Wedding Secrets

Wedding Secrets
Suara tembakan



"Clay," lirih Cherryl saat melihat suaminya bersama seorang wanita yang dulu pernah ia temui di bandara.


Clay yang sedang duduk di samping nona Grace langsung terperanjat ketika istrinya masuk secara tiba-tiba ke dalam kamar.


Gadis itu menatap tak percaya ke arah Clay dan wanita yang ada di sampingnya, tangan Cherryl yang hilang tenaga membuat peti itu jatuh dan nyaris menimpa kakinya.


"M-maaf aku mengganggu kalian," ucap Cherryl terbata-bata ia pun langsung memutar tubuhnya dan keluar dari kamar tersebut dengan dada yang begitu sesak.


"Cherryl!" sentak Clay yang terkejut saat melihat istrinya yang salah paham.


Saat Clay akan mengejar Cherryl, nona Grace menahannya karena sesuatu yang sedang di unduh dalam laptop sudah menampilkan hasilnya 100%.


"Tuan, lihat ini sudah keluar," ujar nona Grace. Pria itu melupakan niatnya untuk mengejar sangistri dan ia fokus pada layar laptop yang menampilkan data profil seorang wanita.


Saat Clay sedang memfokuskan diri, tiba-tiba terdengar suara teriakan Cherryl di susul oleh suara bi Arum yang berteriak memanggil nona mudanya.


"Arrghhhh!!" Teriak Cherryl, tubuhnya yang mungil dengan cepat menggelinding dari atas tangga sampai ke lantai bawah.


Bi Arum yang saat itu baru kembali dari arah dapur begitu syok saat melihat Cheryl terjatuh dari atas tangga.


"Non Cherryl!!" Teriak bi Arum, tubuhnya bergetar saat melihat Cherryl mendarat di lantai bawah dengan kepala bersimbah darah.


Clay yang sedang di kamar dengan tergesa keluar dari kamar dan melihat apa yang terjadi, seketika mata pria itu di buat terbelalak saat melihat kondisi istrinya sudah tidak sadarkan diri di bawah tangga dengan kepala yang terluka.


"Cherryl!" Pekik Clay, pria itu berlari menuju arah istrinya dan memeluknya.


"Cepat panggil ambulans!" Titah Clay pada nona Grace yang mengikutinya dari belakang.


"Cherryl bangun... Maafkan aku... Aku mohon bangun," Clay menepuk-nepuk pipi Cherryl agar gadis itu terbangun, namun usahanya sia-sia gadis itu tetap memejamkan kedua matanya.


Beberapa menit kemudian ambulans telah memasuki pelataran rumah, Clay yang panik dengan cepat membopong tubuh istrinya masuk ke dalam ambulans tersebut.


Petugas medis membantu memasang oksigen dan membalut kepala Cherryl agar lukanya tidak terlalu mengeluarkan banyak darah.


Clay menatap wajah istrinya, yang sedang pingsan itu dengan penuh ke khawatiran,


"Ryl... Aku mohon bertahanlah, maafkan aku Ryl maafkan aku," Clay terus menggenggam tangan istrinya, penyesalan terus menghantui Clay karena sudah membuat istrinya salah paham.


****


Bougenville Hospital.


Clay terlihat sangat panik, karena sepanjang perjalanan petugas medis terus saja mengatakan jika jantung istrinya mulai melemah. Bahkan kepalanya terus mengeluarkan banyak darah.


"Dokter!!! Tolong istri saya," teriak Clay memanggil dokter agar segera menangani istrinya.


"Tuan muda, anda tenang ya. Kami akan segera menangani nona Cherryl, anda tunggu di sini," ujar salah seorang dokter yang langsung masuk ke ruangan UGD.


"Ryl kamu harus bertahan, aku tidak akan mengijinkan mu pergi dari hidupku... Aku yakin kamu gadis yang kuat... aku mohon tetaplah hidup Ryl," gumam Clay yang terus mondar mandir di depan ruang UGD.


Papi Gerald, yang mendapat kabar jika menantunya masuk ruang UGD langsung menghampiri putranya.


"Clay apa yang terjadi?"


"C-cherryl terjatuh dari atas tangga Pi," jawab Clay dengan bibir yang bergetar.


"Astaga apa lagi ini," papi Gerald mengusap wajahnya kasar.


Drtt...


Sebuah pesan singkat dari nomor yang berbeda kembali masuk ke ponsel papi Gerald.


📨


"Hampir imbang... Tinggal sisa satu, putra sulungmu... Nantikan gilirannya!"


"Kurang ajar, dasar wanita ke*p*arat," umpat papi Gerald mer*emas ponselnya.


Pria itu menelpon nomor tersebut tapi nomornya langsung tidak aktif, "Kurang ajar!" Geram papi Gerald, rahangnya mulai mengeras, ia seperti di permainkan oleh orang yang selalu mengirimnya pesan singkat itu.


"Clay, sepertinya di rumah kita ada penyusup. Orang itu yang sudah membuat Cherryl celaka," seru papi Gerald pada sang putra.


Bugh...


