
Di kantin rumah sakit, Cherryl dan Aulya duduk di bangku paling pojok. Mereka terlihat begitu serius, jika biasanya kedua sahabat itu selalu bergosip ria sembari tertawa kini keduanya tampak hening.
Mereka hening bukan karena sedang berada di rumah sakit, melainkan sesuatu hal yang di ceritakan oleh Cherryl membuat Aulya menatapnya penuh keseriusan.
Cherryl menceritakan satu persatu persoalan yang telah terjadi, menimpa keluarga suaminya. Dari mulai dirinya terkunci di gudang, kematian Tiara yang mendadak, ibu mertuanya yang meninggal karena bom dan sikap Clay yang berubah kasar padanya juga adik iparnya yang kini sedang terbaring di rumah sakit akibat racun yang sengaja di taruh oleh seseorang pada susu adik iparnya.
"Entar deh, Ryl. Gue jadi ikut pusing sama cerita lo, jadi maksud lo orang yang ngunci Lo di gudang sama kejadian-kejadian ini itu adalah orang yang sama gitu?" Ujar Aulya mengerutkan keningnya.
Cherryl mengangguk, mengiyakan penuturan sahabatnya.
"Terus lo sekarang mau ngapain? Lo mau nyari orang itu?"
Cherryl kembali mengangguk," Gue nggak bisa diem terus Al, gue nggak mau keluarga gue terus-terusan ada dalam masalah."
"Terus lo mau nyari kemana? Sedangkan Lo aja nggak tau akar dari permasalahan ini apa."
"Gue harus tanya nyokap gue, nyokap gue pasti tau sesuatu tentang hal ini."
Aulya menatap Cherryl iba, ia tak menyangka dengan kehidupan sahabatnya yang harus menikah di usia muda dan kini di hadapkan dengan persoalan yang begitu berat.
***
Di sisi lain, Clay memarkirkan mobilnya di pelataran rumah kediaman orang tuanya yang dulu.
Seorang keamanan menghampiri mobil Clay dan membukakan pintu mobil tersebut, keamanan itu menyapa putra sangmajikan dengan ramah.
"Selamat siang tuan muda,"
"Siang pak," jawab Clay tergesa.
"Tumben tuan kemari?"
"Ada urusan, oh iya pak jangan katakan pada papi kalau aku di sini."
"Baik tuan," pria itu menundukan kepalanya melihat kepergian Clay, yang buru-buru masuk kedalam rumah.
Clay, masuk ke dalam lift di mana lift itu langsung menuju ke kamar ayahnya. Setelah lift terbuka ia langsung menghampiri sebuah rak buku dan menarik buku tebal berwarna kusam.
Saat dirinya masih umur 4 tahun ia sedang bermain petak umpet bersama mendiang ibunya, ia bersembunyi di bawah meja kamar kedua orang tuanya tanpa sengaja ia melihat papi Gerald keluar dari balik rak buku dan ia melihat ayahnya kembali masuk ke dalam ruangan rahasia itu dengan menarik buku tebal berwarna kusam jadi tidak sulit untuk dirinya masuk ke ruangan rahasia yang tidak ketahui oleh siapun termasuk mendiang ibunya.
Di dalam ruang rahasia, Clay mulai mencari petunjuk tentang wanita yang sudah membunuh ibunya. Ayahnya yang memiliki masalah di masa lalu pasti menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan si pembunuh.
Clay sudah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam sana, tapi ia tidak menemukan petunjuk apapun mengenai si pembunuh.
Saat dirinya menyimpan sebuah dokumen ke rak buku bagian atas, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah map berwarna kuning karena penasaran ia membuka map tersebut.
Clay mengerutkan keningnya, saat melihat map tersebut. Karena penasaran ia membuka map kuning itu dan terdapat tiga lembar photo di dalamnya.
Dua photo pria yang berbeda dan satu lembar photo seorang perempuan yang lumayan cantik. Ia menatap photo wanita itu rasanya tidak asing saat melihat sosok perempuan yang ada di photo itu, Clay tampak berpikir keras dimana dirinya pernah bertemu dengan wanita ini?
