
Happy reading❤️❤️
Key POV...
Aku malas menceritakannya.
Aku pergi diantara pepohonan yang rimbun untuk menuju ke goa yang pernah kudatangi kemarin.
Tentu saja, aku memang merencanakan akan bertemunya lagi namun tak secara langsung.
Sebagai anak pertama, aku selalu didesak kedua orang tuaku untuk menikah, bahkan mereka membiarkan ku untuk menikah dengan siapa saja.
Aku sangat kesal, jadi memutuskan untuk masuk ke perguruan, dan malah masuk ke perguruan yang penuh orang orang menyebalkan
"Hah, Kau ini ya!!"
"Aduh duh, jangan menjewerku terus, adik durhaka"
"Kau yang mulai'
Suara cempreng itu.
Itu dia perempuan yang kusukai, kulihat jari jemarinya yang lentik, ia memakai cincin yang kuberikan.
"Cantiknya.."
Aku tak mau mengakuinya tapi, aku punya semacam trauma yang mungkin tak akan ada orang yang menyadarinya kecuali Rigai.
Dia temanku sejak kecil.
Sejak kecil juga aku memiliki trauma, walau hidup dalam keluarga yang besar dan berkecukupan, entah kenapa Ibu selalu mencambuk ku.
Ya, kalian tak salah, Ibu yang melahirkan ku, yang cantik dan yang dikatakan cinta pertama anak laki laki, memukulku sedari kecil.
Kira kira ingatan ini umur ku 2 tahun. Ibu pertama kali mengkasari ku.
Ia memukulku dengan cambuk padahal aku hanya mencubit pipinya gemas, namun ia menangis setelahnya.
Biasanya seorang Ibu akan begitu karna terbawa emosi atau lelah, tapi Ibuku tidak. Dia setiap ada kesempatan, setiap ada waktu luang dia selalu memukulku dengan tongkat, dengan cambuk.
Sampai umurku 3 tahun, adik perempuan ku lahir kedunia, wajahnya pink merona dan cantik, mirip sekali dengan aku.
Aku berusaha mendekatinya namun Ibu memukulku saat itu, Yah... maaf aku malah jadi flashback, tapi seru kan?
"Jangan dekati dia!!"
Begitu teriaknya, padahal sangat besar suaranya namun adik perempuan ku tidak terbangun dari tidurnya.
Hari hari berlalu, saat aku melihat adik perempuan ku ibu selalu memukulku menggunakan cambuknya yang layaknya ekor.
Darah dan darah, sampai sampai saat ibu memukul untuk ke ratusan kalinya, itu tak terasa apa apa dikulitku.
Awalnya semuanya biasa saja, namun saat adikku berusia 2 tahun yang kukira ia akan dipukuli juga, ia justru diberikan kasih sayang yang melimpah ruah.
Waktu itu masih jaman perebutan kekuasaan di kawasan tempat tinggalku, jadi ayahku sering kali meninggalkan kediaman dengan aku, adikku dan ibu serta para maid di sana.
Awalnya aku masih berpikir positif. Karna mungkin aku ada salah, karna setiap aku dicambuk pasti karna habis melakukan sesuatu.
Namun tiba tiba, tanpa alasan, Ibu menamparku, berkali kali hingga pipiku bengkak, dan darah keluar dari sudut bibirku.
Adikku yang melihatnya malah asyik memainkan boneka.
"Dasar kau anak jahat!!"
Kata 'jahat' menusuk hatiku yang berumur 6 tahun, dan segera setelah itu aku ambruk dan yang terdengar hanya suara tangisan
Saat ku bangun lagi, rupanya hari ulang tahunku, dan tak ada siapa siapa dikamarku, aku masih ingat diumur ke 2 saat ulang tahun, itu saat terakhir Ibu memberikan kecupan kasih sayang.
Aku berjalan tertatih, melihat Ayah yang sedang sibuk dengan berkas dimejanya, adikku yang bermain boneka dan Ibu yang sedang memasak.
"Key, tolong ambilkan lada"
Ibu bersikap baik padaku.
Kira kira sekitar 1 tahun kemudian aku memiliki pikiran yang sangat bagus, aku akan membuat kejutan untuk adikku dan Ibuku yaitu sebuah rangkaian bunga.
"Luka, tolong bantu aku!"Ucapku yang saat itu masih berumur 6 tahun dan hampir 7 tahun
Luka, pelayan laki laki ku membantu ku setelah tau apa maksudku, ia membantuku membuat rangkaian bunga yang cantik. sangat cantik.
Wangi sekali. pikirku Ibu dan Adikku pasti akan suka karna ini sangat cantik.
