You Are Mine!!

You Are Mine!!
YAM 47



Happy reading❤️❤️


Hikari dan Heri tentu tetap bersekolah seperti biasa, kalau author gak salah... mereka SMA kan ya?


Watashi lupa.


"Hah membosankan, materinya diulang ulang terus"


Mendengar hal itu, Hikari mendelik tajam dan kesal, ia tak bisa memarahinya, mana gurunya galak.


Hikari hanya menatap sebentar sebelum pada akhirnya mengalihkan pandangannya lagi pada papan tulis.


"Hikari, bisa kau jawab ini?'


Hikari langsung kincep.


Ia berjalan lunglai ke arah papan tulis, nilainya tak begitu bagus, walau diatas rata rata tapi lebih rendah dari teman temannya.


Heri tersenyum simpul dan menulis sesuatu di kertas, untuk membantu sang teman, namun niatnya ia urungkan dan hanya terkekeh kecil.


Hikari keringat dingin hingga kapur di tangannya berkali kali hampir jatuh dari genggaman tangannya.


"Aduh... bagaimana ini caranya tadi..."


Tangannya gemetar, di sisinya sang guru menatap dirinya tajam dan menakutkan.


Tiba tiba ia mendapatkan pencerahan!


Ia menulis dengan cara yang ja ingat dan ketemu hasilnya.


"??. Kau yakin ini hasilnya?"


Hikari mengangguk yakin sambil tersenyum, menatap Heri yang tentunya sedang menahan tawa.


"Yap, jawabannya... Salah, silahkan kembali ketempat"


Seketika seluruh kelas langsung tertawa membuat anak bungsu dari keluarga Choi ini malu bukan main karenanya dan berlari ketempat duduk.


Namun, ada saja seorang anak yang iseng dan menjulurkan kakinya membuat Hikari tersandung dan menyentuh lantai.


"Hei!! Kaki siapa itu yang jail!!"


Alhasil ia semakin malu dan bergegas secepat kilat untuk kembali ke bangku nya.


Saat sampai, Hari sudah memegangi perutnya menahan tawa besarnya, wajahnya sampai memerah melihat hal itu.


"Pfffft.. Apes banget"


Hikari menatap marah dengan air mata dan dahi yang memerah.


"J-a-h-a-t"ucap Hikari dengan air mata yang nyaris jatuh.


Melihat hal itu, Heri agak kasihan namun pelajaran kembali berlanjut


"Baik anak anak, materinya sekian, kerjakan PR soal halaman 157 dari nomor 1 sampai 25. Dikumpulkan Minggu depan, terimakasih"


Guru selanjutnya belum masuk memberikan kesempatan bagi Heri untuk membawa Hikari ke UKS.


"Ketua kelas, Aku izin bawa Hikari ke UKS"


Tanpa menunggu jawaban dari sang ketua kelas, ia langsung menarik Hikari yang memegangi dahinya.


"Kau bawa ku kemana?!"


Heri tak mengeluarkan suara.


Sesampainya di UKS ia mendudukkan Hikari di ranjang yang ada disana, dan mengambil 2 lembar plester.


"Mau apa??"


Heri menatap luka itu dan memasangkan dengan perlahan, ah iya, darah juga sedikit keluar dari hidungnya.


Setelah selesai, tak lupa Heri memberikan kecupan kecil dan pergi duluan dari sana meninggalkan Hikari yang terkesima.


"....."


Hikari pun sadar bahwa sekolah masih berlanjut, ia langsung bergegas menyusul Heri yang belum jauh dari sana dan berjalan disampingnya.


"Btw, tadi kamu ketawa ya"


"Iya, lucu aja, udah salah, diketawain sekelas, abis itu jatoh pula"ucapnya sembari menampakkan gigi giginya yang putih.


"Kau ini"Hikari menyenggol Heri.


Tiba tiba Heri terdiam, ia berbalik dan merasakan sesuatu.


"Kau merasakan itu Hikari?"


Hikari mengangkat sebelah alisnya sambil mengamati sekitar, tanah di pijaknya bergetar dan ada suatu teriakan samar samar.


"Ya, aku dengar"


Mereka menempelkan punggung satu sama lain dan melihat kesehatan arah untuk berjaga jaga.


Kobaran api mendatangi kedua orang itu membuat mereka terbelalak.


Asap dimana mana beserta teriakan yang semakin menjadi jadi.


Alarm kebakaran berbunyi, rupanya kebakaran terjadi dan sangat besar.


"Apa yang---"


orang orang berlarian menuju pintu keluar.


"Ini bukan ulah makhluk, Heri"


Heri mengangguk lalu berjalan mendekati kobaran api untuk membantu yang lain, Hyura melindungi mereka berdua dengan kekuatan tentunya.


Btw bajunya mereka dah ganti.


"Merepotkan"


Seorang lelaki keluar dengan santai sembari membopong tangannya yang tampaknya tertimpa potongan bangunan yang jatuh.


"Jakah?"


"Oh kalian, pakai baju apa kalian itu? sepertinya bukan seragam sekolah, ah sudahlah aku mau keluar dulu"


Jalannya pincang namun wajahnya tetap tenang, tangannya sepertinya patah.


"Kita tak perlu membantunya??"


"Entah"


Mereka melanjutkannya dan menemukan sumber dari kebakaran itu.


"Wauw... mengejutkan"


...______________________________...


**Like


komen


share


follow


TBC..


Maaf dikit kali ini**.