Clay mengeluarkan ponselnya, dan menyuruh sekertarisnya untuk mencari informasi terkait wanita yang ada di photo tersebut.
Clay: [Nona Grace bisa anda membantuku?]
Nona Grace : [Tentu tuan.]
Clay : [ tolong cari tahu, wanita yang ada di pohoto ini. Dan jangan beri tahu papi kalau aku menyuruhmu untuk mencari seseorang.]
Nona Grace: [ baik tuan.]
Sambungan telpon terputus.
Setelah mengirim photo itu pada nona Grace dengan cepat Clay membawa map itu pulang ke kediamannya, untuk di pelajari lebih lanjut lagi. Sementara di kediaman Cestaro, Cherryl sedang merengek pada ibunya agar Mama Dewi mau memberi informasi mengenai masa lalu mendiang Mamy Val juga papi Gerald.
"Ayolah Ma..... Kasih tau Cherryl apa yang terjadi sama keluarganya Clay pada saat dulu?"
"Mama nggak tau Ryl, kenapa sih kamu maksa banget pengen tau," Mama Dewi berbicara sambil merapikan dapur ke sayangnya.
"Ini tuh penting Ma, buat keselamatan keluarganya Clay sama Cherryl.... Emang Mama mau liat Cherryl dan keluarga clay mati secara bergantian, emangnya Mama mau liat Cherryl jadi janda terus mati sia-sia sebagai seorang janda muda," celoteh Cherryl.
"Kamu kalau ngomong suka ngawur nggak baik tau," tegur Mama Dewi.
"Ya udah sekarang Mama kasih tau Cherryl, aku tau Mama pasti tau sesuatu kan sama kehidupan keluarga Clay?"
Mama Dewi menarik napasnya panjang, ia menghentikan aktivitas bersih-bersihnya. "Ryl, papa mertua kamu itu orang hebat dia pasti bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Sebaiknya kamu nggak usah ikut campur demi keselamatan kamu."
"Ih Mama masalahnya ini cerita tentang Clay dan Cherryl, bukan kisah papi Gerald lagi dan yang harus menyelesaikan masalah ini Cherryl sama Clay Ma," Cherryl terus mendesak sangibu agar mau bercerita padanya.
Mama Dewi menghembuskan napasnya, merasa pusing dengan putrinya yang terus mengoceh ingin tahu tentang masa lalu mertuanya.
"Kemarilah, duduk," titah Mama Dewi menepuk kursi di sebelahnya.
"Aku nggak mau!" Tolak Cherryl sebal pada sang Mama yang tidak ingin bercerita.
"Kamu mau tau soal mertua kamu atau nggak? Kalau mau tau ayo duduk," dengus Mama Dewi yang ikut kesal pada Cherryl yang ngeyel.
Gadis itu menghentakan kakinya, lalu duduk di sebelah Mama Dewi.
"Kamu tunggu di sini, Mama ambil sesuatu dulu," Mama pergi menuju ruang kerja papa Cestaro dan mengambil sebuah kotak kayu berukuran besar.
Cherryl menatap sang Mama heran, untuk apa ibunya membawa peti kayu kusam seperti itu?
"Kamu nanya kan masa lalu mertua kamu gimana? Jawabannya ada di dalam peti itu," Mama Dewi menunjuk peti tersebut dengan dagunya.
Cherryl mengambil peti itu dan membukanya, banyak potongan-potongan koran beberapa tahun silam dengan judul artikel yang berbeda-beda.
Ia mengerutkan dahinya, saat membaca satu persatu judul artikel tersebut.
"Ma... Cherryl pinjem dulu ini," ujar Cherryl yang bergegas pergi untuk pulang dengan peti di tangannya.
"Ryl... Tunggu dulu!" Mama Dewi mencoba mengejar putrinya tapi Cherryl sudah pergi mengendari mobilnya sendiri.
***
Kediaman Dhanuendra.
Cherryl berlari sembari memanggil suaminya, ia menaiki tangga dengan tergesa dan menuju kamar Clay. Gadis itu masuk ke dalam kamar Clay tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Clay-," suaranya seketika menghilang saat ia melihat suaminya bersama wanita lain di dalam kamarnya dengan jarak yang begitu dekat.
.
.
.
Bersambung...