
Amarilis apartemen.
Clay dan Cherryl terlihat sedang sibuk mengemasi barang-barang milik Cherryl yang hendak di bawa ke kediaman barunya.
Clay memasukan buku-buku Cherryl ke dalam kardus, sementara Cherryl memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Mereka tampak begitu hangat, Clay yang memiliki sifat dingin kini berubah menjadi sosok pria yang humoris yang bisa membuat Cherryl selalu tertawa saat bersamanya.
"Sayang, lihat aku. Apa aku cocok dengan rambut panjang seperti ini?" Clay memakai rambut palsu berwarna pink milik Cherryl lalu menggunakan kacamata berbentuk bintang. Pria cool itu berpose layaknya seorang idol.
Cherryl terkekeh melihat tingkah suaminya. "Cocok, kau sudah mirip seperti idol siapa itu ya namanya ... kalo tidak salah namanya Felix," puji Cherryl. Ia mengambil ponselnya dan mengajak Clay untuk berpoto.
"Clay, ayo photo."
"Nggak ah, malu," tolak Clay membuka rambut palsunya.
"Sayang, please sekali aja." Cherryl memasang wajah yang begitu menggemaskan membuat Clay tak sanggup menolak permintaan istrinya tersebut.
"Hais, baiklah sekali saja ya," ujar Clay lemas.
Gadis itu mengangguk senang, keduanya pun mengambil fose Selfie di depan cermin. Clay yang tadinya hanya mengijinkan pengambil gambar sekali, kini ketagihan berkali-kali mereka mengambil gambar dengan berbagai macam gaya yang lucu dan menggemaskan.
"Haruskah kita memasukannya ke dalam album? Aku sudah menyiapkan beberapa album photo untuk kita isi dengan photo-photo kencan kita," ujar Clay masih memilah Photo mana yang bagus untuk di cetak.
"Apa kita akan kembali ke zaman SMA?"
"Kau benar, kita harus memulainya dari awal lagi meskipun dengan suasana yang berbeda aku yakin kita bisa menciptakan kenangan tersendiri."
"Baiklah, ayo kita lanjutkan berkemas aku sudah tidak sabar untuk melihat tempat tinggal kita yang baru," seru Cherryl dengan mata yang berbinar.
"Sayang, kenapa kau harus membawa barang-barang ini? Kita kan bisa membeli yang baru," tutur Clay sembari memasukan sisa-sisa buku.
"Aku tidak akan membawanya, aku akan memberikan semua ini pada yayasan yang membutuhkan," cetus Cherryl.
"Oh begitu, aku pikir kau akan membawa ini."
"Untuk apa? Bukankah suamiku kaya jadi aku bisa membeli semua yang aku inginkan," celoteh Cherryl datar.
"Astaga, sekarang kau mulai matre ya."
"Kau kan yang mengajarkan aku," pungkas Cherryl tersenyum.
Setelah semuanya selesai, Clay dan Cherryl pergi ke sebuah yayasan untuk menyerahkan barang-barang yang masih layak untuk di pakai oleh anak-anak yang kurang beruntung. Lalu, keduanya pergi ke bandara menuju kota tujuan tempat dimana keduanya akan membuka lembaran baru sebagai sepasang suami istri yang telah lama terpisah.
****
Sanvitalia city.
Negara maju, dengan berbagai macam teknologi yang canggih. Negara dengan 4 musim dengan pemandangan yang jauh lebih indah di banding Negara Edelweis.
Negara itu terkenal dengan wisatanya yang bak negeri dongeng. Penduduk yang ramah, kota yang bersih, udara sejuk, semuanya terlihat sangat damai dan tenang. Sesuai dengan yang di impikan oleh Cherryl.
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya yang baru, mata Cherryl terus di suguhkan pemandangan yang luar biasa. Hamparan ladang dan lembah hijau yang luasnya sampai beratus-ratus hektar, deretan pegunungan yang di hiasi salju dan pepohonan rindang juga bunga-bunga cantik yang tumbuh subur turut menjadi pelengkap ke indahan di negara Sanvitalia city.
Begitu banyak keindahan yang di tampilkan oleh kota Sanvitalia, sampai Cherryl tak berhenti takjub pada semua yang ada di kota tersebut.
Setelah menempuh jarak selama tiga jam, akhirnya Cherryl dan Clay sampai di rumah mereka yang baru. Rumah minimalis bernuansa Eropa dengan lantai 2 menjadi pilihan Clay, memang tidak semewah rumahnya yang dulu tapi, ia pikir rumah ini cukup untuk dirinya, Cherryl dan anak-anaknya kelak.
Clay bukan tak ingin membeli rumah mewah, ia hanya berkaca di masa lalu rumah mewah dan besar memerlukan banyak orang untuk mengurusnya. Ia takut hal yang dulu terulang kembali, para penyusup menyamar menjadi pelayan di rumahnya maka dari itu ia lebih memilih rumah minimalis yang tak memerlukan asisten rumah tangga. Karena dirinya dan Cherryl bisa mengurusnya secara bersama-sama.
"Bagaimana kau suka?" Clay dan Cherryl menatap rumah itu dari kejauhan.
"Suka, aku sangat menyukainya," ujar Cherryl bahagia.
"Syukurlah, kalau begitu ayo masuk kita lihat dalamnya seperti apa." Clay menggenggam tangan Cherryl membawanya masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Wellcome, to the new house Miss and Sir," sambut Erick dengan gaya ala-ala pelayan bintang sepuluh.
