
Hujan rintik mengiringi pemakaman Mamy Val, di bawah payung hitam Cherryl terus menggenggam tangan suaminya. Clay sudah terlihat tegar menerima kepergian ibunya yang tercinta untuk selamanya.
Dan di bawah tenda yang menghadap ke pusara ada papi Gerald dan Queenara yang sedang duduk di atas kursi sembari menatap kosong ke tempat peristirahatan terakhir Mamy Val.
Sesekali Queenara terlihat menyeka bulir beningnya yang tak kuasa ia tahan, Mama Dewi menghampiri Nara dan memeluknya sembari memberi wejangan Agar ia dapat mengiklaskan kepergian ibunya.
Semuanya terlihat begitu berat untuk melepaskan kepergian wanita cantik dan baik hati itu, namun apa daya semua makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti akan kembali pada sang pencipta. Tidak ada yang tahu kapan kita akan berpulang pada sang-ILAHI, cepat atau lambat hanya Tuhanlah yang tahu.
Area pemakaman telah di jaga ketat oleh semua anak buah sekertaris Rendi, semuanya terlihat siaga dengan senjata Laras panjang yang di pegang oleh masing-masing penjaga yang menggunakan pakaian serba hitam.
Polisi menduga jika mobil yang di tumpangi oleh Mamy Val, telah sengaja di tanami bom oleh seseorang. Jadi untuk berjaga-jaga Sekertaris Rendi juga menempatkan para sniper di setiap sudut area pemakaman, ia khawatir hal yang tidak di inginkan kembali terjadi pada keluarga Dhanuendra yang telah lama ia layani.
Pemakaman telah usai, papi Gerald menjadi orang pertama yang menaburkan bunga di atas pusara sang istri, di susul oleh Clay lalu Nara yang menaburkan bunga Dandelion dan mawar merah di atas pusara sangibu.
Papi Gerald berlutut di hadapan makam sangistri ia menyentuh batu nisan bertuliskan nama Valeriea Laruna, di balik kaca mata hitam yang di gunakan oleh papi Gerald tersimpan ribuan bulir bening yang ia tahan agar tidak jatuh di hadapan pusara wanita yang sangat ia cintai itu.
"Dandelion, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Terimakasih karena kau telah bersedia di sampingku selama ini, terimakasih kau telah mencintaiku dengan sepenuh hati, terimakasih karena kau telah mau menerima segala kekurangan yang aku miliki.... Terimakasih karena telah melahirkan putra dan putri yang begitu luar biasa untukku dan Terimakasih untuk semuanya yang telah kau berikan padaku juga kedua anak kita," ucap papi Gerald mengelus batu nisan Mamy Val.
"Aku melepaskan kepergian mu dengan ikhlas, semoga di sana kau bisa merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku berikan padamu... Aku mencintaimu Dandelion sangat mencintaimu. Andai keadaan bisa berbalik, aku akan minta pada tuhan agar menukar takdirku dengan takdirmu. Tapi tuhan lebih mencintaimu di banding aku," pria paruh baya itu tersenyum getir, ketika mengingat wajah istrinya yang tersenyum sebelum pergi ke kota Edelweis untuk menjenguk putra mereka.
"Tapi kau jangan khawatir sayang, setelah aku membalaskan kematian mu, aku berjanji akan menyusulmu secepat mungkin. Aku harap kau akan menungguku di sana, " papi Gerald mengecup nisan istrinya cukup lama, pada akhirnya bulir bening itu turun membasahi kedua pipinya yang tegas.
Setelah papi Gerald menumpahkan seluruh rasa sayangnya pada sang istri ia bangkit dan kembali memeluk sangputri yang masih sesenggukan.
"Kamu iklaskan Mamy ya sayang, kamu masih punya papi sama kak Clay di hidupmu, di tambah kak Cherryl yang akan selalu menemanimu," papi Gerald mengecup pucuk kepala putrinya.
"Mam, maafkan Clay. Clay belum bisa jadi anak yang membuat Mamy bangga, tapi Clay janji akan menjaga Nara dan papi... Clay iklaskan Mamy pergi, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan tempat terbaik untuk Mamy," ungkap Clay mengelus nisan sangibu.
Cherryl menyentuh bahu Clay, pria itu melirik dan kembali menyentuh tangan istrinya yang selalu menguatkan dirinya.
Mama Dewi dan papa Cestaro menghampiri keluarga besannya dan mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian sangbesan yang begitu tiba-tiba.
"Tuan Gerald, kami turut berduka cita atas meninggalnya nyonya Valerie. Semoga almarhumah di tempatkan di tempat paling indah di sisi Tuhan," ucap papa Cestaro memeluk besanya.
