
Mohon di skip area 18+
"Kau tidak berubah, dari dulu tetap saja menyebalkan Rick." Cherryl mendengus sambil mendorong kecil bahu Erick.
"Jangan salahkan aku, aku hanya di suruh suamimu," kekeh Erick, sebenarnya sejak dari tadi ia berusaha menahan tawanya Agar tidak ketahuan oleh Cherryl. Tapi melihat kesungguhan Cherryl yang membela Clay, Erick jadi terbawa suasana.
"Kalian semua menyebalkan... Terutama kau!" Cherryl menunjuk tepat di hidung Clay.
"Aku?" Clay mengerutkan dahinya.
"Ya kau, Clayton. Selain menyebalkan kau juga jahat, bisa-bisanya kau mengutuku tidak boleh mati," cerocos Cherryl. Membuat Clay tersenyum.
"Jika aku mengijinkan kamu mati, bagaimana denganku? Kau akan membiarkanku menjadi duda keren," celotehnya mencolek hidung Cherryl.
Cherryl mencubit pinggang Clay."His, kau saja membuatku menjadi janda selama lima tahun lebih."
"Tapi sekarang, statusmu sudah berubah lagi menjadi istriku kan." Clay menimpali ucapan Cherryl.
"Hem... Dasar menyebalkan, kenapa kau melakukan sandiwara seperti ini? Tidak bisakah kau mengatur pertemuan kita secara romantis?" Keluhnya, ia kesal karena harus mengeluarkan tenaga untuk marah-marah.
"Aku hanya ingin tahu, seberapa besar cintamu padaku. Dan aku juga ingin tahu bagaimana reaksimu jika orang-orang mengatakan kalau aku pengecut," jelas Clay.
"Apa, penantianku selama lima tahun ini masih kurang untukmu?"
"Sebenarnya itu sudah cukup, dengan kamu memutuskan untuk tidak mencari pengganti ku, kau sudah membuktikan ternyata kau memang mencintaiku. Tapi, karena aku merindukan mu saat marah jadi aku memutuskan untuk membuat drama seperti ini... Sepertinya itu cukup menguras emosimu," kekeh Clay, mengusap pipi Cherryl.
"Kau benar-benar menyebalkan... tapi aku sangat merindukanmu." Cherryl kembali memeluk suaminya.
"Aku juga sangat merindukanmu."
Keduanya hanyut dalam suasana, mereka sampai lupa jika ada dua orang yang sedang menyaksikan mereka berpelukan.
"Ekhem... Clay, apa tidak sebaiknya kalian kembali ke hotel," ujar Erick memberi saran.
"Bilang saja kau iri," sindir Clay yang senagaja memanas-manasi Erick.
"Jangan bilang kau masih jomblo sampai sekarang Rick," seru Cherryl terkekeh.
"Aku tidak jomblo, tapi aku single tau," jawab Erick ketus.
"Sama aja kali, Rick." Jawab Clay dan Erick serempak.
"Ck, eh Ryl urusan kita belum selesai ya. Gara-gara sepatu kamu, punggung ku jadi sakit," decak Erick. Menyuruh Albert mengusapnya.
"Salah sendiri ngapain bikin kesel, jadinya begitukan."
"Tapi kan Clay yang nyuruh."
"Ya udah, minta tanggung jawab aja sama dia."
"Sudah-sudah, kenapa jadi berantem. Sebaiknya kita kembali ke hotel," ajak Clay pada Cherryl.
Kedua orang yang sudah lama terpisah itu meninggalkan Erick dan Albert di restoran, mereka berjalan bergandengan seperti mau menyebrang. Seolah tak ingin lepas Clay mengeratkan genggamannya.
Sementara Erick yang iri dengan kemesraan sahabatnya, hanya bisa menggandeng lengan Albert yang berada di sampingnya.
"Tuan, bisakah anda melepaskan tangan saya?" Ujar Albert menatap tangan Erick yang melingkar di lengannya.
"Ish, bapak ngapain sih gandeng-gandeng tangan saya geli tau," dengus Erick berlalu meninggalkan Albert, dan Albert hanya menggelengkan kepalanya kecil menatap punggung Erick yang menghilang di balik pintu.
"Drama macam ini? Sungguh tidak jelas," gumam batin Albert, sembari menghela nafas.