"Kok dia ada di sini?" Tanya Cherryl heran.
"Iya, dia bekerja denganku sekarang. Tapi, kamu tenang dia nggak tinggal di sini kok," jelas Clay.
"Ha ha, iya Ryl tenang aja aku tidak akan menganggu kesenangan kalian," ujar Erick terkekeh.
"Syukurlah kalo begitu, kalo kamu tinggal di sini yang ada nanti aku repot," ucap Cherryl ikut terkekeh.
"Inginnya sih begitu, ngerepotin kamu tapi kalo kalian di repotin kapan aku punya keponakan baru," celoteh Erick.
"Segera hadir, iya kan sayang," sahut Clay merangkul bahu Cherryl.
Ketiganya pun tertawa bersama. Erick yang sedari tadi sudah menyiapkan makan siang langsung membawa Cherryl dan Clay ke ruang makan.
Setelah perut terisi dan kenyang, Erick berpamitan untuk pulang dan membiarkan dua sahabatnya menikmati masa-masa indah mereka berdua.
"Hati-hati di jalan ya Rick." Cherryl melambaikan tangannya.
"Thank's, Bro udah bikin makanan yang enak, lain kali masakin lagi buat kita ya." Clay menepuk bahu Erick.
"Siap Bro tapi, sejujurnya itu bukan aku yang masak. Tadi aku memesannya lewat online." Erick terkekeh sembari meninggalkan kediaman Cherryl dan Clay.
"Ck, pantes saja aku heran ... sejak kapan orang itu pintar memasak ternyata dia beli," desis Clay menatap punggung Erick sebal.
.
.
.
****
Malam hari di Sanvitalia city.
Di kala Clay sedang sibuk mengurusi pekerjaan barunya, Cherryl berdiri di depan balkon menatap lampu lampion yang berterbangan di langit Sanvitalia.
Clay bilang hari ini adalah festival lampion yang di selenggarakan di sungai Ondenia. Clay sudah mengajaknya untuk menyaksikan keindahan festival tersebut tapi, Cherryl menolaknya. Sejak Clay terbawa arus tahun lalu Cherryl jadi trauma, jika melihat sungai pasti bayangan tentang masa lalunya kembali terlintas di benaknya.
Sembari menyesap teh hangat, seketika pikirannya teringat akan sosok sahabatnya yaitu Aulya. Meskipun sudah di sakiti tapi, Cherryl masih saja memikirkan bagaimana keadaan sahabatnya itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Clay memakaikan selimut kecil di bahu istrinya agar wanita yang di cintainya tetap hangat.
"Aku hanya teringat Aulya," jawab Cherryl. Wanita itu tersenyum sembari menatap pemandangan yang ada di depannya.
"Untuk apa kau memikirkan orang seperti dia katanya sahabat tapi, membuatmu patah hati," gerutu Clay kesal.
"Kok, jadi kamu yang marah-marah sih." Cherryl menoleh ke arah suaminya.
"Ya, habisnya aku kesel. Aku menitipkan mu pada guru sialan itu, dan memintanya untuk membuat mu bahagia eh malah dia bikin kamu nangis," gerundelnya.
"Kok, jadi ngomongin Austin ... Tadikan lagi ngobrolin Aulya," protes Cherryl.
"Sayang, Austin kan nikahnya sama Aulya sama aja kan. Mau ngomongin Aulya atau pria sialan itu mereka satu paket," gerutu Clay. Membuat Cherryl gemas.
Cherryl menarik napasnya dalam, dan melangkahkan kakinya menuju kursi yang ada di balkon. "Seharusnya, kamu berterima kasih pada Aulya karena menikah dengan Austin. Coba kalau mereka nggak nikah, mungkin aku yang akan menikah dengan Austin," celoteh Cherryl santai.
"Hei, berani sekali kau berbicara seperti itu. Meskipun kau menikah dengan pria itu setelah aku kembali, aku akan merebutmu lagi darinya," ujar Clay kesal.
"Kalau misalkan aku tidak mau, denganmu lagi bagaimana?"
"Memangnya kau yakin, akan menolak cinta pertama dan terakhirmu." Clay menatap Cherryl sinis.
"Hemm ... tergantung sih," Cherryl terkekeh.
"Maksudnya?"
"Lupakan, tidak perlu di bahas yang penting sekarang aku cinta sama kamu." Cherryl mengelus pipi suaminya mesra.
Akibat mendapat sentuhan lembut dari sang Istri, sesuatu yang berada di sana menjadi terbangun. Padahal cuman pipi yang di elus tapi yang di bawah ikut terbangun juga.
Clay mengambil cangkir teh dari tangan istrinya dan meletakan cangkir itu di atas meja lalu, menggendong Cherryl menuju kamar baru mereka. Clay tersenyum penuh arti membuat Cherryl bergidik saat melihat senyuman suaminya yang aneh.
"Eh, turunkan aku," pekik Cherryl.
"Aku akan menurunkan mu di kamar, cuaca di luar dingin sebaiknya kita di kamar biar hangat," kekeh Clay.
"Aku tidak mau, aku masih mau melihat lampion." Cherryl menggerak-gerakkan kakinya minta turun.
"Besok aku akan membelikan mu banyak lampion, sekarang kita produksi Clayton junior dulu," ujar Clay terus menggendong istrinya menuju kamar.
Pria itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka perbuat tapi yang pasti di menit berikutnya suara ******* mulai terdengar dari ruangan pribadi tersebut.
.
.
.
Bersambung.