
21+.
Yang belum punya KTP harap untuk tidak mampir atau membacanya.
Selamat membaca buat kalian yang sudah punya ktp💜.
Di atas sebuah ranjang hotel berukuran king size, seorang wanita dan pria tanpa busana tengah berpelukan mesra. Setelah melakukan pergumulan panas beberapa menit yang lalu keduanya terlihat begitu letih dengan keringat yang masih membasahi tubuh keduanya.
"Jadi … kapan kau akan meminta cerai pada suamimu?" tanya Amar Priyadi — 37 tahun seorang CEO di sebuah perusahaan sekaligus atasan suami dari wanita yang ada dalam dekapannya.
"Sabarlah dulu, aku masih belum punya alasan yang tepat untuk menggugat mas Abi," jawab Kirana Larasati — 29 tahun, merupakan seorang istri dari Abimana dan seorang ibu dari putri kecil yang bernama Andara Pratama Grazuela.
"Honey, sampai kapan aku harus menunggumu? Sudah satu tahun kita berhubungan seperti ini dan kau selalu saja menjawab belum memiliki alasan yang kuat … apa dengan mengatakan kau mencintaiku pada Abimana itu bukan alasan kuat Hem," Rajuk Amar yang merasa bosan dengan alasan Kirana.
Kirana bangkit dari tidurnya, dan kembali menindih Amar yang sedang cemberut. "Honey, kau harus mengerti untuk mengakui semua itu tidak mudah. Aku memiliki seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya dan aku tidak mau menyakiti hati Andara dengan perceraianku."
Amar mendelik, dan mengubah posisinya. Kini amar yang menindih Kirana. "Aku rasa Andara tidak akan sakit hati jika kedua orang tuanya berpisah, dia masih tiga tahun belum mengerti apapun dan aku rasa Andara juga tidak ingin punya ayah yang tak terlalu peduli padanya, aku bisa menggantikan Abimana sebagai ayahnya bahkan aku bisa lebih menyayangi Andara dari Abi" tutur Amar sembari menggoyangkan pinggulnya membuat wanita yang ada dibawahnya kembali mend*esah dibuatnya.
Kirana melingkarkan kedua tangannya di leher Amar. "Bersabarlah, Honey. Kita nikmati saja dulu permainan ini ….aaahh," lirih Kirana kembali melenguh.
Amar tak memperdulikan ucapan Kirana, kini ia hanya terfokus pada permainannya yang semakin terasa nikmat. Ini adalah pergulatan yang ketiga kalinya bersama Kirana, dan meskipun sudah berkali-kali dipakai lu*bang kenikmatan itu bukannya melonggar yang ada malah semakin menggigit miliknya.
.
.
.
🌸🌸🌸🌸
Hubungan terlarang Kirana dan Amar bermula dari sebuah perkenalan yang tak disengaja saat undangan makan malam ulang tahun perusahaan tempat suaminya bekerja.
Abimana yang merupakan karyawan biasa di perusahan tersebut memperkenalkan istrinya pada bosnya yaitu Amar.
Kirana yang saat itu terlihat malu-malu karena memiliki kepribadian yang introvert terus menundukkan kepalanya karena merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri saat berada di antara banyak orang yang tak ia kenal mampu membuat Amar terpikat.
Tak hanya memperkenalkan istrinya saja, Abi juga mengenalkan putri kecilnya Andara pada Amar yang tak disangka keduanya langsung bisa mengakrabkan diri, padahal Andara merupakan gadis yang sulit didekati tapi saat pertama melihat Amar, Andara seolah menemukan teman sejatinya.
"Hai gadis kecil, mau makan es cream sama om?" tawar Amar yang setengah membungkukkan tubuhnya untuk mengimbangi tinggi Andara.
"Mau, Om," jawab Andara senang.
"Bagus, ayo kita mengambil es cream," ajak Amar sembari mengulurkan tangannya pada Andara.
"Pak, tidak usah Andara pasti akan merepotkan anda," tutur Kirana dengan suaranya yang lembut.
"Tidak masalah, kalian nikmati saja pesta ini sepertinya aku mulai menyukai putri kalian," kata Amar yang tak mengalihkan pandangannya dari Kirana membuat wanita dengan dress merah hati itu tak nyaman.
