
Happy reading❤️❤️
Heeon POV...
[Hai Heeon disini.]
Kami lanjut berjalan dan semakin kami naik ke puncak semakin banyak juga makhluk makhluk tingkat atas yang harus kami lawan
Masih ingat Qiqiu? dia sedang di gendongan ku dan dari tadi i tertidur di tengah tengah pertarungan kami tanpa peduli.
"Kau yakin Qiu berguna? kerjanya hanya tidur"Poem sungguh membuatku jengkel.
Ia merepotkan tapi juga cerewet, rasanya aku ingin meninggalkan dia disini agar mati saja. Tapi pacarku juga perempuan...
"Diam kau, hanya beban gak usah bacot"Dimas mengeluarkan kata kata khas negaranya, yap Bacot.
"Sudah kalian ini bertengkar melulu, nanti makhluk menyadari keberadaan mereka"Liam yang terkenal penyabar sampai menunjukkan wajah marah dengan pertigaan di pipinya.
Masih 10km - 15km lagi kami sampai ke puncak, jika sudah begitu akan mudah menghabisi semua makhluk itu.
"Kalin tau? dulu gunung ini sangaaaaat indah seperti di buku sejarah tapi kau tau kan??"Poem lagi lagi membuka mulutnya, tai ada bagusnya kalau sekarang.
"Kita jangan langsung sampai ke puncak, ayo cari orang lain atau tanaman ajaib"saran Dimas.
Poem sudah bisa berjalan sejak 20 menit lalu, sebenarnya dia mungkin tak Beth dengan Dimas.
Tetapi Poem tetap berjalan dibelakang koq.
Kami memilih untuk istirahat ke 3 sekarang ini.
"Tanaman ajaib??"
"Ya, tanaman ajaib yang ada obatnya, bisa untuk orang yang terkena racun vampir, racun iblis, racun api, racun es lalu tanaman Hilyli untuk segala macam penyakit dan juga tanaman regenerasi"Terang Poem dengan penuh semangat.
"Tunggu dulu, memang ada untuk Racun vampire?? bukankah vampire sudah jarang sekarang??"Dimas menatap Poem dengan alis yang terangkat.
"Kau salah, ada"Timpal ku.
Liam menoleh terkejut dan menatap ku."Hah?? bukankah pra vampir sekarang tak ada di Jepang?? kalau ada paling sedikit"
"Tak percaya?"
Mereka semua mengangguk secara kompak, benar benar membuat kesal. Soal sikapku ini, tak usah ditanya.
"Yasudah, aku mau ke sana, mau buang air kecil" Aku bangkit dan pergi tanpa menimpali protesan dari mereka.
Aku menemukan tempat yang cocok dan duduk, ya tadi hanya kebohongan saja.
Aku iseng iseng menggunakan mantra pendengaran jarak jauh, dan berhasil.
"Aneh sekali, kenal sunyi disekitar sini??"
Cring
Suara nyaring langsung membuat telinga ku berdengung dan aku langsung menonaktifkan mantranya.
"Apa itu?!"
Aku berlari mengikuti asal suara tadi dan tak ada siapapun di sana, padahal tadi aku yakin mendengar nya.
"Aku yakin dari sini!"
Tiba tiba saja, kilatan merah melintas di depanku. Sungguh terkejut diriku hingga terjatuh.
Ku bangkit dan menunggu.
Setelah menunggu kilatan itu datang lagi namun yang ad hanya angin menerpa wajahku di barengi bau anyir. Bau darah.
"Darah manusia atau makhluk?"
Aku membuka semak semak dan menemukan sesuatu yang mengerikan.., Banyak tergeletak disana kepala dan tubuh yang terpisah.
Aku mundur beberapa langkah, aku yakin ini ulah orang itu, kilatan tadi bukanlah makhluk tapi manusia.
"Siapa yang tega?'
Makhluk juga banyak yang tumbang, darah bukan sampai tergenang merendam kaki ku jika aku melangkah.
Dan dari belakang ku dengar deruan pedang yang memotong sesuatu, bukan pedang melainkan golok.
"Sekte Yin"
Aku segera pergi dari sana, aku tak mau berurusan dengan sekte Yin, tak mau Sam sekali, merepotkan.
"Cih, tak ada apa makhluk yang bisa dibunuh??"
"Tenanglah, jangan berisik"
Suara yang sangat familiar memasuki pendengaran ku, walau hanya mendengar beberapa kali tetapi sudah menetap di memori.
