
"Clay! Buka pintunya ... Papi udah nunggu kamu di meja makan," teriak Cherryl dari luar kamar.
"Kalian makan saja lebih dulu, aku belum lapar!" Sahut Clay.
"Kenapa? Kamu dari tadi belum makan, buka dulu pintunya."
Klek..
Pintu kamar terbuka.
"Apa kau tuli! Aku bilang aku tidak lapar kenapa kau keras kepala sekali!" Sentak Clay, membuat gadis itu berkaca-kaca
"Clay... Kau membentakku," lirih Cherryl hatinya terasa begitu sakit untuk pertama kalinya ia di bentak oleh sangsuami.
Begitu juga dengan Clay, hatinya merasa teriris saat melihat manik mata istrinya menahan tangis. Ingin ia memeluknya dan meminta maaf tapi ia tahan, semuanya demi keselamatan Cherryl agar mau menjauhi dirinya.
"Pergilah, jangan menangis di hadapanku aku tidak suka wanita cengeng seperti mu," seloroh Clay memalingkan wajahnya dari Cherryl.
"Clay apa salahku? Kenapa kamu jadi berubah seperti ini?... Aku tau kamu sedang sedih karena kehilangan Mamy tapi kenapa kamu melampiaskannya padaku?"
"Pergilah Ryl, jangan ganggu aku," usir Clay sembari menutup pintu kamarnya.
"Clay! Buka pintunya... Clay!" Cherryl menggedor-gedor pintu kamar suaminya, dadanya terasa begitu sesak saat Clay membentak dan membanting pintu di hadapan wajahnya.
Tidak ada angin dan hujan, kenapa tiba-tiba Clay berubah kasar pada dirinya. Setelah beberapa menit Cherryl berdiri di depan pintu kamar Clay, berharap pria itu membuka pintu dan meminta maaf pada dirinya. Namun sayang pria itu masih teguh dengan pendiriannya yang enggan keluar menemui dirinya.
Karena Clay yang bersikukuh tidak ingin keluar, gadis itu menyeka bulir beningnya dan memutuskan untuk kembali menuju ruang makan, dengan wajah yang biasa saja seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara dirinya dan juga sangsuami.
"Cherryl kenapa lama sekali?" Tanya papi Gerald, yang merasakan sesuatu telah terjadi di antara putra dan menantunya.
Nara dan sekertaris Rendi ikut menatap pada gadis cantik itu, mereka bahkan bisa melihat dari matanya yang merah karena menangis.
"Emm... Clay tidur pih, susah di bangunin," jawab Cherryl, yang kini duduk di samping adik iparnya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Papi Gerald menatap penuh selidik.
"Ah, tentu saja Pi," jawab Cherryl singkat ia memasang sebuah senyuman palsu di bibirnya.
Pria paruh baya itu menganggukan kepalanya, lalu melanjutkan makan malamnya.
Malam kian larut, semuanya terasa begitu sunyi dan hening. Semua kediaman Dhanuendra sudah lama tertidur mungkin karena hari ini adalah hari yang buruk dan melelahkan bagi mereka sehingga mereka dengan cepat masuk ke dalam dunia mimpi masing-masing.
Terkecuali Cherryl, gadis itu duduk sendiri di bangku taman menengadah kan wajahnya ke atas sembari menatap langit malam yang terlihat polos tanpa adanya bintang. Bahkan rembulan saja terlihat malu-malu untuk menampakan dirinya ia terus bersembunyi di balik awan hitam yang tertiup oleh angin.
Malam ini hanya ada keheningan dan kesepian yang menemani Cherryl, gadis itu sesekali menghembuskan napasnya secara kasar saat mengingat Clay membentaknya tanpa alasan yang jelas.
Tanpa terasa bulir beningnya kembali turun, ketika bayangan saat Clay menyentuhnya dengan hangat melintas dalam benaknya.
Gadis itu kembali terisak untuk meluapkan semua emosi yang ada dalam dadanya.
Dan di atas balkon kamar ada Clay, yang menatap sendu ke arah Cherryl yang sedang terisak di bangku taman.
