
"Bye... Al gue bakal kangen banget sama lo!" Teriak Cherryl sebelum masuk ke dalam mobil.
"Gue juga, bakal kangen banget sama lo," timpal Aulya yang melambaikan tangannya ke arah cherryl.
"Sudah-sudah, besok juga bertemu lagi," sahut Clay. Yang melihat istrinya seperti akan berpisah untuk terakhir kalinya.
Cherryl tersenyum, dan kini ia duduk di samping suaminya.
"Gimana ujiannya lancar?"
"Hemm... coba kamu cium kepalaku, sudah bau gosong seperti ini," keluh Cherryl menyodorkan kepalanya.
Cup...
Clay mencium pucuk kepala istrinya.
"Ih malah di cium," protes Cherryl.
"Lah, kan tadi kamu yang nyuruh."
"Bukan gitu, cium pakai hidung gitu."
"Oh, lain kali kalau ngomong itu yang jelas dong. Biar aku paham," Clay mengusap kepala istrinya dengan penuh cinta.
Jalanan hari ini, sedikit macet. Dan sepertinya bukan hal aneh lagi jika jalanan di padati oleh banyak kendaraan, apalagi hari ini hari Senin. Hari dimana orang-orang sedang sibuk-sibuknya, bahkan tak sedikit orang yang selalu merutuki hari Senin sebab banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
"Clay, bukankah ibunya Miss Nina di rawat di rumah sakit sekitar sini?" Tanya Cherryl, memecah keheningan dalam mobil.
"Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kalau kita mampir, untuk menjenguknya?"
"Boleh.... Pak kita mampir ke rumah sakit dulu ya."
Supir itu mengangguk, tapi sebelum ke rumah sakit mereka mampir ke toko buah terlebih dulu. Untuk mereka berikan pada ibunya Miss Nina.
***
Cendana, hospital.
Di tuntun oleh seorang suster, Cherryl dan Clay masuk ke sebuah ruangan. Seorang pasien tua tengah terduduk menghadap jendela dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya.
Mendengar pintu ruangannya terbuka, pasien tua itu melirik pada tamu yang mengunjunginya. Sebuah senyum ramah terbentuk dari sudut bibirnya yang sudah berkeriput.
"Selamat siang nek, bagaimana kabarnya?" Tanya Clay pada nenek bernama Mariam itu.
"Baik, nak," jawab nenek Mariam, pandangannya tak lepas dari Cherryl.
"Kenalkan, saya Clay dan ini istri saya Cherryl. Miss Nina bekerja di rumah kami, dan katanya nenek di rawat di sini. Kebetulan kami lewat sini jadi kami mampir untuk menjenguk," seru Clay.
"Oh, terimakasih sudah menjenguk nenek ya nak. Nenek jadi merepotkan kalian,"
"Tidak merepotkan kok, nek."
"Kamu cantik sekali," ucap nek Mariam sembari mengelus tangan Cherryl.
"Terimakasih, nek. Nenek juga cantik terlihat segar," Cherryl memuji kembali nenek mariam.
Nenek Mariam terkekeh mendengar pujian yang di lontarkan oleh anak gadis yang ada di hadapannya.
"Kalian, masih pakai seragam sekolah. Tapi kok sudah menikah?" nek Mariam bertanya heran.
"Iya nek, kami di jodohkan oleh mendiang kakek kami," seloroh Cherryl. Gadis itu memijat kaki nenek Mariam lembut.
"Kasian sekali, karena ke egoisan kakek kalian. Mereka mempertaruhkan masa depan cucu-cucunya."
"Tidak apa-apa, kok. Nek, kami malah senang bisa menikah muda. Jadi kami bisa belajar bagaimana bersikap dewasa dan bertanggung jawab," sahut Clay.
"Kalian memang cucu yang berbakti, orang tua kalian pasti bangga memiliki putra dan putri sebaik kalian," nek Mariam mengelus pipi Cherryl.
"Tidak juga nek, kadang ibuku suka memarahi dan memukulku jika aku terlambat bangun," celoteh Cherryl. Ia mengadu pada nek Mariam seolah sudah lama mengenal wanita tua itu.
"Itu tandanya, ibumu sayang padamu nak Cherryl."
"Iyah, sih nek," pungkas Cherryl.
Meskipun baru pertama bertemu, kedua orang itu tampak akrab dengan nek Mariam. Cherryl yang cerewet tak hentinya terus menceritakan hal lucu pada nek Mariam, membuat wanita itu terkekeh dengan cerita Cherryl.