***
Teratai hotel.
Di atas ranjang berukuran king size, kedua sejoli itu tengah meluapkan rasa rindu yang terpendam selama bertahun-tahun.
Clay tak melepaskan genggaman tangannya pada Cherryl. Begitu juga dengan gadis itu yang terus memeluk pinggang Clay dengan erat.
"Sayang, lalu mayat itu siapa?" Cherryl mendongakan kepalanya ke arah Clay.
"Entahlah, aku juga tidak tahu... Tapi aku menyuruh Nona Grace untuk menukar DNA nya dengan milik papi."
Cherryl menatap wajah suaminya sendu.
"Kenapa?"
"Komplotan wanita itu belum habis semuanya, aku harus mengejar salah seorang anak buah Helen yang menyimpan banyak rahasia tentangnya. Jadi aku sengaja memanipulatif kematianku, agar memudahkan mencari orang itu." Jelas Clay pada istrinya.
"Oh ya aku baru ingat, kenapa kau begitu bodoh meloncat ke sungai begitu saja?" Clay menatap marah pada Cherryl.
"Apa aku harus diam saja saat melihat suamiku jatuh ke sungai?"
"Tapi itu bahaya, kau tidak bisa berenang bagaimana jika kau kenapa-kenapa?" Clay terus mengomeli istrinya, tak hanya meloncat dari sungai bahkan ia juga memarahi aksi bundir yang di lakukan oleh Cherryl.
"Berisik deh Clay, kenapa kamu jadi bawel sih," Cherryl menjauh dari suaminya yang terus mengoceh.
"Aku bawel karena sayang sama kamu, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu"
"Tapikan, buktinya aku tidak kenapa-kenapakan," jawab Cherryl santai.
"Kau yakin?" Clay kembali menatap Cherryl penuh arti.
Cherryl mengangguk, polos.
"Kalau begitu, bisakah kita melakukannya sekarang?" Clay mendekatkan wajahnya pada Cherryl.
Gadis itu menelan ludahnya kasar, suhu tubuhnya pun mendadak jadi panas dingin saat wajah Clay berada tepat di hadapannya. "A-aku mau pipis," Cherryl mendorong tubuh Clay, tapi pergerakan Clay yang cepat membuat gadis itu tak bisa berkutik lagi. Kini ia telah berada di bawah Kungkungan suaminya.
"Jangan menunda lagi, aku sudah cukup bersabar menunggu momen ini," lirih Clay berbisik di telinga Cherryl membuat gadis itu meremang.
"Aku akan bercerita setelah mendapatkan hak ku, sebagai suami," jawab Clay.
Tanpa membuang waktu pria itu langsung mengecup seluruh wajah istrinya, lalu m*lum*at habis bibir ranum yang bertahun-tahun tak ia sentuh.
Cherryl pasrah dengan pergerakan yang di lakukan Clay, tubuhnya semakin menggeliat saat suaminya mulai menyusuri setiap inci bagian tubuhnya.
"Bersiaplah, aku akan melakukannya," bisik Clay sembari menggigit kecil telinga istrinya.
"Apa itu sakit?" Tanya Cherryl, wajahnya memerah saat Clay berhasil membuka seluruh pakaiannya.
"Kau belum pernah melakukannya?" Tanya Clay kaget.
"Kau gila, kau pikir aku wanita seperti apa yang akan melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan," sentak Cherryl memanyunkan bibirnya.
Clay kembali terkekeh, saat melihat istrinya cemberut.
"Baiklah, maafkan aku. Terimakasih karena sudah menjaga kesucian mu untukku." Clay mencium bibir Cherryl.
"Tahan ya, katanya itu sakit tapi aku akan melakukannya pelan-pelan," kata Clay, mengecup kening istrinya.
Clay membuka celananya, mata Cherryl yang suci kini telah ternodai. Karena melihat tongkat ajaib yang sudah siap menyerangnya. Wajahnya berubah menjadi tegang saat tongkat itu mulai menyentuh area sensitifnya yang sudah basah.
Cherryl mer*emas bahu Clay, saat senjata milik suaminya dengan perlahan menerobos gua sempit miliknya.
"Clay, sakit," rintihnya.