Clay memukul tembok rumah sakit, rahangnya ikut mengeras saat papi Gerald mengatakan jika seseorang dengan sengaja membuat Cherryl terjatuh dari atas tangga.


"Pi, aku titip Cherryl sebentar,"


"Kamu mau kemana Clay?" Papi Gerald menatap punggung putranya, ia khawatir putra pertamanya melakukan hal yang tidak-tidak.


Remaja pria itu pergi dengan raut wajah penuh kemarahan, ia menaiki taksi menuju rumahnya. Kekesalannya membuat Clay ingin segera sampai di rumah dan menemukan pelaku yang sudah membuat gadis dalam hidupnya celaka.


Sementara di kediaman Dhanuendra, Miss Nina terlihat sangat panik. Wanita itu sedang memasukan semua baju-bajunya ke dalam koper dan bergegas untuk pergi dari kediaman Dhanuendra.


"Aku harus segera pergi dari sini, aku harus menyelamatkan ibuku," ucap Miss Nina yang sudah siap untuk meninggalkan rumah.


Brakk....


Clay dan beberapa anggota keamanan, mendobrak pintu kamar Miss Nina. Membuat wanita itu terkejut.


"Ternyata benar dugaanku, kau yang sudah membuat istriku celaka!" Sentak Clay pada Miss Nina.


"T-tidak tuan, b-bukan saya," elak Miss Nina terbata.


"Kau tidak usah mengelak, buktinya sudah terekam jelas di cctv bahwa kau yang sudah mendorong Cherryl!"


"Apa cctv! Bukankah aku sudah mematikan semua cctv yang ada di rumah ini? Kenapa masih bisa terekam," Gumam batin Miss Nina, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.


"Kenapa kau tega melakukan hal ini? Apa kau tidak ingat kebaikan apa yang telah di perbuat istriku padamu juga ibumu! Apa ini balasan yang kau berikan pada Cherryl hah!!!" Clay sangat murka pada wanita yang ada di hadapannya, wajahnya berubah menjadi merah padam karena emosi.


Pria itu membanting semua barang yang ada di hadapannya, membuat Miss Nina menundukan tubuhnya dengan kedua tangan menutup telinga.


"Katakan atas dasar apa kau melakukan itu?" Clay mengetatkan giginya, menatap wanita itu seolah-olah ingin segera menghabisinya.


Miss Nina diam mematung ia bingung langkah apa yang harus di ambil olehnya, mau membuka mulut tapi suara ibunya yang sedang mengerang kesakitan di balik earphone yang terselip pada telinganya terus terdengar.


Wanita itu terlihat mulai depresi, di hadapannya seorang pria muda sedang meluapkan emosi padanya dan di sisi lain ibunya terus berteriak meminta tolong padanya.


Karena sudah tidak tahan dengan semua kegilaan ini, wanita itu melepas earphone dan melemparkannya ke sembarang arah.


Clay yang kesal karena wanita itu tak kunjung menjawab dan malah berlagak aneh, ia langsung mengambil sebuah pistol yang terletak di kantong seorang ke amanan.


Ia mengacungkan pistol itu tepat di kening Miss Nina, Miss Nina yang ketakutan menghentikan tangisannya dan tubuhnya semakin bergetar saat moncong pistol berada sangat dengan dirinya.


"Berhenti berakting, atau aku pec*ahkan kepalamu!" Ancam Clay pada Miss Nina.


"A-ampun tuan, jangan lakukan hal ini padaku. Jika aku mati bagaimana dengan nasib ibuku yang sedang sakit," Miss Nina bersimpuh di kaki Clay.


"Cih, kau yang telah membuat ibumu sendiri menderita, maka kau harus menanggung resikonya!"


"Tuan aku mohon, aku akui aku yang sudah mendorong nona Cherryl sampai terjatuh tapi itu bukan keinginanku tuan. Seseorang telah menyuruhku, a-aku sudah menolaknya karena tidak ingin menyakiti nona Cherryl yang begitu berjasa telah membuat ibuku bisa di operasi... Tapi orang itu menawan ibuku dan mengancam akan membunuhnya jika aku tidak melakukan hal yang dia suruh," Miss Nina mengungkapkan semuanya pada Clay. Ia harus tetap hidup agar bisa menyelamatkan ibunya.


"Kurang ajar! Katakan siapa yang telah menyuruhmu?" Clay menatap Miss Nina penuh tanda tanya.


Miss Nina melihat ke arah ke amanan, yang berada di belakang Clay. Pria itu mengerti jika Miss Nina tidak nyaman dengan keberadaan mereka, maka Clay mengusirnya agar menunggu di luar.


Keamanan itu khawatir pada keselamatan tuan mudanya, meskipun Miss Nina seorang wanita tapi dia terlihat begitu licik. Setelah Clay meyakinkan para keamanan itu, Clay menutup pintu kamar itu rapat.


Setelah beberapa menit, Clay berada di dalam kamar bersama Miss Nina. Tiba-tiba suara letusan senjata api terdengar bergemuruh membuat seisi rumah kediaman Clay menjadi panik.


"Tuan!!" pekik keamanan serentak.


.


.


Bersambung.