
Happy reading❤️❤️
Heeon pergi ke gunung kematian pada malam hari karna dipagi hari ia harus membereskan kamarnya dahulu sebelum pergi.
Ia pergi setelah semua selesai.
Saat di perjalanan, walau hari sudah malam ia tetap berjalan karna perjalanan ke gunung kematian butuh waktu 11-15 jam.
Ia menggunakan kecepatan kilat agar lebih cepat sampai. Ya walau pada akhirnya tetap saja lama.
Srkkk
Suara daun daun yang jatuh akibat goncangan yang diberikan oleh Heeon saat berjalan.
"Apakah Dimas dan Liam sudah sampai??"
Dia semakin menambahkan kecepatannya hingga kehabisan ia kelelahan.
"Benar benar, dimana mereka??"
Cring.
Suara dentingan pedang yang bersentuhan dengan sesuatu yang keras membuat Heeon menyadari bahwa ada seseorang yang sedang bertarung di dekatnya.
"Apakah itu mereka? tapi mereka kan--"
Buagh--
Sebuah tubuh melayang menabrak dirinya hingga ia ikut terjatuh akibat tekanan dari tubuh manusia itu.
"Aw"
"Rrrrrrrrrrrrrr"
Orang tersebut bangkit dan kembali menerjang ke arah Ia datang tanpa menghiraukan Heeon yang masih kesakitan.
"Hei kau kalau salah minta maaf d--"
Buagh--
Lagi lagi tubuh itu terlempar ke arah dirinya dan kembali hampir menimpanya tapi bedanya sekarang Heeon lebih cekatan dan menyingkir.
"Hei!!"
"Eh?? ada orang??"
"Kau ini ya?! apa sih yang kau la--"
"Raaaaarw!!!"
Seekor hewan dengan tubuh besar menerjang kearahnya, dengan tanduk yang di todongkan Kedirinya membuat Heeon terkejut.
"Nani?!"
"Awas! menyingkir lah!!"
"Kekuatan kartu savir!! Tombak cahaya api! Lietline!!!"
Ziiing.
Sebuah cahaya berwarna merah melesat mengenai makhluk itu tepat di kepala dan membelahnya menjadi dua.
"Hampir saja"
Lelaki di samping dirinya tertegun melihat hal itu, ia tak percaya ada orang yang bisa mengalahkan makhluk tingkat 15 keatas dengan satu kali serang.
"Jaa mata"
Heeon pergi dengan cepat karna ia harus buru buru menyusul teman temannya. "Hei! chotto matte!"
Mungkin karna jaraknya yang terlalu jauh, Heeon tak mendengar perkataan orang tersebut dan melenggang pergi.
"Subarashi"
Heeon akhirnya berhasil mengejar temannya yang sedang berjalan santai di tengah gelapnya malam dan rimbunnya pepohonan.
"Hah hah akhirnya ketemu"
Heeon mendarat membuat kedua orang itu langsung memasang ancang ancang.
"Hei ini aku"
"Rupanya kau, kukira siapa"
Heeon bergabung dengan dua orang itu, mereka berjalan tak buru sama sekali karna diberi deadline 3 Minggu.
"Kau cepat sekali sudah mengejar kita"
"Ya begitulah"
Mereka berjalan berdampingan dalam hening hingga fajar menyingsing namun tak ada yang menguap, paling Dimas yang tak terbiasa jadi nokturnal.
"Apakah sudah mau sampai??"
"3-4 jam lagi?"
"Istirahat dulu, aku capek"
Dimas duduk di bawah pohon yang tampak rindang untuk istirahat, diikuti oleh Heeon dan Liam yang duduk di pohon lain.
"Makan bekal??"
"Boleh"
Mereka mengeluarkan bekal yang di bawa dan memakannya sedikit demi sedikit.
Mereka tak sadar ada sesuatu yang mengincarnya dari belakang, ia berjalan perlahan dan perlahan hingga..
"Grawr!!!!"
Seekor harimau kecil melompat ke pundak Liam dan berusaha menggigit kupingnya. "Aduh"
Heeon dan Dimas sontak menoleh ke asal rintihan itu dan melihat kuping Liam yang digigit oleh makhluk kecil.
"Hei, kau! lepaskan!"
"Aduh duh, malah makin kuat Dim!"
"Tenang jangan di tarik"
"Akhirnya"
Setelah berhasil, jejak gigitan di kuping Liam tak pudar, Liam mengusap kupingnya yang sedikit terasa sakit.
"Rawr rrrrr rawr!!"
Makhluk kecil itu berusaha memberontak namun pelukan Heeon lebih kuat tentunya. "Makhluk kecil, jangan gigit gigit"
Dimas mengambil makhluk itu secara tiba tiba dan menodongkan tongkatnya, "Lu apa hah? bikin kaget!"
