
"Apa yang di lakukan Clay, pada Cherryl? Aku harap anak itu tak melakukan apapun padanya," gumam Austin. Seketika keningnya berkerut ketika ia mengingat Clay menatapnya dengan penuh amarah dan membawa Cherryl pergi darinya.
"Tunggu! Apa hubungan Clay dan Cherryl? Kenapa dia begitu marah ketika aku melamarnya? Bahkan saat Cherryl terkunci di gudang anak itu sampai memukulku.... Selama ini bukankah mereka seperti musuh bebuyutan yang selalu bertengkar, tidak mungkinkan mereka punya hubungan spesial?Aku lihat juga Cherryl sangat membencinya," gumam Austin, ia terlihat begitu gusar memikirkan hubungan Clay dan gadis yang ia sukai itu.
***
Kediaman Dhanuendra.
Di saat Austin tengah berpikir keras dan mengkhawatirkan Cherryl, di ruang tamu gadis itu malah sedang duduk di atas sofa sambil menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, di depannya terdapat banyak perhiasan berlian berjejer rapih di atas meja. Tak hanya perhiasan, mobil besar berdatangan silih berganti mereka membawa coklat dan rangkaian bunga ke dalam rumah megah tersebut sampai memenuhi ruang tamu dan halaman.
"Bagaimana? Apa kau suka? Aku bahkan bisa membelikan lebih banyak lagi jika kau mau," ucap Clay sombong.
"Barang sebanyak ini untuk apa? Dan itu bunga-bunga kamu kira aku kuburan apa di kasih bunga sebanyak ini! Dan itu coklat kamu mau bikin aku gendut!" Protes Cherryl ia terus saja mengomel.
"Kenapa kau protes? Harusnya kau berterima kasih padaku karena telah memberimu banyak barang di banding, guru itu yang hanya memberikanmu satu cincin kecil dan sebungkus coklat, cih," Clay berdecak meremehkan gurunya itu.
"Bukan satu tapi dua," cetus Cherryl, sengaja memancing emosi suaminya.
"Di kasih dua bungkus aja, bangga. Apa kau tidak lihat aku memberikanmu satu gudang coklat, apa perlu aku membelikanmu coklat itu beserta pabriknya!" dengus Clay, kesal. Rupanya api cemburu dalam dada Clay masih belum padam juga.
Cherryl menarik napasnya dalam, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Clay yang sedang berdiri memunggunginya. Gadis itu memeluk Clay dari belakang.
"Lepaskan!" Dengus Clay, ia menolak di sentuh oleh istrinya.
Cherryl hanya tersenyum saat melihat suaminya yang sedang marah karena cemburu.
"Sayang, kalau kamu lagi cemburu kamu makin ganteng deh," Cherryl bergelayut manja di lengan Clay.
"Cih, aku tidak akan luluh dengan rayuanmu, sudahlah aku sibuk... Awas saja kalau kau tak menghabiskan semua coklat ini!" Clay menunjuk tepat di hidung Cherryl dan melepaskan tangan gadis yang melingkar di lengannya kemudian ia pergi menuju ruang kerja.
Tak lama dari kepergian Clay, sebuah mobil masuk ke pelataran rumah. Cherryl melihat siapa yang datang, begitu pintu mobil terbuka manik mata gadis itu langsung berbinar saat melihat orang yang turun dari mobil itu adalah Mamy Val.
"Mamy," seru Cherryl, gadis itu langsung menghambur ke pelukan sang mertua.
"Hai sayang, gimana kabar kamu?" Sapa Mamy Val membalas pelukan Cherryl.
"Baik Mam, ayo masuk," ajak Cherryl ia melihat ke belakang mobil mencari sosok adik ipar juga papi Gerald.
"Papi sama Nara mana Mam? Mereka nggak ikut?" Sambung Cherryl.
"Papi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggalin, Nara anak itu sudah susah sekali untuk di ajak-ajak pergi katanya sih ada kelas modeling," jelas Mamy Val.
Gadis itu hanya mengangguk, sembari menggandeng tangan ibu mertuanya ke dalam rumah.
"Sayang, dimana Clay?" Mamy Val menyebarkan pandangannya ke seluruh rumah.
"Ada Mam, sebentar Cherryl panggilin.. duduk dulu Mam," Cherryl pergi menuju ruang kerja Clay untuk memanggil suaminya.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk," sahut Clay dari dalam, ia melihat istrinya sekilas lalu fokus lagi pada layar laptop yang sedang menyala di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Clay datar.
"Ada Mamy di depan nanyain kamu," jawab Cherryl sembari melihat-lihat rak buku yang ada di ruangan kerja suaminya.
