Wedding Secrets

Wedding Secrets
Segera pulang.



"Sudahlah Ryl, kita udah nyari orang itu kemana-mana tapi kita tidak menemukannya," keluh Austin. Kakinya sudah terasa pegal karena hampir seharian menemani Cherryl mencari pria sweater hitam tadi.


"Sebentar lagi, aku yakin dia pasti masih di sekitar sini." Cherryl terus mengedarkan pandangannya, tanpa rasa lelah ia mengecek satu persatu toko di sekitar sana.


Austin hanya bisa bersabar menghadapi Cherryl, ia membiarkan gadis itu mengecek satu persatu toko yang ada di sana. Sementara dirinya memantau sembari beristirahat, menyelonjor kan kakinya yang sudah tidak kuat lagi berjalan.


Tak berselang lama, terdengar suara Cherryl memanggilnya. Memberitahukan jika ia sudah menemukan pria tadi.


Austin bangkit dari duduknya, dan menghampiri Cherryl. Tapi pria itu terkejut saat melihat gadis itu sudah terjatuh dan pria yang mengenakan sweater hitam serta topi tadi sedang menyentuhnya.


"Hei, apa yang kamu lakukan padanya?" Austin mendorong tubuh pria tersebut.


"Ah, maaf. Saya tidak sengaja...Saya pikir tadi dia copet jadi refleks saya mendorongnya," ucap pria sweater hitam. Membungkukkan badannya.


"Baiklah, kau boleh pergi," titah Austin yang membantu Cherryl bangun.


"Mana yang sakit? Apa ada yang terluka?" Austin mengecek siku Cherryl.


"Anda benar pak, dia bukan Clay," lirih Cherryl tertunduk lesu.


"Maaf aku membuat anda susah," sambung Cherryl. Manik matanya mulai berkabut.


Austin hendak memeluk Cherryl, tapi niatnya di urungkan karena ia sadar jika Cherryl telah menjadi istri orang lain. Bahkan suaminya sendiri yang menitipkan Cherryl agar Austin dapat menjaga gadis itu dengan baik meskipun, Clay mengatakan jika terjadi sesuatu padanya. Austin boleh menggantikan posisinya tapi pria itu tak ingin mengambil kesempatan, ia masih berharap jika Clay bisa di temukan dalam kondisi selamat.


"Jangan bersedih, Bukankah tujuan kita pergi ke luar itu untuk makan. Sebaiknya kita mencari restoran di sekitar sini saja... Perut saya sudah lapar." Austin menyentuh perutnya yang sudah keroncongan.


Gadis itu diam, ia hanya mengikuti Austin kemanapun membawanya.


"Kamu mau makan apa?" Austin mengasongkan buku menu kehadapan Cherryl.


"Terserah, aku akan memakannya."


Austin menarik kembali buku menu itu dan memesan dua makan yang sama untuk dirinya dan Cherryl.


Pria itu menatap Cherryl dalam lalu, menyentuh tangannya yang ada di atas meja.


"Ryl, saya tahu. Kamu sedang bersedih dan merasa kehilangan Clay tapi, saya mohon jangan terlalu larut... Kamu harus bisa membuka lembaran baru banyak orang yang sayang sama kamu, mereka juga ikut sedih melihat keadaan kamu sekarang," Austin menatap Cherryl penuh pengharapan.


"Saya mohon kembalilah seperti Cherryl yang dulu, masa depan kamu masih panjang... Setidaknya kamu lakukan ini untuk Clay buat dia bangga dengan prestasi kamu, saya yakin Clay akan bahagia jika kamu juga bahagia Ryl."


Cherryl terdiam, ia melepaskan tangannya dari Austin. Sampai keduanya selesai makan Cherryl masih diam membisu.


***


Sungai kenanga,


Sepulang dari restoran Cherryl meminta Austin agar mengantarnya ke sungai kenanga, tempat dimana Clay menghilang. Dengan segala syarat yang di ajukan Austin pada Cherryl akhirnya pria itu mau mengantar gadis tersebut ke sana.


Austin memegang tangan Cherryl erat, ia takut jika gadis itu akan melakukan hal nekat lagi untuk mencari Clay.


"Pak bisa lepasin tangan saya sebentar?" Ucap Cherryl menatapnya sendu.


"Maaf Ryl, tadi kita sudah buat perjanjian kalau kamu akan terus di dekat saya," tolak Austin semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Hanya sebentar, aku berjanji tidak akan macam-macam."


"Janji?"


"Emm," Cherryl mengangguk.


Austin melepaskan tangannya, meskipun ragu tapi ia tidak ingin membuat Cherryl tidak nyaman berada di sisinya.


Cherryl maju beberapa langkah menuju bibir sungai, ia menarik napasnya panjang.


"Clay! Kamu dimana? Aku merindukanmu! Pulanglah Clay...Papi dan Nara sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, aku mohon... Pulanglah Clay kau sudah terlalu lama pergi dariku!" Teriak Cherryl membuat orang-orang yang berada di sekitar sungai merasa teriris ketika,mendengar ucapan Cherryl yang meminta agar suaminya segera kembali.


Gadis itu jatuh berlutut sembari terisak.


