
"Dasar bodoh!"
"Anak tidak berguna!"
"Percuma saja, selama ini aku membesarkan mu. Melakukan hal kecil saja kau tidak becus!"
Umpat wanita yang mengenakan selendang merah, di kepalanya tersebut.
"M-maafkan aku Bu, berikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku pasti akan melakukannya dengan benar kali ini," lirih gadis tersebut, dengan wajah memelas.
"Cih, sudah berapa kali kau mengatakan itu! Tapi buktinya kau selalu gagal dan gagal."
"Bu, pria itu tidak seperti pria lain yang mudah tergoda dengan wanita cantik dan sexy. Pria itu berbeda, sangat sulit untuk bisa menjebaknya ke dalam sangkar," timpal gadis itu, frustasi.
"Alasan! Pokoknya aku tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya, kau harus bisa menghancurkannya sampai habis. Jika tidak aku akan menjualmu ke rumah bordil, kau paham!" Ancam wanita tersebut sebelum pergi meninggalkan kamar putri angkatnya itu.
Setelah wanita itu keluar dari kamarnya, gadis itu duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Ia tidak menyangka jika wanita yang mengadopsinya sejak kecil, hanya menjadikan dirinya sebagai alat untuk membalas dendam saja, ia pikir wanita itu tulus mencintainya sebagai seorang putri. Nyatanya tidak, wanita lumpuh itu hanya memanfaatkannya.
"Arghh!!"
Brak...
Gadis itu berteriak kesal, ia membanting semua barang yang ada di hadapannya. Ia heran kenapa dirinya bisa terikat dengan wanita yang tidak waras seperti ibunya itu. Ingin rasanya ia pergi dan menghentikan perbuatannya tapi wanita itu terus saja mengancam jika ia berani pergi dari rumah itu tanpa menyelesaikan misi, maka besok ia tidak akan pernah bisa melihat jari-jari cantiknya lagi.
***
Kediaman Clay.
Hari sudah siang, Cherryl masih terlelap dalam tidurnya. Saat ia merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya, kedua mata Cherryl langsung terbuka. Ia takut jika orang itu akan menyakitinya, sepertinya terkurung di gudang menyisakan trauma bagi Cherryl.
"Mama," lirih Cherryl, ia memeluk ibunya dengan banyak ke rinduan.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?"
"Cherryl takut mah."
"Mama khawatir banget, pas denger kamu hilang. Mama takut sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," Mama Dewi mengusap rambut putrinya.
"Aku mau pulang mah, aku takut," Cherryl merengek pada ibunya.
"Kamu tenang, nggak usah takut lagi. Clay sedang mencari orang yang sudah mengurung kamu di gudang."
"Tapi aku tetep takut, mah. Gimana kalau orang itu terus ngejar Cherryl? terus dia lakuin hal yang lebih parah dari ini."
Mama Dewi terlihat gamang dengan permintaan putrinya, yang ingin pulang bersamanya. Bukannya Mama Dewi tidak mau membawa putrinya pulang, ia bisa saja meminta Clay dan Cherryl untuk sementara tinggal di rumahnya. Tapi ada satu hal yang membuat Mama Dewi tidak bisa membawa Cherryl pulang, saat ini usaha papa Cestaro sedang dalam masalah. Papa berpesan pada Mama Dewi agar tidak memberi tahu anak dan menantunya mengenai masalah tersebut, jika Cherryl dan Clay ikut bersama Mama Dewi besar kemungkinan mereka akan tau dengan masalah papa Cestaro.
Papa Cestaro tau siapa besannya, bukan hal sulit bagi papa Cestaro untuk meminta bantuan pada tuan Gerald. Tapi ia hanya tidak ingin merepotkan orang lain, papa Cestaro ingin bangkit dengan kakinya sendiri tanpa bertumpu pada siapapun.
"Ma! Kok Mama bengong," Cherryl membuyarkan lamunan Mama Dewi.
"A..nggak apa-apa sayang, oh iya mending sekarang kamu mandi. Ada yang mau Mama obrolin tentang kuliah kamu," Mama Dewi mengalihkan pembicaraan.
"Astaga ma!... Cherryl lupa," gadis itu menepuk jidatnya sendiri. Lalu berlari menuju kamar mandi, dan mengenakan seragamnya.
"Loh, kamu mau kemana Ryl?" Mama mengernyitkan dahinya, saat melihat putrinya tergesa-gesa memakai seragam sekolah.
"Ya, sekolah lah mah.. ini udah siang," jawab Cherryl panik.
Mama Dewi terkekeh, "Sayang, kamu nggak usah ke sekolah. Clay bilang selama beberapa hari kedepan, jam pelajaran akan kosong. Jadi kamu di rumah aja, persiapkan buat ujian."
"Ya ampun, ma.. Cherryl lupa," gadis itu ikut terkekeh.
"Ayo buruan, ganti baju. Abis itu makan, Mama udah masakin kesukaan kamu."
Gadis itu mengangguk dan bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
****
SMA Harapan Bangsa
Tanpa sepengetahuan siapapun, Clay dan Erick terus memeriksa rekaman cctv. Ia penasaran siapa yang sudah mengurung istrinya di dalam gudang.
Sudah lama mereka mengubek-ubek, rekaman cctv itu tapi hasilnya nihil. Penjahat itu bermain dengan sangat bersih sampai tak meninggalkan jejak.
Drtt...drtt ..drt...
