
Sepulang dari pemakaman, Clay, Cherryl dan Erick berada dalam satu mobil yang sama semuanya tampak terdiam. Mereka menatap kosong jalanan yang sedang padat dengan kendaraan, Clay melirik istrinya kemudian menyentuh tangan Cherryl.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Clay, khawatir karena sejak dari pemakaman Cherryl tampak murung. Mendengar Clay bertanya pada Cherryl, Erick yang tadi sedang fokus pada jalanan ikut melihat ke arah belakang.
Cherryl menganggukan kepalanya.
"Kemarilah," titah Clay pada Cherryl, ia menarik Cherryl ke pelukannya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku masih tidak menyangka jika Tiara pergi secepat ini, rasanya baru kemarin aku bertengkar dengannya sekarang dia pergi untuk selamanya."
"Tiara orang baik, tuhan lebih sayang padanya jadi ia di panggil oleh tuhan lebih dulu dari pada kita."
Cherryl menarik napasnya dalam.
"Clay aku kok aneh ya, kenapa semenjak kita menikah banyak sekali hal buruk menimpa kita," lirih Cherryl.
"Jangan menyangkut pautkan semua ini dengan pernikahan kita Cher, semua ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini. Pernikahan itu sebuah ibadah yang mendatangkan keberkahan, mungkin ini ujian awal pernikahan kita," ujar Clay, membelai rambut istrinya. Ia sengaja tidak memberitahu Cherryl jika pelaku peneroran dan pengurungan itu adalah mendiang Tiara ia takut jika ia memberitahu istrinya, Cherryl akan menjauhi dirinya ditambah lagi semua bukti itu belum sepenuhnya benar.
"Aku tidak menyangkut pautkannya, hanya saja aku heran. Sebelum aku bersamamu, aku belum pernah mengalami hal buruk seperti ini tapi semenjak menikah aku jadi mengalami hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya."
"Apa kau menyesal, karena sudah menikah denganku?" Seloroh Clay, ia menatap ke arah istrinya.
Cherryl terdiam, jujur saja setelah beberapa lama ia tinggal bersama Clay dirinya banyak melihat kebaikan dari suaminya dan hatinya kini sedikit terbuka untuk pria yang kini sedang mendekapnya. Tidak ada sedikitpun rasa sesal dalam dirinya karena sudah menikah dengan laki-laki pilihan mendiang kakeknya ia malah bersyukur karena telah di jodohkan dengan pria yang baik dan seperhatian Clay, meskipun terkadang pria itu selalu membuatnya kesal.
"Kenapa diam? Hemm, apa kau ingin mengakhiri pernikahan kita hanya karena teror itu?"
Cherryl menggelengkan kepalanya cepat, ada rasa sakit dalam hatinya ketika Clay mengatakan mengakhiri pernikahan.
"Tidak, aku tidak mau mengakhirinya. Aku yakin kau akan selalu melindungiku Clay," Cherryl mengeratkan pelukannya di pinggang Clay.
"Terimakasih, karena sudah mau bertahan Cher. Ayo kita lewati semuanya bersama, aku yakin setelah masalah ini lewat kita akan bahagia," lirih Clay mengecup pucuk kepala istrinya.
sementara di kursi depan, Erick yang sejak tadi menyimak momen romantis sahabatnya mulai merasa iri pada kemesraan pengantin baru, seketika jiwa jomblonya meronta.
" Ya Gusti kenapa nasib jomblo, begini amat sih... di saat orang lain mesra-mesraan hamba cuman jadi obat nyamuk saja," gumam Erick, meratapi nasibnya sebagai seorang jomblo.
"Bapak jomblo nggak, pak?" celoteh Erick pada supir pribadi Clay.
"Alhamdulillah, mas. saya sudah punya anak dua," jawab supir tersebut membuat Erick semakin iri ia merasa jika dirinyalah satu-satunya orang yang jomblo di dunia ini.
***
Bloody Lily, city.
Jauh di negeri seberang tuan Gerald, mamy Val dan juga sekertaris Rendi sedang duduk di ruang kerja. Wajah mereka begitu serius memikirkan hal yang menimpa pada putra sulung dan menantunya, mamy Val menatap pada wajah sang suami yang sedari tadi terus mengerutkan dahinya.
"Mas, apa jangan-jangan ini perbuatan Helen," ucap Mamy Val.
"Tidak mungkin, Helen dan keluarganya telah meninggal sejak lama."
"Tapi mas, firasat aku mengatakan jika wanita itu masih hidup. Dan menuntut balas dendam pada putra kita."
