Wedding Secrets

Wedding Secrets
flashback bagian 7: trik murahan



Musim demi musim telah berganti, dari musim duren sampai rambutan sudah terlewati. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari musuh, bahkan Miss Nina yang di tugaskan di kota X sampai sekarang belum memberi kabar apa pun mengenai suster Eni.


Clay hampir menyerah, dan meminta pada Grace untuk mengurus kepulangannya ke kota Edelweis. Tapi, Grace mengusulkan agar bosnya tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan.


Pasalnya Grace takut, jika Clay kembali pada keluarganya musuh itu akan langsung menyerang. Karena kelemahan Clay terdapat pada keluarganya.


Lagi pula keluarganya dan Cherryl, sudah menganggap Clay meninggal beberapa bulan lalu. Selain mengelabui musuh, mayat yang di temukan juga berguna untuk kelancaran misi mereka mencari orang yang telah membantu Helena dari kebakaran tempo lalu.


Laporan demi laporan mengenai Rosa yang semakin berani, banyak di terima oleh Grace. Sekertaris itu sudah berkali-kali menegur Rosa akan tetapi, wanita itu tetap saja selalu membuat masalah.


Kali ini Grace mendapat laporan dari seorang cleaning servis, yang mengeluh lelah membersihkan kamar Rosa. Cleaning servis itu mengaku jika dirinya bisa membersihkan kamar Rosa sampai lima kali dalam sehari.


Grace mendatangi kamar Rosa, dan benar saja kamar Rosa sudah menyerupai gudang sampah. Kulit kuaci dan kacang berserakan dimana-mana, bungkus permen dan makanan ringan tergeletak begitu saja. Bahkan kasurnya saja sudah tak menyerupai tempat tidur, ranjang itu di penuhi oleh remah-remah biskuit dan tumpahan air.


Bau tak sedap pun menyeruak dari dalam lemari milik Rosa, membuat Grace dan pelayan lain hampir muntah saat berada di kamar tersebut. Sekertaris itu menyuruh pelayan untuk mengecek lemari Rosa, dan pemandangan menjijikan pun terpampang jelas ketika lemari itu terbuka.


Grace yang tidak kuat menahan rasa mual langsung melarikan diri ke kamarnya, dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Honey, kamu kenapa?" Kevin menghampiri kekasihnya.


"Perut aku mual," jawab Grace kembali muntah.


"Honey kamu hamil?" Celoteh Kevin, bahagia.


"Kau gila, coba kamu datangin tuh kamar si Rosa ... Astaga bau banget." Grace mencuci wajahnya yang memerah.


Kevin mengerutkan dahinya, karena penasaran dia pun mendatangi kamar Rosa. Benar yang di katakan oleh kekasihnya kamar itu benar-benar sangat kotor. Kevin menegur wanita itu tapi, respon Rosa sangat tidak baik.


Mendengar keributan dari lantai utama Clay menghampirinya, dan apa yang di perbuat oleh Rosa? Wanita itu pura-pura terjatuh seolah-olah telah di intimidasi oleh Kevin dan Grace.


"Mbak Rosa, mbak kenapa?" Clay membantu Rosa bangun.


" Dokter Kevin dan Nona Grace menyiksaku," jawab Rosa terisak.


Kevin membulatkan matanya, terkejut dengan pengakuan Rosa yang jelas tidak dia lakukan.


"Tuan, anda jangan percaya. Dia berbohong," Kevin berusaha meyakinkan Clay.


"Tidak tuan, saya punya bukti jika dokter Kevin dan Nona Grace melakukan kekerasan pada saya." Rosa menunjukan luka lebam di tubuhnya, membuat Clay menatap tajam pada Kevin.


"Dari mana dia mendapatkan luka-luka itu," gumam Kevin, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Vin, kamu kalau tidak suka dengan Mbak Rosa sah-sah aja. Tapi, nggak usah pakai kekerasan kayak gini," tegas Clay pada Kevin.


"Tapi, aku sungguh tidak melakukan apa pun menyentuh saja aku tidak pernah."


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu. Sekarang kamu minta maaf sama Mbak Rosa."


"Aku, minta maaf." Kevin tersenyum kecut menatap remeh pada Rosa.


