
Pagi hari, hujan deras sudah mengguyur sebagian bumi. Termasuk kota Jade Vine, cuaca mendung dan hembusan angin yang cukup kencang terasa begitu menusuk hingga ke tulang.
Mansion Primrose tampak masih sepi, yang terlihat hanya sebagian pelayan yang berlalu lalang mengerjakan tugas masing-masing.
Belum ada pergerakan dari sang Pemilik Mansion maupun orang-orang kepercayaannya, kamar mereka masih tertutup dengan rapat.
Cuaca mendung dan udara dingin membuat mereka seolah enggan meninggalkan kasur mereka yang hangat. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi tapi, semuanya masih betah bergelayut manja di dalam selimbutnya yang tebal.
Terdengar suara ******* merdu dari salah satu kamar yang berada di lantai dua, suaranya begitu mendayu-dayu mengikuti irama dari ritme yang di ciptakan oleh Kevin. Hentakan demi hentakan terus di lakukan pria berhidung mancung tersebut, membuat Grace yang berada di bawahnya di banjiri oleh keringat.
Sementara di lantai tiga, pria dewasa dengan piama kuda pony berwarna biru masih tertidur pulas, memeluk sebuah guling. Entah apa yang sedang ia mimpikan, senyum di bibirnya terlihat begitu merekah dan perlahan ranjang itu mulai bergoyang suara ******* pun lolos dari mulut pria tersebut.
Berbeda dengan kamar yang lain, di saat semuanya sibuk menghangatkan diri dengan aktivitas di atas ranjang. Clay yang sudah terbangun dari jam tujuh pagi malah menikmati pemandangan hujan yang membasahi bunga-bunga di taman belakang mansionnya.
Ia menyunggingkan senyumnya, saat melihat bayangan istrinya bermain hujan di tengah taman, melontarkan senyuman manis padanya dan mengajak dirinya bermain hujan bersama.
"Aku sangat merindukanmu Ryl," lirih Clay di bawah payung hitamnya.
Sebuah tangan melingkar di pinggang Clay, membuat senyum pemuda itu semakin mengembang. Ia menyentuh tangan tersebut dan menikmati kehangatan pelukan itu.
"Cherryl, kau di sini," seru Clay, bahagia.
Mendengar Clay menyebut nama Cherryl, tangan itu langsung terlepas. Senyuman di bibir Clay pun langsung menghilang saat dirinya tahu jika yang memeluknya adalah Rosa.
"Kamu," sentak Clay.
"Jiang," seru Rosa tersenyum.
Clay mengerutkan dahinya saat melihat Rosa dengan penampilan yang sangat seronoh, gaun mini kurang bahan dengan punggung bolong, rambut terurai dan make up yang terbilang menor membuat Clay bergidik.
"Mbak hujan-hujan gini mau berenang?" Ujar Clay polos.
"Kok berenang sih, Jiang," protes Rosa memanyunkan bibirnya.
"Kalau nggak berenang, terus mbak ngapain pake baju renang kayak gitu?"
"Emang ini baju renang ya?" Rosa terlihat begitu bingung.
Tanpa menjawab pertanyaan rosa, Clay pergi begitu saja meninggalkan wanita yang masih sibuk melihat pakaiannya.
"Jiang ... Kamu mau kemana?" Panggil Rosa pada Clay, dia menghentakan kakinya kesal upayanya untuk menggoda pria itu malah membuatnya sebal.
"Ish, mantra apa sih yang udah di pakai istrimu sampai kamu sulit sekali untuk di goda," dengus Rosa mengepalkan kedua tangannya.
***
Hari semakin siang, Grace tampak terlihat geram saat mendapat laporan dari Pingky yang mengatakan Rosa memeluk Clay dengan pakaian yang begitu minim.
Sekertaris itu bangkit dari duduknya, dan pergi mencari keberadaan rosa. Setelah berputar-putar akhirnya Grace menemukan Rosa yang masih berada di belakang Mansion.
"Rosa!" Teriak Grace menghampiri wanita tersebut.
"Nona Grace," sahut Rosa merapikan pakaiannya yang kusut.
"Saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah menyentuh atau mendekati Tuan Muda lagi sekali lagi saya melihat kamu melakukan itu saya tidak segan untuk menendang kamu dari sini ... Paham!" Grace membentak Rosa dan mengacungkan jarinya ke hadapan wanita tersebut.