"Sayang, apa kamu lupa. Tidak ada yang tahu siapa putra kita, bahkan Clay memimpin perusahaan saja belum banyak media yang tahu. Bagaimana mungkin jika wanita itu tahu pada putra kita, sepertinya ada orang lain lagi di balik semua ini."
"Lagian, kamu lihat sendirikan mayat Helen di temukan di gedung yang terbakar itu. Mana mungkin orang yang meninggal bisa hidup lagi," ujar papi Gerald, ia sangat yakin jika wanita yang bernama Helen itu telah meninggal beberapa tahun lalu.
Mamy Val, menarik napasnya panjang. Ada benarnya juga yang di katakan oleh papi Gerald, bahkan ia melihat sendiri saat mayat Helen yang hangus terbakar di bawa oleh petugas rumah sakit untuk otopsi. Dan lagi pula jika memang itu benar Helen kenapa ia menargetkan putranya bukan dirinya atau suaminya yang menjadi sasaran balas dendam Helen.
"Lalu, siapa yang sudah meneror putra kita mas!" Mamy Val, terlihat frustasi memikirkan pelaku peneroran tersebut.
"Kamu tenang ya, aku dan Rendi akan segera menemukan penjahat itu," papi Gerald memeluk istrinya, agar sedikit tenang.
"Sebaiknya, kamu istirahat biar masalah ini aku dan Rendi yang urus. Aku nggak mau kalau kamu sampai jatuh sakit."
"Berjanjilah padaku, kalau kau akan secepatnya menangkap pelaku itu," lirih mamy Val, ia berharap banyak pada suaminya.
"Aku berjanji, sekarang istirahatlah. Dari kemarin kamu belum tidur."
Setelah mendengar suaminya berjanji, mamy Val meninggalkan ruang kerja suaminya. Papi Gerald memang benar ia tidak tidur sejak kemarin karena khawatir pada keselamatan sangputra yang tinggal jauh di negeri Edelweis, dan itu membuat kepalanya terasa sakit. Mamy Val pun pergi ke kamar untuk beristirahat.
Sementara di ruang kerja papi Gerald dan sekertarisnya, melanjutkan pembicaraan mengenai pelaku yang meneror sangputra sulung.
"Tuan, sepertinya yang di katakan oleh nyonya itu ada benarnya. Bagaimana jika memang benar wanita itu masih hidup," Sekertaris Rendi menatap papi Gerald dengan serius.
"Maksudmu, kematian Helen itu hanya manipulatif saja? Lalu mayat siapa yang waktu itu di temukan? Bukankah di dalam gedung itu hanya ada Helen seorang?" Papi Gerald terus melontarkan pertanyaan pada sekertarisnya, ia merasa semuanya tidak masuk akal.
"Bisa saja, ada orang lain yang membantunya kabur dan menukar Helen dengan mayat orang lain untuk mengecoh kita semua tuan."
"Jika itu memang benar, Helen masih hidup. Kita tidak bisa membiarkannya terlalu lama kita harus segera menangkapnya, Ren."
"Aku sudah menyiapkan, banyak orang untuk mencari keberadaan wanita itu di kota Edelweis. Bahkan aku sudah menyuruh seluruh pihak transportasi untuk memblokir semua akses wanita itu."
"Sepertinya tidak semudah itu, Ren. Bisa saja sekarang dia merubah semua identitas dirinya."
"Anda benar tuan, kalau begitu aku akan menambah orang untuk menyelidiki identitas baru dari Helen," pungkas sekertaris Rendi, dan mereka mengakhiri pembicaraannya.
***
Kembali ke negri Edelweis.
Sudah satu Minggu, papi Gerald dan sekertaris Rendi menyelediki identitas baru dari Helen, tapi hasilnya sama sekali tidak ada. Bahkan dari pihak transportasi tidak ada yang melaporkan terkait orang yang di maksud oleh papi Gerald.
Namun papi Gerald tak ingin gegabah, sehingga ia tidak melonggarkan sedikitpun penjagaan di setiap sudut kota Edelweis.
Sejak kepergian Tiara, Tidak ada hal aneh lagi yang terjadi pada Clay dan Cherryl, karena merasa sudah aman Cherryl dan Clay kembali ke kediamannya.
"Kalian yakin, mau pulang ke rumah kalian?" tanya Mama Dewi, wajahnya masih di rundung dengan rasa khawatir
"Iya mah, keadaan sudah membaik. Clay nggak enak repotin Mama terus."
"Repotin apanya.. Mama malah seneng kalian di sini.. jadi Mama ada temennya."
"Kita janji bakal sering-sering jenguk Mama kok," sambung Cherryl.