"Gue, nggak nyangka deh sama lo. Lo lebih percaya sama cewek yang baru lo kenal di banding sahabat lo sendiri," sambung Kevin kesal.


Kedua pria itu terlibat percekcokan, Kevin pergi meninggalkan Clay. Ia juga tidak lupa membawa Grace dan penjaga lain pergi dari mansion tersebut.


Melihat kedua orang kepercayaannya pergi, Clay hanya terdiam. Tidak mencegah atau melakukan apapun, dia lebih memilih kembali ke kamarnya di banding harus melihat drama yang tidak penting.


Sementara Rosa, tersenyum sinis saat melihat orang-orang itu pergi meninggalkan Clay sendirian di mansion.


Rosa mengetuk pintu kamar Clay, dan meminta maaf atas kejadian tadi. Karena dirinya, orang-orang yang setia di sisi Clay menjadi pergi.


Rosa memeluk Clay dari belakang, wanita itu menyandarkan kepalanya di punggung pria tersebut.


"Jiang, Nona Grace mengatakan jika aku tidak pantas bersanding denganmu. Dia bilang jika kau berlian dan aku hanya remahan rengginang memangnya, apa tidak boleh jika aku yang Remahan rengginang ini mencintai berlian seperti mu," lirih Rosa.


Clay menyentuh tangan Rosa hangat, untuk pertama kalinya pria yang selalu dingin pada Rosa itu merespon ucapan wanita tersebut dengan baik.


"Grace salah, mbak bukan remahan rengginang. Tapi, mbak juga berlian. Berlian langka yang pernah aku temui."


"Benarkah itu?" Rosa tersipu malu.


"Benar, kecantikan mu saja mengalahkan segalanya."


"Emm ... Jika di bandingkan dengan istrimu siapa yang lebih cantik?"


"Tentu saja mbak, aku hanya melihat istriku dalam Photo saja jika mbak aku bisa melihatnya secara langsung."


Clay membalikan tubuhnya, menghadap ke arah Rosa. Pria itu menyelipkan rambut Rosa yang tertiup angin pada telinganya.


"Jiang, aku sangat mencintaimu ... Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul tapi setiap kali melihatmu jantung ku selalu berdebar. Meskipun kau selalu mendiamkan aku dan bersikap dingin, semua itu tak merubah rasa cintaku padamu," Rosa mengungkap semua isi hatinya pada pria yang ada di hadapannya.


"Aku juga mencintaimu, maaf jika selama ini sikapku membuatmu merasa tidak nyaman." Clay mengelus pipi Rosa lembut, membuat wajah wanita itu menghangat.


"Jiang, benarkah kau mencintaiku?" Rosa menatap manik mata Clay ia mencari ketulusan yang terpancar dari sorot mata pria tersebut.


"Tentu saja." Clay tersenyum pada Rosa, sebuah senyum yang penuh arti.


"Tapi, usiaku lebih tua darimu," cetus Rosa merengut.


"Jangan membicarakan usia mbak, usia itu hanya angka yang tak ada artinya yang terpenting sekarang adalah kita saling mencintai dan tak akan ada yang memisahkan kita."


"Lalu, bagaimana dengan istrimu?" Rosa melepaskan pelukannya dan menundukkan kepalanya sedih.


"Mbak jangan khawatir, dia tidak akan tahu dengan hubungan kita."


"Tapi, aku tidak mau jika aku hanya di jadikan kekasih gelapmu Jiang."


"Apa yang mbak inginkan dariku?"


"Aku ingin kamu menikahi ku, ayah juga sudah setuju jika kita menikah."


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya," ucap Clay. Rosa kembali memeluk Clay dengan senyum bahagia, impiannya menjadi orang kaya hanya tinggal selangkah lagi.


"Aku pikir kalian semua pintar, hanya dengan trik murahan saja kalian bisa tertipu dan bertengkar begitu saja." Seringai licik muncul di sudut bibir Rosa.


"Jiang, aku pergi dulu. Aku akan memberi tahu ayah berita baik ini." Sebelum ia pergi, Rosa meninggalkan sebuah kecupan di pipi Clay. Begitu juga dengan Clay ia mendaratkan kecupan singkatnya di dahi Rosa.


.


.


.


.


Bersambung.