
Panda itu membawa Cherryl duduk di tepi pantai, yang menyuguhkan pemandangan langit malam yang cukup bagus. Kemudian panda tersebut menari-nari di hadapan Cherryl akan tetapi, gadis itu seperti tak terhibur dengan apa yang dilakukan oleh sang panda.
Sang panda tampak berpikir, kenapa gadis itu terus cemberut? Panda itu pun pergi dan mencari sesuatu untuk diberikan pada Cherryl siapa tahu dengan memberinya hadiah gadis itu akan kembali tersenyum bahagia. Setelah beberapa menit menghilang sang Panda kembali dengan boneka besar yang menutupi tubuhnya.
Namun, Cherryl masih tetap saja cemberut. Sang panda pun kini duduk di samping Cherryl dan ikut menatap lurus ke arah pantai dengan ombak yang berdeburan. Tidak ada lagi yang dapat ia lakukan sebab sejak tadi dia berusaha menghibur Cherryl tapi, usahanya hanya sia-sia wanita yang ia hibur malah semakin terlihat sedih.
Cherryl terdengar menarik napasnya panjang. pikirannya kini hanya dipenuhi oleh Clay, seandainya Clayton bisa seperti panda itu mungkin saat ini ia akan menikmati pemandangan indah ini dengan perasaan bahagia.
Namun sayang, Clay malah pergi meninggalkannya sendirian.
"Apa karena aku marah, jadi dia pergi meninggalkanku?" Ucap Cherryl menundukan kepalanya.
"Aku tidak meninggalkanmu," ujar sang panda sembari melepaskan kostum badut tersebut.
"Clay," seru Cherryl, ia tidak menyangka jika seseorang dibalik kostum itu ternyata adalah suaminya yang sejak tadi ia rindukan. "Aku pikir kau pergi meninggalkanku ... maaf aku sudah marah padamu," sambung Cherryl memeluk suaminya.
Clay tersenyum dan memeluk kembali sang istri. "Sudah aku katakan, selama jantung ini berdetak aku akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi … dan seharusnya aku yang minta maaf karena sudah menghancurkan mimpi indahmu."
"Tidak Clay, kau tidak menghancurkannya. Aku saja yang tidak mengerti, kau hanya ingin melindungiku tapi aku malah memarahi mu."
"Hmm baiklah tidak usah dibahas lagi, kita kesini untuk bersenang-senang bukan untuk bersedih... oh iya aku punya kejutan lain buat kamu."
Cherryl menatap wajah Clay penasaran. "Apa itu?"
"Lihat ke arah langit." Clay menunjuk ke arah langit, dan dalam sekejap langit malam yang gelap berubah menjadi warna warni akibat kembang api yang meletup dengan indah di atas sana.
Manik mata Cherryl tampak berbinar, saat melihat kembang api itu saling bersahutan mengeluarkan warna-warna juga bentuk yang unik.
"Kau suka?"
Cherryl mengangguk, dan tersenyum pada Clay.
"Syukurlah kalau kamu suka." Clay meraih bahu istrinya dan menikmati pemandangan kembang api yang berlangsung selama satu jam tersebut.
"Clay, kenapa kau memakai kostum badut?"
"Aku membaca diary mu yang tertinggal di rumah lama kita, dan aku ingin sekali mewujudkan mimpimu itu jadi aku sudah menyiapkan semua ini dari jauh hari. Aku pikir semuanya akan menyenangkan tapi, aku malah membuatmu bosan," ujar Clay menjelaskan pada istrinya dengan raut wajah penuh sesal.
"Terimakasih, Clay. Kau sudah membuat semua ini untukku. Meskipun, tidak sesuai rencana aku tetap bahagia karena kau selalu ada disampingku."
Keduanya pun saling berpelukan, meluapkan rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua.
***
Satu Minggu kemudian.
Sebuah resepsi mewah tengah diselenggarakan, di salah satu hotel berbintang tujuh di kawasan Sanvitalia city.
Clay dan seluruh tamu undangan yang hadir, terlihat tidak sabar menantikan kehadiran pengantin wanita memasuki ruangan resepsi tersebut.