"Ah, baiklah … Andara jangan menyusahkan om ya," ucap Kirana seraya mengusap kepala putri kecilnya.
Gadis kecil itu mengangguk bersemangat, dan menarik tangan Amar tidak sabar untuk mengambil es creamnya.
Selepas Andara pergi bersama Amar, Kirana duduk di salah satu kursi dekat jendela. Ia menatap layar ponselnya mengecek notif yang masuk ke dalam aplikasi novel onlinenya.
Ya, selain menjadi seorang ibu rumah tangga Kirana juga kini menjajal kemampuannya sebagai penulis novel online. Walaupun karyanya tak begitu banyak diminati tapi ia tidak putus asa ia terus belajar agar tulisannya bisa lebih baik lagi.
Cukup lama Kirana duduk sendirian tanpa adanya teman, sebab Abimana jika sudah bertemu teman-temannya dia akan asik sendiri dan melupakan istrinya yang sudah mulai bosan.
Untuk mengurangi rasa bosannya Kirana berpamitan pada Abi untuk ke toilet, dan siapa sangka saat ia sedang berjalan menuju toilet sepasang tangan menariknya dan membawa Kirana ke sebuah ruangan gelap.
"Jangan berteriak jika putrimu tidak ingin kenapa-napa," bisiknya di telinga Kirana membuat wanita itu terkejut dan khawatir pada sang putri.
"Kau mengerti?"
Kirana menganggukan kepalanya, dan ia cepat-cepat menjauh kala tangan itu melepaskan dirinya.
"Pak Amar," ujar Kirana kaget saat tahu jika pria itu adalah bos suaminya.
Amar menyeringai dan melangkahkan kakinya mendekati Kirana. Wanita itu mundur beberapa langkah sampai terpentok pada sebuah tembok yang membuatnya tak bisa pergi kemanapun lagi.
"D-dimana Andara?" tanyanya khawatir.
"Dia aman, selagi kau tidak macam-macam disini."
"Apa maksud anda?"
Amar mendekatkan wajahnya pada Kirana yang refleks memalingkan wajahnya dari Amar.
"Apa yang akan anda lakukan?" Kirana tampak bergetar kala hidung mancung Amar menyusuri leher jenjangnya.
"Aku rasa kau juga tahu apa yang ingin aku lakukan, Honey."
Cup.
Plak!
Kirana menatap tangannya yang telah berani menampar bos suaminya. Wanita itu bergetar dan kakinya terasa lemas, saat melihat Amar sedang tertunduk sambil menyentuh pipinya.
"Kau berani sekali, menamparku!" sentak Amar mengeraskan rahangnya karena tak terima ditampar oleh Kirana.
Wanita itu menunduk ketakutan, dan di detik berikutnya Amar menghampiri Kirana dan menciumnya secara paksa ia juga mengancam jika Kirana berani berteriak dan melaporkannya pada orang lain, putrinya akan berada dalam bahaya.
"Masukan nomor ponselmu." Amar mengasongkan ponselnya pada Kirana yang masih dalam pelukannya.
Kirana diam mematung, dan menatap ponsel itu.
"Cepat masukan nomor ponselmu," dengus Amar yang mengeratkan pelukannya.
Kirana yang berada dibawah tekanan Amar pun menuruti permintaan Amar. Dan semenjak kejadian itu, Amar terus menghubungi Kirana dengan sejuta rayuan mautnya membuat Kirana yang selalu merasa kurang puas dengan Abimana mulai merasa nyaman dengan Amar dan perlahan hubungan mereka mulai dekat bahkan lebih dekat dari sekedar hubungan bos dan istri karyawan.
🌸🌸🌸🌸
Pertarungan di atas ranjang hotel itu kian sengit, lenguhan-lenguhan kenikmatan dari keduanya memenuhi ruangan kamar hotel presidential suite.
Amar yang memiliki goyangan pinggul dahsyat, selalu membuat Kirana ketagihan hingga terkulai lemas di atas ranjang. Begitu juga sebaliknya alat Amar yang selalu dimanjakan oleh Kirana nyaris membuat Amar gila jika satu hari saja tak menyentuhnya.
.
.
.
Bersambung.