
Angin malam berhembus cukup kencang menyibakan kain tirai di kamar Cherryl. Tirai-tirai itu berterbangan seraya menari mengikuti irama dari tiupan angin.
Kesepian, kesunyian, kesedihan, kesendirian dan kesakitan yang saat ini menemani Cherryl.
Tidak ada suara yang menyuruhnya untuk bangun pagi, tidak ada yang menyuruhnya untuk belajar dan tidak ada lagi yang membuatnya kesal dan tidak ada lagi yang menggodanya di setiap malam.
Gadis itu selalu termenung menatap pintu kamar, berharap Clay akan datang dan memeluknya. Rasa rindu yang kian membuncah, membuat gadis itu kembali terisak ketika mengingat momen kebersamaan dirinya dan Clay.
Ia membuka album photo pernikahannya bersama Clay, gambar-gambar mesra dan senyum yang terpaksa membuat dada Cherryl semakin sesak. Sebab di balik gambar romantis itu tersimpan sejuta kenangan yang tak dapat dia lupakan.
"Clay peluk dong Cherrylnya," seru Mama Dewi memberi arahan.
"Ish Mama apa-apaan sih, peluk peluk geli iwh," protes Cherryl mendelikan matanya
"So jual mahal lo," cibir Clay pada istrinya.
"Lah emang gue mahal, kenapa lo nggak suka?" Ketus Cherryl.
"Ya ampun kalian malah berantem, sini Mama ajarin cara pose yang paling romantis." Mama Dewi menghampiri kedua anaknya dan memberi arahan membuat fotografer yang sudah di sewa Mamy Val tersenyum getir dan membatin.
"Nih Clay, kamu peluk pinggang Cherryl dan tangan satunya pegang tangan istri kamu. Nih kepalanya rapetin," Mama Dewi terus mengatur keduanya.
"Nah gitukan cakep," sambung Mama Dewi. "Senyumnya dong masa cemberut gitu, pasang senyum tiga jari kalian."
"Mama lo bawel banget ya, pusing gue dengernya."
"Ma! Clay bilang Mama bawel nih ma," adu Cherryl pada sangMama.
Pletak.
Clay menyentil dahi Cherryl.
"Aww, sakit tau.. gue laporin lo ya ke polisi atas dasar KDRT." Cherryl mengusap dahinya yang sakit.
"Ya lagian lemes banget sih punya mulut."
"Biarin mulut-mulut gue, kenapa lo yang repot."
"Lo bener-bener ngeselin banget ya jadi cewek."
"Bodo."
"Ish," Clay semakin merapatkan tubuh Cherryl dengannya.
"Eh, ngapain lo? Mau mesum ya?" Gadis itu melotot kan kedua matanya.
"Geer banget sih lo, emang Lo nggak pegel dari tadi pose kayak gini? Buruan deh, gue nggak tahan sama mulut Lo yang bau itu."
"Enak aja, Lo tu yang bau."
"Lo."
"Lo!"
"Astaghfirullahaladzim! Kalau kayak gini kapan selesai pemotretannya," protes Mama Dewi kesal melihat anak dan menantunya yang terus bertengkar.
Setelah mendapat jeweran di telinga masing-masing, akhirnya Clay dan Cherryl dapat melakukan photo prewedding dengan lancar meskipun di akhir mereka kembali beradu mulut.
Cherryl memeluk album photo pernikahannya, bulir bening kembali berderai di pelupuk matanya.
"Clay, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu hiks," Cherryl terisak dalam kesendirian.
***
Orang tua Cherryl dan papi Gerald berada di ruang tamu, mereka begitu cemas terhadap kondisi Cherryl. Sejak tragedi Clay hanyut gadis itu terus mengurung dirinya di dalam kamar.
Tidak makan dan minum, membuat semuanya semakin khawatir. Segala cara telah di lakukan oleh semua orang untuk membujuk Cherryl, agar mau keluar dari kamar untuk makan namun semuanya tidak berhasil.
Bahkan Aulya sendiri yang merupakan sahabatnya gagal membujuk Cherryl. Mama Dewi menghubungi Austin dan meminta tolong pada guru olah raga itu untuk membujuk putrinya.
"Cherryl... Kamu di dalam?" Austin mengetuk pintu kamar Cherryl.
"Ryl, buka dulu pintunya... Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, kamu maukan?"
"Pergi pak... Kenapa sih bapak masih di sini? Jika Clay tau bapak di sini nanti dia bisa marah," sahut Cherryl dari dalam.
"Dia tidak akan marah, karena aku ingin menghibur kamu."
"Pergi!!" Teriak Cherryl Sembari melempar vas bunga ke arah pintu.
Austin tak menyerah begitu saja, ia mendobrak pintu kamar Cherryl. Di lihatnya ruangan itu teramat sangat berantakan.
Keadaan Cherryl juga sangat mengkhawatirkan, kantung mata yang sudah seperti panda, rambut acak-acakan tubuhnya pun semakin kurus karena tidak mendapat asupan sama sekali.
"Pergi! Aku bilang pergi!" Cherryl terus mengusir Austin.
