
Hari demi hari telah berlalu, masih tidak ada hasil dari tim SAR mengenai keberadaan Clay. Papi Gerald yang merasa kurang puas dengan kinerja petugas, ikut turun tangan mencari putranya.
Meskipun luka di dadanya masih belum kering, pria itu tetap memaksakan diri untuk menyusuri sungai kenanga setiap hari, ia berharap dirinya sendirilah yang dapat menemukan Clay.
Begitu juga dengan Nara gadis belia itu selalu setia menemani sangayah, sesekali gadis itu menyentuh air sungai mencoba berinteraksi dengan makhluk yang selalu terlihat tenang namun mematikan.
"Sungai, sampai kapan kau akan memeluk kakakku? Sudah berhari-hari kami mencari keberadaannya tapi masih tak membawakan hasil," lirih Nara sembari menatap lekat air sungai berwarna biru.
"Sungai... Apakah kau tidak merasa kasihan pada papiku? Setiap hari ia berjalan menyusuri mu sambil menahan nyeri di dadanya... Aku mohon padamu untuk segera mengembalikan kakakku, setiap malam kak Cherryl selalu menangis merindukan kehadiran orang yang sedang kau dekap." Nara menarik napasnya panjang, dadanya terasa sesak saat ia harus menahan tangis.
Gadis itu terus merayu sungai kenanga yang menjadi icon dari kota edelweis agar sungai itu segera mengembalikan kakaknya,
tanpa terasa bulir bening yang sejak tadi ia tahan jatuh membasahi kedua pipi gadis itu.
"Nara kamu menangis?" Suara papi Gerald menghentikan tangisan Nara.
"Tidak siapa yang menangis, aku hanya menguap jadi mataku berkaca-kaca," elak Nara mengusap air matanya.
Papi Gerald merangkul bahu Nara. " Jika kau ingin menangis, menangis saja tidak usah malu. Bukankah dengan menangis bisa sedikit mengurangi beban di hati."
"Tidak Pi, jika aku menangis nanti kak Clay akan meledekku dia pasti menyebutku gadis yang cengeng," Nara tersenyum, memamerkan deretan giginya.
Papi Gerald mengusap kepala Nara sembari tersenyum, ia tahu jika putrinya juga merasa sangat kehilangan sosok Kaka laki-lakinya, namun gadis itu terlalu pandai menyembunyikan rasa sedihnya sehingga ia masih dapat tersenyum meskipun itu palsu.
Suasana pun mulai hening hanya ada suara gemericik air dan gesekan daun-daun tertiup angin yang terdengar. Pria paru baya dan gadis belia itu menatap kosong ke arah sungai yang sedang mengalir dengan tenang.
Suara tarikan napas dari keduanya, terdengar begitu berat. Mereka hanya bisa pasrah pada Tuhan dan membiarkan waktu yang menjawab kapan Clay akan kembali.
***
Cafe melati.
Sesudah mengantar Nara pulang, papi Gerald dan sekertarisnya sudah mengatur janji untuk bertemu dengan nona Grace.
"Selamat siang tuan, maaf saya terlambat." Nona Grace membukukan setengah tubuhnya.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk," ujar papi Gerald.
"Terimakasih tuan."
"Maaf saya mengganggu waktu anda, saya hanya ingin mengucapkan banyak terimakasih karena anda telah membantu saya tempo lalu," ucap papi Gerald.
"Ah, itu... tidak masalah tuan anggap saja itu sebagai balas Budi saya, karena anda telah banyak membantu keluarga saya."
"Saya tidak menyangka, anda memiliki keahlian menembak seperti itu nona Grace. Saya pikir anda hanya seorang gadis biasa ternyata anda sangat luar biasa,"puji papi Gerald pada sekertaris putranya.
"Anda terlalu berlebihan tuan, saya hanya melakukan apa yang mesti saya lakukan," cetus nona Grace, menundukan wajahnya.
"Sebelumnya saya minta maaf pada anda, karena gagal menyelamatkan tuan Clay... Semua di luar dugaan sehingga saya dan anak buah saya kecolongan," lirih nona Grace. Ia terlihat sangat menyesal.
"Jangan pikirkan itu nona Grace, mungkin ini yang sudah di kehendaki oleh tuhan. Justru saya ucapkan banyak terimakasih karena telah membantu saya... Jika tidak ada anda entah apa yang akan terjadi berikutnya. Usiaku tak lagi Muda begitu juga sekertarisku semakin tua keinerjanya juga semakin merosot, membuat pertahanan kami menjadi lemah," ucap papi Gerald sembari menyindir sekertaris setianya.
Pria yang ada di samping papi Gerald, hanya berdeham menanggapi sindiran bosnya. Mau mengelak tapi memang kenyataannya seperti itu, akhir-akhir ini ia sering kecolongan dalam menanggapi permasalahan putra bosnya.
Nona Grace tersenyum tipis, menanggapi ucapan bos besarnya sembari mengingat hari dimana dirinya berhasil melumpuhkan Helen dan anak buahnya.
Flashback on.
"Nona Grace, mereka sudah berada di lokasi," ucap orang kepercayaan Gracea.
"Ingat yang sudah kita rencakan jangan Sampai gagal, kalian paham!"
"Paham nona," jawab anak buah Grace serempak.
"Bagus," pungkas Grace mengangguk.
Mereka mempersiapkan senjata api yang sudah di sediakan jauh-jauh hari, lalu mulai bergegas menuju lokasi Helen yang sedang menyandra tuan mudanya.
Grace memisahkan diri dari komplotannya, sementara anak buah Grace mulai beraksi menghabisi satu persatu orang-orang suruhan Helena yang tersebar di sekitar bukit dan sungai.
