Wedding Secrets

Wedding Secrets
Flashback bagian 1 bayangan di air



Bentuk wajah oval, hidung mancung bibir berisi alis tebal, dan kulit putih mulus seperti bayi membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh hati.


Begitu juga dengan Rosa. Setiap hari ia selalu menatap wajah tampan milik pemuda yang masih belum sadarkan diri itu.


Wanita itu dengan telaten merawat Clay, ia mengobati luka-luka yang ada di tubuh pemuda tersebut dengan obat-obatan tradisional.


"Cherryl," gumam Clay, ia mulai menggerakan kepalanya.


Rosa yang melihat pergerakan dari pemuda tersebut, langsung memanggil ayahnya. Kakek tua itu menghampiri Clay dan membantunya untuk bangun.


Ruangan sempit, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan pencahayaan remang-remang yang berasal dari lampu minyak menjadi pemandangan pertama yang di lihat oleh Clay.


"Sstt...Dimana saya?" Tanya Clay sembari memegang kepalanya yang sakit.


"Kamu ada di rumah saya," jawab kakek


Clay mengerutkan dahinya, ia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar tersebut.


"Anda siapa?"


"Kenalkan, saya Darmo dan ini putri saya Rosa." Kek Darmo menunjuk ke arah putrinya yang sedang berdiri di ambang pintu.


Gadis itu tersenyum pada Clay, sementara Clay mendelikan manik matanya berusaha mengingat siapa dirinya.


"Saya siapa?" Tanyanya membuat kek Darmo dan Rosa saling melempar pandangan.


"Kamu tidak ingat siapa nama kamu?"


Clay menggelengkan kepalanya.


"Rosa, sepertinya pemuda itu hilang ingatan," bisik kakek Darmo.


"Iya, Yah... Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Untuk sementara biarkan saja dia di sini, sampai pemuda itu mendapatkan ingatannya kembali."


"Yah, tadi aku dengar dia bergumam."


"Apa yang di katakannya?"


"Aku tidak mendengarnya dengan jelas tapi, dia seperti menyebutkan nama seseorang kalau tidak salah... Cer, ceri gitu," jelas Rosa


"Itu nama buah Rosa, mana ada nama orang Ceri," seloroh kakek Darmo.


"Ish, beneran Yah. Tadi aku dengernya gitu."


"Mungkin dia menginginkan buah ceri dari kota," kekeh kakek Darmo.


"Ayah ini malah bercanda."


"Ya sudah, ambilkan air putih untuknya. Ayah mau mengobrol dulu dengannya," titah kakek Darmo kembali menghampiri Clay.


"Siapa saya? Kenapa saya tidak bisa mengingat apapun?" Ucap Clay panik ia terus berusaha mengingat semuanya tapi, kini pikirannya tak menyimpan apapun untuk di ingat.


Pemuda itu terus menjerit histeris membuat kakek Darmo dan rosa kebingungan, bagaimana caranya menenangkan Clay.


Clay berlari keluar, ia ingin melarikan diri tapi di sekitarnya hanya ada pohon-pohon besar yang mengelilingi rumah tersebut.


Clay menatap ke langit semuanya tampak berputar kepalanya terasa begitu sakit, ia memegangi kepalanya sembari terus berteriak.


Karena sakit kepala yang tak tertahankan, pemuda itu pun kembali pingsan.


Beberapa saat kemudian, pemandangan sama seperti yang ia lihat saat pertama kali bangun dari pingsan.


Kakek Darmo membantu Clay, pria itu memberikan segelas air putih padanya dan berbicara secara perlahan agar pemuda itu bisa tenang.


Setelah mendengar ucapan kakek Darmo, Clay mulai bisa menerima kenyataan dan berusaha beradaptasi dengan tempat tinggalnya yang baru.


Dua minggu telah berlalu. Clay sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang serba terbatas itu tidak ada listrik dan internet, bahkan jika ingin makan saja dia harus memancing atau berburu terlebih dulu tidak seperti di kota apapun yang diinginkannya akan langsung tersedia tanpa harus repot-repot memancing atau berburu, cukup berteriak memanggil pelayan makanan akan langsung tersedia atau yang lebih canggih ia cukup menakan layar ponsel dan makanan akan diantar tepat waktu.


"Jiang," panggil Rosa pada Clay.


Jiang adalah nama yang di berikan oleh kakek darmo pada Clay, yang berasal dari bahasa Tionghoa nama jiang memiliki arti sungai.


Karena kakek Darmo menemukan Clay di sungai, jadi ia memberikan nama tersebut padanya.


"Ada apa?" Jawab jiang, yang sedang sibuk membelah kayu.


"Ayo makan dulu, lauknya sudah siap,"ajak Rosa pada jiang.


Jiang menyimpan kapaknya, lalu ia menghampiri Rosa dan Kakek Darmo yang sudah menunggunya untuk makan siang.


Rosa melayani jiang sebaik mungkin, dari mengambil nasi sampai lauk semuanya dikerjakan olehnya.


Kakek Darmo merasa senang saat melihat putrinya bisa bahagia, sebab sebelum kedatangan Jiang gadis itu lebih banyak murung dan selalu meminta padanya untuk pergi ke kota.


"Tidak usah, aku kenyang," jawab Jiang dingin.


"Jiang makan yang banyak, agar ingatanmu segera pulih," kata kakek Darmo.


"Tidak usah kek, aku sudah kenyang," balas Jiang, berlalu keluar rumah.


