Wedding Secrets

Wedding Secrets
jadi istri saya



Cherryl berjalan dengan lesu, ia mengedarkan pandangannya mencari supir yang di maksud oleh seniornya tadi.


"Nona Cherryl!" Seorang pria berusia 35 tahun menghampirinya.


"I-iya, bapak siapa?"


"Kenalkan, saya Albert. Supir yang di utus untuk menjemput anda," jelas Albert pada Cherryl.


"Oh," jawab Cherryl mengerutkan dahinya.


"Kok, dia bisa tahu gue ya?" Gumam batin Cherryl heran, padahal ini kali pertamanya dia datang ke kota X ini.


"Ah, mungkin pak manajer yang memberikan informasi tentang gue ke dia," Cherryl berusaha berpikir jernih.


"Silahkan Nona," pria berparas bule itu, menuntun Cherryl menuju mobilnya.


Manik mata gadis itu membulat sempurna, ketika Albert membukakan pintu mobil Limosin untuk dirinya.


"Pak, i-ini nggak salah?" Cherryl menoleh ke arah Albert, barangkali pria itu salah menjemput orang.


"Anda Nona Cherryl Divya Cestaro kan?"


"Iya."


"Benar, ini memang di siapkan untuk anda. Silahkan Nona. Tuan sudah menunggu."


"Tuan? Bapak bukan penculik kan?" Cherryl mundur beberapa langkah dari Albert, karena takut pada pria yang ada di hadapannya.


Albert terkekeh mendengar pernyataan Cherryl, yang mengira dirinya penculik.


"Saya, hanya seorang supir Nona. Yang akan mengantarkan anda ke hotel Teratai, lagi pula mana berani saya menculik anda. Saya masih sayang dengan nyawa sendiri," Albert menerangkan pada Cherryl.


"Lalu, Tuan?" Cherryl bertanya penuh selidik.


"Ah, itu. Bukankah Anda di tugaskan untuk meminta tanda tangan padanya? Sebaiknya anda bergegas sebelum anda kehilangan pekerjaan," ujar Albert mengalihkan pembicaraan.


Cherryl masuk ke dalam mobil, dengan penuh kewaspadaan. Suasana Limosin yang sangat nyaman tak mempengaruhi sikap waspada gadis tersebut, ia terus memasang kuda-kuda. Bahkan dia juga sudah menyiapkan alat kejut listrik untuk berjaga-jaga jika pria di hadapannya berbuat macam-macam.


Setelah perjalanan selama dua jam, akhirnya Limosin itu berhenti di depan hotel Teratai. Hotel terbesar yang ada di kota X, gadis itu pun dapat bernapas lega sebab yang di khawatirkan olehnya tidak terjadi.


Begitu Cherryl turun dari mobil, dia melihat beberapa orang menyambutnya dengan meriah, membuat mulut gadis itu menganga tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Pak Albert, apa kita nggak salah tempat?" Bisik Cherryl pada supir yang mengantarnya.


"Tidak Nona, silahkan masuk." Albert mempersilahkan Cherryl berjalan di depan. Sementara dirinya mengekor di belakangnya sembari membawa koper milik Cherryl.


Hamparan karpet merah dan hujan kelopak bunga turut menyertai langkah kaki Cherryl, ia semakin mengerutkan dahinya sambil tersenyum. Ia merasa ada yang aneh kenapa orang-orang asing ini memperlakukan dirinya seperti tamu penting?


Albert menuntun Cherryl sampai depan kamarnya, ia memberikan kunci kamar hotel tersebut pada gadis yang masih terlihat bingung.


"Nona, silahkan anda beristirahat. Nanti pukul tujuh malam saya akan menjemput anda kembali."


"Eh, bapak mau kemana?"


"Ada yang harus saya kerjakan, Nona tidak usah takut banyak cctv yang terpasang di sini. Saya permisi Nona." Albert pergi meninggalkan Cherryl yang masih mematung di Depan pintu kamar hotel presidential suite.


Setelah pria bule itu pergi, Cherryl masuk ke dalam kamar. Matanya kembali terbelalak saat melihat kamar hotel yang begitu luas lengkap dengan segala macam fasilitas canggih.



"Astaga, udah berapa lama gue nggak tidur di ruangan seluas ini?" Cherryl melempar tas kecilnya ke sembarang arah lalu, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size.


Gadis itu tersenyum sendiri saat merasakan empuknya kasur yang ada di ruangan presidential suite, ia merentangkan kedua tangan dan kakinya melepaskan rasa penatnya setelah penerbangan jarak jauh.


"Hemm, seandainya Clay masih hidup. Mungkin aku akan merekomendasikan hotel ini sebagai tempat untuk berbulan madu," ucap Cherryl. Kemudian ia tertidur dengan lelap tanpa memikirkan hal-hal yang yang ia takuti sebelumnya.


***


Pukul tujuh malam.


Albert beserta empat orang pelayan perempuan masuk kedalam kamar Cherryl, mereka melihat gadis itu masih tertidur pulas.


