
Sudah satu Minggu berlalu, masih tidak ada kabar sama sekali dari Clay. Papi Gerald dan sekertaris Rendipun sudah turun tangan untuk mencari keberadaan putranya yang hilang kontak semenjak tiga hari yang lalu, namun sampai detik ini belum ada titik terang mengenai keberadaan Clay dan juga Erick.
Cherryl duduk di tepi ranjang rumah sakit, dengan tatapan sendu gadis itu terus mengecek ponselnya berharap suaminya akan menghubungi walau sekedar bertanya kabar tentang dirinya.
Namun yang selalu di harapkan hingga saat ini tidak memberi kabar sama sekali, ia selalu bertanya pada kedua orang tua juga mertua dan adik iparnya tentang Clay tapi mereka selalu saja memberi jawaban yang membuat Cherryl bosan mendengarnya.
"Clay, apa kau sudah tak menginginkan aku lagi? Jika memang itu benar kenapa kau tak memberitahukannya padaku? Kenapa kau membuatku tersiksa seperti ini?" Lirih batin Cherryl, manik matanya mulai berkaca-kaca.
Gadis itu masih belum mengetahui jika suaminya telah menghilang sejak beberapa hari yang lalu, yang Cherryl tau jika Clay sedang marah padanya tanpa alasan yang jelas.
"Ayo semuanya sudah selesai," suara Austin memecah keheningan ruang rawat Cherryl. Pria itu sudah menenteng tas berisi pakaian ganti Cherryl selama di rumah sakit.
Karena kondisinya yang berangsur membaik dokter sudah mengijinkan Cherryl untuk pulang.
"Apa Mama dan papa tidak akan menjemputku?" Tanya Cherryl yang begitu lesu.
"Mereka menunggumu di rumah," jawab Austin, pria itu dengan setia menemani Cherryl selama berada di rumah sakit.
"Apa Clay juga tidak akan menjemputku?"
"Anak itu masih sibuk, mungkin nanti dia akan menjengukmu ketika di rumah," jawab Austin ia juga khawatir pada keadaan muridnya yang hilang entah kemana.
Gadis itu menarik napasnya dalam, di bantu oleh Austin yang memapahnya mereka keluar dari ruangan tersebut. Saat mereka sedang berjalan di loby sekelompok dokter dan perawat berlarian panik menghampiri mobil ambulance yang baru saja datang.
Takut Cherryl tertabrak oleh orang-orang itu, Austin spontan menarik bahu Cherryl ke dekapannya membuat gadis itu menatapnya karena terkejut.
"Maaf, saya hanya tidak ingin kamu tertabrak oleh orang-orang itu," ucap Austin melepaskan tangannya dari bahu Cherryl.
Tak lama kemudian para tim medis itu kembali masuk sembari mendorong brangkar yang membawa seorang pasien muda dengan luka begitu parah Cherryl dan Austin yang melihat pasien itu seketika membelalakkan kedua matanya, mereka shock dengan keadaan pasien tersebut.
"Erick!" Sentak Cherryl.
"I-itu Erick kan pak? ya ampun dia kenapa?" Cherryl terlihat begitu panik, saat dirinya akan menghampiri Erick yang sedang tak sadarkan diri tangannya di tarik oleh Austin.
"Pak lepasin, aku harus cari tau kenapa Erick bisa seperti itu?" Protes Cherryl menepis tangan Austin.
Austin tak melepaskan tangan Cherryl, raut wajah Austin juga terlihat khawatir sudah satu Minggu muridnya tidak memberi kabar dan sekarang ia melihat keadaan muridnya sangat mengkhawatirkan.
Ia jadi teringat pada ucapan Clay "Jika di antara aku atau Erik yang terluka tolong jangan beri tahu Cherryl lindungi dia sekuat tenaga bapak,"
Austin segera menarik tangan Cherryl dan membawanya menuju mobil, ia juga melihat ayahnya Clay yang berlari dengan terburu-buru menuju ruang unit gawat darurat dimana Erick sedang mendapatkan penanganan jika Erick sudah di temukan lalu dimana Clay? pria itu terus berpikir sembari membawa Cherryl.
"Pak, lepasin! Apa bapak nggak kasian liat Erick kayak gitu," Cherryl terus meronta karena Austin tak kunjung melepaskan dirinya.
"Cher, saya terpaksa melakukan ini... Keadaan sekarang sedang darurat keamanan kamu lebih penting dari apapun," timpal Austin memaksa Cherryl masuk kedalam mobil.
"Nyawa Erick lebih penting di banding keamanan aku pak! memangnya bapak tega melihat anak murid bapak sendiri sedang kritis tanpa ada pendamping di sisinya!" protes Cherryl ia tahu dari Clay jika Erick adalah seorang anak brokenhome jadi tidak akan ada yang perduli padanya karena kedua orang tua Erick selalu sibuk.
"Saya akan mengurusnya nanti setelah mengantar kamu pulang," Austin masih berusaha menyuruh Cherryl masuk ke dalam mobilnya.
"Kita bisa pulang nanti, aku harus melihat keadaan Erick dan bertanya apa ini ada sangkut pautnya dengan Clay atau tidak," cherryl hendak pergi meninggalkan Austin, tapi pria itu buru-buru memasukan Cherryl ke dalam mobilnya secara paksa.
"Bapak nggak sembunyiin sesuatu dari akukan?" Cherryl menatap Austin penuh selidik.
Austin menelan ludahnya kasar, ia tiba-tiba berubah menjadi gugup saat Cherryl melontarkan pertanyaan padanya.