"Memangnya kenapa kalau aku mendekati Jiang?" sungut Rosa membuat Grace semakin marah.
"Kau masih bertanya kenapa?" Grace maju beberapa langkah ke hadapan Rosa.
"Seharusnya kamu sadar, usia kamu dan Tuan Muda itu sangat berbeda jauh. Kau lebih pantas menjadi Kakaknya, selain itu level kalian juga sangat berbeda Tuan Clay itu berlian yang sangat mahal sedangkan kau hanya remahan rengginang. Jadi jangan pernah bermimpi kau bisa menjadi nyonya Dhanuendra!" Cecar Grace pada Rosa.
Sekertaris cantik itu berhasil membuat Rosa tak berani membuka mulut lagi, ia terus mencecarnya habis-habisan. Rosa yang hanya bisa mengepalkan tangan langsung meninggalkan Grace dengan perasaan dongkol, sedangkan Grace tersenyum kecut melihat wanita genit itu pergi tanpa sepatah katapun.
"Wah ... Honey aku tidak menyangka selain bakat menembak kau juga ahli dalam menjatuhkan mental seseorang," puji Kevin yang tiba-tiba muncul di belakang Grace.
"Aku sebal padanya, berani sekali dia menggoda Tuan Muda dengan pakaian minim," ketus Grace pada Kevin.
"Kita harus menyimpan penjaga di sekitar tuan muda, sepertinya mansion ini sedikit kurang aman," usul Kevin
"Kau benar Honey, oh ya apa Miss Nina memberimu kabar?" Tanya Grace.
"Ikut denganku, kita harus membicarakan ini di dalam." Kevin membawa Grace ke ruangan rahasia, yang terletak di dalam kamar Clay.
"Maaf tuan kami terlambat," ucap Kevin pada Clay.
Grace hanya tertunduk, karena merasa tidak enak dia tahu jika bosnya itu sangat tidak menyukai orang yang lelet.
"Bukankah aku sudah mengatakan, jika aku tidak suka dengan orang yang selalu terlambat," jawab Clay dingin.
Keduanya memilih diam tak berani menjawab, mereka pun duduk saling berhadapan membahas masalah yang sedang mereka hadapi.
"Apa sudah ada kabar dari Miss Nina?" Tanya Clay pada kedua orang yang ada di hadapannya.
Grace menoleh pada Kevin, menanti jawaban dari dokter muda tersebut.
"Tadi dia meneleponku, dia bilang kemarin melihat suster Eni di kota X. Miss Nina mengejarnya tapi, suster Eni berhasil lolos," ujar Kevin menjelaskan.
Clay mengepalkan tangannya. "Wanita itu licin sekali ... Nona Grace tambah beberapa orang lagi di sisi Miss Nina agar dia bisa secepatnya menangkap suster Eni," titah Clay pada sekertarisnya.
"Baik Tuan," jawab Grace, wanita itu langsung menjalankan tugasnya menyuruh beberapa orang ahli agar menyusul Miss Nina.
"Clay ... Bagaimana dengan Rosa?" cetus Kevin.
"Aku masih menyeledikinya, dari barang-barang bukti yang aku temui tempo lalu sepertinya aku yakin dia ada hubungannya dengan Helena dan suster Eni."
"Apa kau sudah bisa mengingat siapa orang yang mendorongmu ke jurang?"
"Aku masih belum ingat semunya tapi, yang aku ingat dia memakai pakaian serba hitam dan ...." Clay menatap Kevin kaget saat dirinya mengingat sesuatu.
Kevin memicingkan kedua matanya, menanti Clay melanjutkan ucapannya.
"Aku ingat saat itu aku berhasil bertahan dengan berpegangan pada akar pohon, Rosa datang aku kira dia akan menolongku ternyata dia malah menginjak tanganku dan menaburkan tanah pada wajahku setelah itu aku tidak ingat apapun lagi."
"Sudah aku duga, wanita itu pasti bukan wanita hutan polos seperti yang orang-orang katakan," Kevin berdecak kesal. "Lalu apa yang akan kau lakukan padanya?" Sambung Kevin.
"Kita biarkan saja dulu dia, kita lihat apa rencana Rosa selanjutnya." Pungkas Clay mengakhiri rapat hari ini.
.
.
.
Bersambung.