Bulir bening menetes dari sudut mata Austin, saat melihat Cherryl berlutut sambil terisak. Ia tak sanggup melihat keadaan Cherryl yang begitu kehilangan separuh jiwanya.


Austin menghampiri Cherryl, tangis gadis itupun pecah saat Austin memeluknya. Pria itu tak dapat berkata apapun, ia semakin mengeratkan pelukannya dan membiarkan Cherryl menangis dalam dekapannya.


"Clay, bukankah kamu berjanji akan kembali dalam keadaan baik-baik saja... Lalu, kenapa sampai saat ini kamu belum pulang juga?" ucap batin Austin, ia mengusap air matanya yang jatuh.


***


Kediaman Dhanuendra.


Semua orang sedang berkumpul di ruang tamu, mereka menatap ketua tim SAR dengan raut wajah yang serius.


Mereka berharap jika pria berseragam orange itu membawa kabar baik namun, sayang harapan hanya tinggal harapan ketua tim SAR itu dengan berat hati memberikan kabar yang begitu memilukan pada keluarga Dhanuendra dan Cestaro.


Pria itu menarik napasnya dalam, berusaha menyampaikan berita pahit ini sehalus mungkin agar keluarga dari korban tidak begitu syock dengan apa yang di sampaikannya.


"Sebelumnya saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada tuan Gerald dan tuan Cestaro... Kedatangan saya kemari ingin menyampaikan sebuah berita yang bisa di bilang sangat memilukan setelah, kami melakukan penulusuran di sungai kenanga selama berhari-hari dan sampai saat ini kami masih belum bisa membawakan hasil. Dan sekali lagi saya sangat mohon maaf karena tidak bisa melanjutkan kembali pencarian saudara Clayton," ucap ketua tim SAR penuh sesal.


"Kenapa, pak?" Tanya papi Gerald terkejut dengan keputusan pria yang ada di hadapannya.


Ketua tim SAR itu kembali menjelaskan semuanya secara detail, raut wajah papi Gerald dan besannya langsung berubah sendu. Ketiganya mau tidak mau harus merelakan kepergian Clay meskipun, jasad pemuda itu masih belum di temukan tapi ketua tim SAR mengklaim kemungkinan besar jika Clayton telah meninggal dunia.


Papi Gerald terus menguatkan diri dengan kabar buruk yang di terimanya, dan Nara gadis belia itu memeluk ayahnya dengan erat sambil menangis.


Begitu juga dengan Mama Dewi yang menangis di pelukan suaminya Sementara, itu Cherryl yang baru pulang langsung mematung di ambang pintu.


Kakinya langsung lemas saat mendengar pernyataan dari pria berbaju orange tersebut. Austin menyentuh pundak Cherryl tapi di tepis olehnya.


Tatapannya berubah menjadi kosong, Mama Dewi menghampiri Cherryl. Menyadarkan putrinya yang terus terdiam dan mematung.


"Sayang, kamu yang sabar ya kamu harus iklaskan kepergian suami kamu," Mama Dewi mengusap punggu Cherryl.


"Ma, Clay belum meninggal... Pi papi percayakan kalau Clay masih hidup? Nara kamu juga percayakan kalau kakak kamu masih hidup?" Cherryl menghampiri satu persatu orang yang ada di hadapannya.


"Pa, papa juga percayakan," Cherryl menatap nanar ayahnya berharap sangAyah satu pendapat dengan dirinya.


"Cherryl, dengerin papa-."


"Jangan bilang kalau papa lebih percaya om ini di banding aku... Clay masih hidup pah," timpal Cerryl memotong ucapan ayahnya.


"Kak Cherryl," lirih Nara merasa kasihan pada kakak iparnya yang tidak bisa menerima keputusan jika kakaknya telah tiada.


"Om, apa om punya bukti jika suami saya telah meninggal? Lalu dimana jasad Clay? Jawab aku om! Anda pasti berbohongkan, anda tidak punya bukti sama sekali kenapa seenaknya mengatakan jika suami saya meninggal," Cherryl tersenyum getir pada pria yang ada di hadapannya dan Pria dengan rambut hampir memutih itu tak bisa mengatakan apapun karena psikologis Cherryl sedang tidak stabil.


"Pokoknya selama tubuh Clay belum di temukan jangan pernah ada yang mengatakan jika Clay meninggal!" Sentak Cherryl kemudian ia pergi menuju kamarnya.


"Cherryl, tunggu!" Mama Dewi memanggil putrinya dan hendak menyusul Cherryl tapi Austin melarangnya.


"Tante, biarkan Cherryl meredamkan amarahnya lebih dulu. Dia hanya perlu waktu untuk bisa menerima semuanya," ujar Austin menenangkan Mama Dewi.


****


Keesokan harinya, berita baik di terima oleh papi Gerald. Petugas SAR memberitahukan jika jasad Clay telah di temukan. Karena kondisinya sudah tak dapat di kenali, tim forensik melakukan autopsi dan hasilnya sama dengan DNA papi Gerald.


Begitu jasad Clay di bawa ke rumah, Cherryl dan Nara tak kuasa menahan tangisnya. Kedua gadis itu terus memeluk peti yang berwarna putih.


Sampai Clay selesai di makamkan, Cherryl dan Nara masih belum ingin beranjak di atas pusara Clay.


.


.


.


Bersambung.