
Pinky menangis sembari memegangi kepalanya yang benjol sebesar bakpao, sementara Blue berusaha menghentikan tangisan adiknya itu.
Clay hanya menggelengkan kepalanya, melihat dua orang dewasa aneh yang ada di hadapannya.
Dokter Kevin yang saat itu sedang berkeliling di lantai dua, tanpa sengaja melihat kedua tuyul sedang berada di taman bersama Clay.
Merasa ada yang tidak beres, Dokter muda itu turun dari sana dan menghampiri Clay dan Pinky Blue atau Kevin menyebutnya tuyul kembar. Padahal kepala mereka tidak botak tapi, entah kenapa pria kulit sawo matang itu selalu memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Ada apa ini?" Tanya Kevin pada ketiga orang yang sedang berkumpul.
Clay mengangkat kedua bahunya, lalu pergi meninggalkan Kevin dan dua tuyul kembar tanpa mengatakan apa pun.
"Sudah hilang ingatan, masih aja kayak orang kutub," gerutu Kevin sebal, karena Clay mengabaikannya.
"Heh, tuyul kalian kenapa?" ketus Kevin.
"Dokter, tolong lihat kepala adikku ... Sepertinya dia terluka," ucap Blue menyentuh tangan Kevin.
"Astaga! Berapa sih umur kalian? Sudah tua masih saja seperti anak-anak ... Ini lagi kenapa kau menangis?" Kevin terus saja memarahi kedua pria yang ada di hadapannya.
"Dia memukulku Dokter," jawab Pingky tersedu.
"Aku tidak sengaja memukulmu," elak Blue.
"Bohong! dia pasti sengaja."
"Tidak ... Aku berkata jujur, aku tidak sengaja memukulnya."
Kedua anak kembar itu, saling beradu mulut tanpa henti. Kevin tampak menahan amarahnya ia menghembuskan nafasnya kesal lalu, menarik telinga kedua orang yang ada di depannya.
"Aduh, aduh duh," rengek Blue dan Pinky.
"Cepat katakan, kenapa kalian bisa di dekat tuan muda? Bukankah tugas kalian di depan gerbang."
Kedua orang itu saling sikut satu sama lain, Kevin yang tidak sabaran kembali menarik kuping keduanya dengan keras.
"Aduh, aduh. Sakit Dokter," ringis Blue.
"Mangkanya cepat katakan!"
"Pinky menyuruhku untuk memukul kepala Tuan muda, katanya biar tuan muda bisa kembali ingat."
"Hei! kenapa jadi aku? Bukankah kau yang mengajaku," tegur Pinky tak terima dengan tuduhan kakaknya.
"Diam!" teriak Kevin. "Aku tidak perduli siapa yang memiliki ide lebih dulu. Asal kalian tahu memukul kepala itu bukan solusi baik, yang ada akan menambah cidera di kepala Tuan Muda. Kalian mau di jebloskan ke penjara?" Ujar Kevin, masih belum melepaskan tangannya di telinga Blue dan Pinky.
Si kembar menggelengkan kepalanya serentak, setelah di beri ceramah panjang kali lebar dari Kevin. Keduanya pun pergi, kembali pada tugasnya menjaga gerbang kedamaian.
"Dasar bocah tua, bisa-bisanya Grace memilih orang seperti itu untuk mengawasi Rosa. Ingin rasanya aku menendang mereka jauh dari sini," Kevin terus menggerutu sambil berjalan.
***
Kamar Kek Darmo.
Clay mengetuk pintu kamar, setelah mendapat ijin dari sang Pemilik ruangan Clay masuk untuk melihat keadaan orang yang sudah menolongnya.
"Bagaimana kondisi Kakek?" Clay duduk di tepi ranjang.
"Dokter Kevin bilang, darah kakek tinggi, gula darah kakek juga tinggi dan Kakek kekurangan cairan," ujar Kek Darmo menunjukan tangannya yang masih di infus.
