
POV Cherryl.
Lima tahun telah berlalu, aku berusaha untuk keluar dari keterpurukan. Namun entah kenapa takdir seolah mengatakan jika aku tidak boleh untuk bahagia.
Perusahaan papa bangkrut dan papa meninggal akibat serangan jantung, tak berselang lama Mama juga menyusul kepergian papa.
Begitu juga dengan papi Gerald dan Nara, mereka harus kembali ke kota marigold karena Nara harus melanjutkan pendidikannya di sana.
Tidak ada satupun orang yang menemaniku di saat-saat terberat, satu-satunya orang yang aku harapkan untuk memberi semangat adalah Austin. Aku pikir dia adalah orang yang dapat memegang tanganku di saat aku terjatuh namun, pada kenyataannya dia juga pergi meninggalkanku. Pria yang dulu sangat aku idamkan, lebih memilih menikah dengan Aulya sahabatku sendiri.
Aku tidak tahu pasti, sejak kapan mereka memiliki hubungan spesial. sebab dia selalu menemaniku di saat aku kehilangan Clay.
Terkadang aku selalu marah pada Clay, di saat aku mulai jatuh cinta padanya dia malah pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Aku hanya bisa mengumpat dari dalam hati, mengatai jika pria paling jahat itu adalah kau.
Ya, Clay kau pria paling jahat yang pernah aku temui. Kau bilang kau akan menghadapi semuanya bersama, kau bilang akan selalu melindungi ku. Cih, kau pembohong Clay.
Aku sangat marah padamu, aku menyuruhmu pulang ke rumah agar kita bisa bersama tapi, kau malah pulang ke rumah tuhan.
Aku sangat membencimu Clay, benar- benar membenci kamu! Aku telah mencoba berbagai macam cara untuk mengakhiri hidupku namun, upayaku selalu gagal. Dulu kau mengatakan jika dirimu tak akan mengijinkan aku mati, tapi kau sendiri malah mati!.
Bertahun-tahun aku berusaha untuk bangkit, dan kembali bersemangat. Menata kehidupan dan masa depan yang berantakan.
Aku masuk ke sebuah universitas, yang dulu telah di siapkan Mamy Val untuk kita berdua. Aku sempat menolak satu kampus dengannya akan tetapi, di saat pria jahat itu tiada aku malah mengosongkan satu bangku yang bertepat di sampingku.
Banyak yang mencibir dan mengatai jika aku gila, sebab dari pertama aku masuk kuliah sampai akhirnya lulus sarjana. Aku selalu menyiapkan satu bangku kosong untuknya.
Aku tahu, Clay sudah pergi untuk selamanya namun entah kenapa? Perasaanku selalu mengatakan jika cinta pertama dan terakhirku masih hidup dan berada di sampingku sepanjang hari.
Banyak yang bertanya padaku, kenapa aku menyebut Clay sebagai cinta terakhir? Karena bagiku tidak ada pria lain lagi yang bisa membuatku jatuh cinta selain pria dingin dan menyebalkan seperti dia.
Sejak Clay pergi aku memutuskan untuk membuka hati pada Austin, namun hatiku kembali di patahkan saat mengetahui jika Austin dan Aulya mengkhianatiku. Dan semenjak itu hingga sekarang, aku tidak mau lagi membuka hati pada siapapun.
Cukuplah nama Clay yang tertulis dalam hatiku untuk selamanya.
Setelah lulus kuliah, papi Gerald menyarankan agar aku bekerja di perusahaannya bersama nona Grace, tapi aku menolak tawaran baik itu. Karena aku ingin mengejar cita-citaku.
Berbulan-bulan aku terus menunggu panggilan tersebut, dan setiap detik aku selalu mengecek e-mail di ponsel berharap ada satu e-mail yang masuk dan memberi tahukan jika aku di terima. Namun, sayang tidak ada satupun kabar dari maskapai yang selalu aku idam-idamkan dari sejak smp itu.
Mungkin karena postur tubuhku yang tidak terlalu tinggi membuat mereka menolakku.
Aku pun menyerah, dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Di saat aku di terima oleh perusahaan sebagai sekertaris, maskapai itu menghubungiku dan mengatakan jika aku lulus sebagai kriteria seorang pramugari.
Perusahaan maskapai itu mengundangku untuk melakukan interview ulang, setelah semuanya selesai. akupun bersiap menjalankan tugas sebagai seorang pramugari yang akan melayani setiap penumpang pesawat dengan baik.
Sebelum aku malakukan tugas penerbangan untuk pertama kalinya, aku memutuskan berziarah ke makam orang tuaku, Mami Val dan juga Clay untuk berpamitan.
Aku menatap satu persatu batu nisan, ketiga orang yang aku cintai. Rasanya masih seperti mimpi jika mereka sudah kembali pada Sang pencipta.
"Mah, pah Lihat putrimu sekarang. Aku sudah berhasil keluar dari keterpurukan... Mama dan papa tidak usah khawatir lagi, aku sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku berjanji akan selalu membuat kalian bangga, maaf jika selama kalian hidup aku sering membuat kalian susah. Berbahagialah kalian di surga Mah, Pah."
"Hai Mamy Val, apa kau sedang bersama putramu? Bisakah Mamy menarik telinganya untuku? Aku sangat kesal padanya, karena telah membuatku menangis dalam waktu yang cukup lama. Mam, apa kalian bahagia di sana? Apa kalian juga bertemu dengan kedua orang tuaku? Apa di sana jauh lebih indah dari pada di sini? Aku sangat merindukan kalian semua."
Tanpa terasa derai air mata yang hampir mengering kini kembali membasahi kedua pipiku, aku memeluk batu nisan bertuliskan nama Clay. Berat bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal padanya namun, aku harus tetap melakukannya. Karena aku akan pergi jauh, terimakasih Clay kau telah hadir dalam hidupku meskipun singkat tapi itu cukup berkesan.
Besok aku akan mulai bekerja berkeliling dunia seperti yang pernah aku katakan padamu, terimakasih sudah mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat. Aku tidak akan melupakanmu, berbahagialah di sana Clay aku sudah mengikhlaskan kepergian kamu.
GOOD BYE MY LOVE.
Aku pergi.
.
.
.
.
Bersambung...