"Terimakasih tuan Cestaro," ujar papi Gerald membalas pelukan ayah dari menantunya.
Sebelum mereka pamit pulang Mamah Dewi memeluk Clay dan juga Nara, ia memberikan semangat pada kakak beradik itu. Setelah cukup lama Mama Dewi memeluk keduanya, Mama Dewi dan papa Cestaro pamit pada besan juga putrinya untuk pulang.
Di susul oleh Aulya dan Erick yang menghampiri sahabatnya untuk berpamitan.
"Bro gue turut berduka cita ya, atas kepergian nyokap lo. Lo yang kuat ya," Erick menepuk bahu Clay.
"Gue juga ikut berbela sungkawa Clay, gue tau lo cowok kuat... Ryl yang sabar ya," sambung Aulya memeluk Cherryl
"Makasih ya kalian udah Dateng ke pemakaman, ibunya Clay," Cherryl mengusap bahu Aulya
"Kalau gitu kita pamit pulang ya Cher, Clay tetap semangat oke," seru Erick, yang berlalu pergi bersama Aulya.
Ia semakin penasaran dengan hubungan keduanya, karena waktu yang tidak tepat untuk bertanya akhirnya Austin menghampiri dua sejoli itu dan menyampaikan rasa duka citanya pada anak didiknya.
Austin melirik sekilas pada Cherryl yang langsung melepaskan tangannya dari Clay, sementara Clay yang masih mengingat momen dimana gurunya sedang menyatakan cinta pada sang istri kembali menggenggam tangan Cherryl erat ketika gurunya datang menghampiri mereka.
"Clay, saya turut berduka cita atas kepergian ibu kamu, semoga amal ibadah ibu kamu di terima di sisi Allah," Austin mengulurkan tangannya, tapi Clay tak mengindahkan uluran tangan tersebut. Ia hanya menjawab terimakasih dengan nada datar.
Austin menarik kembali tangannya yang menggantung di udara, ia terlihat canggung begitu juga dengan Cherryl yang merasa tidak enak atas sikap suaminya yang mengacuhkan gurunya begitu saja.
"Em, pak kalau begitu kami duluan ya," pamit Cherryl pada Austin.
"Biar saya antar kamu pulang Cher," seru Austin.
Clay menatap sinis pada gurunya, "Tidak perlu, ada supir yang akan mengantarkan Cherryl pulang," dengus Clay tanpa melihat pada Austin yang ada di hadapannya.
"Eh... Iya pak bapak duluan aja, saya masih ada keperluan yang belum selesai," sambung Cherryl.
Karena suasana sedang berduka, Austin yang memiliki usia lebih dewasa dari muridnya memilih mengalah, dan pergi meninggalkan kedua muridnya yang masih berada di area pemakaman.
Satu persatu para pelayatpun pergi meninggalkan makam, begitu juga dengan keluarga Dhanuendra dan Cherryl mereka berpamitan pada Mamy Val yang kini sudah jauh lebih bahagia di atas sana.
Papi Gerald berjalan lebih dulu dari Clay dan Cherryl, tiba-tiba ponselnya bergetar. Papi Gerald melihat ponselnya sebuah pesan masuk dari nomor yang tak di kenal.
Pria itu menghentikan langkahnya dan membuka pesan itu, seketika kedua matanya terbelalak saat membaca isi pesan tersebut.
[Bagaimana rasanya di tinggalkan oleh orang yang kau cintai? Apa itu sakit? Kau jangan khawatir ini baru permulaan, masih ada anak dan menantumu yang belum aku habisi!]
"Sial! ternyata benar wanita itu masih hidup," gumam papi Gerald geram.
"Rendi! Rapatkan barisan bawa anak-anak lebih dulu ke dalam mobil khusus," titah papi Gerald pada sekertarisnya.
Tanpa menunggu perintah kedua, para penjaga langsung melindungi keluarga Dhanuendra dan membawanya kedalam mobil yang di rancang khusus agar tidak tembus peluru juga tahan ledakan berkekuatan tinggi.
Suasana pemakaman berubah jadi mencekam, setelah beberapa pesan bernada ancaman masuk kedalam ponsel papi Gerald.
Clay, Cherryl juga Nara terlihat panik karena tiba-tiba papinya menyuruh semua anak buahnya untuk membawa mereka ke mobil khusus.
"Pih, apa yang terjadi?" Clay berusaha keluar dari penjagaan untuk bertanya pada sangayah. Tapi para penjaga itu terlalu banyak membuat Clay kalah tenaga dan akhirnya ia bersama kedua gadis yang di cintainya masuk ke dalam mobil tersebut dengan penuh tanda tanya.
.
.
.
Bersambung.