Wedding Secrets

Wedding Secrets
Tak sesuai mimpi



"Oke tahan ... Satu dua tiga."


"Sekali lagi, satu dua tiga."


"Satu kali lagi ya, satu dua tiga ... Oke sip." Erick mengacungkan jempolnya pada Clay dan Cherryl.


Ia memperlihatkan hasil jepretannya pada kedua sahabatnya, ya hari ini Clay dan Cherryl melakukan pemotretan kelulusan sekalian juga mereka photo shoot untuk acara resepsi pernikahan mereka yang akan di selenggarakan Minggu depan.


"Wah, aku tidak menyangka kau hebat dalam segala hal Rick," puji Cherryl. Ia begitu puas dengan segala yang di kerjakan oleh sahabatnya, dari acara ke lulusan, from night sampai sekarang pemotretan semuanya Erick yang mengerjakan sendiri.


"Siapa dulu dong, Erick," jawab Erik besar kepala.


"Kau memang hebat dalam segala hal tapi, tidak dalam satu hal," seru Clay.


"Apa itu?" Jawab Erick mengerutkan dahinya.


"Kau payah dalam hal percintaan," ledek Clay sambil tertawa.


Melihat Erick yang cemberut, Cherryl memukul bahu suaminya agar Clay berhenti menertawakan Erick. Clay pun menghentikan tawanya dan menoleh ke arah Erick yang sedang merengut.


Suasana pun menjadi hening, Cherryl menatap nanar pada Erick sementara Clay merasa bersalah karena telah meledeki kejombloan sahabatnya.


"Sorry, Rick gue nggak maksud," ucap Clay menempuk bahu Erick." Gue janji deh, nggak bakal ledek lo lagi."


"Rick, maafin Clay ya ... Kamu jangan marah lagi, aku tahu dia keterlaluan ngatain kamu jomblo meskipun itu kenyataan tap—," Cherryl menghentikan ucapannya karena Clay menyikutnya.


"Eh, b-bukan gitu maksudnya ... Aduh gimana ya maaf ya Rick." Cherryl menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Melihat kedua sahabatnya yang panik, dan meminta maaf Erik langsung tertawa kencang niatnya mengerjai Clay dan Cherryl akhirnya berhasil.


Karena tidak mengerti maksud dan tujuan Erick, Clay dan Cherryl saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka heran dengan perubahan sikap yang di alami oleh Erick.


"Sayang, kayaknya dia kesurupan dedemit di hutan sini deh. Ayo kita bawa pulang," bisik Cherryl pada Clay.


Clay memicingkan kedua matanya lalu, ia mengambil sebotol air mineral dan meminumnya dan di detik berikutnya Clay menyemburkan air tersebut ke arah Erick yang masih tertawa keras.


Setelah mendapat semburan dari Clay, seketika Erick langsung menghentikan tawanya dan wajahnya pun berubah menjadi masam.


"Akhirnya, lo sadar juga Rick." Clay memeluk sahabatnya senang.


"Perasaan dari tadi juga gue sadar, kenapa lo nyembur gue," ketus Erick sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Kirain aku kamu kesurupan Rick, habisnya tiba-tiba kamu ketawa gitu," cetus Cherryl menahan senyumnya.


"Astaga, punya sahabat kagak ada yang peka kalau gue lagi ngeprank," keluh Erick lesu.


"Oh, ngeprank," seru Clay dan Cherryl serempak.


"Lain kali ngomong dong kalo lagi ngprank kita kan bisa ikut ketawa juga nantinya," seloroh Clay.


"Tau ah, nggak asik." Dengus Erick sebal.


"Jangan ngambek dong, ntar bonusnya hilang."


"Bonus? Lo mau ngasih bonus ke gue, Clay?"


"Giliran bonus aja cengengesan, Iyah ntar awal bulan cair." Clay menarik pinggang istrinya.


"Wah, lumayan nih buat modal kawin," celoteh Erick.


"Eh, kamu mau nikah sama siapa, Rick?" Tanya Cherryl.


"Ada deh." Erick sengaja mengacungkan jari-jari tangannya, memamerkan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya.


"Wihh, gila ... Udah tunangan aja nih," sindir Clay.


"Iya dong." Erick mengusap rambutnya bangga.


"Kok nggak di kenalin ke kita sih Rick?" timpal Cherryl.


"Belum saatnya, nanti kalo udah waktunya aku kenalin oke." Erick menaik turunkan kedua alisnya. "Oh, iya sekarang kita mau kemana? Mumpung masih ada waktu," sambung Erick.