"Saya nggak sembunyiin apa-apa dari kamu," elak Austin yang fokus pada jalanan.
"Bohong! kalian pasti sembunyiin sesuatu dari aku? jika bapak tidak menyembunyikannya lalu kenapa bapak bilang jika keamananku lebih penting dari Erick? apa semua ini ada hubungannya dengan Clay? bapak pasti Taukan kemana perginya Clay? apa jangan-jangan sebenarnya Clay pergi mencari pembunuh itu bersama Erick? dan Erick terluka karena pembunuh itu iyakan?" Cherryl terus mencecar gurunya dengan banyak pertanyaan, jika Austin tidak menyembunyikan sesuatu lalu bagaimana dia bisa tahu jika keamanannya sedang di pertaruhkan?
Austin hanya diam tak menjawab semua pertanyaan Cherryl, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat gadis itu terhenyak karena mobil melesat dengan cepat.
****
Beberapa jam sebelum Erick di larikan ke rumah sakit.
Papi Gerald beserta sekertaris Rendi, mengikuti maps yang tersambung pada ponsel Clay, mereka menyusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan.
Semakin dalam mereka berjalan ke arah hutan, maps itu semakin menghilang karena ponsel sekertaris Rendi tidak bisa menangkap sinyal yang di lontarkan oleh satelit dari dalam hutan.
"Sinyalnya hilang tuan," seru sekertaris Rendi yang memimpin di depan ia mengacung-ngacungkan ponselnya ke udara berharap sinyal kembali muncul.
"Hari sudah hampir gelap, sebaiknya kita istirahat dulu cari tempat yang aman dan jauh dari jangkauan hewan buas," titah papi Gerald pada anak buahnya.
Tanpa menunggu perintah kedua, para bodyguard itu langsung mencari tempat yang aman Dan mendirikan tenda untuk mereka beristirahat.
Hari mulai gelap, para bodyguard saling bergantian berjaga di luar tenda dan papi Gerald beserta sekertaris Rendi berada di dalam tenda membicarakan strategi untuk menangkap musuh.
Saat papi Gerald sedang serius berbicara seorang bodyguard masuk dengan tergesa sembari menggendong seorang pemuda yang terluka.
"Tuan! Tuan.... Saya menemukan teman tuan muda di tepi sungai," teriak sangbodyguard dengan keringat di keningnya juga napas yang tersenggal.
"Erick! Cepat baringkan dia di sana," perintah papi Gerald menunjuk ke arah tempat tidur yang terbuat dari bambu.
Bodyguard itu membaringkan Erick di tempat yang di tunjuk oleh papi Gerald, sekertaris Rendi memeriksa keadaan Erick luka-lukanya begitu parah. Sekertaris Rendi menyobek jaket yang di kenakannya untuk membalut luka-luka Erick agar tidak mengeluarkan banyak darah.
"Tuan sepertinya Erick mengalami hipotermia juga, tubuhnya sangat dingin."
"Kumpulkan semua jaket yang kalian miliki, pakaikan padanya. Ren kita harus segera membawa Erick ke rumah sakit kita harus menyelamatkannya."
"Tuan pergilah bersama pengawal lain.... kembali ke kota dan bawa Erick ke rumah sakit... Saya dan yang lain akan mencari tuan muda," ucap sekertaris Rendi.
"Tapi Ren, aku harus menemukan putraku sendiri."
"Tuan pergilah, aku berjanji akan menemukan tuan muda secepat mungkin."
Papi Gerald menatap wajah sekertarisnya, lalu ia mengangguk dan kembali ke kota untuk membawa Erick ke rumah sakit.
Saat perjalanan keluar dari hutan, sekelompok orang bercadar hitam menghadang papi Gerald dan para bodyguardnya.
Para bodyguard membuat formasi untuk melindungi papi Gerald yang sedang menggendong Erick.
"Tuan pergilah lebih dulu aku akan mengecoh mereka," seru salah seorang bodyguard yang sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
"Kau yakin?"
"Ya tuan, selamatkan diri anda juga tuan Erick dalam hitungan tiga pergilah secepat mungkin."
"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik."
Bodyguard itu mengangguk, dan mulai menghitung.
1
2
3
"Serang!!" Teriaknya sambil berlari ke arah musuh.
Kedua kelompok itu terlibat perkelahian, dan papi Gerald yang melihat musuh sedang sibuk menghadapi anak buahnya cepat-cepat berlari, setelah beberapa kilo meter papi Gerald berlari dari dalam hutan akhirnya ia dan Erick bisa keluar dari hutan tersebut.
Papi Gerald membawa Erick kedalam mobilnya yang sengaja di sembunyikan di semak-semak agar musuh tak mengetahuinya.
"Bertahanlah Erick, jasamu begitu besar bagi keluargaku," papi Gerald langsung menancap gas mobilnya menuju rumah sakit.
Ketika di tengah perjalanan, mobil papi Gerald mendadak mogok pria itu memukul setir mobilnya dan melirik ke arah Erick yang masih belum sadarkan diri.
Ia mencoba menyalakan ponselnya beruntung ponselnya menangkap sinyal, ia langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan ambulance ke tempat papi Gerald dan Erick berada.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya ambulance itu datang, keadaan Erickpun semakin lemah. Tim medis itu segera membantu papi Gerald memindahkan Erick ke dalam ambulance dan memberi pertolongan sementara, agar Erick bisa tetap bertahan sampai di rumah sakit.
.
.
.
.
Bersambung.