"Baiklah kalau gitu, kalian hati-hati ya jangan lupa kabarin kalau udah sampai."
"Iya mah, Cherryl pasti bakal kangen banget sama Mama," Cherryl memeluk ibunya erat
"Udah dong pelukannya, kasian suami kamu tuh udah nunggu di mobil," ujar papa Cestaro terkekeh.
Cherryl memeluk papa Cestaro hangat, tidak lupa dengan mbok Jum ia juga memeluknya dengan erat. Setelah berpamitan pada semuanya Cherryl masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada ketiga orang yang sudah merawatnya.
Mobil memasuki pelataran rumah, begitu Cherryl turun dari mobil miss Nina langsung berhambur memeluk Cherryl dan menyambutnya hangat.
"Selamat datang kembali di rumah, nona. Miss sangat merindukan nona," seru Miss Nina yang memeluk Cherryl erat membuat gadis itu kesulitan bernapas.
"I-iya Miss, tapi lepaskan aku tidak bisa bernapas."
"Eh, hahaha maaf nona. Miss terlalu bersemangat," Miss Nina terkekeh. Lalu membantu bi Arum membawa tas milik Clay dan juga Cherryl.
"Masuklah lebih dulu, kamu pasti lelah. Ada yang harus aku bicarakan dengan kepala keamanan," titah Clay yang membelai rambut istrinya.
Cherryl mengangguk, ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Sementara Clay menyuruh pada kepala keamanan di rumahnya untuk memperketat penjagaan ia khawatir jika dirinya lengah ada hal lain lagi yang akan terjadi.
Setelah keduanya selesai berbicara, Clay menyusul istrinya masuk ke dalam rumah.
"Cherryl dimana bi?" Tanya Clay pada bi Arum, yang membawa segelas teh hangat untuk istri majikannya.
"Ada di kamar tuan," jawab bi Arum.
"Itu, untuk Cherryl?" Clay menunjuk pada nampan yang di pegang oleh bi Arum.
"Berikan, biar aku yang bawa ke kamarnya," pinta Clay.
"Tapi tuan," bi Arum tampak ragu untuk memberikan nampan tersebut, karena clay yang terus memaksa. Akhirnya bi Arum menyerahkan nampan tersebut ke tangan Clay.
Klek...
Clay membuka pintu kamar Cherryl, ia melihat istrinya sedang berdiri di depan balkon. Rambutnya yang panjang beterbangan karena tertiup angin, angin hari ini berhembus cukup kencang. Mungkin karena musim penghujan yang akan segera datang.
Clay menyimpan nampan itu di atas nakas lalu menghampiri gadis cantik yang sedang menikmati ke indahan taman di sore hari, kemudian ia memeluk istrinya dari belakang membuat gadis itu terkejut.
"Eh," pekik Cherryl, ia kaget saat melihat sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya.
"Kenapa terkejut seperti itu?" Ucap Clay sedikit berbisik di telinga istrinya, membuat gadis itu bergidik.
"Aku pikir, siapa?" ujar Cherryl, gugup.
"Apa kau berharap pria lain yang masuk ke dalam kamarmu, hemm," sindir Clay.
"Tidak, bukan begitu maksudku.... Semenjak kejadian itu aku jadi merasa was-was jika ada orang lain yang masuk ke dalam kamarku."
"Hemm, begitu. Kalau begitu pindah saja ke ke kamarku agar kau selalu merasa aman," Clay menyelusupkan kepalanya di bahu Cherryl, membuat gadis itu merasakan panas dingin dalam waktu bersamaan.
"Sepertinya, tinggal di kamarmu jauh lebih bahaya Clay."
"Kenapa?" Clay mengerutkan keningnya.
"Apa kau tidak ingat malam ketika jendela kamarmu pecah, kau hampir menodaiku."
"Aku ingat, tapi waktu itu hampir. Bagaimana jika kita mencobanya lagi malam ini sampai berhasil?" Goda Clay pada istrinya.
Cherryl melepaskan lengan Clay dari pinggangnya, " Aku mau belajar, bukankah besok akan ujian," ucap Cherryl beralasan.
"Sejak kapan kurcaciku, suka belajar? Mama bilang kau pemalas."
"Ya sejak malam ini, haha," Cherryl berlari meninggalkan suaminya, dan Clay hanya menggelengkan kepalanya melihat Cherryl berlari seperti anak kecil.
Semenjak kejadian-kejadian beberapa Minggu lalu, kini hubungan Clay dan Cherryl mulai membaik. Jika biasanya mereka selalu bertengkar dalam hal kecil kini mereka tampak rukun dan mesra, bahkan Cherryl tak pernah menolak jika Clay menyentuhnya.
