapi aku mendeteksi adanya seseorang yang seperti terinfeksi dan pastinya akan ada keluaran baru"


"Kau harus tangkap orang itu"


"Orang itu ada di gedung ini, aku akan mencarinya"


"Baiklah baiklah, mati kita ke lab saja bicaranya"


Tak butuh waktu lama, Yuta menyadari bahwa yang orang orang itu maksud adalah ia, karna melamun ia tak sadar bahwa kasir sudah memberikan totalnya.


"Mohon dibayar, 1475 Yen"


Orang orang itu keluar dan Yuta bergegas mengikuti mereka, tak peduli cahaya bulan ataupun apa itu ia langsung menyusul.


Dan naasnya mereka menggunakan mobil jadi ia harus berlari cepat agar tidak tertinggal.


"Mendokuse"


Ia menyelinap dan mendapati mobil itu berhenti disebuah bangunan tua didekat gedung apartemen itu.


"Disini? kenapa aku tak sadar"Bisiknya.


Ia segera pergi namun siapa sangka orang orang itu mengetahui bahwa ia mengikuti mereka.


"Ne!! Hashiru na!!"


***blaar!!


duaar***!!


Yuta langsung sembunyi, ia tau bahwa keadaannya sedang tidak bagus, orang orang itu menembakkan sebuah peluru yang dilumuri asam sulfat.


"Teleportasi! akh!!"Tepat sebelum ia pergi, dirinya tertembak membuat peluru menembus lengannya.


Sampai di apartemen, ia disuguhkan pemandangan Renatha yang menatapnya nanar.


Darah keluar dari bekas tembakan itu, merembes ke kain baju yang ia pakai, peluru masih bersarang disana membuat perlahan lahan melelehkan dagingnya.


"Bagaimana bisa?!"


Renatha dilanda panik, ia langsung membuka baju tebal yang dipakai suaminya dan melihat luka itu. Dalam, sangat dalam dan perlahan lahan membuat sekitarnya terbakar.


"Tahan sedikit"


Renatha memakai kekuatannya untuk menarik peluru besi itu yang menembus lengan suaminya.


Renatha sangat panik sampai sampai hal itu berkali kali gagal.


"M-maaf! kali ini p-pa-pasti bisa"


Ia mencoba konsentrasi, dilihatnya wajah Yuta yang menahan sakit sambil menahan kesadaran.


"Kumohon...!"


Tuk..!


Peluru itu jatuh ke air yang sudah disiapkan Renatha dan keluar dari luka itu.


Renatha langsung mengikat lengan Yuta dengan kain dan segera menelpon Gaian.


"G-Gaian! kumohon cepat datang!"


Kalian tau Gaian sedang berada diluar dan mendapati telpon segera bergegas menuju apartemen temannya itu.


"Apa yang terjadi?!"


Hyura melompat dan melihat luka Yuta yang masih mengeluarkan darah. "Kumohon tolong Yuta.."


Gaian kaget, ia segera membopong temannya dan membawanya kerumah sakit, sedangkan Hyura berusaha menenangkan Renatha yang menangis kejer.


"Hiks.... Yuta..."


Kata katanya bergetar, semua ucapannya berupa kesedihan membuat Hyura ikut merasakan sedih, ia menuntun Renatha untuk mengikuti Gaian dan Yuta.


"Udah, Ayo kita ikuti mereka"


...----------------...


Gaian dan Yuta sampai duluan dan Yuta segera dibawa ke ICU, ia langsung ditindak.


Hyura datang bersama Renatha yang menangani tak henti henti, Hyura mendudukkan temannya dibangku tunggu.


"Sudah sudah, jangan menangis, nanti dia akan sedih, semua akan baik saja"ucap Gaian memenangkan.


Sekitar 30 menit berlalu, Dokter keluar bersamaan dengan hospital bed yang didorong keluar, disana ada Yuta.


"Dokter!"


"Begini, luka tembaknya cukup dalam namun berhasil ditutup namun berhasil kami tutup dan ada suatu keanehan"


"Di darahnya..."


Gaian menatap Dokter itu tajam, seketika mental sang dokter ciut dan mengalihkan pembicaraan.


"Ada bekas asam sulfat, seperti luka peluru itu tercampur asam sulfat, boleh berikan pelurunya??"


Renatha memberi kotak berisi air yang ada peluru di dalamnya, akan dilakukan uji lab jadi mereka menunggu.


Renatha sudah langsung masuk keruang rawat, ia melihat tangan suaminya di balut dengan perban.


"Hiks... Yuta.. hiks.."


Ia terfokus pada luka bakar di tangan serta lengan tangan sang suami. Ia tak ingat Yuta pernah dibakar atau terkena api yang panas sehingga membuatnya seperti itu


"Sniif... Apa ini?"


Ia mengelus tangan itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Ada sesuatu.


Dia terbelalak dan menyikap lengan sebelah kiri dan sesuatu yang benar benar diluar nalar.


Ada bekas cakaran besar dan juga luka bakar seperti ditangan kanannya.


"Apa yang---"


Pintu terbuka, Hyura masuk berniat menenangkan temannya dan mengajaknya pulang, Renatha buru buru menutupnya dan mengeluarkan air mata bohongan.


"Kau sudah lebih tenang Rena?? kau mau pulang saja??"


Renatha menggeleng.


"Tak usah, Aku akan disini saja"


Hyura mengangguk lalu melenggang keluar meninggalkan Renatha yang pada akhirnya benar benar menangis.


"Kenapa?"


_________________________


**Like


komen


share


follow


TBC**...