"Ryl kamu nggak bisa kaya gini terus, kamu nggak boleh terus larut dalam kesedihan. Kamu harus tetap semangat."
"Kau mencintai Clay?" Tanya Austin. Jujur hatinya sakit karena harus bertanya seperti itu, tapi hatinya jauh lebih sakit saat melihat keadaan Cherryl yang seperti ini.
Cherryl tak bergeming tetes bening kembali
Muncul di sudut matanya.
"Bagaimana jika Clay pulang dan melihat kondisimu seperti ini? Dia pasti akan merasa sedih, kamu nggak mau kan di saat Clay kembali dia malah sedih," sambung Austin menatap Cherryl iba.
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu, sekarang kamu nggak boleh sedih lagi. Kita sama-sama berjuang untuk mencari Clay, sekarang kamu mandi lalu kita makan di luar gimana?"
Cherryl menyeka air matanya, seperti mendapat angin segar gadis itu langsung beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Melihat Cherryl menuruti perintahnya, Austin sedikit menyunggingkan senyum. Iapun keluar dari kamar gadis itu dan menyuruh bi Arum untuk membereskan kamar Cherryl yang berantakan.
Gadis berambut panjang itu kini telah siap, meskipun dengan raut wajah murung. Tapi ia terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Sudah siap?" Austin kembali menghampiri kamar Cherryl.
Cherryl mengangguk, dengan lesu ia berjalan di samping Austin.
"Sayang, Mama seneng akhirnya kamu mau keluar dari kamar," seru Mama Dewi mengusap tangan Cherryl.
"Tante, om.. tuan Gerald saya ijin untuk membawa Cherryl makan di luar," ucap Austin.
Ketiga orang tua itu mengangguk, mengijinkan Austin membawa Cherryl. Setelah beberapa hari mengurung di kamar, gadis itu memang perlu atmosfer baru. Mungkin dengan berjalan-jalan keluar akan mengurangi rasa sedihnya.
Di dalam mobil Cherryl terus terdiam, ia hanya menatap kosong ke arah jalanan yang lumayan padat.
"Kamu mau makan apa Cherr?" Austin memecah keheningan.
"Terserah," jawab Cherryl singkat.
"Gimana kalau kita makan sushi, di tempat yang waktu itu?" usul Austin tersenyum pada gadis yang ada di sampingnya.
"Hemm," Cherry hanya berdeham.
Pria itu terlihat bingung, apa yang mesti ia katakan lagi pada Cherryl. Sejak tadi gadis itu hanya menjawabnya singkat.
Suasana mobil kembali hening, Cherryl tak melepaskan pandangannya dari jalanan. Sepersekian detik manik matanya menangkap sesuatu yang begitu familiar dalam kehidupannya.
"Hentikan mobilnya," pinta Cherryl tiba-tiba.
Austin yang terkejut kontan menginjak rem mobilnya mendadak, begitu mobil berhenti Cherryl langsung keluar dan mengejar sosok pria yang menyerupai Clay.
"Cherryl kamu mau kemana?" Austin melepaskan sabuk pengamannya dan mengejar Cherryl.
"Clay...Tunggu!"teriak Cherryl mengejar pria yang mengenakan sweater hitam.
Pria itu menyebrangi jalan raya, karena menggunakan headset jadi ia tak mendengar jika seorang gadis memanggilnya.
Begitu juga dengan Cherryl pikirannya yang kacau, terus mengikuti pria asing tadi. Jika saja Austin tidak cepat menarik tanganya mungkin ia sudah tertabrak oleh kendaraan yang berlalu lalang.
"Cherryl, apa yang kamu lakukan?" Sentak Austin kaget dengan tindakan Cherryl yang ceroboh.
"Tadi aku melihat Clay, iya aku melihat Clay," Cherryl terus menatap ke arah pria tadi pergi.
"Itu bukan Clay, itu orang lain."
"Bukan pak, itu Clay aku tau benar perawakan Clay. Aku yakin dia suamiku," seloroh Cherryl, sembari berusaha melepaskan tangannya dari Austin.
Seketika cengkraman Austin melonggar ketika Cherryl mengakui jika Clay adalah suaminya.
"Sebesar itukah rasa cintamu padanya, Ryl," lirih batin Austin, pria itu menatap nanar Cherryl.
"Pak ayo kejar, aku nggak mau kehilangannya lagi," suara Cherryl menyadarkan lamunan Austin, pria itu kembali mengeratkan genggamannya.
"Ryl itu bukan Clay."
"Bapak kenapa sih ngotot banget?Jelas-jelas itu Clay... Kalau bapak nggak mau nemenin aku buat cari Clay. Ya udah aku bisa cari sendiri," cerocos Cherryl kesal pada Austin yang terus menghalangi dirinya.
Austin mengusap wajahnya kasar, ia mulai jengah dengan sikap Cherryl yang semakin keras kepala.
"Oke, oke aku temenin kamu buat nyari orang tadi... Asal dengan syarat jika itu terbukti bukan Clay kamu harus menerima semua kenyataan ini," dengus Austin kesal.
Cherryl menganggukan kepalanya cepat. Merekapun pergi mencari keberadaan pria bersweater hitam tadi.
.
.
.
Bersambung....