
Happy reading❤️❤️
Hari itu, Kairi dan Heeon pada akhirnya berpisah saat waktu menunjukkan tengah malam dan tentunya kedua orang itu sudah di cari oleh para anggota sekte.
"Sampai jumpa.."
"Hai, Jaa mata ne"
Merek pergi ke sekte Masing dan sesampainya di sekte, banyak orang yang panik karna mereka berdua hilang.
"Ya Tuhan, Heeon!! kau ini membuat kami takut!"Ucap Dimas sambil memukul kepala sang empu.
"Gomen, Ada yang aku temui tadi untuk berpamitan, kau tak lupa kan besok misi pertama ku?? dan aku tak tau kapan selesainya"
"Biar kutebak.., Kairi??"
Heeon mengangguk lalu melewati Dimas yang mengangguk angguk tak jelas. "Aku duluan"
"Hei tunggu!!"
Heeon memasuki kamarnya tanpa mendengarkan panggilan temannya.
Belum saja ia memasuki kamarnya, Liam datang dengan membawa titah baru"Hei Heeon, Ketua ingin bicara"Mau tak mau Heeon bergerak cepat menuju ke ruangan ketuanya tanpa menunggu Liam.
"Eh si bocah, udah di samperin malah pergi lagi"Ucap Dimas yang baru saja sampai dan berdiri di samping Liam.
"Hm, kebiasaannya kan??"
Saat di ruangan ketua sekte, Heeon berjalan perlahan agar tak membuat suara bising juga ia sudah menstabilkan deru nafasnya agar tak mengeluarkan suara ngos-ngosan.
"Ada apa, Ketua??"
"Tentang Misi yang kau pilih, apakah tak apa misi level A+?? Ini butuh waktu yang lama, dan lagi kompetisi nya.."
"Aku bisa, Ketua. Misi ini akan aku selesaikan sebelum kompetisinya mulai, dan katanya kompetisi nya di undur 1 bulan ya??"Tanya Heeon dengan nada yang sopan namun tegas.
"Iya, ini juga kesempatan agar kau tak terburu buru melakukan misinya, tapi apakah membasmi makhluk di gunung kematian tidak sulit? kau adalah kebanggaan sekte, saya tak mau kehilangan kebanggaan sekte untuk ke 3 kalinya"ucap Ketua sekte yang namanya adalah.....
"Mudah, Kan ketua An sendiri sudah tau bahwa aku dulu pembasmi makhluk"An Rayh nama ketua yang kita kira berumur 48-50 tahun itu.
"Baiklah, aku harap kau kembali dengan selamat."
Sedikit penjelasan tentang Gunung kematian, Tempat ini adalah bagian dari Sekte An yang jauuuuuuh dari Sekte An sendiri. Mereka tempat para murid untuk melatih kemampuan dulunya, namun sejak ada suatu energi negatif muncul, gunung itu dipenuhi banyak makhluk, banyak orang dari segala sekte mencoba mengambil alih gunung itu dan berakhir tak pulang dari sana.
"Aku kembali Dulu, Ketua An"
Heeon keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya yang sudah ada Poem membuat Heeon memasang wajah malah.
"Heeon-san, Kau kemana saja? ini sudah tengah malam lho"Poem hendak memegang tangan atau lebih tepatnya memeluk tangan Heeon namun segera ia hempaskan.
"Jangan sentuh aku, Poem."
"Heeon~ Kau rugi sendiri lho, kau tau kan kalau Ayahku adalah penjaga Kanan perguruan Iblis ini??"
Oke, Penjelasan lagi.
Para sekte, seperti sekte Twi-lang, sekte Yin, sekte An dan sebagainya ada dalam satu perguruan yaitu perguruan Iblis. Masing masing sekte mempelajari Elemen dengan senjata yang berbeda.
Kalau Lia gak salah ingat, Sekte An mempelajari seni tombak atau tongkat gitu yang di campurkan oleh kekuatan elemen.
Sekte Yin menguasai seni pedang dan golok.
Tapi untuk kasus Ash, itu beda lagi ya.
Dan Sekte Twi-lang lebih fokus ke tangan kosong dan kekuatan pikiran serta 'fight IQ' Biasanya mereka membuat senjata dari aura kekuatan masing masing bukan senjata yang di buat oleh tukang, tai bukan berarti mereka dilarang untuk memakai senjata ya...