Aku masuk ke ruangan baca dan melihat Ibu dan Adikku yang sedang membaca Buku.
"Ibu!! aku bawa bunga!!"
Srrrrk..
"Kau gila ya mau membunuh adikmu?!!"
Rangkaian bunga itu ia jatuhkan dan ia injak injak dengan sangat kejinya membuat semua keindahannya hancur seketika.
"Adikmu alergi bunga, Key!!!"
Cetak!!"
Lagi lagi Ibu memukulku, namun kali ini aku tak diam saja, aku sudah hapal ritme dan arah semua pukulan Ibu.
"Ibu.."
Aku berusaha menahan agar tak melakukannya.
Ku lihat ada sebuah lampu minyak yang apinya menyala, aku berlari setalah mendorong ibuku lalu menjatuhkan itu kekarpet.
Saat itu kediaman masih menggunakan Kayu sehingga semuanya terbakar seketika, ai dimana mana, Ibuku sangat kaget dan cepat cepat menarik adikku dan aku.
Aku? kenapa aku? tanyaku
Tiba tiba dia berhenti dan melepaskan genggaman tangannya lalu berlari keluar, maaf Ibu, batin ku saat itu
Pintu keluar ku kunci pada saat aku masuk, Ia panik dan melihat kearahku, Kunci ku pegang ditangan dan kulempar ke kobaran api yang ada.
"Ambillah"ucapku.
Ibuku menatapku tersenyum, ia tersenyum hangat untuk pertama kalinya setelah 5 tahun
Lalu entah apa yang dipikirkan olehnya, ia mendorongku ke api membuatku kagetnya bukan main dan pintu itu terbuka.
Ingatan ku hanya sampai situ hingga aku terbangun dengan luka bakar diseluruh tubuh.
"Bagaimana keadaannya, Tabib?!"
"Dia sudah baik baik saja"
Kukira Ibuku akan menyelamatkan ku atau memohon padaku, namun ia malah mengorbankan ku dan sekarang dengan wajah memelas memohon aku disembuhkan.
Aku muak sempai sini.
"Ayah, bolehkah aku mengatakan sesuatu??"
Ibu menoleh.
Ayah menoleh dan ada yang kurang dari keluarga 'ku' itu.
"Dimana Adik?"
Sejak saat itu penjagaan makin ketat, Ibu jadi yang memegang bagian keamanan serta ayah selain itu.
Dan waktu berlalu, 12 tahun kemudian, Dihari ulang tahun ku, Ibuku menghadiahi 38 cambukkan.
Suaranya beritme seperti biasa.
Padahal aku hanya berniat untuk memberinya teh, agar tak terlalu pusing dengan pekerjaan.
Umur adikku 16 tahun saat itu.
Ia sering keluar masuk kediaman dengan bebas sedangkan ayahku memintaku membantunya mencatat ini itu.
Pada malam hari bulan ke 8 pada tanggal 13, aku mendengar suara aneh dari lantai atas tempat kamar adikku berada.
Aku naik keatas, walau membencinya sampai keulu hati aku tetap merasa khawatir apa lagi jika itu jadi aib keluarga.
tok tok tok..
"Kau baik baik saja, Kaia??"
Tak ada jawaban di dalam.
Ku buka pintunya dan wajahku mendatar disertai rasa jijik yang amat mendalam.
Amarahku menguap membuat tanganku mengepal hingga berdarah, deru nafasku menjadi kasar.
"Kakak?!'
Adikku, ia bersetubuh dengan seorang lelaki yang sangat sangat kukenal dan dia adalah orang yang paling ku benci ke 3.
"Hai Key, tubuh adikmu sangat enak"
Ibu dan Ayahku datang serta para penjaga, lelaki itu langsung menutupi tubuh adikku dan menatap mereka semua menantang.
Semua ini membuatku sangat benci, adikku hamil tanpa suami karna ia menghilang, anaknya kembar.
Sungguh aib.
Setelah itu, Ayahku mendesakku untuk menikah yang katanya untuk menutupi aib.
Aku tak mengerti jalan pikiran mereka, saat kulihat ibuku, perutku mual dan ingatan ku pun menyakitkan jadi aku memilih masuk ke perguruan.
Dan dapatlah dari perguruan Iblis itu, dan masuk kesalah satu sekte
...----------------...
"Hei, kau dengar itu?"
Ck, mereka sadar-Key
Aku langsung pergi dari sana, dan pergi ke kediaman keluarga Yukikori, marga ku memang aneh.
Key POV end...
______________________
**Like
komen
share
follow
TBC**...