Wedding Secrets

Wedding Secrets
Kartu hitam



"Apa ini?" Cherryl menatap sebuah kotak makan yang di sodorkan oleh Aulya.


"Sandwich, tadi si es batu nitipin ini ke gue katanya buat lo," ucap Aulya, sembari membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


"Cih, buat apa dia ngasih ini ke gue!" Cherryl menjauhkan kotak makan itu darinya.


"Entahlah, gue juga heran kok dia jadi perhatian ya sama lo," Aulya menatap lekat sahabatnya, seolah mencari jawaban dari gadis yang sedang badmood itu.


"Lo nggak sembunyiin sesuatu dari guekan,Cher?"


"Ah... maksud lo?" Cherryl gugup, saat Aulya menaruh curiga padanya.


Aulya memegang bahu Cherryl, ia menatap manik mata Cherryl dengan dalam.


"Kasih tau gue, apa hubungan lo sama si Clay? Kenapa dia jadi perhatian sama lo?"


"Ish, apaan sih Al. Nggak jelas banget pertanyaan lo, lo taukan tiap hari gue berantem sama dia. Mana mungkin gue ada hubungan spesial sama dia," Cherryl menepis tangan Aulya yang masih mencengkeram bahunya erat sambil memutar manik matanya ke sembarang arah.


Melihat gerak gerik Cherryl yang mencurigakan, Aulya menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan. Manik matanya membulat dengan sempurna, padahal Cherryl tidak mengatakan apapun tapi Aulya seperti bisa membaca isi kepala sahabatnya itu.


"Haaaaa...."


"Apaan sih lo," Cherryl mengerutkan alisnya, heran karena melihat Aulya tiba-tiba terkejut.


"Jangan bilang, cowok yang di jodohin sama lo itu dia," bisik Aulya di telinga Cherryl .


"Ish, nggak mungkinlah gila kali lo!" Sentak Cherryl, sebenarnya ia panik bagaimana bisa sahabatnya tahu jika Clay adalah orang yang di jodohkan dengannya.


"Cieee....benerkan tebakan gue," cibir Aulya dengan keras, takut teman-teman nya ikut kepo. Cherryl mencubit lengan Aulya agar memelankan suaranya.


Setelah Aulya mendesaknya berkali-kali, terpaksa Cherryl mengatakan yang sebenarnya pada Aulya. Gadis itu telah bersumpah akan menjaga rahasia Cherryl sampai kapanpun.


Karena perutnya yang terus mengomel,minta di isi. Akhirnya ia menarik kembali kotak makan itu dan melahap sandwich yang di berikan oleh suaminya tadi.


"Cher, berarti lo udah itu dong sama dia," Aulya menggoda Cherryl sambil terkekeh.


"Udah apa?" Cherryl bertanya dengan wajah polos.


"Ish, masa lo nggak tau. Itu loh kalau udah nikah pasti ngelakuin malam pertama kan," Celetuk Aulya, membuat Cherryl tersedak.


Uhuk..uhukk..


"Eh, ini minum Cher," Aulya mengasongkan sebotol air mineral pada Cherryl.


Glek..glek..glek..


Cherryl meminum air mineral itu, dengan cepat.


"Gila lo, ya! nggak ada pertanyaan lain apa selain itu?" ujar Cherryl ketus.


"Hihihi, sorry gue cuman penasaran aja. Kan lo sama dia kayak kucing sama tikus, kalau lagi malam pertama apa masih perang juga? apa jangan-jangan kenikmatan si es batu ngebungkam mulut lo biar nggak berisik," celoteh Aulya, ia sampai geli sendiri membayangkan sahabatnya yang sedang malam pertama sambil beradu mulut dengan pasangannya.


"Kayaknya otak lo, harus buru-buru di bawa ke laundry deh Al. Udah kotor banget tuh," Sindir Cherryl pada Aulya.


"Hem... enak aja kepala gue ini bersih dan suci," Aulya mengelus kepalanya sendiri.


"Al, lo kok bisa tau sih kalo cowok itu si kampret. Lo cenayang ya?"


"Emang muka gue cocok ya, jadi cenayang?"


"Cocok.. cocok banget," sindir Cherryl sambil terkekeh.


"Eh, tapi jawab dulu pertanyaan gue Cherr. lo udah itu belum sama dia haha."


BUGH...


Cherryl memukul lengan Aulya, sampai sahabatnya itu mengaduh.


Sepanjang jam pelajaran yang kosong, Aulya tak hentinya menggoda Cherryl ia terus saja mengorek informasi apa saja yang sudah ia lakukan dengan suami barunya itu. Membuat Cherryl kembali memukul lengan Aulya.


