
"Panggil seluruh pelayan dan tim keamanan, geledah seluruh kamar mereka. Jika kalian menemukan sesuatu bawa kehadapan ku!" Titah sekertaris Rendi yang mengerahkan semua anak buahnya, untuk menggeledah satu persatu kamar para pelayan yang bekerja di kediaman Clay.
Semua pelayan terlihat tegang, saat sekertaris Rendi menatap mereka dengan sorot mata yang tajam. Ia mengerutkan dahinya saat salah satu dari pegawai itu hilang.
"Dimana wanita bernama Nina?" Dengus Rendi, yang sudah menyangka jika pelaku itu adalah wanita yang ia temui di dapur tadi malam.
"Anda mencari saya tuan," sahut Miss Nina yang berjalan dengan santai menuju sekertaris Rendi dengan handuk kecil di lehernya.
"Dari mana kau?" ketus sekertaris Rendi.
"Saya habis olah raga, memangnya ada apa tuan? Kenapa semuanya tampak tegang?" Ujar Miss Nina melihat ke sekitar.
"Tutup mulutmu, dan katakan pasti kau yang sudah meracuni nona Nara!" Tuduh sekertaris Rendi pada Miss Nina, tatapan pria itu seperti akan memakan wanita itu bulat-bulat.
"Apa! Nona Nara di racuni?" Sentak Miss Nina terkejut.
"Berhenti untuk berpura-pura! Kau mengaku atau aku jebloskan kau ke penjara sekarang juga!"
"Astaga tuan, saya berani bersumpah saya tidak melakukan hal itu," elak Miss Nina, tak terima dengan tuduhan yang di layangkan oleh sekertaris Rendi.
"Kau pikir aku tidak tahu, semalam aku melihat mu memasukan sesuatu ke dalam semua masakan yang ada di dapur, kau masih mau mengelak!"
Glek...
Miss Nina menelan ludahnya kasar, ia langsung diam membantu ketika sekertaris Rendi mengatakan jika dirinya melihat Miss Nina memasukan sebuah serbuk ke dalam semua makanan.
Wanita itu seketika mengerutkan dahinya merasa heran, padahal semalam ia melihat jika pria dingin itu telah membuang semua makanan yang ada di dapur tapi kenapa bisa adik dari majikannya itu terkena racun?
"Kau masih tidak mau mengaku hah!" Sentak sekertaris Rendi, membuat Miss Nina terhenyak.
Pria itu terus mendesak dirinya agar mengakui perbuatannya, berbagai macam ancaman di layangkan oleh sekertaris Rendi membuat wanita itu terpojok dan kehabisan kata-kata untuk mengelak.
Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, ketika sekertaris Rendi mengancam akan menghabisi orang terdekatnya jika dirinya masih tetap tidak mengakui perbuatannya.
Saat ia akan membuka mulutnya, untuk mengaku seorang penjaga membawa sebuah tas berisi banyak racun dan juga seorang pelayan ke hadapan sekertaris Rendi.
Brukk...
Pelayan wanita itu terjatuh dan bersimpuh di hadapan kaki sekertaris Rendi karena di dorong oleh seorang keamanan.
"Tuan saya menemukan serbuk mencurigakan ini dari dalam kamarnya," ujar pria berkepala plontos itu, yang menyodorkan barang bukti ke tangan sekertaris Rendi.
"Kurang ajar! Berani sekali kau melakukan ini!" Teriak sekertaris Rendi pada pelayan tersebut.
"M-maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk membunuh nona Nara," pelayan itu memegang kaki sekertaris Rendi berharap pengampunan dari pria yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
Sekertaris Rendi menepis pelayan itu, tapi wanita itu kembali memegang kakinya "Saya mohon tuan, maafkan saya. Saya tidak berniat menyakiti siapapun, sebenarnya racun itu untuk Miss Nina. Saya hanya iri padanya dia baru bekerja di sini tapi sudah mendapatkan banyak kompensasi dari tuan muda Clay, sementara saya yang sudah berbulan-bulan bekerja di sini belum pernah mendapatkan sedikitpun kompensasi," jelas pelayan tersebut sambil terisak.
Bi Arum begitu terhenyak saat mendengar pernyataan dari pelayan tersebut, sebab sebagai kepala pelayan dirinya telah gagal dalam membimbing anak buahnya bahkan ia juga lalai karena tidak memastikan susu kedelai itu aman atau tidak untuk di konsumsi.
Sekertaris Rendi, menoleh pada bi Arum menunggu penjelasan dari wanita yang sedang berdiri dengan kening yang berkeringat.
Sementara Miss Nina yang sedang menyaksikan drama di depannya hanya menyunggingkan senyum tipis saat melihat kepala pelayan itu di panggil ke ruang keamanan oleh sekertaris Rendi.
"Bawa dia ke kantor polisi, dia pantas mendapatkan hukuman penjara atas perbuatannya.... Dan kau ikut aku sekarang!" Seru sekertaris Rendi pada kepala pelayan.