Hatinya terus memaksa agar Clay menghampiri istrinya namun tubuhnya terasa begitu kaku untuk melangkah, lagi pula tujuannya sekarang adalah membuat istrinya benci pada dirinya. Ia takut jika dirinya berada di dekat Cherryl bahaya akan datang secara tiba-tiba.
Angin berhembus kencang, rasa dingin yang di bawa oleh angin begitu menusuk sampai ke tulang. Clay melihat pakaian yang di gunakan istrinya sangatlah tipis, Clay yang khawatir jika Cherryl sakit langsung memanggil salah seorang pelayan ke kamarnya untuk memberikan sebuah mantel pada gadis yang masih berada di taman.
"Berikan mantel ini pada Cherryl, jangan katakan jika ini pemberianku.. jika dia bertanya katakan saja kau berinisiatif sendiri," seru Clay, mengasongkan mantel bulu musang itu ke tangan pelayan.
Pelayan itu mengangguk, lalu pergi menuju taman tempat gadis itu berada. Cherryl mendengar derap langkah kaki menghampiri dirinya, sebuah senyuman terukir dari sudut bibirnya.
"Clay, aku tahu kau tidak akan tahan karena terlalu lama mendiamkan ku," gumam Cherryl. Gadis itu mengira jika orang yang datang itu adalah suaminya.
Namun begitu ia menoleh, senyum itu menghilang di kala seorang pelayan menyodorkan sebuah mantel tebal ke hadapannya.
"Maaf nona, mengganggu anda. Saya hanya ingin memberikan matel ini, udara sangat dingin jangan sampai anda sakit," ucap pelayan wanita tersebut.
Cerryl menatap getir mantel berbulu buatan luar negeri itu, ia tahu jika mantel itu adalah pemberian Clay. Gadis itu menoleh ke arah balkon kamar Clay yang sudah terlihat gelap, tanpa berkata apapun Cherryl meninggalkan pelayan itu yang masih memegang mantel pemberian Clay.
"Nona, mantelnya," panggil pelayan tersebut.
"Untukmu saja, aku tidak membutuhkannya," Cherryl terus melangkahkan kakinya menuju kamar wajahnya terlihat begitu kesal pada pria yang sedang mendiamkannya.
BRUGH...
Cherryl melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, membuat adik iparnya yang tadi tertidur menjadi terbangun akibat guncangan kasur busa dari tubuh Cherryl.
"Maaf aku membangunkan mu,tidurlah lagi ini masih malam."
Gadis belia itu bangkit dari tidurnya sembari menguap, ia mencoba membuka matanya yang lengket akibat rasa kantuk.
"Apa kakak bertengkar dengan kak Clay?"
"Tidak, aku baru selesai dari kamar mandi. Tidur lah lagi."
"Kakak, kau jangan berbohong padaku. Aku tahu kakak pasti sedang ada masalah dengan kak Clay, besok pagi akan aku beri pelajaran pada kak Clay karena sudah membuatmu menangis," oceh Nara sembari memukul-mukul kan tangannya ke udara, membuat Cherryl tersenyum karena melihat Nara yang begitu lucu, mulut dan tangannya terus mengoceh tapi kedua matanya tetap terpejam.
"Jangan lakukan apapun, tidak ada yang terjadi di antara kami berdua. Cepat tidur," Cherryl menarik selimutnya dan merebahkan tubuhnya begitu juga dengan Nara gadis yang baru saja kehilangan ibunya berbaring di samping Cherryl sembari memeluk tubuh kakak iparnya.
Kini kedua gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya, dan masuk ke dalam dunia mimpi masing-masing.
Sementara itu di lantai bawah, Miss Nina terlihat berjalan sembari mengendap-endap menuju dapur. Sikapnya begitu siaga ia menyebarkan pandangannya keseluruh ruangan, begitu di rasa rumah sudah sepi dengan cepat Miss Nina masuk ke area dapur.
Wanita itu memasukan tangannya ke dalam saku piama, dan mengeluarkan Sebuah botol kecil berisi serbuk putih dari dalam sakunya, wanita itu menyeringai saat menatap botol kecil yang ada di tangannya.
"Maafkan aku tuan muda, nona muda. Aku terpaksa melakukan ini," gumam miss Nina, tak ingin membuang waktu lama ia langsung mencampur serbuk putih itu pada semua bahan makanan yang akan di masak oleh koki besok.
