Wedding Secrets

Wedding Secrets
Terkunci di gudang



[Pulang sekolah, temui saya di dekat gudang. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan, datang sendiri karena ini sangat penting.]


Pesan singkat dari pak Austin, Cherryl heran. Kenapa pak Austin menyuruhnya datang ke belakang sekolah, padahal biasanya kalau ada hal penting dia selalu mengajaknya bertemu di tempat yang ramai. Kenapa kali ini mesti di gudang?.


"Apa pak Austin, kemarin liat gue di restoran ya? Terus dia mau jelasin ke gue soal hubungan dia sama cewek itu...ya udah deh samperin aja kali ya," gumam batin Cherryl. Ia tidak membalas pesan itu dan kembali mengobrol dengan Aulya.


****


Gudang sekolah.


Cherryl sudah ada di tempat yang di maksud oleh pak Austin, Gadis itu telah menunggu gurunya selama 10 menit yang lalu, tapi pak Austin tak kunjung datang menemuinya. Suasana gudang yang sepi dan jauh dari jangkauan orang-orang itu terasa mencekam, membuat Cherryl merinding.


Settt.....


Sebuah bayangan hitam, melintas dengan cepat di belakang Cherryl.


"Siapa itu!" Seru Cherryl saat merasakan ada seseorang yang berjalan di belakangnya.


"Pak Austin, itu bapak bukan? Nggak lucu tau nakut-nakutin kaya gitu."


Krekeeeett.....


Pintu gudang terbuka dengan sendirinya.


"Pak... Pak Austin buruan keluar, aku nggak suka ya kalau bapak nakut-nakutin kaya gini!" Cherryl perlahan berjalan menuju pintu gudang.


Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel, untuk menelpon pak Austin tapi sayang ponselnya mati karena habis baterai.


"Ish, hp gue pake mati segala lagi," desis Cherryl. Karena penasaran ia masuk ke dalam gudang tersebut dan kembali memanggil gurunya.


Brugh...


Pintu gudang tertutup, ketika Cherryl sudah berada di dalam sana. Gadis itu sangat panik dan menggedor-gedor pintu gudang yang terkunci dari luar.


"Hei! Buka pintunya!"


Ceklek... Ceklek...ceklek...


Cherryl terus mengguncangkan engsel pintu berharap pintu itu terbuka dengan segera.


"Tolong!!.... Siapapun tolong buka pintunya!" Gadis itu terus berteriak, meminta tolong tapi tak ada yang mendengar teriakan Cherryl.


Ia mencoba menghidupkan kembali ponselnya, karena kesal ponselnya tidak hidup ia membanting ponsel itu hingga hancur.


Suasana gudang mulai gelap, tidak ada pencahayaan sama sekali di sana. karena dirinya terus berteriak sambil menggebrak pintu membuat gadis itu kehabisan tenaganya dan Cherryl yang takut akan kegelapan kini ia duduk di dekat pintu sambil memeluk lututnya.


Tubuhnya tak berhenti bergetar, dan bulir bening terus berderai membasahi pipinya. Ia tidak menyangka, mengapa pak Austin sampai tega membuatnya terkurung di gudang seperti ini.


"Mah... pah tolong Cherryl hiks," lirih Cherryl terisak ia kembali menenggelamkan wajahnya ke lutut.


***


Kediaman Clay.


Clay yang sudah pulang sejak tadi siang bersama Erick,terlihat risau. Karena sejak pulang sekolah ia tidak melihat istrinya pulang ke rumah. Ia mencoba menghubungi ponselnya tapi ponsel Cherryl tidak aktif, ia juga sudah menelpon Mama Dewi dan Aulya mereka mengatakan jika Cherryl tak ada di sana.


Ia melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia terus mondar mandir dalam kamarnya, perasaanya merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada istrinya.


Clay mengambil jaket dan helmnya, lalu menarik tangan Erik yang sedang asik bermain game agar ikut bersamanya.


"Ikut gue Rick, firasat gue nggak enak."


"Kemana? Bro."


"Kita ke sekolah, gue harus periksa cctv di sana."


"Buat apa bro? Ini udah malem ngapain cek cctv sekolah?" Erick terus saja melontarkan pertanyaan, membuat Clay yang sedang panik merasa kesal.