Back!!
"Lalu??"
"Ya, kau bisa dalam masalah kalau menolak ku~"Poem semakin kurang ajar, dia mulai menyentuh baju Heeon dan ya... kalian tau kan ****** kayak gimana??
"Oh, begitu"
"Iya!! sekarang kau mau kan dengan ku??"
Heeon menatap Poem datar.
"Tidak, dan maaf kalau aku tidak sopan, PUTRI PENJAGA KANAN..."
Heeon menghempaskan tangan Poem sekali lagi dan masuk kekamarnya serta tak lupa mengunci pintu kamarnya.
Teriakan samar terdengar dari luar kamar itu.
"Mengganggu"Heeon naik ke atas lalu masuk ke kamarnya yang sesungguhnya nya, sebenarnya tadi bukan kamar, kaya bangunan tingkat banyak kamar gituuu.
"Anginnya sejuk"Entah kenapa ia tak ada niatan sedikitpun untuk memejamkan mata untuk tidur.
"Bagaimana kabar Heri??"
____________________
"Ibu, apa sudah ada kabar dari Kakak?? Aku sangat khawatir dengan Kakak karna disana katanya banyak Vampire liat"
Seorang perempuan dengan rambut hitam legam nya dan mata berwarna coklat tua mengintip ke laptop yang sedang di mainkan oleh sang Ibu.
"Belum Nak, kau tau kan Kakakmu sedang mengasingkan diri??"Hari tak menoleh namun sesekali melirik sang anak.
"Aku kangen Kakak"
"Kenapa kau tak pergi aja dengan peri mimpi??"Tanya Hari dengan tangan yang mulai mengelus kepala sang anak.
"Ibu, aku sudah bukan anak kecil"
"Tapi, kau bertingkah seperti anak kecil"ucap Hari sambil tertawa kecil.
Sedangkan di sisi lain, Heri sedang berkutat dengan kertas dan pensil untuk mengerjakan tugas Minggu lalu yang menumpuk karna ia baru mengerjakannya.
"Cih, banyak sekali sih tugasnya"Hal itu di dengar oleh sang Ayah yaitu Rion yang sedang meminum kopi dan mengerjakan pekerjaannya (Yaiyalah)
"Lagian kau yang menumpuk tugas mu hanya demi bermain dengan teman teman mu"Ucap sang Ayah sambil menggelengkan kepala.
"Lah? koq aku lagi??"
"Ya emang siapa lagi??"Heewon datang dengan kue kering ditangannya yang masih menebarkan bau harum.
"Ya Bu guru lah, kenapa kasih tugas banyak banyak??"Heri masih setia mengelak.
"Kau tak menanyakan kabar Kakakmu itu?? bukankah waktu itu di kamarmu kau bergumam bahwa kangen dengannya??"
seketika warna merah menyertai muka sang lelaki berambut kuning yang mewarisi keluarga Raymond itu.
"Apaan sih?!"
Heri membawa tugas tugasnya dari sana dan pergi ke kamar dari pada ia terus menerus di goda oleh sang Ayah.
"Hei, Kau tak mau kue"
Mendengar hal itu, ia menutup pintu kamar lalu keluar lagi dan mengambil satu nampan kue kering yang di buat sang ibu dan kembali ke kamar.
"Noh liat, anaknya siapa coba?"ucap Heewon sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anak mereka.
"Entah, yang pasti adiknya Heeon"
Gaje memang, sangat gaje sekali.
Di kamar, Heri mengerjakan tugas tugas yang harus dikumpulkan besok dengan cepat hingga banyak sampah bekas tautan yang sudah tertumpuk.
"Rrrrrrrrrrrrrr"
Setelah 2 jam berkutik dengan pensil, ia berhasil menyelesaikan 5 soal sekaligus dalam satu kali duduk dengan setumpuk sampah rautan pensil dan juga 3 pensil yang sudah tewas.
"Akhirnya!!!!"
Ia membanting dirinya di kasur setelah membereskan semua pekerjaannya.
"Akhirnya"
___________________
***Like
Komen
share
follow
TBC***...