"Mamy?" Clay mengulangi ucapan Cherryl.
"Heem, kamu temuin gih," titah Cherryl.
Dengan tergesa Clay, menemui ibunya yang jauh-jauh datang dari negeri sebrang. Cherryl mengintip suaminya yang sudah keluar dari ruangan tersebut.
"His, dasar es batu," umpat Cherryl sebal.
"Mamy," Clay memeluk hangat ibunya.
"Gimana kabar kamu, Clay?"
"Seperti yang Mamy lihat, aku baik-baik aja," ujar Clay.
"Syukurlah, bagaimana dengan pernikahan kalian? Apa semuanya baik juga?"
"Jangan khawatir Mam, aku sama Cherryl baik-baik aja ko. Nggak ada masalah apapun di antara kami berdua. Benarkan sayang," cetus Clay pada Cherryl yang baru saja datang dengan nampan berisi tiga cangkir teh dan camilan di tangannya.
"Hah," gadis itu terlihat bingung, baru datang sudah di lempari pernyataan yang bahkan dirinya tidak tahu anak dan ibu itu sedang membicarakan apa.
Mamy Val menatap curiga pada putra dan menantunya, "Kalian nggak sering berantem kan?" Tanya Mamy Val, menatap penuh selidik. Mamy Val tau jika kedua anaknya yang selalu bertengkar, ia takut jika selama menikah mereka tetap bertengkar meributkan hal yang tidak penting dan nantinya akan merusak pernikahan mereka berdua.
Clay menarik Cherryl agar duduk di sampingnya, lalu ia merangkul bahu Cherryl. "Nggak kok Mam, kita udah nggak sering bertengkar lagi. Iya kan sayang," Clay meremas bahu cherryl.
"Eh, I-iya Mam. Kita udah akur kok bahkan Clay sekarang bucin banget sama Cherryl Mam," celoteh Cherryl menepis tangan suaminya.
"Oh, itu tadi Cherryl katanya lagi pengen makan coklat sama bunga. Jadi Clay beliin."
"Sebanyak ini?" Sentak Mamy Val heran.
"Iya Mam, katanya sih kalau makan satu nggak berasa, jadi dia minta banyak. Mamy Taukan menantu Mamy ini rakus," cetus Clay balik menyindir istrinya, Cherryl yang sebal pada pernyataan suaminya langsung mencubit pinggang Clay.
"Kamu lagi ngidam, sayang?" Celetuk mamy Val, membuat sepasang suami istri itu kompak terbatuk.
"E-enggak kok Mam, Cherryl nggak ngidam. Claynya aja yang salah tangkap minta satu keranjang malah di beliin satu truck," Cherryl mencibir suaminya. Padahal ia tidak minta cokelat dan bunga itu, dasar saja Clay yang cemburu tanpa di minta ia langsung membelinya sampai sebanyak itu, untung saja perhiasan tadi sudah di rapihkan jadi Mamy Val tidak terlalu terkejut dengan kelakuan putranya yang di luar nalar Cherryl..
"Ooh, kirain Mamy kamu ngidam, Mamy udah seneng mau dapet cucu," mamy Val terkekeh.
"Gimana mau ngidam, tiap mau nyerang selalu ada gangguan," gumam batin Clay, kecewa.
"Oh, iya ma di mana Nara sama papi?" Tanya Clay, mengalihkan pembicaraan.
"Biasalah papi sibuk, Nara kamu taukan dia seperti apa... Oh iya Clay maafin Mamy ya baru bisa nengok kalian, lagi ada badai salju di sana jadi semua penerbangan di tunda sampai kemarin jadi Mamy baru sempet ke sini sekarang," keluh Mamy Val.
"Tidak apa-apa Mam, jangan di pikirkan kami berdua baik-baik aja kok. Kami malah jadi bikin susah Mamy, karena kami Mamy jauh-jauh ke sini ninggalin papi sama Nara," tutur Clay.
"Mamy khawatir sama kalian, takut wanita itu melakukan sesuatu lagi sama kamu," ujar mamy Val, wajahnya kini berubah menjadi begitu khawatir.
"Wanita? Maksud Mamy... Mamy kenal sama yang neror itu?" Clay dan Cherryl saling menatap satu sama lain, menanti jawaban dari sangibu.
"Mamy nggak yakin sih, wanita itu sudah lama meninggal tapi firasat Mamy selalu mengatakan jika yang neror kamu itu adalah wanita itu," seloroh Mamy Val, beliau terlihat bingung entah harus menceritakannya atau tidak.
