
"Bertahanlah Erick sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.... Pak tambah kecepatan mobilnya!" Titah papi Gerald yang ingin segera Sampai di rumah sakit.
Supir ambulance itu mengikuti perintah papi Gerald, mobil melesat cepat membelah jalanan di malam hari.
Setelah menempuh jarak cukup jauh ambulancepun sampai di depan rumah sakit, para tim medis dengan cepat mengerubungi ambulance dan membawa Erick ke ruang instalasi gawat darurat.
"Berikan dia penanganan terbaik, selamatkan nyawanya jika terjadi sesuatu padanya aku akan memecat kalian semua!" Ucap papi Gerald pada tim medis tersebut.
"Awas saja kau, Helen aku tidak akan pernah mengampuni mu! Dasar kau wanita jahanam!" Umpat papi Gerald geram.
****
Kediaman Cestaro.
"Kok kita kesini?" Cherryl bertanya heran pada gurunya.
"Inikan rumah orang tua kamu, memangnya kita mau pulang kemana?"
"Astaga aku lupa, pak Austin kan nggak tau kalau gue udah nikah," gumam batin Cherryl.
Cherryl yang masih kesal pada Austin karena telah membawanya ngebut, langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan pria itu di dalam mobil sendirian.
Gadis itu masuk ke dalam rumah, sebuah kejutan telah di siapkan oleh kedua orang tua Cherryl untuk menyambut kepulangan dirinya dari rumah sakit, namun gadis itu bukannya senang ia malah semakin kesal dan berlari menuju kamarnya kemudian mengurung diri.
Mama Dewi, mengetuk pintu kamar putrinya tapi gadis itu tak merespon. Mama yang khawatir pada keadaan putrinya menyuruh papa Cestaro yang memanggil Cherryl tapi hasilnya tetap sama begitu juga dengan Austin ia mencoba membujuk gadis itu dan tetap saja pintu kamar itu tertutup dengan rapat.
Terlihat kegelisahan dari raut wajah ketiga orang yang sedang berdiri di ruang tamu, mereka tampak berpikir bagaimana caranya agar Cherryl mau keluar dari kamarnya?
"Pah, apa kita kasih tau aja kalau Clay hilang," usul Mama Dewi putus asa.
"Jangan mah, papa khawatir Cherryl akan nekad mencarinya," timpal papa Cestaro
"Iyah Tante yang di katakan om benar, sebaiknya kita rahasiakan dulu ini sampai Clay di temukan," sahut Austin setuju dengan ucapan papa Cestaro.
"Terus gimana dong? Sejak pulang dari rumah sakit dia terus-terusan mengurung diri di kamarnya," Mama Dewi mondar-mandir sembari menggigit jarinya memikirkan cara apa yang ampuh untuk membujuk putrinya keluar dari kamar.
"Biarkan saja dulu Cherryl di dalam kamar, mungkin dia perlu waktu untuk sendiri," ucap papa Cestaro menenangkan istrinya.
"Benar Tan, biarkan Cherryl lebih tenang setelah dia tenang Cherryl pasti akan keluar dengan sendirinya."
Mama Dewi kembali duduk, berusaha untuk tenang dan mengikuti saran dari kedua pria yang ada di hadapannya.
Austin melihat jam tangannya, waktu yang mulai masuk malam membuat Austin harus kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan muridnya. Dan sebelum ia pergi, dirinya memastikan keamanan rumah Cherryl setelah Austin merasa kediaman muridnya aman dengan pengawalan ketat ia baru bisa meninggalkan kediaman Cestaro dengan hati yang tenang.
****
Kediaman Armando.
Seorang pemuda dengan luka lebam dimana-mana tampak meringkuk di sebuah ruangan yang minim cahaya, tubuhnya terlilit oleh tali yang sengaja di ikat dengan kencang pada tubuhnya.
Pemuda itu sepertinya pingsan, setelah mendapatkan berbagai macam siksaan dari anak buah wanita bercadar tersebut.
Clay, kamu kuat ayo bangkit sayang
Buka mata kamu, kamu jangan menyerah. Aku yakin kamu bisa Clay
Bangun Clay, Mamy yakin kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya
Suara kedua wanita terus terdengar samar-samar di telinga pemuda itu, kelopak matanya terlihat bergerak-gerak dengan perlahan ia membuka kedua matanya.
Ia memutar bola matanya ke sembarang arah, ruangan gelap, dingin dan berdebu yang ia lihat. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya namun semuanya terasa sangat sakit akibat tendangan dari sepatu Ceko yang di kenakan oleh anak buah si wanita bercadar.
Clay terdengar meringis, merasakan tulang-tulangnya seperti hancur tak bersisa,Sudut bibir yang sobek dan pelipis mata mengalami luka cukup dalam menyisakan noda darah yang telah mengering di wajah tampan Clay.
tapi bisikan bisikan suara yang terdengar menyemangatinya membuat pemuda itu berusaha untuk bangkit dan menahan segala rasa nyeri di dalam tubuhnya.
Saat ia berhasil bangkit, suara derap langkah kaki terdengar begitu nyaring menghampiri ruangan dimana Clay saat ini tengah di sekap.
Tap...tap...tap..
Cklek..
Pintu ruangan itu terbuka.
"Hey, bangunlah... Aku membawa makanan untukmu," suara bariton itu menggema di dalam ruangan.
Pria itu menendang kaki Clay yang masih terbaring, kemudian menyodorkan makan malam untuk tawanannya.
"Cih, untuk apa wanita jahat itu memberiku makan! Kenapa kalian tidak langsung membunuhku," ucap Clay sengaja memancing emosi pria berambut gondrong itu.
"Hey, seharusnya kau berterima kasih nyonya Armando memberikanmu kesempatan untuk hidup dan masih memberimu makan...dasar bocah belagu," dengus bodyguard bertubuh tinggi itu, lalu pergi meninggalkan Clay sendirian masih dalam keadaan terikat.
"Puih, aku tidak Sudi berterimakasih pada orang yang telah membunuh ibuku. Bawa kembali makanan itu aku tidak membutuhkannya!" Clay meludahkan liurnya ke samping.
Bodyguard itu menghampiri Clay dan berjongkok di hadapan pemuda tersebut," dasar bocah tengik, jika saja nyonya tidak berpesan untuk tidak memukulmu aku sudah mengabulkan permintaanmu! Untuk mengirimu ke neraka."
"Lalu kenapa kau tak membunuhku sekarang? Kenapa wanita sialan itu membiarkan aku hidup! Apa kalian tidak punya cukup keberanian untuk membunuh seorang bocah sepertiku! Kalian hanya pecundang."
"Tutup mulutmu bocah sialan!" Pria itu menarik rambut Clay kasar.
Clay menyeringai saat melihat wajah pria itu kesal karena ucapannya.
"Kau mau memukulku? Pukul saja... Dasar pecundang... Kalian semua pengecut yang beraninya memancing lawan masuk ke dalam jebakan, memalukan cih," cibir Clay, membuat pria itu semakin tersulut emosi.
Saat pria itu akan memukulnya, suara seorang perempuan membuat kepalan tangan bodyguard itu menggantung di udara.
.
.
.
Bersambung..