Sampai pada waktunya, pintu ballroom terbuka dan disana sudah terlihat seorang wanita dengan balutan gaun pengantin berwarna putih bertabur batu Swarovski tengah berdiri sembari tersenyum bahagia.
Dengan jantung yang berdebar, Cherryl mulai berjalan menghampiri Clay yang sudah menunggunya di atas altar.
Manik mata Clay tampak berkaca-kaca, saat ia melihat sang istri yang sedang berjalan dengan anggun kearahnya.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Cherryl menyentuh lengan suaminya lembut.
"Ya, aku baik-baik saja. Kau terlihat sangat cantik membuatku tak bisa berkata apapun lagi," ucap Clay membuat Cherryl tersipu malu.
"Bukankah, aku memang selalu terlihat tampan Hem," cetus Clay dengan penuh percaya diri.
"Ya, kau memang benar," jawab Cherryl sambil terkekeh.
Clay menggenggam tangan istrinya, dan membawa Cherryl menuju kursi pelaminan. Keduanya pun tampak begitu bahagia dan romantis membuat, siapapun yang melihatnya akan merasa iri dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh kedua pengantin tersebut.
Acara pun tengah berlangsung dengan lancar dan meriah, semua tamu undangan dan kerabat tampak menikmati rangkaian acara yang dipandu oleh salah seorang MC terkenal yang mampu membuat acara menjadi semakin hidup dan meriah.
Namun, disaat semua orang tengah bergembira wajah Cherryl yang mula segar kini tampak sedikit pucat. Keringat dingin pun mulai mengucur dari dahi wanita Tersebut.
"Sayang, kamu baik-baik ajakan?" Clay terlihat begitu khawatir saat melihat wajah istrinya yang pucat.
"Kepalaku pusing, aku mau istirahat," lirih Cherryl memegang kepalanya yang terasa berputar.
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Tidak usah Clay, jika kamu pergi para tamu pasti akan mencari mu."
"Tidak apa-apa, kau jauh lebih penting. Ayo aku antar kamu ke kamar." Clay menuntun Cherryl dengan sangat hati-hati. Akan tetapi, akibat rasa pusing yang tak tertahankan lagi pada akhirnya Cherryl pun jatuh pingsan.
Melihat Cherryl yang pingsan, Erick, Kevin dan Dokter Reza juga Nona Grace bergegas menghampiri Clay dan membantunya mengangkat tubuh Cherryl menuju kamar hotel.
"Nona Grace, periksa semua makanan yang dihidangkan. Dan jangan biarkan siapapun keluar dari ballroom itu sampai istriku kembali sadar!" titah Clay, pada sekretarisnya.
Nona Grace mengangguk, ia pun bergegas untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh atasannya itu.
"Clay, apa yang terjadi?" tanya papi Gerald, khawatir.
"Tadi Cherryl bilang, dia sedikit pusing begitu aku akan membawanya untuk beristirahat tiba-tiba dia pingsan, Pi." Ujar Clay menjelaskan pada ayahnya.
"Semoga saja, kakak ipar baik-baik saja," sambung Nara yang juga tak kalah khawatir.
Lima belas menit kemudian, di depan pintu kamar hotel presidential suite Clay masih sibuk mondar-mandir kesana-kemari. Menunggu kedua dokter itu keluar dari kamarnya dan memberikan kabar mengenai istrinya.
"Tuan, ini laporan mengenai makanan yang ada di dalam. Semuanya dinyatakan aman dan tidak mengandung zat berbahaya apapun." Grace mengasongkan sebuah map berwarna kuning pada Clay.
"Ini aneh, jika semuanya aman. Lalu, kenapa Cherryl bisa sampai pingsan?" Clay mengerutkan dahinya, ia terus berpikir apa yang membuat istrinya sampai jatuh sakit.
Klek.
Pintu kamar terbuka, Kevin keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang sedih.
"Vin, apa yang terjadi pada istriku?"
"M-maaf, Tuan. I-istri anda," ucapan Kevin terhenti, rasanya ia tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya itu.
"Kenapa dengan istriku, Vin? Dia baik-baik saja kan?" Clay menatap Kevin penuh rasa penasaran, kekhawatirannya pada Cherryl kini semakin besar ditambah lagi dengan sikap Kevin yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.
.
.
.
Bersambung.