
Happy reading❤️❤️
Seorang lelaki dengan tubuh penuh luka bersembunyi di balik rimbunnya pohon Pinus.
Dengan sebilah pedang yang sudah retak ia mencoba melihat kesekitar dengan pedang itu sebagai tumpuan.
"Cici.."
Suara langkah kaki beserta erangan mendekatinya yang sudah pasrah pada apa yang akan terjadi.
Perempuan yang dulu adalah adiknya yang lucu dan lugu kini telah menjadi monster yang akan mengakhiri hidupnya.
"Kemana kau?!"
Jantungnya berdegup kencang, matanya memerah menahan air mata yang hampir keluar, ia sangat terpukul.
Kondisi adiknya memang dari awalnya sudah berdarah, namun karna terkena luka dari pedangnya membuat darah semakin mengalir lebih banyak.
Memang kesalahannya sendiri.
"Kemana kau!! Caiyu!!"
Ia rubuh, suara itu membuat dirinya takut, memori tentang bagaimana bisa ia membuat sang adik sampai seperti itu benar benar menyakitkan.
"Kakak~ keluarlah, adikmu ini ingin bermain dengan mu.."
Di gunung itu, memang pagi telah datang dengan matahari yang bersinar dilangit, memang spesial nya gunung kematian.
Langit akan selalu hitam.
"Kumohon kakak ku yang tampan~ keluar lah dan bermain bersama adikmu ini!!"
Air mata tak bisa ia tahan, Cici yang sudah berubah menjadi monster wanita segera mendatangi tempat Caiyu berdiri.
"***Ketemu kau Kakak"
Caiyu POV***....
Memang pada akhirnya karma akan datang, tapi tak kusangka akan dibalas langsung oleh adikku sendiri.
Adikku yang kubunuh secara tidak langsung.
"Kakak.. Kenapa kau ketakutan seperti itu hm?? padahal kan waktu itu kau sama sekali tak setakut ini.."
Cici adalah adikku, dulu maupun sekarang.
Kami hanya berbeda 1 tahun saja, bahkan saat sekolah aku sekelas dengannya karna aku yang memaksa agar masuk sekolah telat satu tahun.
Hubungan kami sangat baik sebagai kakak beradik, itu dulu.
Selama ini Cici selalu berasa maju didepan ku, nilainya, bahkan walau dia punya penyakit keturunan dari Ibuku, yaitu Asma.
Nilainya selalu lebih baik dari ku yang nilainya selalu merah, awalnya aku berpikir
"Ah tak apa, lagi pula aku lebih bagus dibidang olahraga"
Namun setelah masuk SMP atau bisa dibilang lulus SD, semuanya berubah.
Dan mulai saat itu hingga aku SMA ayahku menekan diri ku untuk belajar, bahkan aku pernah di buat tak bisa berjalan karna bengkak dipukul ayah ku
"Ayah, jangan sakiti Kakak"
"Dia patut untuk di pukul, sekarang kau belajar lah agar bisa menjadi penerus perusahaan ku!!"
Kami berdua dipaksa, namun anehnya adikku tetap ceria bahkan nilainya tetap seratus, sedangkan aku hampir semuanya dibawah rata rata.
"Dasar anak sialan!!"
Aku kabur dari rumah saat itu, meninggalkan adikku sendiri bersama ayahku.
Dan aku menemui temanku yang juga mendapat perlakuan yang sama sepertiku
"Kau dipukul lagi?"
"Iya, Aku muak dengan semua ini"
"Ini mah pasti karna adikmu saja yang nilainya lebih bagus dari mu, makanya kau dipaksa"
"Apa benar?"
"Iyalah, lagi pula adikmu juara tingkat nasional dan internasional kan?"
"Iya, mungkin benar"
Saat itu emosiku masih belum stabil.
Ayahku yang merupakan bos perusahaan besar itu pasti mendorongku karna Adikku yang nilainya terlalu bagus.
Aku memilih pulang 2 hari kemudian dan baru saja melangkahkan kaki dirumah, Adikku, yaitu Cici memelukku dan menarikku ke pintu belakang dari rumahku.
"Ayah sedang ada tamu Kaka"
Aku menatap wajahnya, ada keraguan dihatiku yang paling kecil.
Kami buru buru masuk ke kamar milik ku dan begitu sampai, Ayahku memanggil Cici.
Cici keluar, ia dibanggakan oleh ayahku, hal itu membuatku semakin yakin.
"Bukankah kau punya anak mu yang satu lagi?"
"Oh Caiyu? dia meninggal bukan?"
"Iya, Dia sudah menghilang 2 bulan yang lalu"
"Kami turut berduka cita ya"
"Iya"
Aku sungguh tak menyangka hal tersebut, Cici bahkan tak mengelak sama sekali ataupun membela ku saat itu.
Ia kembali ke kamar ku dan aku menatapnya penuh kebencian.
