
Happy reading❤️❤️
Kebakaran yang menghebohkan hanya berasal dari hal kecil yang bisa dibilang.... ceroboh keterlaluan
"Heri, perlukah kita selamatkan orang ini?"
Hanya berasal dari sepuntung rokok yang dinyalakan lelaki yang sekarang sudah terbakar walau belum sepenuhnya.
"Well.. this is we job huh??"
Mereka menggotong tubuh orang itu dan berlari dari api, tim pemadam kebakaran datang terlalu lambat.
"Tanganin orang ini!!"teriak Hikari kepada salah satu guru dari UKS.
Syukurlah tak banyak yang luka parah, paling hanya melepuh sedikit.
Sekarang masalah terbesarnya adalah memadamkan api yang hampir merubuhkan dan melahap seperlima dari sekolah itu.
"Kau punya mantra air??"
"Punya sih tapi--"
"Sudahlah cepat lakukan saja, kalian malah akan membuat tempat itu semakin kebakaran jika bertengkar"
Mereka menoleh, Jakah. Bagaimana lelaki itu mengingat wajah mereka.
"H-hh Jakah, sedang apa kau disini? tak balik ke UKS??"
Dia menatap kedua pengusir makhluk yang bingung itu datar dan menghela nafas.
"Ingatanku spesial, jadi kalian tidak akan bisa dibisa walau mencobanya"Ia menatap Heri yang sedang fokus dan lamunannya pun jadi buyar.
"Baiklah, baiklah"
"Cepat, api itu semakin besar!! Hikari kau lelet!!"
"Kau berhenti menggucangku!! Heri!!"
Jakah menarik kerah Heri untuk mundur kebelakang, ia menatap Heri sekilas lalu melepas tangannya
"Biarkan pacarmu yang menyelesaikannya"
Wajah Heri seketika memerah
"Keluarlah, makhluk kembar!!"
Makhluk air itu menyiram seluruh kebakaran dengan airnya membuat api yang tadinya mengganas menjadi padam perlahan.
Waktunya cukup lama dari biasanya, namun mereka berhasil memadamkan kebakaran tersebut dengan bantuan makhluk kembar.
"Sudah"
Jakah menatap sekelilingnya dan menundukkan kepala lalu menatap Hikari datar.
"Pantas kau tak mau menggunakan mereka"
Ya, kalian pasti tau bahwa makhluk kembar mengeluarkan serangan air, namun airnya berwarna hitam.
"Ya itu dia"
"Repot, tinggal ku perbaiki saja!!"
"Jangan, kalian kebiasaan ya, habis menghancurkan sesuatu langsung memutar waktu?"
Mereka menatap satu sama lain lalu menggeleng.
"Jangan mengacaukan waktu, serap saja semua air ini, dengan begitu akan lebih baik dari pada merusak dimensi waktu yang ada"
Lelaki bernama Jakah itu berjalan dengan tongkat dengan satu tangan yang di gendong karna patah
"Bukan hilang, tapi kalian terlalu menggampangkan sesuatu, btw kemana teman pengusir makhluk yang lain? bukankah mereka sering mengatakan jangan memutar waktu kecuali keadaan sangat sangat genting?"
Mereka terbelalak, bagaimana orang itu tau tentang yang lain?
"Mereka semua di Jepang, sekolah"
"Harusnya kalian ikut saja, sudahlah aku ingin istirahat"
Jakah pergi dari sana dengan wajah lelah dan datarnya.
Cukup lama mereka berdua menunduk hingga mereka mengangkat kepalanya dan masih melihat punggung lelaki yang dari tadi menceramahinya.
"Jakah!!"
"Terima kasih sarannya dan tutuplah mulutmu"
Lelaki itu hanya mengacungkan jarinya dan kembali berjalan ke arah ruang kesehatan.
Mereka mengambil air kotor yang masih tergenang dan buru buru mengganti bajunya.
Sungguh ada saja orang yang bisa mengingat walaupun sudah di tentukan bahwa manusia selain pengusir makhluk akan lupa kejadian itu.
Bagaimana ada orang yang seperti itu?
"Ada pelajaran tambahan?"
"Ada, dan ada yang membuatku penasaran, kau tau Heri?"
"Ha? apa ?"
"Bagaimana di Kanan Jakah selalu ada makhluk dengan cahaya putih dan di kirinya makhluk hitam yang terus mencoba menggerogotinya?"
Heri terkejut bukan main.
"Benarkah?"
"Ya"
Mereka berjalan keluar dari gedung yang tampak satu per lima dari lantai atas gedung itu telah gosong dilahap api.
"Kita harus mencari tau bukan? Aku akan mengatakannya pada orang tua ku dan kau katakan pada orang tuamu"
Mereka saling mengangguk dan pulang lebih awal kerumah masing masing.
"Sampai jumpa"
"Malam ini, jangan lupa"
Hikari dan Heri berpisah dengan banyak pikiran yang berkecamuk dikepala.
__________________________
**Like
komen
share
follow
TBC..
Lanjutan chapter sebelumnya**
.