
"Aku heran dengan Tuan Muda, tidak ada angin dan hujan sikapnya yang dingin pada wanita itu sekarang berubah menjadi hangat," bisik seorang pelayan di bagian dapur.
"Aku dengar juga, Tuan muda akan menikahinya ... Aku jadi kasihan sama Nona Muda, sekarang dia pasti sangat terpukul dengan berita kematian suaminya
tapi pada kenyataannya Tuan Muda malah mau menikah dengan wanita lain ... Padahal menurutku lebih cantik Nona Cherryl kemana-mana di banding wanita itu, Nona Cherryl lebih muda dan seger," timpal pelayan lain, dengan ekpresinya yang julid.
"Aku jadi curiga wanita itu memakai pelet, agar mendapatkan cinta tuan muda," celoteh pelayan pertama.
"Aku juga berpikir seperti itu, kasihan sekali Tuan Muda."
"Heh! Kerja yang bener jangan pada ngegosip," tegur Rosa pada para pelayan yang sedang membicarakan dirinya.
"Cih, siapa yang gosip. Emang ini kenyataan kok," sahut pelayan pertama.
"Berani ya kamu lawan saya!" Dengus Rosa.
"Emang siapa yang nggak berani sama kamu, kita ini sama-sama pelayan kenapa mesti takut," timpal pelayan ke dua mendelikan manik matanya.
"Siapa yang kamu sebut pelayan? Denger ya, saya sebentar lagi bakal jadi nyonya di mansion ini. Jadi kalian harus hormat pada saya," ucap Rosa sombong.
Mendengar pernyataan Rosa, kedua pelayan itu saling berbisik menertawakan Rosa yang sedang berhalusinasi.
"Sut, iya in aja deh. Kasian dia lagi halu," bisik pelayan pertama.
"Iyah benar, kasihan sekali mana masih muda," kekeh pelayan kedua.
"Baiklah, nyonya Rosa maafkan kami. Selamat halu ya nyonya tapi inget ya, berhalusinasi boleh tapi harus tetap waras," Cibir pelayan pertama sambil tertawa bersama pelayan kedua.
Rosa menatap sebal pada kedua pelayan tersebut, jika dirinya tidak sedang buru-buru mungkin ia sudah menghabisi pelayan itu. Karena ada hal yang lebih penting, ia pun pergi meninggalkan area dapur dengan tergesa.
***
Malam hari di kamar utama Mansion.
Clay sedang berendam di dalam bathtub, ia memejamkan kedua matanya merasakan air hangat maresap ke dalam pori-pori kulitnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Ryl?" Gumam batin Clay berharap istrinya yang berada jauh di sana dapat mendengar suaranya.
"Maafkan aku sudah membuatmu menangis sepanjang hari, aku benar-benar merindukamu Ryl." Clay menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub beberapa saat, setelah napasnya terasa habis ia pun kembali muncul ke permukaan.
Namun, seketika atmosfer ruangan kamar mandi berubah menjadi menegangkan. Angin berseok-seok cukup kencang membuat jendela yang asalnya tertutup rapat menjadi terbuka, lampu tiba-tiba padam dan semua lilin juga ikut mati akibat tertiup angin kencang.
Suara derap langkah kaki yang begitu hati-hati, terdengar di telinga Clay. Pria itu pun diam mematung di dalam bathtubnya sembari terpejam.
Sebuah tangan menyentuh bahunya, Clay yang sejak tadi siap siaga menarik tangan itu ke depan dan menjungkir balikan si pemilik tangan tersebut ke hadapannya.
"Aahhh," pekik Rosa terkejut saat tubuhnya terbanting ke dalam bathtub.
"Mbak Rosa, ya ampun Mbak nggak apa-apa?" Clay membantu Rosa, keluar dari dalam bathtub.
"Kamu ngapain sih, pake nyerang aku segala," rengek Rosa menyentuh pinggangnya yang terbentur.
"Ya lagian, mbak ngapain ngagetin aku," jawab Clay. Pria itu malah kembali ke dalam bak mandinya.
"Aku khawatir sama kamu, karena listriknya padam jadi aku ke sini buat ngeliat ke adaan kamu," jelas Rosa kesal.
"Aku baik-baik saja, sebaiknya mbak kembali dan temani kakek Darmo," ujar Clay memejamkan kedua matanya lagi.
"Ada pelayan yang menunggu ayah, bagaimana jika aku memijatmu? Sepertinya kamu terlihat lelah."
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Clay.
Meskipun di tolak, Rosa tetap mendekati Clay. Kedua tangannya mulai menyentuh bahu pria itu yang lebar.
"Bagaimana, apa pijatan ku enak?" Tanya Rosa di dekat telinga Clay.
"Hmm lumayan," jawab Clay menikmati pijatan yang Rosa berikan.
Untuk sementara Clay menikmati pijatan Rosa yang lembut, di tambah dengan aroma terapi dari lilin yang di bawa oleh Rosa membuat pria itu terbawa oleh suasana.
Ia mengarahkan pisau itu ke arah Clay. Akan tetapi Clay yang sudah mengetahui rencana Rosa dengan sigap menangkis tangan wanita tersebut.
Perkelahian di antara Clay dan Rosa pun terjadi, berkali-kali wanita itu menyerang ke arah Clay. Tapi, pria itu berhasil menghindar.
Rosa menatap tajam pada Clay, dengan jurus cakaran harimaunya wanita itu kembali maju menyerang sang Pemilik mansion. Kali ini Clay melawan Rosa. Ia menendang kaki dan memelintir tangan Rosa, hanya dengan beberapa pukulan Rosa akhirnya jatuh dan memuntahkan seteguk darah segar.