Malam hari, Clay sedang mengajarkan istrinya beberapa mata pelajaran yang besok akan keluar dalam Soal ujian. Cherryl tampak frustasi saat dirinya selalu gagal dalam mengerjakan soal matematika yang di berikan oleh Clay.
"His, ini gimana sih kok susah banget!" Desis Cherryl, ia menarik rambutnya kesal.
Clay tersenyum melihat istrinya yang cemberut "Mana? Coba aku lihat," Clay mengambil buku istrinya.
"Ini mudah, sayang," celoteh Clay, tanpa melihat ke arah Cherryl.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Ini mudah." Jawab Clay sengaja.
"Bukan, bukan yang itu... Sesudahnya."
"Apa yang aku katakan? Aku tidak mengatakan apapun," jawab Clay pura-pura lupa.
"Ih, itu loh yang paling terakhir."
"Apa sih, emangnya aku ngomong apa?"
"Tadi aku denger, kamu bilang sayang."
"Bilang apa?" Clay balik bertanya.
"Sayang," sahut Cherryl polos
"Cieee, udah berani nih manggil aku sayang. Haha," Clay tertawa saat menjahili istrinya.
Bugh.
"Kamu sengaja jebak aku," Cherryl memukul bahu Clay.
"Tidak apa-apa jika kau ingin memanggilku dengan sebutan sayang, aku seneng kok."
"Ish, kenapa jadi aku sih. Padahal kamu yang duluan," Cherryl mengerucutkan bibirnya.
"Kalau marah, kamu makin cantik deh Ryl," goda Clay.
"Nggak lucu," dengus Cherryl.
"Siapa yang ngelucu, aku bicara jujur kok. Kalau kamu marah malah makin cantik aku jadi cinta sama kamu."
"Ish, apaan sih geli banget deh aku dengernya."
"Ini, nih yang bikin geli," Clay menggelitiki istrinya, sampai tertawa. Tak mau kalah Cherryl membalas menggelitiki suaminya. Suasana ruangan perpustakaan itu tampak berisik karena dua orang yang sedang bergurau saling menggelitiki satu sama lain.
Sudah merasa lelah karena banyak tertawa, mereka berdua merebahkan tubuhnya di lantai ruang perpustakaan pribadi Clay. Mereka menatap langit-langit ruangan sambil tersenggal, seketika ruangan perpustakaan itu hening. Cherryl mengangkat tubuhnya dan kembali ke posisi duduk, ia menatap wajah suaminya yang menyejukkan. Pikirannya tiba-tiba teringat pada Tiara, gadis yang pernah berseteru dengan dirinya.
"Clay, kok aku kepikiran sama Tiara ya," ucap Cherryl
Clay bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan Cherryl," jangan mengingat dia lagi, sekarang dia sudah tenang. Begitu juga dengan kamu tanpa adanya dia kamu jadi nggak ada yang ganggu lagi."
Cherryl menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Sebaiknya kita tidur, ini sudah malam."
Cherryl mengangguk, ia berjalan di samping Clay. Setibanya di depan pintu kamar Cherryl, pria itu memegang tangan istrinya.
"Kau yakin tidak mau tidur denganku?" Tanya Clay, wajahnya penuh harap jika istrinya mau tidur bersamanya malam ini.
"Tidak, aku mau tidur sendirian saja," tolak Cherryl.
"Kau yakin?"
"Hemm."
"Em... Baiklah selamat malam, sayang."
Cup
Clay mengecup kening Cherryl, membuat wajah gadis itu menghangat.
"Eh, tunggu aku punya sesuatu untukmu," sahut Clay, mencegah istrinya agar tidak masuk kamar lebih dulu. Ia pergi menuju kamarnya dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini untukmu," Clay menyodorkan sebuah hadiah pada Cherryl
"Apa ini?" Cherryl menatap kotak kecil tersebut.
"Buka saja, tapi sebaiknya kamu membukanya besok. Sekarang cepat pergi tidur besok jangan sampai kesiangan."
Cherryl mengangguk dan menutup pintu kamarnya, tapi sebelum Clay pergi cherryl kembali membuka pintu kamarnya.
"Kenapa?" Tanya Clay, ia menatap istrinya yang terlihat malu-malu. Dengan gerakan cepat Cherryl mengecup pipi suaminya kemudian menutup kembali pintu kamarnya dengan kencang.
Clay terkejut dengan aksi istrinya yang cukup berani itu. Dengan hati yang berbunga-bunga Clay masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh di atas ranjang sambil tersenyum bahagia.
.
.
.
Bersambung...