Rosa menekuk wajahnya karena sejak pertama jiang tinggal di sana, pria itu selalu saja bersikap dingin.


Kakek Darmo seolah mengerti dengan isi hati putrinya, ia tersenyum dan memberikan pengertian pada Rosa.


"Kau harus sabar, dia sedang mencari ingatannya yang hilang. Setelah ingatannya pulih mungkin dia bisa luluh padamu."


"Ayah ngomong apa sih, Rosa nggak ngerti deh,"serunya mengulum senyum.


"Ayah tahu, kamu menyukai jiang kan?"


"Ayah sok tahu deh, jiang lebih pantas jadi adik rosa... Masa aku suka sama pria yang lebih muda dariku," sangkal Rosa, sebenarnya yang di katakan ayahnya itu benar ada rasa suka dalam hati rosa pada pemuda tersebut. Jantungnya selalu berdebar kencang di kala Rosa dekat dengan Jiang.


Namun ia terlalu malu untuk mengatakan perasaannya, selain terpaut usia yang jauh sikap Jiang padanya juga selalu acuh dan dingin.


"Rosa, cinta itu tak akan memandang usia. Meskipun umur kalian berbeda jauh jika sudah jodoh nya semua tidak akan menjadi masalah," kakek Darmo menjelaskan pada sang Putri.


Gadis itu hanya tersenyum, berharap suatu saat Jiang bisa mencintainya juga tanpa memandang usianya.


***


Tepi sungai Ceratophyllum.


Jiang sedang duduk di sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu, dermaga tempat kakek Darmo menyimpan sampan kayunya.


Pemuda itu melemparkan kerikil kecil ke arah sungai, wajahnya terlihat kesal sebab sudah dua minggu ingatannya masih belum kembali.


"Argh!" Teriak jiang, memecah keheningan sungai yang begitu tenang.


"Kapan ingatanku akan kembali," sergah Jiang kesal. Hidup tanpa mengingat jati dirinya yang asli membuat pemuda itu seolah kehilangan arah.


Ia mencoba mengingat kembali dirinya akan tetapi, pemuda itu selalu saja gagal. Jiang melihat bayangannya di atas air seketika, wajah cantik seorang gadis muncul dan tersenyum padanya.


Jiang terperanjat, dan menjauhkan dirinya dari sungai. Karena penasaran ia kembali melihat bayangan itu tapi, wajah tersebut tak menampakkan dirinya lagi.


"Siapa gadis itu?"Jiang mengerutkan dahinya, penasaran dengan paras cantik dan menggemaskan yang ada dalam bayangan air.


Ia terus memikirkan wajah itu, jika di bandingkan dengan rosa sudah jelas keduanya tidak mirip sama sekali.


Hari demi hari telah di lewati jiang, bahkan Minggu ke minggu pun telah berlalu begitu saja. Tidak ada perubahan apapun yang terjadi padanya, yang ada dalam benaknya hanyalah bayangan gadis cantik yang selalu tersenyum padanya.


"Jiang, lihat!" Teriak Rosa menunjuk ke arah pohon.


"Wah, ada burung. Berikan ketapelnya, aku harus bisa menangkapnya untuk kakek." Jiang terlihat begitu antusias saat melihat seekor burung besar bertengger di dahan pohon.


Rosa memberikan ketapel tersebut pada jiang, tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan. Degup jantung Rosa kembali berdegup kencang, takut Jiang mendengar debaran jantungnya Rosa menjauh dari jiang beberapa langkah.


Jiang yang melihat Rosa bertingkah aneh, hanya menatapnya sekilas kemudian ia mengarahkan fokusnya pada burung yang masih setia di atas pohon.


Tembakan pertama meleset, Jiang berdecak kesal. Pemuda itu kembali mengarahkan ketapelnya ke arah burung dan lagi-lagi ia gagal yang ada malah membuat burung itu terbang menjauh.


Pemuda itu mengejar burung tersebut, dan Rosa yang melihat Jiang pergi mengikutinya dari belakang.


"Jiang, kamu mau kemana? Burungnya tidak usah di kejar bahaya!" Ucap Rosa, napasnya tersengal karena mengejar langkah Jiang yang lebar.


Wanita itu memutuskan untuk rehat sejenak, nanti juga Jiang akan kembali menyusulnya pikir Rosa. Gadis itu menenggak air putih yang di bawanya dari rumah.


Baru satu tegukan, ia sudah di kejutkan dengan suara teriakan Jiang. Rosa yang khawatir pada pemuda itu langsung bergegas menyusulnya.


"Jiang! Kamu di mana?" Teriak Rosa memanggil pemuda tersebut.


Berkali-kali gadis itu memanggil jiang. Tapi, yang di panggil tak kunjung menyahut. Waktu sudah hampir gelap, dan rosa masih belum menemukan keberadaan jiang.


Kakek Darmo yang khawatir pada rosa dan jiang memutuskan menyusulnya ke dalam hutan, sebab dari pagi keduanya masih belum pulang ke rumah.


Kakek Darmo memanggil nama keduanya akan tetapi, tidak ada satupun yang menyahut panggilannya.


Pria dengan uban di kepalanya itu, kembali berteriak memanggil putrinya dan hasilnya tetap sama. Kakek Darmo berjalan lebih jauh ke dalam hutan, ia melihat putrinya sedang mematung di tepi jurang.


.


.


.


.


Bersambung.