Saat Miss Nina sedang menaburkan sisa serbuk itu pada bumbu dapur, suara yang terdengar berat mengejutkannya membuat botol kecil itu terjatuh menggelinding ke bawah meja.
"Sedang apa malam-malam di dapur?" Tegur sekertaris Rendi, niatnya untuk mengambil segelas air ia malah memergoki Miss Nina yang terlihat mencurigakan.
"Astaga sekertaris Rendi, anda mengejutkanku," sahut Miss Nina dengan nada genit.
"Kau tidak dengar aku bertanya?" Ketus sekertaris Rendi.
Wanita itu menghampiri sekertaris Rendi, untuk menutupi rasa gugupnya ia meletakan tangannya di dada bidang sang sekertaris.
"Jauhkan tangan kotormu itu dariku!" Ucap sekertaris Rendi menatap jijik.
"Ya ampun sekertaris Rendi, ternyata anda galak juga ya... Sangat menarik sekali," Miss Nina mengedipkan sebelah matanya, bukannya menjauhkan tangan dari sekertaris Rendi tapi wanita itu malah mengelus dada kekar sang sekertaris. Dan semakin mendekat pada pria es kutub tersebut.
Niat hati menggoda pria yang ada di hadapannya, tapi yang di dapat Miss Nina adalah sebuah pelintiran yang begitu menyakitkan pada bagian tangannya.
Ketika tangan miss Nina yang mulai merayap kemana-mana, dengan cepat sekertaris Rendi memutar tangan wanita itu kebelakang, tidak ada ampun bagi siapapun yang berani menyentuh dirinya juga sang majikan tuan Gerald. Tanpa rasa iba sekertaris Rendi akan mematahkan tangan-tangan yang berani menyentuhnya tanpa di perintah.
"A-ah, sekertaris Rendi lepaskan aku. Sakit sekali," ringis Miss Nina, ketika tangannya di pelintir.
"Sekali lagi kau berani, menyentuhku atau tuan Gerald aku tidak segan untuk mematahkan tangan kotormu ini," sekertaris Rendi memberikan ancaman pada Miss Nina, lalu pria es itu mendorong wanita itu jauh darinya.
Miss Nina berdecak kesal, dengan perasaan yang dongkol wanita itu meninggalkan sekertaris Rendi yang masih berada di dapur.
Sekertaris Rendi, menatap tajam pada punggung Miss Nina yang kini sudah menghilang di balik pintu.
"Bohay sih, tapi Nadiaku jauh lebih bohay dari wanita manapun," gumam sekertaris Rendi yang membayangkan tubuh istrinya yang tak kalah jauh dari Miss Nina.
Setelah membayangkan ke aduhaian sang istri, sekertaris Rendi membangunkan para koki untuk membuang semua makanan yang ada di dapur, ia menyimpan rasa curiga pada Miss Nina. Ia takut jika wanita itu sudah memasukan sesuatu ke dalam semua makanan yang ada di sana.
Sekertaris Rendi memperhatikan kinerja para koki, ia memperingatkan agar tidak ada yang tertinggal satupun makanan dalam kulkas maupun dalam lemari.
Setelah semuanya selesai, sekertaris Rendi mengecek satu persatu pekerjaan para koki setelah di rasa semuanya beres. Sekertaris Rendi menyuruh para koki untuk kembali tidur dan ia pun kembali menuju kamarnya.
***
Pagi hari, semuanya sudah berada di depan meja makan untuk menyantap sarapan pagi. Kecuali Clay yang lagi-lagi absen untuk makan bersama dengan keluarga.
Bi Arum menyiapkan susu kedelai untuk Nara yang memiliki alergi terhadap susu sapi, saat semuanya tengah menikmati sarapan pagi. Queenara yang duduk di samping Cherryl merasakan sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya.
Kepala gadis itu tiba-tiba terasa pusing setelah meminum susu kedelai tersebut, dan perutnya terasa seperti di aduk-aduk. Dalam hitungan detik gadis belia itu jatuh pingsan dengan mulut yang berbusa.
Sebuah seringai muncul di wajah seseorang, yang sedang memantau mereka di kejauhan.
.
.
.
Bersambung.