
Happy reading❤️❤️
Heeon kembali ke teman temannya, menghindari orang yang bernama 'Ash'.
"Kemana aja kau, Bujang?! kami menunggumu lama sekali!"
Pasti kalian tau itu siapa, Dimas.
"Bujang??"
Poem bingung dengan kata kata asing yang baru ia dengar, Kata 'Bujang' Sangat aneh baginya.
"Bahasa dari negeri asalnya"
Mereka bermalam disana dengan gantian berjaga setiap 2 jam sekali.
Heeon juga berjaga jaga dengan telinganya takut Ash datang, dia sendiri juga bingung kenapa ia menghindari Ash.
"Kau tak tidur, Liam??"
"Enggak, aku tak ngantuk"
Dimas sudah tertidur dengan posisi yang bahkan diluar nalar orang Jepang dan Korea yang ada disana.
"Dimas, bagaimana bisa ada di sekte ini??"
"Dia penjelajah dari Indonesia, lulus Kuliah ia menjelajahi hutan dan bertemu aku yang juga baru tahun lalu"
Kami duduk berdua di batang pohon.
"Membosankan, aku kira akan Epic"Liam menguap saking bosannya selama perjalanan ini, memang tak ada yang menarik.
"Author nya sih gak pinter bikin adegan pertarungan"
Liam mengangguk keras dan melihat ke langit.
"Hoi Author yang menuliskan alur hidup para karakter Novel"
"Bikin yang asyik donk!!"
Srrrk srkk..
"Grrrrrrrrrrr"
Qiqiu melompat menggonggong atau mengerang kearah semak semak yang bergoyang dan tiba tiba ditebas.
"Woah kukira sudah tak ada orang"
Liam dan Heeon melompat dari duduk mereka memasang kuda kuda untuk menyerang.
"Grrrrrrrrr rawr!!"
Qiqiu mencoba menakuti orang orang itu namun tak mempan.
"Apa mau kalian?! pergi dari sini!!"
Mereka tertawa kecil.
"Lama tak jumpa Heeon"
Deg!
"Ash"
Heeon menatap tajam Ash yang ada di depannya, putaran memori masuk keotaknya.
"Jangan ganas ganas donk makhluk kecil..."
Qiqiu menggigit salah satu dari jari orang itu, orang itu terkejut dan menggoyang goyangkan tangannya.
"Aduh aduh! lepas! lepas brengsek!!"
"Hei!!"
Qiqiu terlempar hingga menabrak pohon hingga terkulai lemas karna benturan itu.
"Kalian!! apa mau kalian sih?!"
Ash menyeringai jahat kepada Liam dan Heeon, Ia melirik mereka berdua dari atas hingga bawah.
"Masih sama, baju Aegis yang menjijikan"
Heeon terpancing, matanya melotot marah kearah Ash.
"Pergi sebelum kau mati!!"
Tak tak
2 orang tumbang, mereka terjatuh ketanah.
"2 lawan 1? cih pecundang, ini tak adil kan??"Seringai jahatnya semakin melebar membuat bulu kuduk siapa saja menggigil.
Ash menatap tajam dan lekat seakan mengamati pergerakan 2 orang itu lalu melangkah dan...
***Sriiing!!
Grik!
Trang!!
Prak!!
Criiing***!
Liam yang menjadi sasaran utama dari antagonis ini.
------------
Heeon POV...
Liam diserang, Ash bergerak sangat cepat sembari mengayunkan goloknya dengan kecepatan yang tak main main.
Liam adalah sasaran utama untuk memancingku.
"Akh!"
Lengan Liam mengeluarkan sedikitnya darah.
Aku tak bisa melakukan apa apa, memori itu masih ada, namun aku tak mau hal buruk terjadi.
"Kau takut, sekte An?! Hahahaha"
Tawanya mengerikan layaknya iblis.
Tidak! aku tak boleh lemah seperti ini!!
Aku mencoba menggerakkan satu anggota tubuhku dan aku berhasil melakukannya.
"Lawan aku, ayo!! aku butuh kesenangan setelah 3 hari disini!! hahahaha "
Lelaki itu bergerak membuat kami seperti terkurung dalam bola cahaya yang memusingkan.
Aku mencoba mengeluarkan pedang dan menarik nafas panjang.
"Teknik pernapasan ke 5"
Liam menatapku, ia agak tak percaya nampaknya.
Bruuuum!!
Tak mempan, hanya membuatnya berhenti sebentar untuk tertawa lalu kembali beraksi walau karna itu ada sedikit sekali celah.
"Hanya segitu kemampuan mu?! Jiwa suci Aegis?!"