Salah seorang dari pelayan perempuan itu membangunkan Cherryl, gadis itu terperanjat saat melihat sudah banyak orang dalam kamarnya. Padahal pintunya sudah di kunci rapat kenapa orang-orang ini bisa masuk? Begitulah pikir Cherryl yang masih mengumpulkan sebagaian kesadarannya.


"Maaf, Nona. Saya lancang membangunkan Anda, ini sudah waktunya untuk acara pertemuan," cetus Albert.


"Pertemuan? Pertemuan apa?" Cherryl menggosok kedua matanya sembari menguap.


"Silahkan, anda membersihkan diri. Keempat pelayan ini akan membantu anda untuk berias."


"Pak, bukannya saya di tugaskan untuk menemui seseorang dan hanya meminta tanda tangan. Kenapa saya mesti berias di bantu sama mereka? Saya bisa sendiri ko,"


Cherryl menatap punggung Albert, kemudian ia menoleh ke arah para pelayan yang ada di kamarnya.


"Siapa sih orang itu? jadi penasaran."


***


Dengan dress hitam, yang memamerkan bahu indahnya. Cherryl terlihat begitu cantik, rambut panjang yang di sanggul dengan gaya modern memperlihatkan leher jenjangnya membuat gadis itu semakin memancarkan aura yang tidak biasa



"Perasaan cuman minta tanda tangan, kenapa jadi kayak mau diner romantis?" Gumam Cherryl saat melihat restoran mewah yang di hias oleh banyak bunga bernuansa pink, kesukaannya.


"Tunggu, kenapa hiasan ini kayak nggak asing ya? Kayak pernah liat...Tapi dimana?" Cherryl terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Sehingga ia tertinggal oleh Albert yang sudah berjalan lebih dulu menuju ruangan VVIP.


Gadis itu mengejar Albert, langkahnya yang panjang membuat Cherryl kesulitan untuk mengimbangi pria dengan stelan jas hitam tersebut.


"Kalian telat dua menit!" Tegur pria yang ada di balik kursi.


"Maaf tuan," jawab Albert singkat.


"Suara itu? Kenapa sangat familiar?" Bisik batin Cherryl, yang merasa suara itu sangat akrab dengan dirinya.


"Aku tidak suka dengan orang yang tidak disiplin, sebaiknya kalian pergi dari sini." Pria itu mengusir Cherryl dan Albert dari ruangan VVIP tersebut.


"Nona, maaf saya tidak bisa membantu anda. Sebaiknya kita pergi," ajak Albert pada gadis yang masih bengong di sampingnya.


"Tidak dapat tanda tangan, itu artinya aku akan di pecat... Tidak! aku tidak boleh di pecat karena hal ini, bagaimanapun aku harus mendapatkan tanda tangan pria itu."


"Ekhem, maaf tuan kami hanya telat dua menit. Apa anda tidak bisa memberi toleransi pada kami?" Celoteh Cherryl dengan berani.


Seringai muncul di sudut bibir pria yang sedang duduk membelakangi Cherryl dan Albert.


"Nona, apa yang anda lakukan? Tuan pasti akan marah dengan kata-kata anda," tegur Albert panik.


"Tenang saja pak, aku tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena telat dua menit," bisik Cherryl percaya diri.


"Maaf sebelumnya, saya lancang. Tapi rasanya tidak adil jika hanya terlambat dua menit anda langsung mengusir kami seperti itu," protes Cherryl lantang.


"Lalu, apa yang anda inginkan Nona?"


"Saya hanya ingin anda memberikan tanda tangan di berkas ini saja."


"Jika saya tidak mau, apa yang akan anda lakukan?"


Gadis itu tampak berpikir, apa yang mesti ia lakukan? agar pria itu mau menandatangani berkasnya.


"Jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, silahkan kalian pergi dari sini. Kalian Taukan jalan keluarnya di mana?" Serunya, sembari menyeringai.


"His, nyebelin banget sih... Ayolah Ryl berpikir," gadis itu memejamkan kedua mata. Sebuah ide pun langsung terlintas dalam benaknya.


"Bagaimana jika, satu tiket liburan gratis ke Hawai?" Cetus Cherryl mulai bernegosiasi.


"Tidak!" Pria itu menolak tawaran Cherryl mentah-mentah.


"Dua tiket gratis ke Maldives?"


"No!"


"Tiga tiket?"


"Apa aku terlihat miskin? Sampai kau menawarkan tiket murahan seperti itu!" Pria itu meninggikan suaranya membuat Cherryl terhenyak.


"Nona, sebaiknya kita pergi. Anda sudah menyinggungnya." Albert memaksa Cherryl agar segera keluar dari ruangan tersebut. Tapi Cherryl masih teguh dengan pendiriannya yang harus mendapatkan tanda tangan.


"Tidak pak, pekerjaanku sedang di pertaruhkan disini," tolaknya sembari berpikir.


"Tapi, Nona—," terpotong oleh suara bariton di balik kursi.


"Begini saja, bagaimana jika anda menjadi istri saya? Dan anda akan mendapatkan tanda tangan saya kapanpun anda mau." Pria itu membalikan kursinya ke hadapan Cherryl dan Albert.


"Kamu!" Sentak Cherryl, saat mengetahui siapa orang yang ada di balik kursi tersebut.


.


.


.


Bersambung.