Kevin dan Grace keluar dari ruangan rahasia, dan listrikpun kembali menyala seperti semula kedua orang itu membangunkan Rosa dan menahannya.
Wanita itu begitu terkejut, melihat Kevin dan Grace yang tiba-tiba muncul di kamar Clay.
"Kalian." Rosa mengerutkan dahinya.
"Kau terkejut dengan ke datangan kami," sindir Kevin.
"Bagaimana bisa ... Bukankah kalian tadi pergi dari sini? Dan bagaimana kalian bisa masuk? padahal aku sudah mengganti seluruh penjaga," tutur Rosa, heran.
Grace menarik dagu Rosa kasar." Rosa, Rosa. Kau itu bukan tandingan kami, apa kamu pikir dengan trik rendahan seperti itu akan membuat kami tertipu? Tidak sayang." Sekertaris itu mendorong dagu Rosa kencang.
Rosa tersenyum kecut pada ketiga orang yang ada di hadapannya, "Aku akui kalian semua pintar tapi, kalian jangan senang dulu seranganku hanya pemanasan saja. Tunggu lah sebentar lagi permainan akan segera di mulai." Wanita itu tertawa dengan sangat keras.
Dan benar saja, tanpa menunggu waktu lama para pemberontak menyerang Mansion Primrose. Apakah Clay terkejut? Tentu saja tidak, sebab ia dan Kevin sudah menyiapkan semuanya.
Semua berkat bantuan Dokter Reza beberapa hari lalu, Dokter Reza mendapatkan panggilan agar segera kembali ke rumah sakit karena ada pasien yang harus di tangani dan siapa sangka seolah Dewi keberuntungan telah berpihak ke pada Clay.
Saat perjalanan menuju rumah sakit, mobil Dokter Reza tiba-tiba mogok di tengah hutan Pinus Jade Vine. Tanpa sengaja manik mata Dokter Reza melihat seseorang dengan jubah hitam sedang berjalan tergesa menuju sebuah danau yang terdapat di hutan tersebut.
Penasaran Dokter Reza mengikuti orang itu diam-diam, orang tersebut masuk ke salah satu gua untuk menemui seseorang. Ketika orang itu membuka jubahnya kedua mata Dokter Reza langsung membulat sempurna, sebab yang di lihatnya adalah Rosa.
Pria dengan kaca mata tebal itu, merekam semua percakapan yang di katakan Rosa dengan rekannya lalu mengirimnya pada Clay dan Kevin. Setelah ia berhasil mendapatkan bukti, Dokter Reza pun segera pergi meninggalkan gua tersebut agar tidak tertangkap.
Dan pada saat itu juga, Clay, Kevin dan Grace segera menyusun rencana mempersiapkan banyak pasukan untuk melawan musuh. Bahkan merekapun sengaja terlibat percekcokan guna menjebak Rosa agar melancarkan aksinya.
Pertarungan di antara pasukan Clay dan pasukan musuh pun terjadi, kubu kupu-kupu cantik yang di pimpin oleh Pinky berhasil menjatuhkan banyak pihak musuh.
Begitu juga dengan kubu kepongpong yang di pimpin Blue, mereka dengan sadisnya membasmi musuh tanpa ampun.
Rosa yang melihat ke kalahan pada pasukannya terlihat syok dan berniat melarikan diri tapi, Grace yang cekatan dengan cepat melumpuhkan kakinya. Grace melayangkan satu tembakan tepat di kaki Rosa.
Pertarungan pun telah usai, dan di menangkan oleh Clay. Pria dingin itu menjebloskan Rosa ke penjara bawah tanah, mereka mengintrogasi Rosa dengan kejam sebab wanita itu tak mau membuka mulutnya untuk mengatakan keberadaan Mr.Z orang yang sudah membantu Helen melarikan diri dari kebakaran beberapa tahun silam.
Grace yang habis kesabaran menghadapi Rosa, langsung menembaknya tepat di bagian jantungnya. Clay dan Kevin begitu terkejut dengan aksi Grace yang terburu-buru, kedua pria itu menegurnya tapi Grace malah tersenyum pada Rosa yang sudah tak bernyawa itu.
"Grace, apa yang kau lakukan?" Tegur Kevin dengan mata yang melotot.
"Apa aku harus diam saja, saat dia tak mau memberi tahu dimana pembunuh ayahku!" Sentak Grace berkaca-kaca.
"Nona Grace, aku paham dengan kondisimu tapi, di sini bukan cuman ayahmu saja yang menjadi korban tapi ibuku juga. Jika kau membunuhnya bagaimana kita bisa tahu keberadaan Mr.Z itu," ujar Clay
"Lalu, sampai kapan kita akan menunggunya membuka mulut? Apa kita harus menunggunya kabur terlebih dahulu baru memberinya pelajaran ... begitukah maksud anda tuan?" Grace menatap nanar pada tuan mudanya.
Clay menarik napasnya panjang, ia tak mengatakan apa pun lagi karena ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh Grace. Mengiklaskan orang tercinta yang pergi secara tidak wajar itu memanglah sulit mungkin jika dirinya menjadi Grace yang tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, dirinya juga akan melakukan hal sama pada orang yang selalu menyembunyikan pelaku pembunuh orang tuanya.
"Baiklah, sebaiknya tenangkan dirimu nona Grace kembalilah ke kamarmu. Biar aku yang mengurus mayat Rosa dan berbicara pada Kakek Darmo atas apa yang menimpa putrinya," pungkas Clay, ia menyuruh anak buahnya agar menguburkan Rosa dengan layak, karena bagaimanapun juga wanita itu pernah menolongnya saat dirinya tersangkut di tepi sungai Ceratophyllum.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya, ceritanya terkesan terburu-buru takut kalian bosan jadi usahain buat selesaikan konfliknya dengan cepat ๐