"Maksud Mamy? Wanita itu belum meninggal gitu? terus apa hubungannya sama kami? kenapa dia neror kami seperti ini?" Cherryl mengerutkan dahinya ia tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh mertuanya.
Saat Mamy Val, akan menjelaskan. Seseorang datang mengantarkan soal dan lembar jawaban ujian yang tadi di minta oleh Clay. Karena orang itu mengatakan soal itu harus selesai hari ini juga, jadi Clay dan Cherryl terpaksa meninggalkan Mamy Val untuk belajar.
"Mam, maaf ya kita tinggal dulu sebentar. Mamy istirahat aja Mamy pasti capek," ucap Clay.
"Iya sih, badan Mamy pegal-pegal tadi di pesawat Mamy juga belum tidur, Ya udah deh kalian belajar dulu Mamy istirahat duluan ya," tutur Mamy Val, beliau mengikuti bi Arum menuju kamar tamu.
Cherryl juga Clay mereka masuk ke dalam ruang perpustakaan, keduanya terlihat begitu khusyuk. Clay mengerjakannya dengan tenang sementara Cherryl terlihat begitu frustasi ia terus saja membulak balikan kertas soal itu, Cherryl memang tidak secerdas Clay dan Aulya ia sering sekali kesusahan dalam belajar tapi Cherryl beruntung punya sahabat seperti Aulya yang selalu membantunya dalam proses belajar.
Clay melihat istrinya, suara grasak gerusuk rupanya menganggu ketenangan Clay yang mengerjakan soal itu tanpa kesulitan sama sekali.
"Ada masalah?" Tanya Clay.
Cherryl tersenyum manis pada suaminya, ia mencoba merayu Clay agar mau membantunya. Cherryl menggeser duduknya sampai menempel pada Clay.
Ia mengalungkan lengannya di leher Clay, membuat pria itu Menelan ludah karena melihat istrinya yang begitu menggoda.
"Clay, sepertinya kepalaku pusing aku tidak bisa mengerjakannya lagi," keluh Cherryl, ia menyenderkan kepalanya di dada bidang Clay sambil tersenyum tipis.
"Jangan memancingku, Cher. Cepat kerjakan tugasmu," titah Clay datar.
"Sayang, kepala aku udah nggak sanggup buat berpikir aku pusing," Cherryl mengeluarkan nada manja jari-jarinya terus berputar di dada Clay, sehingga Clay merasakan sesuatu yang tegang di bawah sana.
"Cherryl, hentikan!" Clay cepat-cepat melepaskan tangan istrinya, sebelum ia kehilangan akal dan melahap gadis yang ada di hadapannya.
"Ish, susah banget sih ngerayu dia," desis batin Cherryl.
"Sana! kerjain sendiri," Clay mendengus pada istrinya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya setelah mendapat penolakan dari Clay ia kembali menggeser duduknya menjauh dari suaminya yang tidak mau membantu.
Clay tersenyum melihat istrinya yang cemberut, karena tidak tahan dengan kegemasan Cherryl. Ia menarik pinggang gadis itu ke dekatnya.
"Mana yang susah?" Tanya Clay.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" Ketusnya, merajuk.
Clay mengangkat tubuh mungil Cherryl ke pangkuannya tanpa beban, ia memeluk Cherryl sambil mengajarkan soal-soal ujian milik istrinya. Gadis itu kembali merasakan panas dingin ketika hembusan napas Clay menerpa lehernya.
Padahal tadi pas ia menggoda Clay dirinya tidak merasakan apapun, kenapa sekarang Cherryl terlihat begitu gugup ketika Clay memangku nya?
Ini bukan kali pertama mereka berdekatan seperti ini malah mereka sudah sering melakukan tautan bibir, tapi entah kenapa ketika Clay berada di dekatnya dengan jarak yang nyaris tak menyisakan ruang jantungnya selalu saja seperti akan meledak.
"Apa aku benar-benar telah jatuh cinta pada es batu ini? Dulu aku yang membuat aturan agar dia tak menyentuhku tapi kenapa sekarang rasanya aku tidak ingin berada jauh darinya?" Bisik batin Cherryl, menatap wajah tampan Clay yang sedang menjelaskan soal ujian.
Cherryl menelan salivanya ketika melihat jakun Clay yang naik turun saat berbicara, Cherryl yang sejak tadi menatap wajah clay, menjadi terlena akan bibir Clay yang berisi sehingga tanpa sadar begitu Clay memalingkan wajah ke hadapannya, ia langsung mencium bibir Clay membuat pria dengan wajah sejuk itu terhenyak saat mendapatkan serangan yang terduga.
.
.
.
. Bersambung...