Dua orang keamanan dengan sigap menyeret pelayan itu ke luar, cengkraman mereka begitu kuat membuat pelayan yang sedang berontak itu tak bisa lepas dari tangan kekar mereka.
*****
Bougenville Hospital
Papi Gerald, Clay dan juga Cherryl terlihat begitu cemas saat menunggu dokter keluar dari ruang UGD yang sedang memeriksa keadaan Nara.
Papi Gerald terus saja mondar mandir di depan ruangan itu, dengan raut wajah penuh ke khawatiran.
Clay duduk di sudut ruangan menundukan wajahnya dan bertumpu pada tangannya yang di kepalkan.
Dan Cherryl ia terus memperhatikan ayah mertuanya yang sejak dari tadi tidak berhenti bulak balik seperti setrikaan.
Cklek...
Seorang pria yang mengenakan jas putih itu keluar dari ruangan tersebut, papi Gerald yang penasaran dengan keadaan putrinya langsung menanyakannya pada dokter.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" Tanya papi Gerald.
"Alhamdulillah putri anda sudah membaik, beruntung pasien di bawa ke rumah sakit dengan cepat. Sehingga kami bisa mengeluarkan racun itu dari dalam tubuh pasien... Jika terlambat sedikit saja pasien akan kehilangan nyawanya," dokter itu menjelaskan pada papi Gerald.
"Saya boleh melihat putri saya dok?"
"Silahkan, tapi saya harap kalian bergantian untuk menjenguknya karena pasien sedang beristirahat. Kalau begitu Saya permisi dulu tuan," ucap dokter tersebut, yang berlalu pergi meninggalkan keluarga Dhanuendra.
Papi Gerald masuk lebih dulu, sementara Clay dan Cherryl duduk di depan ruangan sambil menunggu giliran.
Tidak ada yang berbicara di antara mereka, Cherryl yang notabenenya gadis ceria dan cerewet kini ia berubah menjadi gadis pendiam dan murung.
Clay melirik pada Cherryl sekilas, hatinya terasa begitu kehilangan karena tidak bisa mendengar ocehan Cherryl yang bisa membuatnya kesal.
Hufftt.
Cherryl menghembuskan napasnya kasar, ia menyenderkan tubuhnya di kursi sembari berpikir keras mengenai musibah yang datang secara bertubi-tubi menghampiri keluarga suaminya,"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa musibah terus-terusan melanda keluarga papi Gerald? Apa semua ini masih ada hubungannya dengan kematian Mamy Val?" Gadis itu memijat keningnya terlalu banyak teka-teki yang begitu rumit untuk di pecahkan.
"Gue harus selidiki semua ini," gumam Cherryl ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi tapi Clay menahan tangannya.
"Kau tidak boleh pergi kemana-mana, tanpa ijin dariku atau papi," ucap Clay dingin.
Cherryl tersenyum kecut menanggapi ucapan Clay "Kenapa? Bukankah semalam kau yang memintaku untuk pergi darimu."
"Duduklah, ini bukan waktunya untuk beradu argument."
"Cih," decak Cherryl yang kembali duduk di samping Clay. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Aulya.
📨
[Al, temuin gue di kantin rumah sakit Bougenville hospital.]
Ting.
[Lo sakit? Cher.]
📨
[Nggak usah banyak tanya, buruan ke sini ada hal penting yang gue mau omongin sama lo.]
Ting...
[Oke gue otw, sekarang.]
Pesan berakhir.
Papi Gerald baru saja keluar dari ruangan Nara, gadis yang masih terbaring lemah itu kini di pindahkan ke ruang rawat VVIP dengan pengawalan yang begitu ketat.
"Pi, Cherryl ijin ke kantin dulu ya... Ada yang mau di beli,"
"Aku akan mengantarmu," sambar Clay, masih dengan nada datar, ia ingin Cherryl menjauhinya tapi keadaan memaksanya untuk terus berada di samping istrinya.
"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri," cetus Cherryl.
Gadis itu melenggang pergi meninggalkan mertua juga suaminya, Clay ingin mengikuti tapi tangannya di tahan oleh papi Gerald.
"Biarkan dia sendiri, papi sudah menyuruh anak buah papi untuk mengawasi Cherryl."
Clay kembali duduk di sofa yang ada di ruang VVIP itu, wajahnya terlihat lelah karena terus memikirkan keadaan keluarga juga nasib pernikahannya.
"Aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini, aku harus bisa menemukan pembunuh Mamy, agar keluargaku tidak terus-terusan ada dalam bahaya," gumam batin Clay.
Yang bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang rawat adiknya.
"Clay, kamu mau kemana?" Tanya papi Gerald, yang melihat putranya pergi begitu saja.
Pria itu pergi tanpa menghiraukan sangayah yang terus memanggilnya.
.
.
.
Bersambung
Terimakasih karena sudah membaca sejauh ini, mohon dukungan, like komen dan vote. Kritik dan saran juga boleh.
stay healthy all of you readers😘