"Ash??"
Heeon POV end.....
Kairi dan teman temannya sudah tertidur di dalam goa itu, Kecuali Key. Ia mendekat ke Kairi dan menodongkan sebuah belati.
"Entah kenapa aku membenci mu"
Dia mengangkat tangannya lalu mengayunkan belati itu sebelum menghentikan dirinya sendiri.
"Benci, aku sangat benci kau"
Ia langsung menarik tangannya dan meninggalkan Goa itu untuk mencari udara segar.
"Aku benci perempuan!! \*\*\*\*\*\*!! sialan!! brengsek!!"Key menggenggam dadanya erat nafasnya sesak.
"A-aku benci"
"Aku benci Ibu! aku benci adik!! Aku benci semua orang!!!"Teriaknya ditengah malam, hanya lolongan serigala yang menyautnya.
Dia duduk di tanah, meringkuk bagaikan bunga yang kuncup, tak mau melepaskan genggaman kakinya, bersembunyi dari kenyataan bahwa ia sangat mencintai makhluk rumit itu.
"Kumohon!! pergilah dari ingatan ku!!"
Ingatan akan wanita yang disebut 'Ibu' berputar bagaikan kaset yang rusak, hanya kepingan kepingan pedih yang menyusun dan ia lihat.
Lelaki itu menggenggam rambutnya erat hingga mungkin bisa saja berdarah. Tiba tiba pundaknya di sentuh benda yang halus, benda yang dingin namun menenangkan. Tangan.
"Kau tak apa??"
Seorang perempuan dengan rambut panjang yang berkibar dan mata berwarna hazel itu menatapnya di bawah rembulan malam yang terang.
"Hei, kau Key kan? apa kau baik saja??"
Perempuan itu terus bertanya membuat jantungnya berdegup kencang, tangannya mengepal kuat menahan luapan emosi dari dalam tubuhnya.
"Hei? Key.. kau tak apa?"
Perempuan itu mengguncang tubuhnya, ia sangat ingin marah namun entah bagaimana wajah perempuan itu berubah menjadi wajah wanita yang sangat dia benci.
"Key?"
"PERGI!! PERGI KAU WANITA \*\*\*\*\*\*!!"
Teriakan itu meluncur bebas dari mulutnya, air matanya tak terbendung, ia langsung menghempaskan tubuh sang perempuan dengan kasar.
Perempuan itu masih membeku, padahal ia tak salah kenapa dikatai \*\*\*\*\*\*??
"Ada apa dengan mu?! aku hanya mengkhawatirkan dirimu yang trauma seperti itu?! kalau tak suka aku akan pergi!!"
Takara Sora pergi dengan perasaan campur aduk, ia sedih dan juga marah, namun tangisan ketakutan dari Key masih terdengar ditelinganya.
"Masuk atau kau akan menjadi incaran Serigala"
Begitulah pesannya sebelum masuk kembali ke Goa itu, meninggalkan pengendali elemen Angin itu sendiri lagi.
|
|
|
Key masih menangis, matanya sudah memerah dan air matanya mengering. Ia menangis dalam diam sambil menatap langit.
Hujan dimulai 10 menit yang lalu, seakan menjawab kesedihan nya, Alam sungguh tak adil padanya.
"Kenapa? KENAPA?! KENAPA AKU HARUS MENGINGAT MEREKA!!"
Teriaknya sekali lagi, tenaganya pun habis karna hal tersebut dan ambruk, tubuhnya menggigil menahan suhu yang berubah.
Langit meneteskan airnya, menyamarkan dirinya yang sedang menatap kosong, saking derasnya ia mungkin tak akan terlihat di balik air air yang jatuh itu.
Hingga sesuatu datang, suara gemercik air yang diinjak sampai ke telinganya, ia sudah tak peduli, ia sudah biasa begini.
Angin berubah kencang karna dirinya, ia ingin menyingkirkan orang yang akan datang padanya.
"Hei Key, kau mau sakit?! ingat kau dalam misi!! jangan jadi beban!!"Air di atasnya terhalang oleh sesuatu, dan seorang perempuan yang memegang sebuah payung dari bambu.
"Kau dengar tidak?"
"Aku....Benci....semua.....wanita...."
Pandangan nya kabur dan semuanya menjadi hitam seketika, Key pingsan saat itu juga dengan Sora yang meneriakkan namanya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
\*\*Like
komen
share
follow
TBC\*\*....