"Lo mau ikut gue atau nggak!" Bentak Clay pada Erick, wajah Clay sudah terlihat tidak karuan. Perasaannya terus mengatakan jika Cherryl sedang dalam bahaya.


Ia mengerahkan seluruh anak buahnya, untuk mencari keberadaan istrinya. Tanpa menunggu perintah ke dua semua anak buah Clay langsung pergi mencari istri majikannya. Sementara Erick yang tidak mengerti kenapa sahabatnya sampai sepanik itu mencari Cherryl hanya bertanya dalam hatinya, apa hubungan di antara mereka berdua?


Di saat genting seperti ini, sebuah mobil putih yang tak di kenal masuk ke pelataran rumah. Clay dan Erick menatap mobil itu, seorang gadis dengan pakaian minim dan hils cukup tinggi turun dari mobil tersebut.


"Hai Clay, hai Rick. Lo kok di sini?" Sapa Tiara, dengan wajah yang berseri-seri.


"Ngapain lo kesini? Dan dari mana Lo tau alamat rumah gue yang baru?" Dengus Clay.


"Emm... Sayang kok kamu ngomongnya kasar sih. Tadi aku Dateng ke rumah lama kamu tapi satpam di sana bilang kalau kamu udah pindah, jadi aku minta alamat baru kamu deh," Cherryl bergelayut manja di lengan Clay. Entah hantu mana yang merasuki raga Tiara, tiba-tiba saja penampilannya yang kalem berubah menjadi agresif bahkan pakaiannya tidak menggambarkan jika dirinya adalah seorang pelajar.


Clay mendorong Tiara agar menjauh darinya, ia juga memanggil bi Arum untuk memecat satpam yang sudah berani memberikan alamat rumahnya pada Tiara.


"Sekalian bi, usir juga wanita ini dari sini!" Titah Clay pada bi Arum. Ia tidak suka melihat Tiara berada di rumahnya apalagi dengan pakaian yang kurang bahan seperti itu.


Pria itu mengenakan helmnya, saat akan pergi Tiara menghalangi langkah Clay. Karena perasaan Clay yang terfokus pada Cherryl tanpa sengaja ia mendorong tubuh Tiara, sampai gadis itu terjatuh dan mengalami luka kecil di lututnya.


Erick menatap nanar pada Tiara, ia ingin membantu tapi sahabatnya sedang dalam keadaan yang begitu terdesak. Sambil mendengus ia melewati Tiara yang masih terduduk di lantai dan memilih naik ke atas motor bersama Clay.


Pria kurus itu belum menyamankan posisi duduknya, tapi Clay tanpa aba-aba langsung menarik gas motornya. Jika tidak cepat berpegangan mungkin Erick sudah terjungkal dari atas motor tersebut.


Butuh waktu satu jam setengah untuk bisa sampai ke sekolah, karena clay membawa motor itu seperti pembalap hanya dalam waktu setengah jam ia sudah sampai di sekolah tersebut.


Tidak sulit bagi Clay, untuk masuk ke sekolah di malam hari. Sebab penjaga sekolah sudah mengetahui jika Clay adalah cucu dari pemilik sekolah tersebut.


"Clay itu si cherryl kan? Ngapain dia jalan ke arah gudang?" Sahut Erick, ia menunjuk ke salah satu rekaman cctv yang menyoroti ke arah gudang.


Tanpa banyak bicara ia langsung berlari ke arah gudang untuk mencari istrinya, mendengar kedatangan seseorang yang memanggil namanya. Cherryl langsung bangkit dari duduknya dan berteriak memberitahukan jika dirinya ada di dalam gudang.


"Cherryl! Kamu dimana?" Teriak Clay, pria itu terus berjalan menyusuri gudang. Dengan berbekal senter hp ia mengecek satu persatu ruangan gudang itu.


"Cherryl!! Ini aku Clay."


"Clay.. dia di sini," Cherryl mengusap air matanya dan menggedor pintu gudang.


"Clay! Aku di sini... Seseorang telah menguciku dari luar!"


Mendengar suara Cherryl, Clay langsung berlari ke arah sumber suara.


"Cher, kamu di dalam?"