Aku agak kesal, namun aku tak boleh sembrono.
"Kau bisa pakai teknik pernapasan?"
"Teknik pernapasan ke 1"
"Tahap 3!! Dewa Petir!!"
Crak!!
Terdengar seperti retakan, Ash terbanting beberapa meter dari kami. Menyebabkan asap yang membuat kami tak bisa melihatnya
Namun setelah asap itu menghilang, Ia bangkit dan menyerang kami lagi.
"Sangat menyenangkan!! menarik!!"
Ia sudah Gila!!
"Pergi!!!!"
Liam tiba tiba saja menghilang meninggalkan tongkatnya yang jatuh ketanah.
"Argh...!"
Liam diangkat oleh Ash ke udara, ia di cekik.
"Bagaimana?? tadi menarik kan??"
Aku menggertakan gigiku kesal.
Dia mengencangkan tangannya membuat Liam tampak kehabisan nafas, aku tak bisa melangkah karna pasti ia akan langsung membunuh Liam.
"Apa maumu!!!"
"Mau ku??"
Aku tau apa yang dia pikirkan.
"Kau mati lalu Kairi untuk diriku"
Sungguh, aku terkejut walau tau apa yang ia inginkan, pasti memang itu.
"Gila! aku tak akan menyerahkannya!"
Liam menyuruhku membangunkan yang lain lalu pergi dengan isyarat tangan, Ash semakin mengencangkan cekikannya.
"Berikan dia atau kau mati dan Kairi untukku"
Zrrrrt..!
Sebuah kilatan yang sangat cepat yang mungkin melebihi kecepatan Ash tadi sampai tangan Ash mengeluarkan darah sepersekian detik setelahnya
"Akh!!"
Liam jatuh ketanah dengan nafas yang megap megap karna paru parunya yang kehabisan oksigen.
"Kau tak apa?!"
Kilatan petir merah yang aku lihat tadi, ya itu dia!
"Kalian tak apa kan, Heeon??"
Bagaimana orang itu tau namaku??
"Wah wah, Thunder... Kenapa ikut campur hmm...?"
Aku ingat, dia Thunder, teman Kairi yang waktu itu melindungi Kairi dari ku.
"Dia teman ku, kau musuhku"Jawab nya dingin, tubuhnya dipenuhi kilatan listrik merah.
"Benarkah? kalau begitu aku tak akan mengganggunya"Tangan Ash yang berdarah itu dianggap bukan apa apa, bahkan ia masih bisa mengangkat tangan tanpa gemetar.
"Pergi sekarang juga!!"
Ash pergi, tampak sekali ia takut dengan Thunder, berbeda denganku yang hanya dianggap mainan olehnya.
"Kau baik baik saja kan?? kalau terluka pasti Kairi sedih"Dia membantu Liam namun menatapku, kilatan disekitar tubuhnya juga sudah hilang.
"Kau yang membu--_
"Iya, hanya meringankan tangan kalian"
Dia membawa Liam dan merebahkannya di tanah.
"Kenapa kau membantu kami?"
"Ash lawan yang kuat, tapi kau lebih kuat darinya jika traumamu terhadapnya dilawan"Ia tau ya? kelihatan jelas kah?
"Kau tau ya.."
"Dan juga kau pacarnya Kairi, kalau terluka atau tak selamat mati konyol seperti tadi, ia akan sedih dan--"
"Kau akan menjadi pacar barunya kan?? Pacarku terlalu cantik ya?"
Aku tau dia suka Kairi, kelihatan jelas dari sikapnya.
"Ya, aku akan merebut Kairi"
Kami berdua tertawa kecil memikirkan itu, entah apa yang lucu.
Setelah ku tau ternyata Thunder berangkat sendiri ke gunung ini tanpa teman maka aku membawanya ke kelompokku.
Tak buruk juga karna ia membantu.
Setalah matahari menyingsing dari arah timur, kami.melanjutkan pendakian, sebenernya bisa saja Thunder duluan tapi entah kenapa ia memilih jalan berdampingan.
"Kalian teman?"Dimas menaikkan satu alisnya menyelidik.
"Ya"Jawab Thunder singkat.
"Kenapa memilih jalan? padahal tadi malam kau cepat"Ucap Liam yang hanya bisa didengar oleh kamu bertiga karna Dimas di depan bersama Poem.
"Aku hanya ingin mengikuti teman ku, tak mau mendahului atau ketinggalan"
Aku tersenyum kecut karna alur novel ini yang semakin kesana semakin aneh, Thunder juga berubah sifatnya.
Ah entahlah dasar Author absurd.
_____________________
**Like
komen
share
follow
TBC**...