"Lo, mau kemana Clay?" Tanya Erick, yang melihat sahabatnya itu pergi.
"Ada urusan."
"Gue ikut, bro."
Tanpa ijin dari clay, pria itu langsung naik ke atas motor. Mau tidak mau Clay harus membawanya ke kantor.
***
Kantor Sunshine group.
Para karyawan menunduk hormat pada Clay, yang sedang berjalan dengan terburu-buru. Membuat Erick kembali bertanya-tanya, Sudah tiga tahun dirinya bersama Clay tapi sepertinya ia tidak banyak tahu tentang siapa Clay yang sebenarnya.
Yang ia tahu, jika Clay hanyalah cucu dari pemilik sekolah yang berpenampilan sederhana. Dan selama dua hari ini, Erick terus di kejutkan oleh jati diri Clay yang sebenarnya. Setelah di kejutkan oleh Clay yang menikah dengan musuhnya secara diam-diam, kini ia kembali di kejutkan dengan jabatan yang di sandang oleh sahabatnya itu.
"Selamat siang tuan," sapa nona Grace, Clay masuk ke ruangannya dan menghampiri seorang pria berusia 35 tahun yang sedang berdiri dan memberi hormat padanya.
Erick berdiri di belakang Clay, bersama nona Grace. Manik mata Erick sesekali mencuri pandang pada wanita cantik yang ada di sampingnya.
Pria itu menyodorkan ponsel Cherryl yang hancur, sepertinya pria itu adalah ahli IT yang sengaja di panggil oleh nona Grace untuk memeriksa data ponsel Cherryl yang sudah hancur. Clay juga menyodorkan rekaman cctv gudang yang tidak memperlihatkan jejak penjahat tersebut.
Pria itu mengeluarkan laptopnya, cukup lama pria itu mengotak-atik benda berbentuk kotak itu. Setelah selesai, pria itu membalikan laptopnya ke arah Clay, ceo muda itu menatap layar laptop dengan seksama. Seketika matanya membulat saat melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam berada di sekitar gudang, tepat pada jam dimana Cherryl di kurung ia memperhatikan salah satu di antaranya Clay memicingkan matanya saat melihat accesoris tangan yang di kenakan oleh orang itu seperti tidak asing bagi Clay.
Clay, mengepalkan kedua tangannya geram. Ia langsung menghubungi orang-orangnya dan menyuruh mereka untuk mencari para penjahat tersebut, sementara dirinya dan Erick kembali ke sekolah untuk menemui gurunya Austin dan Tiara.
Pria itu turun dari motornya, kebetulan saat itu pak Austin baru saja kembali dari luar. Begitu dirinya keluar dari mobil, tanpa banyak bicara Clay langsung menarik baju Austin dan melayangkan bogemnya di pipi Austin.
Bugh...
Bugh..
Bugh..
Tiga bogem mentah, berhasil mendarat di wajah tampan Austin.
"Clay...apa yang kamu lakuin ke saya?" Austin mengusap bibirnya yang berdarah.
"Kenapa lo, ngurung Cherryl di gudang?"
"Maksud kamu?"
"Gak usah sok nggak ngerti deh lo! gue udah punya bukti. Lo ngirim pesan ke Cherryl buat ketemuan di gudang, tapi lo nggak Dateng dan malah nyuruh orang lain buat ngurung dia di gudang! lo sengajakan sekongkol sama Tiara!" Sentak Clay pada Austin, jika tidak di halangi oleh Erick mungkin tangannya akan kembali melayang ke wajah Austin.
"Clay, tunggu dulu. Kayaknya ini ada kesalah pahaman," sahut Austin.
"Si Cherryl punya masalah apa sih sama lo? Sampe lo tega ngurung dia, di dalam gudang. Cherryl itu cinta sama lo, dia suka sama lo tapi bisa-bisanya lo ngelakuin hal rendahan kayak gitu," ucap Clay, dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Saat mengatakan jika istrinya mencintai orang yang ada di hadapannya.
"Bro," lirih Erick, ia menatap ke arah Clay. Ikut merasakan betapa sakit hatinya ketika Clay mengatakan itu, pada gurunya.
Austin hanya diam, ia tampak berpikir. Bagaimana bisa muridnya menyalahkan dirinya atas perbuatan yang tidak ia lakukan, dirinya adalah seorang guru tidak mungkin ia melakukan hal itu pada muridnya sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Begini saja, kalian ikut saya ke ruangan saya. Kita bicarakan ini baik-baik di sana oke."
"Cih, gue nggak Sudi. Mulai detik ini jauhin Cherryl, kalau nggak gue laporin lo ke polisi!" Ancam Clay, pada Austin. Setelah meluapkan amarahnya pada Austin Clay pergi sendiri meninggalkan sekolah.
"Baru pulang Clay?" Sapa Mama, saat melihat Clay berjalan menuju tangga.
"Iya, ma." Jawab Clay singkat.
"Oh, mandi dulu gih. Habis ini kita makan malem bareng ya."
"Iya, ma. Clay mandi dulu," pamit Clay, ia meneruskan langkah kakinya menuju kamar.
Di lantai atas, ketika dirinya menuju kamar tanpa sengaja ia berpapasan dengan istrinya yang baru saja keluar dari kamar. Cherryl tersenyum pada clay, tapi pria itu hanya menatapnya dingin dan melewati Cherryl begitu saja. Gadis itu menatap heran punggung suaminya yang kini hilang di balik pintu.
.
.
.
. Bersambung...