"Oh iya kek, Kakek sama Mbak Rosa kenapa bisa di tinggal di hutan?"
Senyum Kakek Darmo menghilang saat Clay mengajukan pertanyaan tersebut. "Dulu kami sempat tinggal di kota, setelah Rosa kehilangan ibunya ia jadi gadis yang pemurung dan bergaul dengan orang-orang yang bar-bar. Kakek kira dia sangat terpukul dengan kepergian ibunya sehingga ia terjerumus ke dalam lingkungan yang tidak baik, dan demi kebaikan Rosa kakek membawanya ke hutan itu agar dia terjauh dari pergaulan yang buruk."
"Lalu bagaimana Kakek bisa mendapatkan bahan pokok?"
"Sebulan sekali, Kakek selalu pergi ke kota untuk menjual ikan hasil tangkapan kakek dan uangnya Kakek belikan untuk kebutuhan sehari-hari."
Clay mengangguk-angguk kan kepala, sembari memijat kaki Kek Darmo.
"Jiang," kakek Darmo menyentuh tangan pemuda yang sedang memijatnya.
Clay menatap wajah Kek Darmo, sembari tersenyum.
"Maaf, jika sebelumnya saya lancang. Kakek sudah tua dan merasa hidup Kakek tak lama lagi, Kakek ingin melihat Rosa bahagia sebelum kakek pergi meninggalkannya. Kakek ingin melihat Rosa menikah dengan pria yang baik yang bisa menjaga dia dengan penuh tanggung jawab, dan semenjak Rosa bertemu kamu Kakek melihat kebahagiaan muncul dalam dirinya ... Nak Jiang, tidak ada pria lain lagi yang bisa kakek percaya selain kamu. Jadi bisakah Kakek menitipkan Rosa pada mu ... tolong nikahi dia dan jaga dia dengan baik," tutur Kakek Darmo, menatap Clay sendu.
Pemuda itu menjauhkan tangannya dari Kakek Darmo, ia begitu terkejut dengan permintaan Kakek Darmo yang tidak mungkin bisa ia kabulkan.
Nona Grace mengatakan jika dirinya sudah menikah, dan sebentar lagi ia akan memiliki anak tidak mungkin bagi dirinya untuk menikahi wanita lain. Apalagi ia tidak mencintai Rosa selain jarak usia yang berbeda jauh, Clay juga tak menyukai kepribadian Rosa yang selalu bertingkah aneh.
"Kakek tahu, usia kamu dan Rosa jauh berbeda. Tapi, usia itu hanya angka Jiang. Jika kalian bisa melengkapi satu sama lain semuanya akan baik-baik saja," tutur Kakek Darmo. Ia menyimpan harapan besar pada Clay agar pemuda itu setuju dengan permintaannya.
Ia tidak ingin menyakiti hati pria baik yang sudah menyelamatkannya, di tambah lagi Kevin mengatakan jika kakek Darmo mempunyai riwayat sakit jantung dia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa kakek Darmo hanya karena mengetahui kebenaran tentang status dirinya yang merupakan suami orang.
***
Aula mansion,
Rosa sedang melihat-lihat lukisan dan barang-barang antik yang ada di sana, tangannya menyentuh satu per satu perabotan unik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Setelah puas berada di aula mansion, wanita itu kembali menyusuri setiap ruangan yang ada di mansion mewah milik Clay.
"Ya ampun, rumah ini besar sekali. Kaki ku rasanya tidak sanggup lagi untuk berkeliling di sini." Rosa duduk di salah satu anak tangga yang menuju ke lantai tiga, sembari memijat kakinya yang pegal.
"Kamu siapa? Dan sedang apa di sini?"
Suara bariton Dokter Reza membuat Rosa terperanjat, gadis itu menundukan wajahnya di hadapan pria bertubuh tinggi dan besar.
Dokter Reza memiringkan kepalanya, ia penasaran dengan wajah wanita yang tertutup oleh rambut panjang itu.