Jam pelajaran telah habis, waktunya untuk pulang. Seperti biasa murid-murid yang lain saling berhamburan seolah sedang balapan siapa yang paling cepat meninggalkan sekolah tersebut.


Sedangkan Cherryl dan Aulya, kini menjadi murid yang paling terakhir keluar dari kelasnya.


"Eh, Cher kayaknya gue ketinggalan sesuatu deh di kelas. Gue ke atas dulu ya," Aulya berlari menuju kelasnya, mengambil suatu barang miliknya yang tertinggal.


Cherryl berdiri di bawah balkon, sambil memainkan ponselnya. Terdengar suara ribut-ribut di kelas atas tapi Cherryl mengabaikannya.


Setelah Aulya kembali dan menuruni tangga, ia melihat ke atas balkon sekolah. Di sana ada Tiara dan teman-temannya yang sedang memegang ember berisi air kotor. Sepertinya mereka akan menyiramkan air itu pada Cherryl.


Dugaan Aulya memang benar, mereka sudah bersiap untuk mengguyur Cherryl dengan air kotor yang bau. Aulya berteriak memanggil Cherryl,untuk menghindar dari sana. Sayang begitu Aulya berteriak Tiara dan teman-temannya langsung membuang air tersebut ke arah Cherryl.


Beruntung, clay datang tepat waktu. Pria itu menarik Cherryl ke pelukannya karena Clay membawa payung jadi mereka berdua aman dari guyuran air kotor yang bau itu.


"Sial," desis Tiara, ia dan gengnya langsung kabur karena takut pada Clay.


Sementara Cherryl, yang terkejut karena tiba-tiba Clay memeluknya. Ia mendongakkan kepala menatap wajah clay yang ada di bawah payung bersamanya. Tanpa sengaja manik mata mereka saling bertemu, Cherryl menatap dalam manik mata Clay yang berwarna coklat mengkilap begitu juga dengan Clay ia sampai tak berkedip melihat istrinya yang begitu cantik.


"Gila! gue berasa nonton Drakor secara live," gumam Aulya yang menyaksikan adegan romantis di depannya.


"Fiuh," Clay meniup mata Cherryl, membuat gadis itu tersadar. Cherryl langsung mendorong tubuh Clay agar menjauh darinya.


"Ish, ngapain meluk-meluk!"


"Ck, udah di tolong bukannya makasih malah ngedorong. Tau gitu aku biarkan saja tadi kamu kena air comberan."


"Heh, emangnya siapa yang minta tolong sama lo. Lo nya aja yang tiba-tiba dateng sok jadi pahlawan kesiangan."


"Ela elo, yang sopan kalau manggil suam-," ucapan Clay terhenti hampir saja dirinya juga keceplosan. Untung saja remnya pakem jadi dia keburu menutup mulut.


Tuk..


Clay menyentil jidat istrinya, sampai mengaduh.


"Aduh sakit tau," protes Cherryl menyentuh keningnya.


"Ayo pulang, jangan keluyuran."


"Sepertinya sentilan barusan nggak berasa apa-apa ya, mau lagi? Hem."


"Ish, aku mau main dulu sama Aulya kamu pulang sendiri aja," Cherryl mengulangi ucapannya kembali dengan sebal, lama-lama dia geli sendiri kalau berbicara dengan sebutan aku kamu.


"Berikan ponselmu," pinta Clay


"Buat apa?"


"Aku tidak punya nomor ponselmu, jika terjadi apa-apa bagaimana aku menghubungi mu."


"Ck," sambil berdecak Cherryl mengasongkan ponselnya ke hadapan Clay.


"Nih," Clay menempelkan kartu hitam di kening Cherryl membuat manik mata gadis itu melotot.


"Apa ini?"


"Gunakan itu untuk berbelanja, tapi ingat jangan boros. Aku pulang dulu banyak urusan," pamit Clay, ia berlalu meninggalkan Cherryl yang sedang menatap bahagia black card tersebut.


"Si es balok, rupanya baik juga ya," gumam Cherryl sembari tersenyum.


Waktu kian sore, Cherryl baru sadar jika Aulya tak kunjung datang. Baru mau menyusulnya Aulya tiba-tiba muncul sambil meledeknya.


Tanpa membuang waktu, merekapun pergi ke pusat perbelanjaan untuk bersenang-senang. Kedua gadis itu masuk ke sebuah toko baju lalu pergi ke toko lainnya lagi setelah mereka puas berbelanja di banyak toko, mereka memutuskan untuk pulang sambil menenteng banyak paperbag di tangan, Kedua gadis itu mampir dulu ke restoran cepat saji yang ada di moll tersebut karena sejak tadi perut mereka terus meronta minta di isi.