"Tugas selesai nona," suara bariton di balik earphone yang menempel di telinga Grace.
Dengan pakaian kamuflasenya, Grace mulai mengangkat senjata. Gadis itu mengarahkan senjatanya ke arah Helen, ia siap melepaskan peluru namun niatnya di urungkan ketika manik mata Grace melihat bos besarnya menghampiri target.
[Sumber gambar,by Google.]
"Tahan, boss besar sedang ada di lokasi."
Atmosfer bukit mulai terasa tegang, Grace terus memperhatikan gerak gerik Helena. Matanya langsung membulat ketika wanita bercadar itu menusuk bos besarnya.
"Kurang ajar!" Grace dengan cepat melepaskan pelurunya ke arah Helen, namun betapa terkejutnya ia saat melihat ada orang lain lagi yang ikut melepaskan peluru akan tetapi sasarannya bukan pada Helena melainkan ke arah Clay.
Dua peluru terbang secara beriringan yang satu mengenai tali Clay, dan satu berhasil menembus kepala wanita bercadar dan membuatnya terjatuh.
"Tim kelinci putih, cepat selamatkan tuan muda," perintahnya pada tiga orang yang telah berjaga di bawah jembatan.
"Tim marmut, cepat cari penembak tersembunyi itu. Jangan biarkan dia lolos."
"Baik nona."
Suara tembakanpun saling bersahutan, tanpa ampun Grace dan anak buahnya menghabisi orang-orang suruhan Helen yang terus berada di dekat wanita bercadar tersebut.
Setalah Grace beradu tembak dengan komplotan Helena yang terbilang banyak dan kuat. Akhirnya wanita dan anak buahnya berhasil di basmi oleh Grace, gadis itu menarik napas panjang ia merasa lega karena akhirnya bisa menghabisi orang yang selalu meneror tuannya.
Gadis itupun melepaskan pakaian kamuflasenya, dan bergegas untuk turun bukit. Namun salah seorang anak buahnya memberitahu Grace jika penembak tersembunyi itu telah lolos.
"Aish sial, cepat cari dia! Pokoknya aku tidak mau tau kalian harus segera menemukan bedebah itu," titah Grace kesal.
Ia mematikan earphonenya, saat akan berbalik tiba-tiba sebuah pistol menempel tepat di belakang kepala Grace.
"Turunkan senjatamu nona," titahnya pada Grace.
Grace menelan ludahnya kasar, ia langsung membuang senjatanya ke tanah.
"Angkat kedua tanganmu, berani kau menoleh aku tidak segan menembak kepalamu!"
Gadis itu menuruti perintah pria misterius tersebut.
"Jalan!"titahnya.
Tanpa rasa takut, Grace berjalan menuju tepi jurang. Pria itu terus mendesak Grace untuk loncat ke dasar jurang, bahkan pria itu sempat mendorongnya dengan senjata beruntung pertahanan gadis tersebut lebih kuat dari pria yang mengancamnya sehingga ia tidak terjatuh ke dasar jurang.
Grace yang merasa di permainkan oleh pria itu, secepat kilat langsung menarik tangannya dan membuang senjata yang di pegang oleh pria tersebut.
Gadis itu membanting tubuh pria yang mengenakan pakaian serba hitam ke tanah. Membuat orang tersebut meringis kesakitan, Grace melintir sebelah tangannya ke belakang dan menginjak punggung laki-laki itu lalu membuka topeng yang di kenakannya.
"Cih, kau penembak amatiran berani sekali kau melepas peluru ke arah tuanku," decak Grace geram.
"Lepaskan aku wanita s*ialan!" Pria itu mencoba berontak, tapi Grace semakin keras memelintir tangannya.
"A-aaaahhh," teriaknya kesakitan.
" Kau telah membunuh tuanku, maka kau juga harus ikut mati!" Ucap Grace, mengeluarkan senjata api berukuran kecil dari dalam saku celananya.
Pria itu berteriak dan memohon pada Grace untuk melepaskan dirinya, tapi Grace menghiraukan ucapan pria yang sedang mengiba padanya. Bayangan saat bos besarnya di tusuk dan Clay terjatuh ke sungai terlintas dalam benak Grace.
Tanpa menyimpan rasa iba, Grace langsung menembak pria tersebut beberapa kali dan melemparnya ke arah jurang.
"Siapapun yang berani menyentuh keluarga Dhanuendra aku tidak akan segan untuk menghabisinya," gumam Grace, yang langsung pergi meninggalkan bukit.
"Mah, pah... Aku telah berhasil menghabisinya aku harap sekarang kalian bisa tenang di surga sana,"bisik batin Grace tersenyum.
Flashback off.
"Nona Grace kalau begitu, saya pamit saya harus menemani Nara dan Cherryl... Sedikit hadiah kecil dari saya sebagai ucapan terimakasih mohon di terima," papi Gerald memberikan sebuah kotak kecil ke tangan Grace.
"Tuan, anda tidak perlu repot saya melakukannya ikhlas," tolak nona Grace. Ia tidak enak dengan hadiah dari bos besarnya.
"Saya tidak mau anda menolak, anggap ini bonus karena kerja keras anda," pungkas papi Gerald meninggalkan Grace yang masih berdiri di dalam cafe.
"Good job," timpal sekertaris Rendi yang mengacungkan jempol ke arah Grace lalu mengekor di belakang papi Gerald.
Grace menatap kotak tersebut dan membukanya, mulut gadis itu langsung ternganga saat melihat hadiah yang di berikan oleh bos besar padanya.
.
.
Bersambung.