"Clay... Buka pintunya aku takut."


"Kamu tenang ya, sekarang kamu mundur aku mau dobrak pintunya."


Cherryl menuruti perintah suaminya, ia mundur menjauh dari pintu. Tak berselang lama setelah Clay berhasil mendobrak pintu tersebut Cherryl langsung memeluk Clay dan menangis dalam dekapan suaminya.



"Clay, aku takut. hiks."


"Kamu tenang ya, sekarang kamu sudah aman," Clay memeluk istrinya erat, ia dapat merasakan tubuh Cherryl yang bergetar dan dingin karena takut.


"Aku mau pulang, aku takut."


"Iya, iya kita pulang sekarang," Clay melepaskan pelukan Cherryl. Ia memakaikan jaketnya pada Cherryl dan mengusap air mata di wajah istrinya.


"Rick bawa motor gue, pulang. Gue mau naik taxi," Clay melemparkan kunci motornya ke arah Erick yang sedang bengong, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dua orang yang tidak pernah akur seperti kucing dan tikus, sekarang terlihat seperti Romeo dan Juliet.


Clay, merangkul bahu istrinya dan membawa gadis itu pulang ke rumah. Bi Arum yang sigap, dengan cepat menghampiri Cherryl yang baru saja pulang dalam ke adaan tertekan. Ia membawa istri majikannya itu ke dalam kamar, setelah membantu nona mudanya membersihkan diri bi Arum memberikan sup hangat pada Cherryl.


Melihat ke adaan Cherryl yang masih ketakutan, bi Arum tidak berani bertanya apapun pada sang majikan. Ia hanya akan menjawab jika Cherryl bertanya padanya.


"Bi, bibi tidur di sini ya. Aku takut," pinta Cherryl pada bi Arum. Meskipun baru kenal beberapa hari tapi Cherryl sudah menganggap bi Arum seperti ibunya sendiri, karena bi Arum selalu memperlakukannya dengan baik dan lemah lembut.


"Iya, non. Bibi temenin, sekarang non tidur ya," ucap bi Arum tersenyum sembari mengambil mangkuk kosong dari tangan Cherryl.


"Jangan tinggalin aku ya,bi."


Bi Arum mengangguk, dan menyelimuti tubuh Cherryl yang masih terasa dingin. Dengan lembut bi Arum membelai rambut Cherryl sampai gadis itu tertidur.


Klek...


Clay membuka pintu kamar Cherryl, melihat tuan muda yang masuk ke dalam kamar. Bi Arum langsung mundur dari ranjang Cherryl dan membiarkan pria itu melihat keadaan istrinya yang sedang tertidur.


"Apa dia mengatakan sesuatu bi?" Clay berbisik pada bi Arum karena takut suaranya membangunkan Cherryl.


"Tidak, tuan. Nona muda tidak mengatakan apapun, nona hanya minta saya untuk menemaninya tidur."


Clay, menarik napasnya panjang.


"Tidur saja di sini bi, aku takut Cherryl kenapa-kenapa. Kalau dia mengatakan sesuatu beri tahukan padaku."


Bi Arum mengangguk, setelah melihat Cherryl sudah tertidur Clay keluar dari kamar tersebut. Baru menutup pintu Clay sudah di kejutkan oleh ke hadiran Erick yang menatapnya dengan tajam, sepertinya Erick menunggu jawaban dari semua kejadian yang telah ia saksikan hari ini.


***


Kediaman Armando.


Seorang wanita, dengan kursi roda tengah menikmati segarnya angin malam di depan balkon kamar putrinya. Wanita dengan luka permanen yang menghiasi wajahnya tampak menunggu kepulangan putrinya yang sejak tadi belum pulang ke rumah.


Klek...


Pintu kamar terbuka.


"Kau gagal lagi?" sambut wanita itu tanpa melihat ke arah putrinya.


Gadis itu terkejut, ketika melihat sang ibu berada di dalam kamarnya.


"M-maafkan aku, Bu." Jawab gadis itu terbata.


Wanita itu menyunggingkan senyum kecewa di sudut bibirnya.


Prankkk...


Vas bunga terjatuh dan pecah berhamburan tak tersisa.


.


.


.


Bersambung.....