Wedding Secrets

Wedding Secrets
flashback bagian 4 : pinky dan blue



"Hei, Pinky. Apa kau pernah menonton film tentang orang yang hilang ingatan?" Tanya Blue.


Pinky dan Blue adalah orang kembar yang setia mengikuti Grace kemanapun pergi.


"Pernah, memangnya kenapa?" Pinky balik bertanya pada saudara kembarnya.


"Kau lihat kan, mereka memukul kepala orang itu agar ingatannya kembali. Kenapa kita tidak mencobanya pada Tuan muda." Blue menarik turunkan kedua alisnya.


"Ide yang bagus Blue, setelah kita melakukan itu ingatan Tuan Muda pasti akan kembali. Tuan pasti akan berterima kasih dan kita akan di berikan jabatan baru oleh Nona Grace," Pinky tersenyum lebar pada Blue.


"Kau benar, Pinky. Kalau begitu ayo kita lakukan." Blue melangkahkan kakinya dengan semangat tapi, langkahnya terhenti ketika Pinky menarik baju Blue bagian belakangnya.


"Hei bodoh, lepaskan aku," protes Blue.


"Kau yang bodoh Lol, emangnya kamu berani memukul kepala Tuan muda?" Pinky memicingkan kedua matanya.


"Astaga Pinky ... Kau terlalu meremehkan saudaramu jelas saja aku tidak akan berani," cetus Blue ia membalikan badannya dan kembali pada pekerjaannya yaitu menjaga gerbang.


"Cih, dasar tidak waras," decak Pinky sebal pada kembarannya sebab pria itu memasang wajah yang lempeng seolah bersikap tidak membuatnya kesal.


"Pinky ... Lalu, bagaimana dengan jabatan barunya?" Tanya Blue tanpa rasa salah.


"Astaga! Kau masih saja memikirkan jabatan dengan ide bodohmu ... Tentu saja Nona Grace akan memberikan jabatan padamu tapi sebagai seorang nara pidana, kau mau," dengus Pinky kesal.


Blue menggelengkan kepalanya cepat lalu, ia berdiri dengan tegap di depan gerbang dengan tatapan sangar dia menatap lurus ke depan sana.


****


Kamar Kakek Darmo.


Pria dengan keriput di wajah itu terus mengerutkan dahinya, karena melihat putrinya sejak tadi hanya mondar mandir tidak karuan.


"Rosa, ada apa? Kenapa kamu terlihat risau?" Tanya kakek Darmo.


"Nggak apa-apa kok Yah." Rosa menjatuhkan dirinya ke atas sofa.


"Kamu nggak betah tinggal di sini? Kalau tidak betah nanti Ayah bilang pada Jiang agar mengantar kita kembali ke rumah."


"E-enggak Yah, Rosa betah kok di sini. Di sini rumahnya besar kasurnya juga empuk, makanannya juga enak-enak lagi Rosa nggak mau pulang di sana kasurnya keras dan makanannya hanya itu-itu aja," keluh Rosa menekuk wajahnya.


Rasa bersalah menyeruak dalam diri kakek Darmo, karena selama ini ia tidak bisa membahagiakan putrinya dan tidak bisa memberikan fasilitas bagus untuknya.


"Ayah, Rosa keluar dulu ya. Mau berkeliling di sekitar sini," pamit Rosa pada ayahnya.


Kakek Darmo mengangguk, ia melihat putrinya ke luar dari kamarnya. Pria yang sudah berumur setengah abad itu kembali menutup kedua mata merasakan cairan infus yang mengalir ke dalam nadinya.


***


"Jadi dia istriku?" Tanya Clay pada Grace.


"Benar tuan, kalian sudah menikah selama tiga bulan lebih."


"Apa aku mencintainya?"


Grace tersenyum menanggapi pertanyaan bosnya.


"Anda sangat mencintai Nona Cherryl, begitu juga dengan Nona dia sangat-sangat mencintai Anda,"


Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibir Clay. "Pantas saja aku merasa dia tidak asing bagiku," gumam Clay pelan.


Grace dengan sabar memperkenalkan satu per satu anggota keluarga bosnya pada Clay, ia menceritakan semuanya dari A sampai Z. Menceritakan awal mulanya pertemuan Clay dan Cherryl.


Meskipun, di tambahi oleh bumbu kebohongan ia tidak perduli yang penting saat ini ingatan bosnya bisa kembali seperti semula.


Seharian penuh, Grace terus menjelaskan semuanya dan Clay yang hanya bisa mengingat Cherryl terlihat begitu frustasi. Grace berusaha menenangkan bosnya dan membiarkan pemuda itu untuk beristirahat.


Sekertaris itu keluar dari kamar Clay dengan wajah yang murung, ia merasa telah gagal melindungi putra dari bos besarnya.


"Honey, ada apa?" Tanya Kevin, yang melihat wajah kekasihnya kusut seperti baju yang belum di setrika.


Grace memeluk Kevin, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik sang Kekasih.


"Aku khawatir pada Tuan Clay, dengan kondisinya yang seperti ini aku takut Tuan Muda akan semakin lama untuk bisa bertemu dengan Nona Cherryl."


"Sabar Honey, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin sebentar lagi ingatan Clay akan pulih, kamu jangan khawatir lagi ya," Kevin mendekap kekasihnya dengan hangat.


Kevin menggenggam tangan Grace, mengajak gadis itu pergi kesuatu tempat. Dan Rosa yang sejak dari tadi bersembunyi di balik pilar langsung masuk ke dalam kamar Clay begitu melihat kedua orang tadi pergi.