Mereka juga memberikan perhatian pada nek Mariam, menyuapi makan dan buah yang tadi mereka bawa. Bahkan Cherryl membantu menyeka nek Mariam dengan setulus hati. Clay memperhatikan istrinya, ia baru tahu jika Cherryl memiliki hati yang tulus untuk membantu sesamanya.
Waktu besuk sudah habis, mereka berpamitan pada nek Mariam. Mereka juga berjanji akan menjenguknya lagi di lain hari.
"Terimakasih, ya nak sudah menjenguk nenek. Nenek doakan pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan."
"Terimakasih doanya, nek. Kami pamit dulu ya semoga nenek lekas sembuh," Clay dan Cherryl mencium punggung tangan nek Mariam setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan nek Mariam.
"Kasian ya nek Mariam, karena Miss Nina sibuk kerja jadi nggak ada yang nemenin nek Mariam di saat sakit," cetus Cherryl.
Clay merangkul bahu istrinya, mereka berjalan melalui lorong yang sepi. Langkah Clay terhenti ia merasakan jika ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, saat ia menoleh ke belakang tidak ada orang lain lagi, selain dirinya dan Cherryl yang ada di lorong tersebut.
"Kenapa? Clay," tanya Cherryl, ia heran kenapa suaminya menghentikan langkahnya.
"Ah... Tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang," Clay merangkul kembali bahu Cherryl dan meneruskan langkahnya.
Sesampainya di loby rumah sakit, ponsel Clay berdering.
Drrtt... Drrtt.
Sebuah panggilan masuk ke ponselnya, ia menatap benda pipih yang ada di tangannya. Rupanya panggilan dari nona Grace.
"Sebentar ada yang menelpon," ucap Clay, ia sedikit menjauh dari Cherryl saat mengangkat panggilan tersebut.
Cherryl mengangguk, sembari menunggu suaminya mengangkat telpon, dirinya duduk di ruang tunggu sambil menyebarkan pandangannya. Seorang wanita bercadar dengan kursi roda membuat pandangan Cherryl teralihkan.
"Eh, itukan ibunya Tiara!" Cherryl memicingkan kedua matanya untuk memastikan.
"Iya, bener itu ibunya Tiara. Ngapain ibunya Tiara di sini? Apa dia sakit?" Penasaran, Cherrylpun menghampiri wanita itu dan menyapanya.
"Tante!... Tante ibunya Tiara kan?"
Wanita itu diam.
"Oh, saya Cherryl. Teman sekolahnya mendiang Tiara," sahut Cherryl.
"Tante sedang apa di sini? Apa Tante sakit?" Sambung Cherryl, melontarkan pertanyaan.
Wanita itu tetap diam, tangannya mengisyaratkan pada suster itu agar segera membawanya pergi dari sana.
"Maaf, nona. Dokter sedang menunggu kami, permisi," ujar suster tersebut, yang berlalu pergi meninggalkan Cherryl.
Cherryl menatap wanita itu, alisnya bertaut merasa aneh dengan sikap ibunya Tiara.
"Kamu, aku cari-cari ternyata di sini," seru Clay, membuyarkan lamunan Cherryl.
"Tadi aku, liat ibunya Tiara. Aku tanya tapi dia nggak jawab."
"Oh itu, aku dengar dari Tiara kalau ibunya tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara."
"Hem.. pantes," Cherryl mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah ayo, kita pulang. Sebentar lagi mau hujan."
"Siapa yang telpon?" Cherryl bertanya sambil berjalan ke arah tempat mobil mereka terparkir.
"Kau kepo sekali," Clay mengacak-acak rambut istrinya sembari berjalan menuju mobil. Karena perbuatannya, akhirnya Clay harus merasakan sakit di pinggangnya karena Cherryl mencubitnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, memecah belah jalanan yang sudah lumayan kosong. Karena hari mulai gelap jadi orang-orang yang bekerja mungkin sudah berkumpul dengan keluarganya di rumah, sehingga jalanan sudah tak macet seperti tadi siang.
***
Kediaman Dhanuendra.
Miss Nina, sedang menerima panggilan dari rumah sakit. Wajahnya begitu terkejut saat mendengar kabar jika biaya pengobatan ibunya telah di bayar lunas oleh seorang gadis muda bernama Cherryl Divya Cestaro.
Manik matanya langsung berkaca-kaca, rasa bersalah menyeruak dalam diri wanita yang kerap di sapa Miss Nina tersebut. Selama ini ia selalu bersikap kasar pada majikannya itu, setelah mendengar cerita dari ibunya yang mengatakan jika kedua majikannya datang mengunjunginya dan membantu merawat sang ibu dengan tulus.