"Kau pencuri ya!" Tuduh dokter Reza.
"B-bukan, saya bukan pencuri," ucap Rosa mengangkat wajahnya.
"Astaga ... Dia cantik sekali," gumam batin Dokter Reza, senyumnya seketika merekah. Ia pun masuk ke dalam dunia khayalan dimana dirinya dan Rosa berlari-lari di taman bunga, bersenda gurau, berpelukan dan ——
"Hei, kau pasti sedang melamun jorok kan?" Suara Kevin membuyarkan lamunan Dokter Reza.
"Dasar, bocah tengil menganggu khayalan ku saja," umpat dokter Reza sebal.
"Air liur mu sampai menetes, bukannya bekerja malah berhalusinasi," gerutu Kevin pada calon pamannya.
Reza menjitak kepala Kevin, tapi tatapannya masih saja tertuju pada Rosa yang sedang menahan senyumnya.
"Ah, sakit tau," ringis Kevin.
"Hey, kau bocah. Kau mau, aku tidak memberi restu pada hubunganmu dengan Grace?" Ancam Reza pada Kevin.
"Jangan seperti itulah Om, aku ini pria satu-satunya yang paling cocok untuk Grace."
"Cih, kau pikir pria tampan cuman dirimu saja. Masih banyak pria yang lebih tampan dan mapan di luaran sana, Grace juga pasti tidak akan menolak jika aku menjodohkannya dengan pria lain," decak Reza sengaja memanasi Kevin.
"Heuh, jika saja kau bukan Om pacarku, sudah aku jahit mulutmu," gerutu batin Kevin sebal.
"Sana pergi, jangan mengganggu kesenangan ku," Reza mengusir Kevin dari hadapannya.
"Dasar bujang lapuk," ledek Kevin sembari berlari.
"Apa yang kau bilang! Awas saja, aku akan menyuruh Grace untuk membatalkan pernikahan kalian," teriak Reza pada Kevin.
Dokter dengan kacamata tebal itu kembali fokus pada wanita yang ada di hadapannya.
"Bidadari cantik seperti mu, datang dari mana?" Reza mulai mengeluarkan gombalan mautnya.
"Aku berasal dari Ceratophyllum," jawab Rosa malu-malu.
"Ceratophyllum? Astaga ... Jadi mitos tentang bidadari itu memang benar adanya dan sekarang aku sedang melihat bidadari itu secara langsung." Reza menggelengkan kepalanya, mendalami perannya sebagai seorang buaya darat.
"Anda terlalu berlebihan Tuan, saya hanya gadis biasa yang tumbuh besar di hutan,"ujar Rosa kembali menundukkan kepalanya.
Dokter Reza menghampiri gadis tersebut, ia berputar mengelilingi Rosa. Menyentuh dan mencium rambutnya, membuat wanita itu salah tingkah.
"Hemm ... Aaahh, rambut ini begitu wangi. Jika aku boleh tahu shampoo apa yang kau pakai?"
"Em ... Maaf tuan, sebenarnya saya belum keramas selama satu minggu. Tapi, apa benar rambut saya masih wangi?" Cetus Rosa polos.
Mendengar penuturan Rosa yang seperti itu membuat ekspresi Reza berubah menjadi suram, dia menghempaskan rambut Rosa dan mengusapkan tangannya pada celana yang dia kenakan.
"Ahaha, wangi itu sangat wangi." Reza mengangguk-anggukan kepalanya sembari mundur beberapa langkah dari Rosa lalu, ia memanggil salah seorang pelayan agar membantu wanita itu membersihkan diri.
Setelah Rosa pergi bersama pelayan, Reza kembali ke ruangannya sembari menggerutu.
"Hais, bisa-bisanya wanita cantik seperti dia tidak keramas selama satu minggu sangat menjijikan," omelnya dalam batin.
.
.
.
Bersambung.