"Ayo kita kencan ke bioskop," ajak Clay pada Cherryl.


Cherryl mengangguk menyetujui usulan suaminya, Erick yang terlihat bersemangat langsung bergegas menuju mobil membukakan pintu mobil untuk tuan dan Nona Dhanuendra.


Sepanjang perjalanan menuju bioskop, Clay dan Cherryl terus menggoda Erick mengenai calon istrinya yang masih di sembunyikan. Karena terus di desak akhirnya Erick mengatakan jika calon istrinya adalah seorang guru yang ia temui beberapa hari lalu saat mengurus ijin untuk ikut berpartisipasi dalam hari kelulusan di SMA Sanvitalia.


Clay dan Cherryl mengucapkan selamat pada Erick, bahkan Clay sudah menjanjikan sebuah rumah untuk kado pernikahan Erick dan Cherryl juga akan memberikan tiket bulan madu gratis ke Maldives.


Pria dengan postur tubuh tinggi krempeng itu tersenyum bahagia, dengan hadiah luar biasa yang di berikan oleh bos sekaligus sahabatnya itu.


.


.


.


.


****


Bioskop Alokasia.


Clay menyuruh Erick untuk menjaga Cherryl, dan dirinya mengantri tiket dan cemilan. Dari kejauhan Cherryl terus memandangnya sambil tersenyum, ia melambaikan tangan ke arah Cherryl sembari membalas senyuman sang Istri.


Ini adalah pertama kalinya Clay mengajak Cherryl ke bioskop, ia memilih film bergenre romantis dan action. Sebenarnya ia ingin menonton horor agar bisa modus pada istrinya tapi, jika di pikir-pikir lagi ia jadi takut kalau menonton horor, yang ada Cherryl malah ingat kenangannya bersama Austin jadi ia memilih film romantis agar memiliki kenangan yang berbeda.


"Ayo kita masuk," ajak Clay sembari menggandeng tangan Cherryl.


"Buat gue mana?" Sahut Erick.


"Cemilan? Beli sendiri lah," ucap Clay sembari masuk ke dalam bioskop.


Di dalam bioskop Cherryl menoleh ke kiri dan ke kanan, keningnya berkerut heran dalam hatinya bertanya-tanya kenapa bioskopnya sepi? Hanya ada dirinya Clay dan Erick.


"Clay, kok cuman kita bertiga?" Tanya Cherryl.


"Sengaja, biar nggak ada yang ganggu kita," jawab Clay memamerkan deretan giginya.


"Hah?"


"Udah, nikmatin aja kalau ramai orang kita nggak bisa ngapa-ngapain," ujar Clay tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?"


"Ssttt, filmnya mau mulai," bisik Clay.


.


.


.


.


Setelah beberapa jam kemudian, Erick keluar lebih dulu dengan raut wajah seperti orang linglung. Ia berjalan menuju toilet dengan tergesa untuk melepaskan sesuatu yang sejak tadi terus mengganjal.


"Sialan si Clay, katanya film romantis ... Ini mah bukan romantis tapi, film blue masa sepanjang alur cerita isinya begituan semua," gerutu Erick, sembari tangannya terus bergerak baju mundur.


"Dia enak, ada istrinya lah gue ... Udah tunangan tapi berasa jomblo." Erick menggelengkan kepalanya dan meneruskan aktivitasnya.


Di loby bioskop, Clay dan Cherryl sudah menunggu Erick dari setengah jam yang lalu. Clay yang mulai bosan berniat untuk meninggalkan sahabatnya akan tetapi Cherryl menahannya, dan di menit berikutnya Erickpun datang dengan wajah tanpa dosa sudah membuat bosnya menunggu dirinya.


"Gajihmu aku potong, berani protes bonus batal cair!" ucap Clay datar ia pergi meninggalkan Erick yang masih tertegun karena ucapan sahabatnya.


Hari ini jadwal menuju dunia fantasi, seharusnya mereka sudah sampai gara-gara menunggu Erick mobil mereka jadi terjebak macet.


Clay terlihat kesal dan uring-uringan pada Erick, sepanjang perjalanan ia terus menggerutu sampai-sampai Cherryl memijat keningnya karena pusing dengan ocehan pria yang ada di sampingnya.


Mobil telah terparkir dengan rapih, sepasang suami istri itu kini berjalan untuk berkeliling di tempat tersebut kali ini tanpa Erick. Clay menghukum Erick agar pria bertubuh kurus itu tetap berada di dalam mobil.


Clay menggenggam tangan Cherryl, dengan pakaian serba couple mereka terlihat seperti remaja yang sedang berkencan.