"K-kak maafkan aku, aku tak boleh ngomong oleh ayah tadi"
Amarahku tak mengecil malah semakin membesar ketika melihat wajahnya yang polos dan memelas.
Aku mencekiknya, menggenggam lehernya sehingga ia tak bisa bernafas dan ketakutan .
"Ka--kak-- a--ku s--sulit-- hiik-- kak!--- le--pa--s!!! Hiiik--!"
Asmanya seketika kambuh membuat senyumanku melebar.
Aku melepaskan tanganku dan membiarkannya kesulitan bernafas.
"Ka--! Ka--ka hiiik--- aa--ambi--bil! hiiik--- hah-- hahha-- o--bat--!! hiik--"Airmatanya mengalir, senyumanku semakin melebar saat melihat wajahnya yang memburu.
"Ka--kak!! hiik-- akh-- sakit kak-- tolong-- ha-- ah-- o--bat--obat!! k-ku--kuh--hon!!"
Kudengar suara mesin mobil keluar dan langkah kaki mendekati ruangan tersebut, Adikku sudah semakin hilang kesadarannya.
Padahal waktu itu aku masih bisa membantunya, setelah kurasa langkah kaki itu semakin mendekat, ku acak acak kamar ku dan mengambil inhaler.
Sebagai pencitraan bahwa aku berusaha untuk menyelamatkannya padahal tidak.
Ia berusaha mengambil inhaler di tangan ku namun tak ke perbolehkan, aku membuang obat itu dan membiarkannya menggenggam tempat obat itu.
"K--kah! o-obah--koh--songh!!--"
Aku tersenyum smirk dan membuat air mata keluar dari mataku.
Tangan adikku jatuh ketanah bertepatan dengan pintu yang terbuka.
"Apa yang---"
"Ayah.. hiks.. Cici... dia---"
"Apa yang kau lakukan padanya?!"
Ayahku langsung mendorongku dan melihat keadaan 'putri kecilnya'.
"A-apa yang terjadi?"
"Hiks.. tadi saat ia masuk, tiba tiba saja asmanya kambuh, aku cari kemana mana dan saat-- saat inhalernya ketemu ternyata tak ada obatnya, hiks hiks.. maafkan aku Ayah.. hiks"
Dia menatapku dengan tajam namun tiba tiba pandangannya menjadi sendu, menggendong tubuh dingin adikku keluar dari kamar itu sembari menahan air mata.
Membaringkan tubuhnya di kasur miliknya dan menyelimutinya. Air mata masih berderai membuat pipiku basah.
Umurnya masih 18 tahun pada saat itu, dan aku berumur 19 tahun
Hingga setelah melihat wajah yang sudah biru dan dingin itu, perasaan menyesal langsung tumbuh seketika
Aku benar benar menangis, memeluk tubuh adikku dan menangis sekencang kencangnya.
"Maafkan Kakak Cici! maaf kan kakak!!"
Ayahku berbalik dan keluar dari ruangan itu meninggalkan aku dengan seribu penyesalan atas apa yang sudah aku lakukan.
Keesokan harinya, ayahku mengadakan upacara pemakaman untuk adikku dihadiri oleh seluruh sekolah dan bahkan petinggi petinggi yang kenal dengan ayahku, bahkan orang besar.
Mereka menangis dalam diam di depan makan yang sudah tertutup itu.
Banyak orang yang memberikan barang di tempat tersebut, tempat pemakaman khusus keluarga kami.
Semuanya menyayangi Cici, mereka merasa kehilangan. Begitu juga aku sebagai pelaku pembunuhan yang tak diketahui oleh orang orang
Aku memberikan sebuah inhaler dengan obat yang terisi dan berlari keluar dari tempat pemakaman itu.
Berlari kehutan tanpa perlengkapan bahkan tak berniat pulang sama sekali, Ayahku hanya memanggil beberapa kali dan setelah itu aku tak mendengarnya lagi karna terlalu jauh.
Hujan membasahi bumi.
Aku bahkan sampai terjatuh ke sebuah jurang dengan ketinggian 30 meter dan luka luka.
Hingga saat ini aku masih dihantui perasaan bersalah karena hal tersebut.
"Sudah selesai merenungnya, Kakak?"
"Ya, sudah"
"Jadi mau mati bagaimana? di tusuk dijantung atau jantungnya ku makan? atau ku potong potong"
Aku menatapnya lekat dan intens, mencari dirinya yang asli
"Ini bukan dirimu lagi Cici"
"Kan kau yang membuatku menjadi seperti ini"
"Kumohon kembalilah dulu menjadi Cici yang ku kenal, baru aku akan membiarkan dirimu memakan seluruh jiwa ku"
Dia menatapku heran.
"Kau masih bodoh seperti dulu ya, Kakak"
"Aku memang bodoh, sampai sampai aku tak bisa melupakan adikku yang kubunuh sendiri"
____________________
**Like
komen
share
follow
TBC**..