Kedua gadis itu duduk, di sudut restoran. Entah kenapa duduk di sudut ruangan itu terasa nyaman, selain menghindar dari tatapan orang-orang. Duduk di sudut ruangan juga membuat Cherryl dan Aulya leluasa menggibah apalagi topik pembicaraan mereka yang tak pernah habis. Selalu ada saja yang di bicarakan dan juga di tertawakan.


Saat keduanya sedang asik bergurau, mata Cherryl teralihkan oleh sepasang pengunjung restoran yang baru saja datang. Melihat keduanya yang begitu akrab dan dekat membuat hati Cherryl terasa sakit.


"Kenapa Cher?" Tanya Aulya yang melihat Cherryl terdiam.


Cherryl menggelengkan, kepalanya pelan.


"Pulang yuk, gue capek," ajak Cherryl, sebenarnya bukan capek hanya saja ia tidak ingin berlama-lama di dalam restoran yang udaranya membuat dada Cherryl sesak.


"Ayo, gue juga capek Cher. Ngomong-ngomong thanks ya hari ini lo udah belanjain gue banyak banget."


Cherryl hanya tersenyum tipis, sambil melirik ke arah meja paling depan.


***


Kediaman, Dhanuendra.


Cherryl berjalan dengan lesu ke dalam rumah, bi Arum yang melihat nona mudanya baru pulang langsung menghampirinya. Bi Arum terkejut saat melihat beberapa luka baru di wajah sang majikan.


"Ya ampun, non. Itu wajahnya kenapa?"


"Nggak apa-apa, bi. Aku mau ke kamar capek."


"Bibi siapin, makan malam ya."


"Nggak, usah. Aku udah makan bi," gadis itu terus berjalan menuju kamarnya meninggalkan belanjaannya yang tergeletak di ruang tamu.


Ia berpapasan dengan Miss Nina, wanita itu menegur cara berjalan Cherryl tapi gadis yang sedang kusut itu mengabaikannya dan menutup pintu kamar dengan kencang.


Jam dua belas malam, sebuah mobil masuk ke pelataran rumah. Clay baru saja pulang dari kantor karena ada beberapa clien yang bersi keras ingin bertemu langsung dengannya, jadi sepulang sekolah ia langsung pergi ke kantor dan menemui clien tersebut.


Bi Arum menyambut ke datangan tuan mudanya, ia mengambil tas kerja milik Clay. Wajahnya terlihat lesu dan kusut sama seperti istrinya ketika tadi pulang, mungkin karena lelah membuat remaja itu tak berkata apapun pada bi Arum.


"Mau saya siapkan makan malam tuan?"


"Tidak bi, saya ngantuk mau langsung istirahat."


"Baik tuan."


"Cherryl sudah pulang bi?"


"Sudah tuan, tapi sejak pulang nona terus mengurung diri di kamar."


"Baiklah, bibi istirahat saja."


Kepala pelayan itu mengangguk, menunggu tuan muda naik ke lantai atas lebih dulu. Baru ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Clay, melewati kamar istrinya. Ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar tersebut, penasaran Clay mencoba mengetuk pintu kamar Cherryl.


Seperti biasa setiap ada yang mengetuk pintu kamar, gadis itu pasti tidak langsung merespon. Khawatir dengan istrinya Clay mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar tersebut.


Begitu ia masuk, ia melihat sampah tissue berserakan di mana-mana dan Cherryl sedang berbaring menghadap ke samping dengan tubuh yang di tutup oleh selimut. Gadis itu masih terisak dalam tidurnya.


"Cher, kamu nangis?" Tanya Clay penasaran.


Gadis itu diam tak menjawab, pertanyaan dari suaminya. Clay berjalan memutari ranjang untuk melihat wajah istrinya yang sedang menangis.


Sadar jika Clay, mendekatinya Cherryl langsung menghentikan isakan tangisnya dan berpura-pura tidur.


Ia memandangi wajah istrinya yang sembab, kemudian mengusap bulir bening yang membasahi pipi bakpau Cherryl.


"Apa Tiara, menyakitimu lagi?" Tanya Clay lembut, ia berpikir istrinya menangis karena Tiara melakukan hal buruk lagi padanya.


"Apa yang di lakukan olehnya kali ini? Berani sekali dia membuat istriku menangis."


Nyessss...


Sebuah rasa bersalah menyeruak dalam, diri Cherryl. Ia sudah menjadi istri dari Clay seharusnya ia tidak menangisi pria lain, tapi hatinya begitu sakit ketika melihat pria yang ia cintai bermesraan dengan wanita lain di depan matanya .


.


.


.


Bersambung.