Liam menepuk pundak Dimas dan memberikan isyarat untuk melepaskan makhluk kecil yang berontak itu.
"Jangan, jangan biarkan dia kabur dia akan berguna"
Heeon mengambil alih makhluk kecil itu dan mengelusnya dalam dekapan hangat miliknya.
Makhluk itu perlahan lahan tenang dan tertidur begitu saja "Kenapa? kenapa tak dibunuh saja?!"
"Dia makhluk tingkat atas ya??"
Heeon mengangguk sebagai jawaban, mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tambahan makhluk kecil yang diberi nama Qiqiu.
Sepanjang jalan, pukulan tongkat terus mengayun karna banyaknya makhluk, semakin dekat maka semakin banyak bahkan Qiqiu saja tak bisa tertidur dan masuk ke dalam kantong Heeon.
Hingga tiba tiba sesuatu terjatuh dibelakang mereka.
"Awww, sakit"
Mereka lantas berbalik karna mendengar suara familiar dari seseorang yang adalah
"Poem?!"
"Kau? bagaimana bisa kemari?!"
"Rawr ri ruwww"
Dimas membantu Poem bangun dan membopongnya. "Bagaimana kau ada disini??"
Lag lagi perjalanan mereka berhenti dan harus mengobati Poem terlebih dahulu,
"Dasar bocah! kenapa malah mengikuti Heeon??"
"H-habis Heeon dari kemarin tak mau berbicara denganku jadi aku ingin membuktikan bahwa aku kuat"
"Poem.. kau itu jauh dari level yang di perbolehkan untuk ke gunung kematian!! kau bisa mati atau bahkan membuat kami mati!!"
Dimas menekan tempat yang sedang ia obati membuat Poem meringis kecil.
"Ssssss sakit"
"Lagian Bego banget sih"
Setalah hal itu, dengan Poem digendong oleh Dimas walau ia merengek minta digendong Heeon tetapi Liam tetap menyuruhnya dengan Dimas.
Mereka melanjutkan perjalanan dan kali ini Heeon dan Liam yang melindungi Dimas dan Poem. Mata Poem berbinar saat melihat Heeon yang cekatan mengayunkan tongkat dan pedang bersamaan.
"Heh, matanya jangan ngiler, masih ganteng gua"seketika Poem memasang wajah jijik dan mengalihkan pandangan kearah lain.
Hingga setalah 1 jam-an perjalanan mereka sampai di gunung kematian, sesampainya disana Poem merasakan tekanan yang berat sehingga membuat tatapannya kosong.
"Bagaimana ini??"Tanya Liam sembari melihat Poem.
"Biarkan saja, kita bawa nanti akan ku lindungi dengan kartu savir jika ada makhluk yang mau kita serang"ucap Heeon sembari mengganti bajunya dengan baju khas Aegis dan kartu ditangannya.
"Aku masih gak ngerti kau ini apa dan siapa"
Mereka masuk ke gunung itu dan bau amis darah memasuki Indra penciuman mereka hingga Dimas muntah muntah.
"Aku gak kuat kalau gini"
"Lembek banget"Liam mengangkat Dimas dengan kerah bajunya yang ia tarik dan meminumkan suatu obat.
"Minum"
"Hok! Ngasih racun ya?!"
"Jangan gitu Weh, mereka mendengar lho"ucap Heeon di Depan mereka yang sudah berlumuran darah.
"H-Heeon??"
Lalu tubuh tubuh makhluk yang telah di kalahkan oleh Heeon berubah menjadi abu dan tertiup angin.
"Masih banyak, jadi harus hati hati"
Sepanjang perjalanan Poem tak henti hentinya mengeluarkan air mata padahal matanya masih terpejam.
"Tekanannya terlalu berat bagi Poem"
"Ya mau bagaimana lagi?? dia yang mulai??"
Mereka sudah berlumuran darah kecuali Dimas yang sedari tadi menggendong tubuh Poem, ia menggerutu karna ingin ikut serta.
"Jika kita mengalahkan bos nya di atas sana yang tingkat Raja makhluk atau level 95-100 makhluk disekitar sini akan musnah sekaligus"ucap Heeon sembari mengayunkan tongkatnya dan membunuh makhluk yang ada di depannya.
"Kalau pacarmu ikut, mungkin dia akan memarahi atau menjerit ya??"
"Hah? kau yakin?? kalau kisinya memusnahkan makhluk makhluk ini ya dia akan--"
Liam dan Dimas menaikkan satu alisnya.
"Dia akan apa??"
"Dia akan berubah dari malaikat menjadi iblis lhooo"
_______________________
**Like
komen
share
follow
TBC**....