"Untuk pertama kali memang sakit, jika kita malakukannya lebih sering rasa sakit itu akan berubah menjadi kenikmatan. Bahkan kau akan ketagihan," terang Clay sambil tersenyum.
Setelah beberapa menit, Clay berjuang menerobos gua sempit itu akhirnya tongkat ajaibnya berhasil menerobos masuk dan merobek selaput darah milik Cherryl.
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk keduanya, setelah malam pengantin yang beberapa kali tertunda akibat teror dan mereka terpisah selama lima tahun lebih, kini keduanya bisa merasakan sensasi malam pertama sebagai pasangan pengantin yang sudah kedaluwarsa.
Suara ******* di antara keduanya memecah keheningan malam. Di bawah selimut Cherryl dan Clay telah di banjiri oleh keringat, hentakan demi hentakan terus di lakukan Clay membuat gadis yang kini bukan perawan itu melayang ke atas awan.
Hingga pada akhirnya, suara lenguhan panjang dari keduanya terdengar begitu merdu, ketika Clay telah menyemburkan ribuan calon bayinya pada sel telur milik Cherryl.
Clay tersenyum bahagia, saat melihat bercak darah di atas sprei putih. Ia begitu bangga pada istrinya di tengah gempuran zaman yang semakin edan Cherryl berhasil mempertahankan kesuciannya dengan baik.
Clay ambruk di samping istrinya, ia melingkarkan tangannya ke atas perut Cherryl lalu mencium pipi sang Istri.
"Terimakasih sudah menjaganya untukku," bisik Clay dengan napas tersengal.
"Hemm," jawab Cherryl singkat, ia sedang merasakan rasa perih dan panas di bagian bawahnya.
"Sakit, ya?"
Cherryl mengangguk pelan.
"Maaf," lirih Clay merasa bersalah karena sudah membuat Cherryl kesakitan.
"Aku mau ke air," Cherryl beranjak dari tempat tidurnya, tapi rasa sakitnya membuat gadis yang sudah bukan perawan itu sulit untuk melangkah.
Clay yang tahu istrinya ke susahan berjalan, ia langsung menggendong Cherryl menuju kamar mandi. Pria itu mendudukkan istrinya di atas closet.
"Kau mau apa? Biar aku bantu," tanya Clay lembut.
"Tidak usah, sebaiknya kamu keluar. Aku bisa sendiri," sahut Cherryl, ia merasa malu karena suaminya terus memindai dirinya yang tak mengenakan apapun.
"Kau yakin?"
"Iya, cepetan sana keluar!"
"Hem, baiklah. Jika butuh sesuatu panggil saja."
"Hemm."
Clay pergi meninggalkan Cherryl yang berada di kamar mandi sendirian, ia menjatuhkan tubuhnya yang lelah, karena sudah beradu peluh untuk pertama kalinya.
Bayangan wajah Cherryl yang sedang meringis kesakitan akibat di perawani olehnya terbayang-bayang dalam benaknya membuat pria itu tersenyum bahagia.
Demi kenyamanan, Clay membereskan tempat tidurnya dan mengganti sprei yang sudah terkena noda darah dengan kain yang baru.
Setelah beberapa lama menunggu, Cherryl keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono. Gadis yang sudah tidak perawan itu berjalan seperti penguin membuat pria yang ada di atas ranjang tertawa karena melihat cara berjalannnya.
"Sayang, kenapa cara jalan kamu begitu?" Kekeh Clay. Membantu istrinya naik ke atas ranjang.
"Ih, pake ketawa lagi. Inikan perbuatan kamu," ketusnya sebal.
"Maaf, maaf jangan ngambek dong. Kalo ngambek kamu malah makin gemesin deh." Clay mencubit pipi Cherryl.
"Aku sudah melayanimu, sekarang ayo cepat cerita," Cherryl masih saja penasaran pada cerita Clay kenapa, dirinya bisa menghilang dalam waktu yang lama.
"Sayang, lihat ini sudah pukul tiga pagi sebaiknya kita tidur. Aku berjanji akan menceritakannya lagi besok."
"Kau janji?"
"Iya,Sayang. Ayo tidur." Clay membaringkan istrinya lalu mendekapnya dengan hangat.
Di bawah selimut yang tebal, keduanya saling memeluk satu sama lain. Clay mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala sang Istri, kemudian keduanya mulai terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
Bersambung.