Clay memperlakukan Cherryl seperti seorang ratu, menjaganya dengan sangat baik bahkan saat mengantri menuju sebuah wahana ia menyuruh pengunjung lain agar menjaga jarak dari istrinya sebanyak 10 meter.


Tak hanya itu, saat mereka sudah menaiki wahana yang bernama kora-kora Clay meminta pada petugas untuk mengecek keamanan pada istrinya berulang kali.


Akibat ulah Clay yang berlebihan, banyak pengunjung yang protes, karena Clay yang banyak menuntut membuat wahana tersebut tak kunjung bergerak.


"Mas, tolong buka saja. Saya mau turun," pinta Cherryl sedikit kesal.


"Loh, kok turun bukannya tadi kamu mau naik ini?" Clay membuka sabuk pengaman dan mengikuti istrinya.


Cherryl tak menanggapi Clay, ia turun dari wahana tersebut dan berjalan dengan cepat meninggalkan suaminya dari belakang.


Gadis itu terlihat kesal, sebab bukan hanya pada wahana kora-kora saja tapi di setiap wahana yang ia naiki Clay selalu melakukan hal yang sama sehingga Cherryl merasa malu akibat pengunjung yang sering protes.


"Ryl ... Tunggu!" Clay menarik tangan istrinya. "Kamu kenapa sih? Tiba-tiba marah kayak gini."


"Kamu tanya kenapa aku marah? Kamu tahu aku itu malu, Clay. Setiap kali naik ini itu kamu selalu membuat pengunjung lain protes!" ucap Cherryl kesal.


"Sayang, aku lakuin itu buat mastiin kalo kamu aman. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


"Tapi, nggak kayak gini caranya. Semua ini nggak sesuai dengan apa yang ada di mimpi aku tau nggak, aku udah nggak mood lagi aku mau pulang." Cherryl melipat kedua tangannya di dada.


"Maafin aku, beri aku satu kesempatan lagi aku janji bakal lakuin semuanya sesuai dengan apa yang ada di mimpi kamu," ujar Clay memegang kedua bahu istrinya.


"Udahlah, lupain aja aku mau pulang aku capek,"dengus Cherryl memutar tubuhnya untuk kembali ke area parkir.


"Sayang, tunggu." Clay kembali menghentikan langkah sang Istri. "Tunggu di sini jangan kemana-mana oke."


"Aku capek, Clay."


"Tunggu 10 menit saja."


"Hemm, baiklah."


"Ini escream, biar capeknya ilang." Clay menyodorkan escream corn rasa coklat ke arah Cherryl kemudian ia pergi meninggalkan istrinya sendirian.


Cherryl duduk di sebuah bangku, sembari menikmati escream yang di berikan oleh Clay. Sepuluh menit telah berlalu, escream yang di makan Cherryl pun sudah habis tapi suaminya masih belum kembali juga.


Gadis itu sampai menguap karena bosan menunggu, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar tapi yang di cari tetap tak menunjukan batang hidungnya.


Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, nyaris satu jam dirinya menunggu dan hasilnya tetap sama sampai sekarang Clay masih belum kembali.


Hari hampir gelap, cuaca juga berubah menjadi dingin. Cherryl yang sudah kesal dan bosan memutuskan untuk kembali ke mobil, ia tidak akan peduli lagi pada Clay karena dirinya merasa jika sang Suami telah mengerjainya.


Namun di saat Cherryl hendak pergi sebuah tangan menahannya, wajahnya yang murung kini berubah menjadi sebuah senyuman di kala dia melihat badut panda ada di hadapannya.


Badut itu mengajak Cherryl untuk bermain, seperti yang ada di mimpi Cherryl tempo lalu. Membeli permen kapas, escream menari bersama, menaiki biang Lala sampai kepala si badut tersangkut karena kebesaran.


Gadis itu tertawa dengan riang, karena akhirnya ia bisa merasakan kebebasan tanpa ada larangan ini itu seperti yang di lakukan oleh Clay tadi siang.


Membicarakan tentang Clay, gadis itu seketika langsung kembali murung ia jadi teringat pada suaminya yang tak kunjung kembali rasa khawatir kini menyeruak dalam diri Cherryl sehingga ia pun memutuskan untuk berpisah dengan sang Panda dan mencari keberadaan suaminya.


Akan tetapi, badut panda itu kembali menahan tangan Cherryl meskipun gadis itu menolak panda tersebut terus memaksanya dan mengajak Cherryl ke tepi pantai yang tidak jauh dari dunia fantasi tersebut.


.


.


.


Bersambung.