Wanita itu berjalan mengendap-endap melewati ranjang dimana Clay saat ini sedang tertidur. Rasa penasarannya pada istri Jiang membuatnya nekad memasuki ruangan pribadi pemilik mansion tersebut.


Tidak sulit mencari barang yang ia cari karena album photo itu tergeletak begitu saja di atas nakas. Awalnya tidak ada yang aneh dengan photo-photo tersebut tapi, di pertengahan hatinya terasa panas sebab ia melihat gambar Jiang sedang berpose mesra dengan seorang gadis.


"Mereka terlihat sangat muda tapi, kenapa mereka memutuskan untuk menikah dini? jangan-jangan Jiang ... Sudah melakukan hal yang tidak pantas dengan gadis ini, sangat memalukan cantik sih tapi murahan. Pasti dia yang menggoda Jiang lebih dulu," hardiknya dalam batin.


Saat sedang melihat-lihat album photo, Rosa di kejutkan oleh suara gumaman Clay. Kontan wanita itu langsung membalikan badannya.


Namun wanita itu seolah tersihir oleh karisma sang Tuan Muda, meskipun tertidur aura pemuda itu terlihat sangat menggoda. Rosa menghampiri Clay, ia menatap wajah pemuda itu dalam. Dia juga menyentuh pipi Clay yang tegas. Rosa seketika menelan ludahnya kasar saat melihat bibir merah dan berisi milik sang Tuan Muda.


Rosa mendekatkan wajahnya ke hadapan Clay akan tetapi, Clay yang merasakan hembusan napas menerpa wajahnya langsung membelalakan kedua mata dan mendorong tubuh Rosa hingga wanita itu jatuh membentur lemari.


"Mbak Rosa ... mbak ngapain di sini?"


"Ma-maaf Jiang, a-aku hanya ingin membetulkan bantal kamu saja," ucap Rosa terbata ia menahan rasa sakit di punggungnya karena terbentur pada lemari yang terbuat dari kayu jati.


"Maaf karena aku sudah mendorong mbak," ujar Clay dingin.


"Tidak apa-apa Jiang, ini salah ku sudah mengganggu tidur kamu. Kalau begitu saya permisi," Rosa keluar dari kamar tersebut dengan gugup.


Kevin yang saat itu hendak ke kamar Clay untuk memberikan obat, mengurungkan niatnya saat melihat Rosa keluar dari kamar Clay dengan tergesa.


Rasa curiganya terhadap Rosa membuatnya mengikuti wanita itu secara diam-diam dari belakang.


"Apa yang habis dia lakukan di kamar Clay?" Gumam Kevin, ia terus mengawasi gerak-gerik wanita tersebut.


"Honey." Grace menepuk pundak Kevin.


"Astaga, kau membuatku kaget." Kevin mengusap dadanya yang berdebar karena terkejut.


"Maaf, Honey." Grace terkekeh melihat wajah kekasihnya yang kaget.


Kevin menarik tangan Grace ke kamarnya, ia mendudukkan gadis itu di sofa. Lalu, menatapnya dengan serius.


"Honey, apa kau tidak menyimpan curiga pada wanita hutan itu?"


"Maksud kamu, Rosa?"


Kevin mengangguk.


"Emang ada apa dengannya?"


"Aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja Vin," Grace menyentuh dada bidang Kevin.


"Tidak, Honey. Bagiku dia sangat mencurigakan, tempo hari aku memergokinya sedang menguping pembicaraan mu dan Kakek Darmo hari ini aku melihatnya keluar dari kamar Clay dengan terburu-buru pasti dia menyembunyikan sesuatu."


"Dia keluar dari kamar Tuan Muda?" Grace langsung terlihat marah. " Padahal aku sudah melarang wanita itu agar menjauhi Tuan Muda," sambung Grace kesal.


"Kita harus mengawasi dia, Honey."


"Aku akan menyuruh Pinky untuk mengawasi wanita itu," seloroh Grace menatap serius pada Kevin.


"Apa! Honey yang benar saja ... Kau menyuruh tuyul besar itu untuk menyelidiki seseorang," protes Kevin mengacak-acak rambutnya.


"Memangnya apa yang salah dengan Pinky?"


"Honey, namanya saja sudah begitu apalagi kinerjanya aku tidak setuju," Kevin menolak usulan Grace.


"Kau jangan salah menilai orang, Pingky itu lebih cerdas di banding blue."


"Honey ...." Kevin menatap Grace ragu.


"Percayalah padaku, Honey." Grace mencoba meyakinkan Kevin.


Dokter itu pun hanya bisa pasrah pada keputusan kekasihnya, yang merekomendasikan Pinky untuk mengawasi Rosa.


***


Di taman mansion, Clay sedang menikmati segarnya angin di sore hari. Ia merentangkan kedua tangan, matanya terpejam membayangkan sosok gadis cantik berlari ke dalam pelukannya. Dan di belakang Clay ada dua orang kembar tengah sibuk saling tarik menarik pakaian keduanya, Blue tampak memegang tongkat bisbol dan Pinky berusaha mencegahnya.


Clay yang merasa ada seseorang di belakangnya langsung membalikan tubuh, begitu juga dengan Blue yang terkejut saat bosnya berbalik badan pria itu malah langsung memukul kepala Pingky membuat saudara kembarnya menangis seperti bocah kecil.


.


.


.


Bersambung...