Ia merasa begitu malu, begitu kedua majikannya pulang Miss Nina langsung memegang tangan Cherryl dan meminta maaf pada keduanya sambil bersimpuh.
"Nona muda saya minta maaf, karena selama mengajar nona Saya sering kasar dan berani memukul nona. Saya minta maaf nona," Miss Nina, terdengar terisak.
Sementara Cherryl yang tidak tahu apa-apa, berusaha melepaskan tangannya dari Miss Nina. Meskipun dirinya adalah majikan Miss nina, tapi rasanya tidak pantas jika tangannya di cium oleh orang yang jauh lebih tua darinya.
"Miss, ini ada apa? Jangan seperti ini aku tidak enak."
"Maafkan saya nona, maafkan saya. Nona sudah baik pada saya tapi saya selalu kasar."
"Tidak apa-apa Miss, aku tahu Miss melakukan itu agar aku belajar dengan baik."
"Tidak nona, seharusnya saya tidak seperti itu. Seharusnya saya lebih sabar saat mengajari anda."
"Sudah Miss, aku sudah memaafkan Miss Nina. Sekarang Miss Nina bangun nggak enak di lihat sama orang-orang," Cherryl membantu Miss Nina berdiri.
"Terimakasih nona," ucap Miss Nina dengan wajah penuh penyesalan.
"Miss Nina, anda boleh cuti. Rawat dulu ibu anda setelah beliau sembuh Miss Nina boleh kembali ke sini," tutur Clay, ia juga memberikan selembar cek dengan jumlah uang cukup besar untuk keperluan Miss Nina dan ibunya selama dia cuti.
Miss Nina menerima cek tersebut, melihat nominal yang fantastis tangisnya kembali pecah entah ke berapa juta kali wanita itu mengucapkan kata terimakasih pada kedua majikannya tersebut.
***
Malam hari, Miss Nina pamit pada kedua majikannya juga bi Arum untuk cuti. Setelah melihat Miss Nina pergi Cherryl dan Clay masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.
"Miss Nina, kenapa sampai bersimpuh begitu?" tanya Cherryl, yang duduk di sebrang Clay.
"Mungkin dia hanya mengungkapkan, rasa terimakasihnya pada mu. Karena kamu sudah membayar biaya rumah sakit ibunya," jelas Clay.
"Hah, kapan aku membayar biaya rumah sakit ibunya Miss Nina?" Cherryl heran, perasaan ia tidak membayar biaya rumah sakit ibunya Miss Nina.
"Lupakan saja, yang penting Miss Nina sudah minta maaf padamu. Dan nek Mariam bisa segera di operasi."
"Aku tau... pasti kamu kan yang bayarin pake nama aku."
"Jika aku melakukannya, apa kau akan memberi imbalan padaku?" Clay tersenyum penuh arti.
Melihat tatapan Clay, yang menakutkan Cherryl langsung menguap dan berpura-pura mengantuk.
"Hoam.... Aku ngantuk, besok aku akan pikirkan imbalan apa yang pantas untuk mu," ujar Cherryl sembari meregangkan tangannya.
"Aku tahu kau hanya berpura-pura."
"Aku tidak pura-pura... lagi pula kita harus belajar, besok masih ada ujian kan."
"His, dasar kurcaci setiap aku merindukanmu kau selalu ingin belajar." protes Clay.
"Berhenti memanggilku kurcaci, dasar raksasa menyebalkan," ledek Cherryl
"Baiklah karena aku raksasa, aku akan melahapmu malam ini sampai habis," Clay berlari menuju Cherryl, gadis itu sudah menghindar tapi gerakan Clay begitu cepat sehingga ia menarik tangan Cherryl. Membuat gadis itu terduduk dalam pangkuannya.
"Kena kau! sekarang kau tidak bisa menghindar lagi dariku," Clay mengunci Cherryl dalam dekapannya.
"Lepaskan aku, raksasa jelek," ledek Cherryl meronta.
"Berani sekali kau mengatakan aku jelek, rasakan ini," Clay meluncurkan beberapa kecupan di wajah Cherryl.
Baru akan melakukan pemanasan, ponsel Clay berdering. Ia sudah mengabaikan panggilan itu, tapi ponselnya terus saja berdering mau tidak mau dengan berat hati ia mengangkat panggilan tersebut.
.
.
.
Bersambung...
Kasihan nasibmu Clay... Selalu ada aja gangguan hihihi gagal lagi deh.
gambar hanya pemanis, yang bersumber dari google.